Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Mencari Ratu Regina
Grenseal dan Carles di tempatkan di satu ruangan yang sama sementara ketiga orang lainnya di tempatkan di kamar yang berbeda.
Begitu William sudah pergi meninggalkan mereka, tiga orang pengawal Grenseal yang ikut serta bergegas keluar ruangan dan memasuki kamar di sebelahnya.
"Yang mulia!" Ucap ketiganya kompak sambil membungkuk.
"Jangan bersuara keras," timpal Carles memberi kode. Ia melirik ke arah salah satu dari mereka dan berkata, "cepat tutup pintunya." Pria yang berdiri di paling kiri lantas berbalik dan menutup pintu ruangan sambil memastikan dulu keluar kalau tidak ada siapa pun yang menguping, baru kemudian ia menutup pintu tersebut rapat-rapat.
Semuanya kini berkumpul dalam satu meja yang sama, menunggu Raja muda mereka untuk berbicara.
"Dia menginginkan aliansi mutlak untuk pembebasan blokade," ucap Grenseal menjelaskan inti dari surat perjanjian itu dengan geram.
"Aliansi mutlak? Apa anda bisa menjelaskan lebih detail seperti apa?" Tanya Carles.
"Dia ingin Duncan ada di bawah pengawasannya, tunduk, patuh dan setia. Setiap keputusan Duncan nantinya harus lewat tinta hitam darinya," jawab Grenseal dengan ekspresi marah. Urat-urat pada pelipisnya terlihat sedikit menonjol dan terlihat.
"Itu sama saja Duncan menjadi jajahan!" Celetuk seorang pria yang juga sama marahnya setelah mendengar itu.
"Lebih buruk, Duncan jadi tawanan dan harus menyerah tanpa syarat!" Balas Grenseal yang merasa kedudukan Duncan malah di bawah dari sekedar menjadi jajahan.
"Kenapa dia mengincar Duncan sampai seperti itu, bahkan berani bertindak licik?" Ujar pria lain dengan rambut hitam keabu-abuan.
"Yang mulia, apa ada hal lain yang tertulis?" Tanya Carles lagi.
"Kekuatan militer, dia menginginkan itu dan...." Grenseal diam sejenak. Sepertinya ia sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu. "Ada sesuatu yang membuatku masih tidak yakin, aku akan coba tanyakan itu nanti kepadanya," sambungnya tak jadi meneruskan apa yang hendak ia ucapkan. Ia tak ingin yang lain jadi salah pengertian.
"Sebenarnya apa yang dimaksud Louis dengan menginginkanku dan Duncan? Kalimat itu sedikit aneh...." Grenseal tampak memikirkan kembali kalimat tersebut dengan hati-hati.
.
.
Sementara itu Serah beserta para gadis sudah meninggalkan kebun istana dan berjalan kembali melewati lorong istana. Di jalan rombongan mereka bertemu dengan William yang baru saja mengantar rombongan Grenseal.
Pria itu tampak terkejut saat berpapasan dengan Serah dan rombongannya.
"Ya-Yang mulia, Serah," ucap pria itu yang langsung buru-buru membungkuk memberikan hormat, lalu ia berusaha untuk kembali berjalan dan mempercepat langkah.
"Tuan William, tunggu sebentar." Namun tampaknya Serah tak membiarkannya pergi begitu saja. Ada hal lain yang ingin dia tanyakan.
William yang tadinya hendak meloloskan diri, terpaksa berhenti dan kembali membalikkan tubuhnya ke arah samping.
"Ada apa, Yang mulia?" Tanyanya dengan sikap sedikit waspada.
"Aku ingin bertanya, apa benar Yang mulia Louis sedang mengadakan pertemuan?" Tanya Serah langsung tanpa basa-basi.
William terdiam. Ia terlihat ragu mengenai informasi ini, apakah ia harus memberitahukannya kepada Serah sebelum Louis, atau ia harus mencari alasan lain?
"Maaf, Yang mulia, saya pikir Yang mulia Louis sudah berbicara kepada anda," jawabnya dengan sangat hati-hati. Dia tak ingin memberi kesan sedang menutupi apapun tapi juga tak ingin melanggar kewenangan sebelum perintah dari Louis.
"Baiklah, terimakasih, kau boleh pergi," balas Serah kemudian.
"Terimakasih, Yang mulia." William membungkuk kembali lalu pergi. "Syukurlah dia tidak menanyakan hal itu lebih lanjut," ucapnya dalam hati sembari berjalan, merasa lega karena Serah tidak mencecar atau mendesaknya. Diam-diam ia bernapas lega.
.
.
Serah akhirnya sudah kembali berada di dalam ruangan kamarnya bersama para gadis. Ia terlihat puas akan hari ini. Setidaknya dia tak terlalu kesepian karena ada teman bicara karena sejak awal ia masuk istana 2 bulan lalu, ia tak memiliki teman dan hanya menghabiskan waktu bersama Louis yang pada akhirnya membuat ia seperti memiliki ketergantungan pada pria itu.
"Nona-nona, kalian semua bisa kembali, dan untuk Cristine kau tetap bersamaku," ujarnya setelah berada di dalam kamar.
"Baik, Yang mulia," sahut para gadis segera membungkuk lalu pergi.
Tapi saat itu Helena masih berdiri di sana. Wajahnya terlihat bingung. Ia seperti enggan untuk pergi.
"Lady Helena? Apa ada sesuatu yang ingin dikatakan?" Serah langsung saja menegur gadis itu.
