"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Puncak ketegangan di kamar itu mendadak terhenti oleh getaran ponsel di saku celana Jimmy. Suara nada dering khusus itu membuat darah Jimmy seolah berhenti mengalir.
"Sial, siapa yang menghubungiku tengah malam begini!" maki Jimmy dengan suara tertahan. Ia menjauhkan wajahnya dari leher Leana.
"Diego?" gumam Jimmy.
Ponsel itu terus bergetar, menunjukkan ikon video call. Jimmy tahu Diego bukan tipe pria yang suka menunggu. Jika ia tidak mengangkatnya, Diego akan mengirim satu batalyon ke apartemen ini dalam sepuluh menit.
"Siapa?" tanya Leana dengan mata berkilat nakal melihat kepanikan di wajah pria yang biasanya tak punya rasa takut itu.
"Ayahmu," desis Jimmy. Ia menatap Leana yang masih polos tanpa busana, lalu menatap ponselnya. Jimmy bahkan tak punya waktu untuk menyuruh Leana berpakaian.
"Jangan bergerak. Jangan berbalik. Dan demi Tuhan, jangan bersuara!" ucap pria itu lagi.
Jimmy menyambar kemejanya yang tersampir lalu memakainya dengan terburu-buru tanpa dikancingkan hanya untuk menutupi bagian depannya.
"Halo Diego, apa kabar," sapa Jimmy.
Wajah garang Diego Frederick muncul di layar, latar belakangnya menunjukkan ruang kerja mewah di mansion pria itu.
"Jimmy! Kenapa lama sekali mengangkat panggilan dariku, hah!" seru Diego. Matanya yang tajam menyipit saat melihat pemandangan di layar ponsel Jimmy.
Jimmy memegang ponsel dengan sudut yang sedikit tinggi, namun ia tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa di belakangnya, ada seorang wanita yang sedang berdiri membelakanginya dengan punggung polos yang terekspos jelas.
"Astaga, Jimmy! Aku menghubungimu untuk menanyakan kabar putriku, dan aku malah melihatmu sedang sibuk dengan wanita panggilan?"
Jimmy berdeham. Ia berusaha tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Diego. Aku sedang sedikit sibuk."
"Sibuk?! Kau sedang berpesta di kamarmu saat aku memercayakan Leana padamu?!" Diego memaki dalam bahasa Italia. "Lihat dirimu! Kemejamu berantakan, wajahmu merah seperti kepiting rebus. Siapa wanita itu? Suruh dia pergi! Aku tidak ingin ada pela-cur di dekat area privasi putriku!"
Leana, yang mendengar dirinya disebut wanita panggilan dan pela-cur oleh ayahnya sendiri, hampir saja tertawa. Alih-alih diam, Leana mulai menggerakkan jemarinya.
Tangannya yang mungil merayap turun ke bawah kemeja Jimmy yang terbuka, menyentuh perut pria itu yang keras, lalu turun lebih jauh menuju tonjolan di balik celana kain Jimmy yang sudah sesak sejak tadi.
Mata Jimmy membelalak. Ia nyaris melepaskan ponselnya saat merasakan sentuhan berani Leana di area sensitifnya.
"Jimmy? Kenapa wajahmu jadi aneh begitu? Kau sakit?" tanya Diego dengan curiga, wajahnya mendekat ke kamera.
"T—tidak... aku... ahh..." Jimmy menggigit bibir bawahnya, menahan erangan yang hampir lolos saat jemari Leana mulai memberikan tekanan yang pas di sana.
"Aku hanya sedang sedikit kram otot, Diego."
"Kram otot atau kau sedang bekerja keras di atas ranjang, hah?" Diego terkekeh sinis, tanpa sadar bahwa wanita panggilan yang ia maki adalah putrinya sendiri. "Dengar, bagaimana kabar Leana? Anak buahku bilang tadi ada keributan di hotel. Apa dia sudah tidur?"
"Dia sudah di kamarnya. Dia aman. Aku sudah memastikannya sendiri," jawab Jimmy dengan terbata-bata. Tangannya yang bebas mencengkeram pinggiran nakas hingga kayunya tergores, berusaha menahan sensasi nikmat dan kesal secara bersamaan.
"Bagus. Pastikan dia tidak bergaul dengan sembarang pria di sana. Lingkungan tempat Leana tinggal sekarang sangat berbahaya untuk gadis polos sepertinya," ucap Diego dengan sungguh-sungguh.
Leana yang mendengar kata polos langsung tersenyum miring. Ia sengaja menggesekkan telapak tangannya lebih berani, membuat Jimmy harus mematikan mikrofon ponsel sejenak untuk memaki Leana.
"Berhenti atau kubunuh kau," bisik bibir Jimmy tanpa suara.
Leana justru menjulurkan lidahnya, menggoda Jimmy habis-habisan.
"Jimmy! Kau masih di sana?" teriak Diego.
Jimmy segera menyalakan mikrofon kembali. "Ya! Ya, Diego. Aku di sini. Maaf, sinyalnya buruk."
"Ya sudah. Lanjutkan saja kegiatanmu dengan teman malammu itu. Tapi ingat, besok pagi-pagi sekali kau harus sudah berada di samping Leana. Jangan sampai kau terlambat karena kelelahan bermain!"
"Tentu aku tidak akan terlambat," jawab Jimmy. Begitu panggilan terputus, Jimmy langsung melempar ponselnya ke atas ranjang dan menyambar tangan Leana, menariknya menjauh dari miliknya.
"Kau ingin mati, hah? Jika ayahmu tahu itu kau, dia akan memotong kepalaku dan menjadikanmu tahanan rumah selamanya!"
Leana terkikik, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia melangkah maju, kembali menempelkan tubuh polosnya pada kemeja Jimmy yang terbuka.
"Tapi papa tidak tahu, kan? Dia malah menyuruhmu melanjutkan kegiatanmu denganku, Jim," balas Leana mengerling nakal.
Jimmy menatap Leana dengan tatapan yang bisa membakar apa saja. Hasrat yang tertahan karena gangguan telepon tadi kini kembali meledak dua kali lipat lebih kuat.
"Kau benar-benar nakal, Leana Frederick. Malam ini, tidak akan ada lagi susu hangat atau cerita pengantar tidur." Jimmy menyambar tengkuk Leana, membungkam tawa gadis itu dengan ciuman yang kasar dan penuh tuntutan.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