NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pembelaan Zarvan

Pukul 2 siang. Ruang rapat dewan direksi Qalendra Group penuh—bahkan lebih penuh dari meeting pagi tadi.

Anggota dewan yang 10 orang. Papa. Paman Danesh. Khaerul—yang sekarang duduk dengan wajah normal lagi, seperti tidak ada kejadian aneh di basement tadi. Dan di pojok—Damian Qalendra. Pria berusia 45 tahun dengan rambut mulai beruban dan mata yang... kosong.

Mahira dan Raesha duduk berdampingan. Dan di seberang meja—posisi yang biasanya untuk tamu—duduk Zarvan dengan setelan jas hitam formal. Di sampingnya, dua orang: seorang wanita dengan blazer biru (lawyernya) dan seorang pria dengan kacamata tebal dan laptop (auditornya).

"Mr. Zarvan," Irfash membuka meeting, "kami apresiasi kedatangan Anda. Tapi ini internal issue Qalendra Group. Kami tidak yakin—"

"Dengan hormat, Mr. Irfash," Zarvan memotong—sopan tapi tegas, "ini bukan cuma internal issue. Ini terkait merger yang sedang dibahas antara Qalendra Group dan Al-Hakim Corporation. Dan sebagai CEO Al-Hakim, saya punya hak untuk pastikan partner kami... bersih dari fraud."

Paman Danesh menyeringai. "Jadi Anda suggest kami—perusahaan dengan reputasi 50 tahun—melakukan fraud?"

"Saya nggak suggest perusahaan Anda fraud, Mr. Danesh." Zarvan menatap langsung ke mata paman. "Saya suggest ada individu tertentu di perusahaan Anda yang melakukan fraud. Dan individu itu bukan Ms. Mahira."

"Bold accusation." Khaerul angkat bicara—suaranya normal lagi, tidak ada nada aneh. "Kamu punya bukti, Mr. Zarvan? Atau cuma... personal bias karena kamu close sama Mahira?"

Oh. Jadi dia main kartu itu.

"Personal bias?" Zarvan tersenyum tipis—senyum yang nggak nyampe mata. "Menarik kamu sebut itu, Mr. Khaerul. Karena yang punya personal bias di ruangan ini sepertinya bukan saya."

"Apa maksud—"

"Sarah," Zarvan menoleh ke lawyer-nya, "tolong."

Wanita itu membuka laptop, memproyeksikan layar ke TV besar di dinding. Muncul email. Email dari Khaerul ke seseorang dengan nama "D.Q.".

"Ini email yang kami terima dari whistleblower anonymous di Qalendra Group," jelas Sarah dengan suara profesional. "Email ini dikirim dari akun pribadi Mr. Khaerul ke akun yang terdaftar atas nama D.Q.—yang kami konfirmasi adalah Mr. Damian Qalendra."

Semua mata tertuju ke Damian. Pria itu tidak bergerak. Tidak bereaksi. Seperti patung.

"Isi email," lanjut Sarah, "membahas rencana untuk 'diskreditkan M.Q.'—yang konteksnya jelas adalah Ms. Mahira Qalendra—dengan cara membuat transfer ilegal yang seolah-olah disetujui olehnya."

"OBJECTION!" Paman Danesh berdiri. "Email ini bisa dipalsukan! Siapa whistleblower-nya? Kenapa anonymous? Ini nggak bisa dijadikan bukti—"

"Bisa," potong auditor—pria berkacamata tebal. "Karena kami sudah trace metadata email ini. Kami konfirmasi IP address pengirim. Dan—" dia menatap Khaerul, "—IP itu match dengan IP yang digunakan untuk access akun Ms. Mahira secara illegal."

Keheningan.

"Furthermore," auditor melanjutkan sambil mengetik di laptopnya, "kami juga menemukan transaksi mencurigakan dari rekening pribadi Mr. Khaerul ke rekening vendor fiktif—PT Mitra Sejahtera—sehari sebelum transfer ilegal dari Qalendra Group terjadi. Jumlahnya sama: 500 juta rupiah."

"Itu—itu kebetulan—" Khaerul mulai panik. Matanya bergerak-gerak cepat—mencari jalan keluar.

"Kebetulan yang sangat spesifik," Zarvan menyela. "Dan ada satu lagi kebetulan yang interesting." Dia mengangguk ke Sarah.

Layar berganti. Foto CCTV. Khaerul dan Damian—berdiri di parking lot gedung kantor, tengah malam, dua minggu lalu.

"Mr. Damian," Zarvan menatap paman yang masih diam itu, "Anda officially masuk ke Indonesia dua minggu lalu. Tapi tidak report ke kantor imigrasi. Anda pakai visa turis—yang aneh untuk seorang businessman. Dan malam itu—" dia menunjuk layar, "—Anda ketemu dengan Mr. Khaerul. Dan besoknya, access illegal ke akun Ms. Mahira dimulai."

Damian akhirnya bergerak. Ia berdiri—perlahan. Dan senyumnya—senyumnya membuat Mahira merinding.