"Umm, Yang mulia, apa boleh aku ikut tinggal di sini?" Tanyanya tiba-tiba tanpa suatu alasan jelas.
"Ada alasannya?" Satu pertanyaan cepat dari Serah membuat Helena semakin bingung dan gelisah.
"Uhmm...." Helena jelas sekali terlihat seperti orang yang sedang berusaha keras berpikir untuk mencari-cari alasan.
Karena sama sekali tak menjawab Serah pun akhirnya mengambil sikap. "Kalau kau tidak memiliki kepentingan silahkan tinggalkan tempat ini, karena aku sudah bersama dengan Lady Cristine," ucapnya tegas, seolah ingin memperjelas batas yang tak bisa dilewati oleh Helena.
"Tapi, aku yang seharusnya bersama dan melayani anda, Yang mulia, karena aku yang diistimewakan oleh Yang mulia Louis." Benar saja, Helena langsung membantah bahkan setelah diberi perintah tegas. Gadis muda itu masih menolak aturan yang telah ditetapkan oleh Serah dan kembali menyinggung soal hak istimewa dari Louis.
"Lady Helena, bukankah ucapan ku sudah jelas kalau Cristine yang menjadi pilihanku." Serah dengan cepat menyanggah semua ucapan Helena.
"Helena lebih baik kau keluar sekarang, ini perintah dari Putri Serah, orang yang akan segera menjadi Ratu. Apa kau berani melawan perintah Ratu?" Lanjut Cristine memberi penegasan yang lebih keras.
"Yang mulia, Serah seharusnya anda bisa lebih mengikuti aturan dari Raja Louis, karena di kerajaan ini dia lah yang berkuasa meskipun kelak kau akan menjadi Ratu." Helena ternyata masih berani bersuara bahkan ucapannya seakan sarat akan ancaman.
"Lady Helena?" Cristine sangat terkejut melihat sikap Helena yang sudah keterlaluan. Dia berani memberi peringatan kepada Serah, calon Ratu mereka.
Wanita yang mengenakan gaun hijau emerald berpadu dengan kuning pastel itu segera bergerak. Ia berjalan dengan langkah cepat dan menarik tangan Helena begitu saja keluar dari ruangan sebelum gadis itu mengatakan hal lain yang lebih kurang ajar.
"Hei, aku belum selesai! Ini tidak a--" Helena yang ditarik oleh Cristine langsung protes.
Cristine tidak peduli mau seberapnn keras gadis itu berteriak. Dia buru-buru menutup pintu ruangan sambil memegang dadanya yang sesak. Dia tak habis pikir, keberanian apa yang dimiliki Helena sampai bisa melewati batas seperti itu. Apa Helena sedang berpikir dirinya lebih tinggi di atas Ratu?
"Yang mulia, saya minta maaf atas sikap Helena, sungguh saya tidak mengerti dan mengira dia akan...." Cristine tampaknya shock sendiri. Namun Serah tetap tenang. Ia tahu kenapa Helena bisa seberani itu karena Louis ada di belakangnya. Tapi itu tak akan lama. Louis tak akan mungkin terus berada di pihak Helena dan membiarkan dirinya dipermalukan oleh gadis kecilnya itu.
"Tenangkan dirimu, Lady Cristine," balas Serah yang menuntun Cristine untuk berjalan ke arah bangku. "Duduklah dulu, dan minumlah...," lanjutnya sambil menuangkan segelas air untuk Cristine yang terlihat sesak.
.
.
Di ruangan kamar yang berbeda Grenseal tampak masih memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia menyerah begitu saja?
Pria itu menghela napas berat dan duduk. Carles dan ketiga orang lain diam-diam merasa cemas. Mereka dapat ikut merasakan beban berat yang sedang dipikul oleh Raja muda mereka yang baru memimpin kerajaan selama 4 tahun belakangan setelah ia menggantikan kakaknya yang meninggal di medan pertempuran.
"Apa tak ada cara lain selain menyerah kepadanya?" Gumam Grenseal yang mencoba menimbang-nimbang dan mulai memikirkan opsi itu.
"Yang mulia, menyerah kepadanya sama saja dengan mati!" Ucap seorang pengawal muda dengan cepat. Namanya Alexander, dan ia sudah cukup lama menjadi pengawal pribadi Grenseal.
"Aku setuju dengan Alex, lebih baik mati daripada hilang kedaulatan," timpal pria lainnya yang tampak lebih tua dari yang lain namun masih terlihat gagah.
"Carles, apa kau punya pendapat?" Tatapan Grenseal kini beralih kepada sang penasehat kerajaan.
"Aku sudah memikirkannya, Yang mulia..., dan ada satu cara...," ucapnya seperti sebuah oase harapan di telinga Grenseal dan yang lain. Atensi pun langsung fokus kepada sang penasehat.
"Kalau kita bisa merebut simpati dari kerajaan Regina dan bisa bekerjasama dengan mereka, aku yakin kerajaan itu dapat membantu kita dalam masalah krisis pangan, dan yang harus kita lakukan adalah bertemu dengan Ratu kerajaan Regina, Serah Spencer," jelasnya yang membuat semua orang terdiam.
"Dia harusnya ada di pertemuan antar delegasi nanti 'kan...," ucap Wales.
"Aku akan mencarinya dan mencoba untuk berbicara." Tekad Grenseal sudah kuat. Dia akan mencari Serah Spencer, tanpa menyadari kalau dia sudah bertemu dengan Ratu itu sebelumnya.
Apakah mereka dapat bertemu dan Serah menyetujui permintaan Grenseal?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib