Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Mendengar suara cempreng bernada tinggi, tanpa sadar Su Ran menghela nafas. Jelas sangat tahu siapa yang tidak tahu malunya berteriak kencang seperti itu.
“ HEH SU RAN! GADIS J*LANG YANG MATI. TIDAK DENGAR KAH JIKA IBU MENYURUHMU BERHENTI!!” kali ini suara yang lebih muda tetapi memiliki resonansi yang sama kembali terdengar.
Su Ran memang sengaja tidak berhenti bahkan tidak menoleh sedikitpun. Sedikit banyak ia mulai menebak apa yang diinginkan oleh kedua pasang ibu dan anak tersebut.
Desir angin dari arah belakang menuju bahunya terasa, Su Ran dengan cerdas segera mengelak dengan tertib. Membuat gaya ayun yang besar yang tidak mendapatkan tumpuan semakin mendorong ke bawah.
BRUGHH
“ ADUUHHHHH..” pekikan kesakitan dari mulut Fen Rui segera membahana membuat burung – burung terkejut hingga terbang berhamburan. Su Ran, menyilangkan kedua tangannya didada menatap sinis dan senyum yang mengejek.
Fen Rui ingin mencekal Su Ran tadinya, tetapi siapa sangka, Su Ran bak memiliki mata dibelakang tubuhnya dan menghindar sehingga ia sendiri yang jatuh tersungkur.
“ Nak, kamu tidak apa – apa? “ si tukang drama dan teratai putih tua, Ma liu sekaligus bibi pertama mulai bersuara.
“ Su Ran, jangan keterlaluan. Meskipun kau sudah memutuskan hubungan dengan kami tidak seharusnya kau mendorong sepupumu,” ucapnya kesal sambil membantu anaknya untuk bangun. Su Ran memutar matanya kesal lalu ia maju dan berkacak pinggang bak mak – mak siap bertarung habis – habisan.
“ MATA mana yang melihat aku mendorongnya? Bi Sarmi juga lihat kan bi,” tunjuk Su Ran kepada tetangga yang rumahnya dekat. Bi Sarmi yang ketahuan mengintip dan menguping seketika tersipu tetapi gegas mengangguk.
“ Nah, lihat kan! Bi Sarmi yang Jauh saja lihat jika aku sama sekali tidak menyentuhnya!” teriak Su Ran diatas angin.
“ Lalu, kalian juga tahu jika kita tidak ada hubungan lagi. Tetapi kenapa kalian terus – terusan menggangguku!” lanjut Su Ran dengan tajam. kedua pasangan ibu dan anak sedikit tersentak dengan ucapan Su Ran.
Beda, sungguh berbeda dengan Su Ran yang dulu selalu menunduk dan gemetar bahkan hanya dengan dicaci.
Ini.. Ini apakah masih Su Ran yang mereka kenal? Anak liar entah siapa orang tuanya yang biasa mereka Bulli?
“ Hei, lihatlah anak ini. bagaimanapun kamu sudah dirawat oleh keluarga Fen selama belasan tahun. apakah kamu akan mengingkarinya?” senyum palsu segera Ma Liu sunggingkan ketika menyadari jika banyak penduduk yang mulai berkumpul, melihat pertunjukan.
“ Bu, sudah aku katakan jika j*lang ini sama sekali tidak mengerti sopan santun. Apakah begini tingkahnya saat berhadapan dengan sesepuh keluarganya,” dengan mata nyalang dan penuh kebencian. Tubuhnya terasa sakit karena Su Ran menghindarinya. Berani sekali j*lang ini menghindari pukulannya!
Jika Su Ran tahu isi hati Fen Rui, ia pasti akan menepak kepalanya. Siapa yang begitu bodoh untuk menerima pukulan di badan?
“ Heh, keluarga Fen yang mana? Jika memang aku harus berbakti, aku harus berbakti kepada mendiang ibu dan ayah angkatku. Sayangnya, bahkan peninggalan mereka berdua juga kalian rebut! Tidak malukah?” balas Su Ran dengan tajam. ia tidak kesal karena kehilangan rumah peninggalan ayah dan ibu angkatnya. Tetapi ia hanya kesal karena keluarga Fen ini begitu tidak tahu malu.
“ Su Ran, jangan keras kepala. Bagaimanapun, pernikahanmu nanti pasti akan membutuhkan dukungan keluarga Fen,” masih dengan tampang teratai putih tua yang sok menasehati, Ma Liu kembali membuka mulutnya.
“ Jika aku tidak salah ingat, dalam perjanjian pemutusan hubungan sudah tertera dengan jelas jika pernikahanku sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Fen,” Su Ran kembali menyela dengan keras.
