NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:120.3k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Yang Lain

#28

“Tidak! Kami tidak terima jika kecelakaan ini hanya dianggap kecelakaan tunggal,” tolak Giana. 

Polisi menghela nafas, “Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa putra Anda seorang pemakai.”

“Pemakai?! Itu lebih mustahil! Putra saya atlet, silahkan bertanya pada pelatihnya.” 

“Kami hanya menjabarkan hasil temuan di lapangan, dan hasil lab ini menjelaskan segalanya.” 

Brak! 

Giana menggebrak meja, “Jangan pikir saya percaya dengan hal semacam ini, saya tetap menuntut penjelasan logis yang masuk akal!” 

Giana pergi meninggalkan polisi, dadanya bergemuruh geram karena polisi menuduh Biru 

sebagai pemakai narkoba. 

“Apa kata polisi?” tanya Ayu yang menunggu di luar ruangan. 

“Mereka bilang itu murni kecelakaan, dan yang lebih mengherankan, mereka bilang, Biru adalah pemakai narkoba.”

“Hah?!” Ayu menggelengkan kepala, tak percaya dengan ucapan Giana. 

“Bu Giana.”

Pria yang dibayar Giana untuk mengawasi gerak gerik Biru, berjalan cepat ke arah Giana. Sejak Biru melarang dirinya dan Ayu ikut campur dalam segala urusan hidupnya, sejak saat itulah, kedua wanita itu curiga. 

Maka Giana pun mengutus seseorang yang ia bayar untuk mengikuti Biru kemanapun. “Apa yang kau temukan?” tanya Giana segera setelah Ganjar tiba. 

“Ini, Bu.” 

Ganjar memberikan botol minum yang masih berisi air, serta selembar kertas hasil uji lab. “Air ini mengandung zat psikotropika, yang membuat Biru oleng hingga terguling ke tepi jalan yang cukup curam.” 

“Lalu orang yang ditemui Biru?” 

“Hilang entah kemana, rumah itu juga hanya rumah sewa sementara, san baru sebulan yang lalu si penyewa tinggal di sana.” 

Tak lama kemudian Mahar pun tergopoh-gopoh datang membawa dua buah rekaman. 

(Rekaman suara Gunawan) 

“Selesaikan anak itu sekarang! Anak bau kencur ingusan itu, berani-beraninya mengusik Gunawan!” 

(Rekaman suara mata-mata Giana) 

“Bu Giana. Maafkan saya, saya terlambat memperingatkan putra Anda, jadi saya tak bisa mencegah terjadinya kecelakaan itu.” 

Jelas saja Ayu dan Giana seketika bereaksi, kemarahan yang semula masih mereka tahan kini tak bisa lagi diabaikan. 

“Gunawan—” geram Ayu. “Kak, aku rasa kita tak bisa menunggu bukti baru lagi.” 

“Hmm, aku rasa begitu.” 

Setelah Giana menyelesaikan ucapannya, dokter yang mengoperasi Biru keluar dari ruang operasi. 

“Operasi berjalan lancar, dan gumpalan darah di kepalanya bisa kami keluarkan. Hanya saja— pasien masih dalam kondisi koma.”

Perasaan lega yang muncul sesaat lalu, kembali berganti dengan perasaan cemas, karena Biru belum bisa membuka mata, setelah efek biusnya hilang. 

“Berapa lama putraku akan kembali sadar, Dok?” tanya Ayu dengan wajah sembab memerah. 

“Bervariasi, dan masing-masing pasien tak bisa disamakan waktunya. Untuk sementara, kami akan mengawasi putra Anda di ruang intensif.”

“Terima kasih, Dok.” 

“Sama-sama, permisi, saya pamit dulu.” 

•••

Sementara itu, suasana di rumah Gunawan kian memanas, Miranda tak bisa meninggalkan rumah, karena anak buah Gunawan mengawasi serta berjaga di tiap sudut rumah mewah tersebut. Itu adalah batas kelonggaran maksimal yang Gunawan berikan, untuk Miranda. 

Jika berani melanggar batas teritorial maka pasti Gunawan akan murka pada seluruh penghuni rumah. 

Di kamar Anjani, wanita itu sedang berbalas pesan dengan Jono, yang kini kembali perhatian terhadapnya. Apalagi penyebabnya jika bukan karena uang. 

Jono sedang tidak ada pelanggan, tapi ia butuh uang untuk bersenang-senang di club malam. Jadilah ia mengirimkan beragam rayuan gombal pada Anjani agar mereka bisa bertemu. 

Jono —Kapan kita bertemu? Aku rindu— 

Jani —😏 Rindu? Paling hanya rindu uangku— 

Jono —😚 Tentu saja, kan, ini juga pekerjaan utamaku— 

Deg! 

Anjani tiba-tiba menyadari sesuatu, apakah pekerjaan utama Jono adalah menjadi pria panggilan? 

Jani —Apa?! Pekerjaan utama?! Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?!—

Jono —Mmm, berapa, ya? Kira-kira lima sampai sepuluh wanita perbulan. Kenapa? Apakah kau juga mau menjadi pelanggan setiaku? Bukankah aku juga ahli dalam hal memuaskanmu?—

Deg! 

Anjani semakin takut, jika ada begitu banyak wanita yang Jono tiduri, dan hal itu sudah berlangsung lama, maka mungkin saja—

Anjani melempar ponselnya, ia tak lagi membalas pesan Jono, mendadak ia takut sendiri dengan begitu banyak kemungkinan yang akan hinggap padanya. 

