NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:807
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Koordinat Tanpa Nama

Langit di atas pesisir malam itu tampak seperti kanvas yang baru saja di tumpah tinta hitam yang pekat. Alana terbangun dengan rasa pening yang luar biasa, seolah-olah otaknya baru saja dipaksa memutar ribuan film bisu dalam satu detik, lalu semuanya terbakar habis. Di hidungnya, ia masih bisa mencium aroma laut yang asin dan... sesuatu yang lebih spesifik: aroma keringat dingin dan bau sabun rumah sakit yang murah dari kulit seseorang yang berada sangat dekat dengannya.

"Alana? Kau sudah sadar? Kumohon, jangan pingsan lagi."

Suara itu milik Elin. Alana mendapati dirinya masih berada di taman rumah sakit, bersandar sepenuhnya di bahu pemuda itu. Elin tidak lagi duduk di kursi roda; ia berlutut di tanah yang keras, menopang tubuh Alana dengan lengannya yang masih gemetar karena sisa trauma fisik. Di tangan kanan Alana, secarik kertas kusam yang tadi diterbangkan angin masih tergenggam erat, remuk karena cengkeramannya yang terlalu kuat. Tulisan cahaya yang sempat muncul tadi kini telah padam, kembali menjadi kertas kosong yang tampak tak berarti di bawah temaram lampu taman.

"Aku... aku melihat sesuatu, Elin," bisik Alana. Ia menjauhkan kepalanya perlahan dari bahu Elin, merasa ada desiran malu yang aneh di dadanya, namun sekaligus ada keengganan yang berat untuk melepaskan kehangatan itu. "Bukan hanya cahaya indigo yang aneh. Aku melihat sebuah bangunan kayu yang sangat tinggi... puncaknya seolah menyentuh awan. Ada aroma kopi yang menyengat, pahit tapi menenangkan, dan aku sedang berdiri di sebuah jendela besar... menunggumu."

Elin terdiam cukup lama, matanya yang biru gelap warna yang kini terasa seperti kutukan sekaligus kompas menatap kertas di tangan Alana. "Aku juga merasakannya. Tepat saat aku menyentuhmu tadi, rasanya seperti ada sengatan listrik yang menyambar tulang belakangku, menyuruhku untuk berhenti berpura-pura lupa. Dan kertas itu... aku menemukannya terselip di saku piyama ku saat aku pertama kali sadar di UGD. Perawat bilang itu mungkin sampah yang terbawa arus laut saat mereka menarik ku, tapi aku merasa kertas ini lebih berat dari kelihatannya."

Alana menatap kertas itu lagi, mencoba mencari sisa-sisa pendaran energi yang tadi ia lihat. Meskipun tulisannya kini lenyap, hatinya tahu apa yang harus ia lakukan. Insting itu lebih kuat daripada memori yang dihapus.

"Kertas ini bukan sampah, Elin. Ini adalah kompas. Kita tidak bisa tetap di sini, menjadi pasien nomor sekian di sebuah bangsal yang dingin. Jika kita tetap di rumah sakit ini, kita hanya akan menjadi dua orang asing yang mati perlahan dalam kebingungan," ucap Alana dengan ketegasan yang tiba-tiba muncul dari dasar jiwanya.

"Tapi kita bahkan tidak tahu cara berjalan dengan benar, Alana. Lihat kakimu, kau masih gemetar hebat," Elin mencoba bersikap realistis, namun binar di matanya menunjukkan bahwa ia juga haus akan jawaban. Ia lelah menjadi raga yang kosong.

"Ada sesuatu di gunung itu, Elin. Di utara. Aku merasakannya memanggilku, merambat melalui getaran tanah yang masuk lewat telapak kakiku. Bukan dengan suara manusia, tapi dengan sesuatu yang terasa seperti... detak jantung."

Pelarian dalam Kesunyian

Tengah malam itu, rumah sakit pesisir berada dalam titik paling sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak yang menghantam tanggul di kejauhan. Alana dan Elin, dengan gerakan yang masih kikuk karena otot-otot yang baru saja pulih dari kematian dimensi, menyelinap keluar melalui pintu belakang dapur yang hanya dikunci dengan palang kayu sederhana. Mereka mengenakan jaket bekas dan celana panjang yang mereka ambil dari ruang pakaian donasi, mencoba menyamarkan identitas mereka sebagai pasien yang melarikan diri.