"Impressive, Mr. Zarvan," katanya dengan suara yang... yang terdengar seperti punya echo. "Kamu memang sepadan dengan reputasimu. Tapi kamu tidak tahu semua cerita."

"Damian," Irfash berdiri juga, "apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu—"

"Kenapa aku ingin hancurkan Mahira?" Damian tertawa—tertawa yang membuat seisi ruangan tidak nyaman. "Karena dia seharusnya tidak ada, Irfash. Dia seharusnya tidak dilahirkan. Tidak di keluarga ini."

"Apa maksudmu?!" Syafira—yang dari tadi diam—berteriak.

"Ibu tidak tahu?" Damian menatap kakak iparnya. "Ibu tidak tahu bahwa Mahira adalah... anomali? Bahwa kelahirannya adalah kesalahan takdir yang seharusnya dikoreksi?"

Mahira merasakan dadanya sesak. "Aku... apa maksudnya?"

"Kamu adalah reinkarnasi yang salah, Mahira." Damian melangkah lebih dekat—dan security yang di pintu bergerak untuk menghalangi tapi Irfash mengangkat tangan—signal untuk biarkan dia bicara. "Putri Mahira Kencana seharusnya tidak bereinkarnasi. Jiwanya seharusnya tenang di alam barzakh. Tapi ada yang... yang memaksakan dia kembali. Dan itu menciptakan... unbalance."

"Siapa yang memaksa?" tanya Zarvan—suaranya dingin.

"Aku." Damian tersenyum lebar. "Aku yang manggil jiwanya. Dengan ritual. Dengan kutukan. Karena aku juga... aku juga bagian dari cerita 300 tahun lalu. Aku adalah—"

"—pengkhianat kedua." Ustadz Hariz tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Semua orang kaget. Tidak ada yang tahu kapan dia datang. "Kamu adalah adik Khalil. Pangeran Danial. Yang membantu kakakmu membunuh Putri Aisyara dan Pangeran Zarvan."

Mahira merasakan dunia runtuh. Paman Damian. Adik bungsu Papa yang selalu baik padanya. Yang selalu kirim kado dari London setiap ulang tahun.

Adalah reinkarnasi dari... pengkhianat.

"Ustadz Hariz," Irfash menatap ustadz dengan mata terbelalak, "bagaimana Anda—"

"Pak Zarvan yang hubungi saya pagi ini. Minta saya datang sebagai saksi spiritual." Ustadz Hariz melangkah masuk dengan tenang. "Dan saya lihat auratnya. Aura Damian Qalendra... gelap. Penuh dendam. Penuh dosa yang dibawa dari kehidupan lalu."

"BULLSHIT!" Damian berteriak—dan suaranya berubah. Jadi lebih dalam. Lebih tua. "Kalian tidak bisa buktikan apa-apa! Ini semua—"

"Kami bisa." Zarvan mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah buku tua. Buku yang Mahira kenal. "Ini diary Putri Mahira Kencana. Diary yang kami temukan di mansion keluarga Al-Hakim—tersembunyi di balik lukisan. Diary yang ditulis seminggu sebelum dia meninggal."

Ia membuka halaman tertentu—halaman dengan tulisan tangan yang rapi tapi gemetar:

*"Pangeran Khalil semakin aneh. Tatapannya semakin gelap. Dan adiknya—Pangeran Danial—membisikkan hal-hal yang menakutkan. Dia bilang, 'Kakak akan memilikimu. Atau tidak ada yang akan memilikimu'. Aku takut. Aku sudah beritahu Ayahanda tapi beliau bilang aku terlalu sensitif. Tapi aku tahu. Aku tahu ada yang salah. Dan aku takut... takut besok malam—malam sebelum pernikahan—akan jadi malam terakhirku."*

Keheningan total.

"Dia tahu," bisik Mahira dengan air mata mengalir. "Aisyara tahu dia akan dibunuh. Tapi tidak ada yang percaya."

"Dan sekarang," Zarvan menatap Damian dengan mata penuh amarah yang tertahan, "sejarah tidak akan terulang. Karena kali ini, kami siap. Kami punya bukti. Kami punya saksi. Dan kami—" dia menatap Mahira, "—tidak akan biarkan kamu menyakiti dia lagi."

Damian terdiam. Lalu—ia tertawa. Tertawa yang membuat seisi ruangan bergidik.

"Kamu pikir dengan bukti, dengan saksi, kalian bisa hentikan takdir?" Ia menatap Zarvan dengan mata yang mulai hitam—persis seperti Khaerul tadi pagi. "Kalian berdua akan mati. Seperti 300 tahun lalu. Dan aku—kami—akan pastikan kali ini, tidak ada reinkarnasi lagi. Jiwa kalian akan kami hancurkan. Total."

Dan—

Lampu ruang rapat padam.

Semua berteriak. Kekacauan. Suara benda jatuh. Suara—

"MAHIRA!" teriak Zarvan.

Tapi Mahira tidak bisa jawab. Karena ada tangan—tangan dingin—mencekik lehernya dari belakang.

Dan suara berbisik di telinganya:

"Akhirnya... akhirnya aku bisa selesaikan ini."

---

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!