Sebuah insiden kecelakaan pesawat mengakibatkan Elara menjadi salah satu korbannya.
Gadis berusia 24 tahun itu tidak ditemukan dalam keadaan masih bernyawa, maupun jasad. Alhasil, Elara pun dinyatakan hilang.
Pada kenyataannya, Elara hidup, dia terdampar di sebuah hutan hingga mempertemukannya dengan sosok pria pendaki gunung, Shane Gladwin.
Shane merawat Elara dalam keadaan sulit dan mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Akan tetapi, saat kembali pada kehidupan awal, Elara menemukan fakta baru yang membuat Elara harus menyadari posisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Tak dapat mengelak
Setelah proses mengajarnya usai, Elara benar-benar harus menemui Shane sebab ia tak punya kesempatan untuk menghindar karena pria itu memang menungguinya.
"Ms. Ela, tunanganmu tampan sekali, kau beruntung menjadi pasangannya. Kalian terlihat serasi," bisik Hazel--teman seprofesinya--yang kebetulan melihat Shane sudah berdiri di dekat ruangan mereka.
Elara hanya bisa menipiskan bibir, tersenyum kaku mendengar godaan rekannya tersebut.
"Sudah selesai, kan?" tanya Shane dan Elara hanya mengangguk kecil sebagai respon.
"Baiklah, kau mau kita makan dimana?"
"Ma-makan?" tanya Elara bingung. Pasalnya, ia masih belum mengatakan apapun tapi kenapa Shane berlagak tidak terjadi apa-apa, padahal Elara masih ingin menjaga komitmennya dengan tidak menggubris pria itu.
"Ya, ku pikir kita harus bicara, mungkin sambil makan. Kau pasti lapar setelah bekerja hampir seharian."
"Tidak usah."
"Lalu? Kau mau kita bicara di area kampus ini?" tanya Shane. Pria itu menyipitkan mata, kemudian sedikit berbisik lirih pada Elara. "... agar mahasiswa disini mengetahui hubungan kita?" sambungnya dengan mengerling menggoda.
Elara menunduk, mengembuskan nafas berat. Berpikir sejenak, dan kenyataannya ia memang tak mungkin bicara dengan Shane di kawasan kampus
"Baiklah," kata Elara datar.
Meski sambutan Elara padanya tidak sehangat ekspektasinya, tapi mendengar persetujuan gadis itu membuat sudut bibir Shane melengkung.
Shane mempersilahkan gadis itu untuk berjalan dan memasuki mobil yang sudah menunggu mereka. Dengan sopir di depan, dan keduanya duduk bersamaan di jok belakang.
Sebenarnya Elara sangat risih, kendati saat di hutan hubungannya dengan Shane berjalan lebih jauh ketimbang ini, tetapi mengetahui fakta jika Shane pria beristri tentu membuat Elara canggung dan ada rasa bersalah dalam hatinya.
Dalam perjalanan itu, hanya ada keheningan. Shane sesekali ingin menggapai jemari Elara, namun gadis itu terlalu kentara menghindarinya.
Shane tidak mau memaksa. Ia tau Elara dalam mood yang kurang baik, meski ia tidak tau apa yang salah dengannya sehingga gadis tersebut tampak canggung padanya.
Sebuah Restoran yang cukup mewah menjadi pilihan. Rupanya Shane sudah me-reservasi sebuah privat room yang ada di tempat tersebut.
Elara sempat tertegun, sebenarnya ia terlibat hubungan dengan lelaki seperti apa? Selama ini Elara tak pernah tau mengenai kepribadian Shane, yang pernah ia tanyakan hanyalah dimana pria itu bekerja dan Shane hanya mengatakan jika dia pekerja di salah satu perusahaan real estate.
Nyatanya, sekarang Shane seolah menunjukkan kekayaannya secara terus terang pada Elara. Hal yang bisa dinilai gadis itu saat melihat pakaian, kendaraan dan tempat makan yang dipilih sang pria.
"Mau makan apa?" Shane berujar akrab seperti saat mereka masih bersama di Hutan dulu. Bedanya, dulu pria itu yang memasakkan makanan untuk Elara dan makanannya pun seadanya, sekarang Shane menawarkan makanan yang ada di Restoran mewah seolah Elara boleh memesan apa saja.
Elara mengendikkan bahu, tampak acuh tak acuh. Bukan berarti jika Shane adalah pria kaya--ia akan langsung mau. Dan meski ia cinta, tapi ia selalu mewanti-wanti dirinya sendiri-- jika pria dihadapannya ini adalah suami wanita lain.
Shane tampak memilih makanan di buku menu yang diangsurkan pelayan, karena Elara tak menjawab pertanyaannya, akhirnya ia juga memesankan makanan untuk Elara.
"Lara, sebenarnya aku tidak suka berbasa-basi. Kau tau itu, kan?"
Elara menghela nafas pelan. "Sudah ku katakan aku bukan Lara. Aku Ela."
"Lara, Ela, apapun ... terserah." Shane menyahut cuek.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Tuan?"
"Aku ingin kau tidak bersandiwara lagi. Aku sudah menyelidiki semua tentangmu."
Damned! Elara sampai mengumpat dalam hatinya, benar saja jika pria ini sudah menyelidiki dirinya. Jadi, apa kesempatannya untuk menghindari Shane sudah tak ada? Pikir Elara.
"Ku pikir kau punya penyakit semacam terobsesi akut pada orang lain," ujar Elara, namun Shane malah terkekeh mendengarnya.
"Ya, ya, harus ku akui jika aku terobsesi padamu, Girl." Shane menggoda Elara dengan senyum seringainya.
Elara memutar bola matanya. Jengah. Tentu saja ia kesal melihat Shane seperti tidak merasa bersalah padahal jelas jika pria itu telah membohonginya sejak awal.
Shane bangkit dari duduknya, berhubung mereka memang hanya tinggal berdua saja didalam privat room tersebut, ia dapat bergerak lebih leluasa dan bebas mengkonfrontasi Elara.
Tangan pria itu tampak bertumpu di bagian meja yang berada tepat di depan Elara.
"Kau mau apa?" tanya Elara gugup, ia tak bisa melawan jika Shane sedekat ini dengannya. Nyatanya, pergerakan pria itu selalu terasa mengintimidasi.
"Hanya memastikan sesuatu," jawab Shane enteng. Satu tangannya yang lain, justru menyibak poni yang menutupi sebagian pelipis Elara. "Dan aku benar-benar menemukanmu, Sayang," lanjutnya merujuk pada parut bekas luka yang tercetak di dahi gadis itu.
Elara menelan ludahnya dengan susah payah, tampaknya ia memang tak diberi kesempatan untuk mengelak lagi.
Baiklah, jika memang Shane mengharap ia tak bersandiwara lagi, maka ia akan menunjukkan kemarahannya yang sejak awal sudah muncul disaat ia tau jika Shane telah membohonginya soal perasaan. Terutama mengenai statusnya yang ternyata sudah memiliki istri.
Melihat wajah Elara yang kusut, justru Shane tertawa kembali. Baginya, Elara seperti sengaja mau bermain-main dengannya.
"Apa aku perlu menyibak yang lain untuk membuktikan bahwa kau adalah Lara-ku?" Shane sudah menatap pada bagian perut Elara. Dia tau pasti--jika disana juga masih terdapat bekas luka lain--yang tentu lebih jelas ketimbang yang ada di pelipis Elara.
Elara paham apa yang dimaksud, Shane. Ia menahan kesabaran namun akhirnya bersuara,
"Dasar sin-ting!" umpat Elara, lantas segera menepis tangan Shane yang masih berada di pelipisnya.
Bukannya marah, Shane malah menangkup kedua pipi Elara. Pria itu sampai mengambil posisi setengah berlutut agar bisa melakukannya.
"Jadi, kau menyerah? Tidak akan menghindariku lagi, kan?" tanyanya sambil menatap kedua bola mata Elara secara bergantian.
"Tolong lepaskan tanganmu! Kau tidak pantas melakukan itu pada wanita lain, disaat istrimu sedang mengandung anakmu!"
Dan ucapan Elara membuat mata Shane membola.
Shane menjauh seketika, saat ingin membuka mulut dan tampak mau bicara, Shane mengurungkannya karena kehadiran seorang pelayan yang mengantar makanan ke ruangan yang mereka tempati.
Shane tampak menunggu pelayan itu menyajikan makanan. Terlihat tidak sabar, lantas segera meminta pelayan itu pergi saat semuanya sudah benar-benar tersaji diatas meja.
Tak ingin membuang waktu lagi, Shane segera bersuara untuk menanyakan semuanya. "Jadi, siapa yang kau maksud sebagai istri yang sedang mengandung?" tanyanya.
Kali ini, giliran Elara yang tertawa. Ternyata pria ini mau berlagak bodoh, begitu?
"Stevi. Dia istrimu, kan? Dia sedang mengandung anakmu, seharusnya sejak awal tidak ada hubungan apapun diantara kita, Shane!" ujar Elara lugas.
"Oke, dari pernyataanmu itu ... artinya kau sudah mengakui jika kita memiliki hubungan, kan?" ujar Shane mulai memahami pokok permasalahan yang membuat Elara menghindar darinya.
"Bukan itu poin utamanya, Shane. Tapi tentang istrimu---"
"Memangnya Stevi mengatakan padamu bahwa aku suaminya?" Shane menyergah perkataan Elara, kini ia mulai mengunyah makanan dengan gelagatnya yang tenang. Ia tahu ada kesalahpahaman disini dan ini bisa diselesaikan dengan keadaan tenang.
Elara langsung terdiam, merasa aneh dengan pernyataan pria dihadapannya. Kernyitan di dahinya tampak mendalam, pertanda ia tak memahami maksud perkataan Shane.
"Lara, Sayang, aku tanya padamu ... memangnya Stevi memperkenalkan aku sebagai suaminya kepadamu?"
Elara langsung mengingat pertemuan pertamanya dengan Stevi tempo hari. Wanita hamil itu memang memperkenalkan Shane padanya, tapi tidak pernah mengatakan jika Shane adalah suaminya.
"Ti-tidak," jawab Elara tergagap.
"Lalu?" Shane memotong steak dihadapannya dengan pergerakan konstan, kemudian menyerahkan potongan yang menempel di garpunya ke hadapan Elara. "Makanlah," titahnya.
Elara menolak dengan gelengan, tapi sorot mata Shane seolah meyakinkan jika Elara harus menerima suapannya itu.
Elara akhirnya mengambil potongan steak itu dengan bibirnya, ia menerima suapan Shane dan mulai mengunyahnya.
"Pantas saja kau menghindar. Ternyata kau mengira Stevi adalah istriku. Ya, semua orang memang mengira begitu. Apa kau berpikir aku membohongimu?"
"Tentu saja!" jawab Elara cepat.
Shane menarik sudut bibirnya. "Aku tidak pernah berbohong, Lara. Kau yang berbohong dengan berpura-pura tidak mengenaliku."
"Aku melakukan itu agar--"
"Apapun alasannya, kau tidak bisa melakukan itu pada kekasihmu."
Elara menggeleng keras. "Kenapa kau masih bisa mengatakan jika aku kekasihmu?" sindirnya.
"Tentu saja kau kekasihku, Lara!" tegas Shane, tak ada senyuman lagi dibibirnya, ia tampak serius sekarang. "Stevi bukan istriku, kau salah menduganya," ujarnya mantap.
Elara berdecih. "Kau pembohong! Kalau dia bukan istrimu, lalu dia siapa? Kalian tinggal bersama dan dia hamil? Kau mau mengelabui ku? Bahkan ibumu mengatakan pada ayahku, jika wanita hamil itu adalah istrimu!"
Sekarang Shane memijat pangkal hidungnya. Ia bingung harus menjelaskan dari mana pada Elara.
...Bersambung ......
mksud dari gk pernah bisada hamil anak Shane itu gmna??jgn bilang klo rahimnya jg diambil Thor?? please jgn sampek..kasian Elara.nya..
dan sebagai wanita baik2 penting punya harga diri,agar tak sembaranfan membuka paha utk laki2 yg bukan suami..error semua tokohnya
yg baca juga sewot
hahaja🤣🤣🤣