"Kita butuh kendaraan," bisik Elin saat mereka sampai di pinggir jalan raya yang sepi, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip sekarat. "Gunung yang kulihat dalam kilasan memoriku itu jauh dari sini. Mungkin butuh berjam-jam, dan fisik kita belum sanggup melakukan perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki."

Tepat saat itu, sebuah truk pengangkut sayur tua dengan mesin yang menderu kasar berhenti di lampu merah yang berkedip kuning. Sopirnya, seorang pria paruh baya dengan topi lusuh yang tampak mengantuk, menurunkan kaca jendela untuk meludah ke jalanan.

"Mau ke mana, Nak? Malam-malam begini di pinggir jalan raya?"

Alana mendekat, ia tidak memiliki uang sepeser pun di kantongnya, tapi ia memiliki sebuah keyakinan yang terpancar dari matanya. "Ke arah utara, Pak. Ke kaki gunung di atas sana. Kami... kami harus pulang sebelum matahari terbit."

Sopir itu menatap Alana lama sekali, lalu beralih ke Elin yang berdiri protektif di belakangnya. Entah mengapa, pria itu merasa ada rasa iba yang mendalam; ia melihat sepasang muda-mudi yang tampak begitu kehilangan arah namun memiliki tekad yang keras kepala. "Naiklah ke bak belakang. Aku mau ke pasar induk di kaki lereng sana. Tapi jangan berisik kalau ada pemeriksaan polisi, ya."

Di atas bak truk yang dipenuhi tumpukan keranjang kubis dan wortel, Alana dan Elin duduk berdampingan. Angin malam yang dingin menusuk tulang-tulang mereka yang masih rapuh, membuat mereka harus merapat satu sama lain untuk mencari kehangatan. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Elin, menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan di balik sapuan awan.

"Elin, apakah kau takut?" tanya Alana pelan, suaranya hampir hilang ditelan deru mesin truk.

"Takut jika ternyata rumah yang kita cari itu tidak ada? Atau takut jika ternyata kita hanyalah orang biasa yang sedang berhalusinasi?" Elin balas bertanya, tangannya menggenggam tangan Alana di balik selimut tipis yang mereka curi dari rumah sakit. "Aku lebih takut jika aku harus melupakan perasaan ini lagi, Alana. Rasa ingin menjagamu... rasa ingin memastikan kau tidak akan menghilang lagi... itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagiku sekarang."

Alana tersenyum, sebuah senyuman kecil yang tulus di tengah kegelapan. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, rasa hampa yang menghimpit dadanya sedikit melonggar.

Lembah Abu dan Sisa-Sisa Nagasari

Menjelang subuh, truk itu berhenti di sebuah persimpangan jalan setapak yang menanjak curam. "Hanya sampai sini, Nak. Di atas sana jalannya ditutup total oleh militer sejak seminggu lalu. Katanya ada bekas longsor atau radiasi sisa ledakan gas, saya kurang tahu pasti. Hati-hati," ucap sopir itu sebelum melaju pergi meninggalkan kepulan asap hitam.

Alana dan Elin berdiri di hadapan sebuah papan peringatan besar yang dipasang secara darurat: DAERAH TERLARANG - RADIASI TINGGI. DILARANG MASUK. OTORITAS MILITER.

Namun, perisai psikologis itu tidak mampu menghentikan langkah mereka. Alana melangkah maju lebih dulu, melewati garis pembatas dengan gerakan yang seolah-olah ditarik oleh benang tak kasat mata. Semakin mereka mendaki, pemandangan di sekeliling menjadi semakin mengerikan, kontras dengan bayangan "hijau" yang sempat terlintas di benak mereka.

Pohon-pohon pinus yang seharusnya menjulang hijau kini menghitam, kering tanpa sehelai daun pun, seolah-olah nyawa mereka telah diisap habis dalam satu detik. Tanah di bawah kaki mereka tidak lagi berwarna cokelat subur, melainkan tertutup lapisan abu-abu keputihan yang sangat tebal, seperti sisa pembakaran dari sebuah api yang sangat besar namun tidak meninggalkan bau gosong.

"Ini... ini tempatnya," Alana berbisik dengan suara yang bergetar. Ia berhenti di sebuah dataran tinggi yang luas, tempat di mana angin bertiup lebih kencang namun terasa hampa.

Di tengah dataran itu, tidak ada lagi bangunan kayu yang tinggi. Tidak ada mercusuar yang menyentuh langit. Yang ada hanyalah sebuah lubang raksasa di tanah, sebuah kawah dangkal dengan sisa-sisa fondasi kayu yang sudah menjadi arang hitam. Tempat itu terasa seperti kuburan massal bagi sebuah keajaiban yang pernah hidup.

"Nagasari..." Elin mengucapkan nama itu secara naluriah, seolah-olah lidahnya sudah sangat terbiasa dengan kata tersebut. Ingatannya tiba-tiba menghantamnya seperti gelombang pasang. Ia jatuh berlutut, menyentuh lapisan abu dingin yang menutupi tanah. "Alana, aku ingat! Aku ingat bau kopi dari kedai di bawah sana! Aku ingat kau berdiri di jendela menara itu dan memanggil namaku saat aku membawamu air!"

Alana juga jatuh berlutut di sampingnya. Air mata yang selama ini ia tahan kini mengalir deras, membasahi abu yang menempel di pipinya. "Kita yang melakukannya, Elin. Kita menghancurkan segalanya... kita meruntuhkan rumah kita sendiri untuk menyelamatkan dunia yang bahkan tidak mengenal kita."

Namun, di tengah keputusasaan itu, Alana merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak merasa tempat ini benar-benar mati. Di bawah lapisan abu dan arang yang tebal, ada sebuah getaran kecil detak jantung bumi yang sangat lemah namun berirama.

Ia mulai menggali tanah di tengah bekas fondasi itu dengan tangan kosong. Elin segera membantunya, mengabaikan kuku-kukunya yang mulai kotor dan berdarah karena menghantam kerikil tajam. Setelah menggali sekitar setengah meter, jemari Alana menyentuh sesuatu yang keras dan halus.

Sebuah botol kaca kecil, terkubur dengan sengaja, berisi sebutir benih berwarna indigo yang bersinar redup namun stabil. Di samping botol itu, ada selembar kertas yang masih utuh, ditulis dengan tinta emas yang tidak memudar oleh waktu:

"Cinta adalah satu-satunya energi di semesta ini yang tidak bisa dihancurkan oleh ledakan vakum paling dahsyat sekalipun. Tanamlah benih ini di tempat di mana kalian pertama kali saling berjanji, dan saksikan bagaimana langit akan kembali meminta maaf pada bumi."

Tepat saat Alana mengangkat botol itu ke arah cahaya fajar yang baru menyembul, suara deru baling-baling helikopter militer terdengar dari balik bukit yang gundul. Cahaya lampu sorot yang sangat terang mulai memindai dataran abu itu, mengunci posisi mereka. Sebuah suara dingin melalui pengeras suara menggelegar, merobek keheningan subuh:

"Subjek Alana dan Subjek Elin telah terdeteksi di Titik Nol. Segera lakukan prosedur penjemputan paksa. Gunakan senjata pelumpuh jika terjadi perlawanan. Aset ini tidak boleh hilang untuk kedua kalinya."

Alana menatap Elin, matanya kini berkilat dengan sisa-sisa warna indigo yang mulai terbangun kembali. "Kita tidak punya waktu lagi untuk bersembunyi, Elin. Kau harus memegang benih ini bersamaku. Sekarang!"

Saat telapak tangan mereka berdua bersentuhan di atas benih indigo tersebut, tanah di bawah mereka tidak lagi bergetar, melainkan terbuka perlahan seperti sebuah pintu, menelan mereka masuk ke dalam sebuah ruang rahasia yang jauh lebih dalam dan luas sebuah arsip raksasa yang berisi ribuan surat batin yang pernah dikirim Alana, yang ternyata selama ini disimpan oleh bumi sebagai bahan bakar untuk membangkitkan kembali apa yang telah hancur.

1
piah
baguss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!