Ma Liu berwajah seperti palet. Merah, hijau bergantian antara marah, malu dan kesal. Anak ini benar – benar sudah lepas dari kekangan keluarga Fen.
“ Katakan saja tujuan kalian! Tidak usah selalu mengungkit – ungkit panji kekeluargaan yang sudah putus lama!” senggrang Su Ran sekali lagi.
Ia tidak akan percaya meski diberi emas satu pikul jika kedatangan dua pasang ibu dan anak ini tanpa memiliki tujuan buruk.
“ Hemm, apa yang kamu katakan? Bibi hanya ingin melihat keadaanmu. Kamu semakin baik akhir – akhir ini,” mata Ma Liu terlihat berbinar, ia menggosokkan kedua tangannya ketika membayangkan jika rencana didalam hatinya kemungkinan akan berhasil. Su Ran mencibir melihat tindakan Ma Liu, tetapi ia menunggu dengan sabar pihak lain mengungkapkan tujuannya.
‘ Pasti tidak jauh dari
“ Begini, ladang di rumah sudah siap memasuki masa panen, sementara nenekmu sudah sangat tua dan tenaganya tidak besar,”
“ Ku dengar kamu membeli keledai dan gerobak pulang ke desa. Bolehkah kami meminjamnya?”. Meminjam lalu tidak akan pernah kembali, tentu saja.
Su Ran berdecak pelan. Wajahnya penuh dengan senyum ejekan yang membuat Ma Liu merasa tidak enak.
Ia hanya mendengarkan cerita sang putri jika Su Ran membeli keledai beserta gerobaknya. Hatinya seketika panas. Atas dasar apa gadis j*lang itu membeli gerobak dengan uang keluarga Fen? Rebut, harus direbut!
Dirinya ingin sekali mencari Su Ran, tetapi ia mendengar dari para penduduk jika Su Ran sedang sibuk dengan urusan ladang dan sesekali pergi ke hutan ataupun berurusan dengan para bibi baik.
Hari ini, ia akhirnya melihat Su Ran yang berjalan sendirian dan melamun dan Ma Liu menemukan kesempatan baik untuk kembali memeras Su Ran seperti yang biasa ia lakukan.
“ Bibi, bisa kau katakan sekali lagi? Bibi ingin MEMINJAMNYA? Berapa hari? Oh, ngomong – ngomong kita bukan siapa – siapa lagi, bagaimana bisa aku meminjamkannya? Ini akan berhasil jika keluarga kalian MENYEWANYA, bukan MEMINJAMNYA!” tekan Su Ran.
“ HEH!! APA MAKSUDMU KAMI HARUS MENYEWANYA! ITU KAU BELI MENGGUNAKAN UANG KELUARGA FEN! JADI SECARA LANGSUNG KELEDAI DAN GEROBAK MU ADALAH MILIK KELUARGA FEN!” si bodoh Fen Rui membuka mulut busuknya sekali lagi. Ma Liu hanya bisa menutup mata melihat kelakuan Fen Rui yang secara tidak langsung membuka niat hatinya.
Su Ran awalnya terkekeh lalu kemudian tertawa terbahak – bahak sampai meneteskan airmata dan juga membungkuk.
Tetapi tak selang lama, ia menatap tajam dan mencengkeram dagu Fen Rui hingga Fen Rui ketakutan sekaligus kesakitan.
“ Mulutmu sangat longgar, kan? Otakmu ditendang sapi, kah? Apakah ucapanku kurang jelas? Kita, Aku dan kalian para keluarga FEN, sudah lama menandatangani perjanjian PEMUTUSAN KELUARGA. Artinya, hidup matiku, bagaimana keadaan keuanganku sama sekali TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan kalian,” Su Ran menekan keras kemudian membuang dagu Fen Rui hingga wajah Fen Rui menoleh. Tercetak jelas jari Su Ran di Dagu Fen Rui.
“ Bibi, aku memanggilmu bibi karena masih menghormatimu sebagai orang tua. Sebaiknya jangan pernah memikirkan apapun yang kumiliki sekarang karena percuma, aku tidak akan sepeser pun memberikannya kepada kalian, orang – orang keluarga Fen,” tanpa menunggu jawaban dari kedua pasang anak tersebut, Su Ran langsung melenggang pergi.
Fen Rui menghentakkan kakinya kesal sementara tangannya memegang pipinya yang masih memar.
“ Lihatlah, bu,” gerutu Fen Rui kesal. Ma Liu juga tidak terlihat baik, kedua tangannya terkepal erat, sepintas rencana jahat terlintas dimatanya.
“ Tenang saja, ibu akan membuatnya menderita ...”