Terlebih sejak pertemuannya dengan Jono, mereka seperti sepasang sejoli yang saling merindukan. Begitu banyak atraksi dengan berbagai macam gaya mereka lakoni, apalagi Anjani tak pernah lagi dapat kepuasan batin dari suaminya. Maka hadirnya Jono laksana oase di padang pasir yang gersang. 

Anjani berjalan mondar-mandir, beberapa kali menyibak rambutnya, bahkan menjambaknya sebagai wujud rasa gelisah dan perasaan takutnya. “Tenang, Anjani, kau pasti baik-baik saja, apalagi hanya beberapa kali melakukannya dengan bajingan itu.” Anjani sibuk meyakinkan dirinya. 

Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk. Dari Jono—

“Jangan menghubungi aku, sialan!” maki Anjani. 

“Tapi kita harus bertemu, aku butuh uang.” 

“Aku tak bisa memberimu uang, kemarin itu pertemuan terakhir kita.” 

Klik! 

Anjani memutus panggilan teleponnya, tak lupa memblokir nomor tersebut agar ia bebas dari teror Jono. 

Di ujung sana, Jono yang tengah duduk berhadapan dengan Ayu menyeringai setelah menyelesaikan apa yang Ayu perintahkan. “Sudah,” katanya enteng, siap menagih uang yang Ayu janjikan. 

Akhirnya, Ayu turun tangan dengan caranya, ia meminta Ganjar menemaninya, sementara Giana menunggu di rumah sakit. Dan Mahar masih berurusan dengan pengacara menyusun semua bukti yang mereka dapatkan. 

Ayu memberikan sebuah amplop tebal berisi uang tunai, “Bagus.”

Dengan mata rakusnya, Jono membuka amplop pemberian Ayu, matanya berbinar menatap lembar demi lembar uang berwarna merah tersebut. Jono mencium dan mengibaskannya, seolah-olah pecandu yang tengah menikmati obat yang sangat ia inginkan. 

“Terus lakukan apa yang aku perintahkan, jika dia memblokir nomormu, maka pakai nomor baru.” 

Jono menyeringai, menelisik penampilan Ayu dari ujung kepala hingga kaki. Wanita desa yang dulu lugu polos, kini menjelma menjadi wanita dewasa matang, banyak uang, dan juga lebih menantang dengan nyali dan keberaniannya. 

Bagaimana tidak berani, jika malam-malam begini Ayu berani menemui Jono yang notabene pria yang suka menerkam wanita. 

“Tenang saja, Cantik,” kata Jono mesum, dan jarinya terulur bermaksud mencolek hidung bangir milik Ayu, namun—

Plak! 

Dengan gesit, wanita itu menggeplak telapak tangan Jono, yang jahil. 

“Aku bukan wanita murahan!” desis Ayu. 

Jono terkekeh, pria itu mengangkat kedua tangannya. 

“Apa kau ingin jumlah uang berlipat ganda?”

Kedua mata Jono berbinar kehijauan, kala mendengar tawaran Ayu. “Aku bisa menggandakan lima kali lipat uang di tanganmu.”

“Katakan, apa yang harus kulakukan.”

Ayu tersenyum senang, akhirnya Jono termakan umpan yang ia lemparkan. Dulu, Jono adalah teman tidur Anjani, bukan tidak mungkin jika pria itu juga adalah saksi kedua dari kejadian 20 tahun yang lalu. 

Yakni, peristiwa yang menewaskan Restu. 

1
Pujierde
terima kasih atas karya yang menarik, sehat selalu dan di tunggu karya" lainnya lope...lope...author 😍😍
Pujierde
ada hikmah dibalik penyekapamu ya pink syukurlah perkataan mer" masuk kehatimu
Pujierde
sesuai dengan nama mereka berdua yaks 😁😁
Pujierde
bagus kamu udh paham siapa miranda
Pujierde
jadi inget yang pak menteri yang terlibat sm si gun itu menteri bapaknya tian gak sih pesanan busananya gak jadi donk
Pujierde
hebat madame gi 👋👋
Pujierde
udh berani yaaaa😂😂
Pujierde
pintar.....udh gak gugup lagi kaaaaan 😁😁
Pujierde
keren juga cara maksnya 😂😂 cinta mah bisa menyusul ya gak yang penting nikah aja dulu
Pujierde
wkwkwk betul banget tau aja ney biru klo pak jordan sedang gugup 🤣🤣
Pujierde
bingungkan jadi ngakak liat kegugupan pak jordan 😆😆😆😆😆😆
Pujierde
gak salah ucapkan ? bisa" ngamuk si tengil jor"
Pujierde
pak jordaniah jangan" langsung melamar mama giana 😄😄
Pujierde
syukurlah si mer" selamat semoga gak ada gtm (gerakan tutup mulut ) dari si mer"
Pujierde
lupa kak apakah temennya danesh ?
Pujierde
pantesan pelurunya gak habis" yaks ternyata bisnis ilegalnya senjata untung pink gak mw sama si dadar
Pujierde
oh ternyata punya bisnis gelap juga toh berarti hasil jerih payahnya gak halal juga donk
Pujierde
terus si mer" kondisinya gimana ? matikah ato berhasil melarikan diri ?
Pujierde
klo dalam hukum agama bukankah mempertontonkan auratnya termasuk tidak halal yaaa ?
Pujierde
hanya karena obsesi kamu terhadap pink jadi membuat kamu lupa segala jerih payah dar seandainya kamu datang dengan gentle mungkin pink bisa berbalik mencintai kamu asal kamu menunjukan cinta yang tulus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!