NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Jam 10:00 di coworking space terasa sedikit lebih hidup dari biasanya.

Bukan karena musik yang diputar lebih keras, melainkan karena satu event kecil kantor yang sedang berjalan di area tengah lantai empat. Beberapa meja disusun ulang, membentuk pola yang rapi. Roll banner berjajar di sudut-sudut ruangan, menampilkan logo dan tulisan yang semarak. Di sela-sela itu, beberapa klien tampak mondar-mandir dengan map tipis di tangan, sesekali berhenti untuk menatap materi di meja atau berdiskusi pelan dengan staf, menambah kesibukan yang terasa hangat tapi tidak bising.

Cyan berdiri di dekat salah satu meja, blazer tipisnya menempel rapi di tubuhnya. Sementara rambutnya terikat rapi seperti biasanya, menampilkan sosok yang tegas, tapi penuh perhatian. Di depannya, seorang klien pria dari perusahaan partner sedang menjelaskan sesuatu dengan antusias. Tangan yang bergerak-gerak menekankan poin-poin, matanya bersinar saat membahas ide-ide baru. Cyan mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk halus, seolah menyaring setiap kata yang keluar dari mulut klien itu.

“Jadi, kalau kita geser timeline-nya ke minggu kedua, deliverables-nya masih aman,” kata pria itu, sambil menunjuk layar tablet.

Cyan mengangguk, lalu sedikit mencondongkan badan agar bisa melihat lebih jelas.

“Bisa. Tapi saya perlu memastikan tim desain kami tidak terbawa terlalu jauh dari jadwal awal.”

“Oh, tentu,” jawab pria itu cepat. “Makanya saya senang berdiskusi langsung dengan Bu Cyan. Rasanya enak banget diajak mikir bareng, semuanya jadi lebih jelas."

Cyan tersenyum profesional. “Kita cari solusi yang paling realistis saja, Pak.”

Dari kejauhan, tepat di balik rak brosur, Magenta berhenti sejenak. Langkahnya otomatis melambat, seolah gravitasi tak kasat mata menahan kakinya, ketika matanya menangkap pemandangan itu.

Cyan.

Dan klien pria itu.

Mereka berdiri cukup dekat. Tidak terlalu dekat, tidak melewati batas juga, tapi cukup untuk membuat dada seseorang terasa panas.

Magenta menyipitkan mata. “Kenapa berdirinya mepet banget, ya?” gumamnya pelan, ke dirinya sendiri.

Ia menyilangkan tangan, bersandar sebentar pada pilar, membiarkan dirinya mengamati dari kejauhan. Dari posisi itu, ia bisa menangkap ekspresi Cyan yang serius namun santai, dengan sorot mata yang penuh perhatian. Sesekali Cyan tersenyum atau tertawa kecil, tapi bukan tawa lepas, lebih seperti tawa profesional yang ringan dan terkontrol.

Magenta menghela napas pendek. “Itu bentuk profesional, Genta,” bisiknya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi entah kenapa, dadanya terasa sedikit tidak nyaman. Raka muncul entah dari mana, membawa setumpuk berkas.

“Ngapain lo berdiri bengong kayak satpam mall?” tanyanya santai.

Magenta tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju ke arah Cyan.

Raka mengikuti arah pandang itu. “Oh, pantesan," senyumnya melebar perlahan. “Sekarang udah masuk giliran lo, mas?”

Magenta melirik tajam. “Giliran apaan?”

“Cemburu,” jawab Raka ringan. “Kemaren Bu Cyan dibikin cemburu sama lo. Sekarang, lo yang dibikin cemburu sama Bu Cyan.”

“Gue gak cemburu," bantah Magenta.

Raka menepuk pundak Magenta pelan. “Kalau enggak cemburu, lo gak bakal berdiri di sini selama lima menit penuh, cuma buat merhatiin jarak mereka, mas.”

Magenta mendecak. “Ck! Gue cuma… mastiin klien itu enggak kelewat batas.”

“Haha,” Raka tertawa kecil. “Concern profesional, ye?"

Magenta memukul lengan Raka pelan. “Diem, lo.”

Di sisi lain, pembicaraan Cyan dengan klien itu akhirnya selesai. Pria itu tersenyum puas, lalu mengulurkan tangan. “Terima kasih, Bu Cyan. Diskusinya sangat membantu."

“Sama-sama,” jawab Cyan sambil menjabat tangannya. “Nanti saya follow up via email.”

Setelah klien itu pergi, Cyan menghembuskan napas pelan. Ia berbalik dan langsung menangkap sosok Magenta yang berdiri tidak jauh darinya. Dan saat ini, pandangan mereka bertemu.

Magenta, diikuti Raka, melangkah mendekat ke arah Cyan.

“Lagi sibuk?” tanya Magenta.

“Lumayan,” jawab Cyan. “Ada apa?”

“Enggak,” katanya cepat. “Nanya aja.”

Raka menyengir di belakang Magenta. "Nanya aja, apa nanya banget?"

Magenta menoleh. “RAKA.”

Cyan melirik mereka bergantian. “Ada apa?”

“Enggak,” jawab Magenta. “Raka lagi kurang kerjaan aja hari ini.”

Raka mengangkat tangan tanda menyerah. “Saya pergi duluan, deh. Takut kena peluru nyasar.”

Setelah Raka benar-benar menjauh, suasana di antara Cyan dan Magenta jadi sedikit… aneh. Seperti ada sesuatu yang menggantung.

“Kamu kenapa? Keliatan beda hari ini," tanya Cyan.

“Beda gimana?” jawab Magenta.

“Kayak…” Cyan berhenti sejenak, mencari kata. “Kayak lagi gelisah, karena mikirin sesuatu.”

Magenta tersenyum tipis. “Kamu juga.”

Cyan mengangkat alis. “Aku?”

“Iya,” jawab Magenta santai. “Tadi pagi kamu serius banget.”

Cyan mendengus kecil. “Aku lagi kerja, fokus sama kerjaan itu udah jadi tanggung jawabku.”

“Hmm.” Magenta mengangguk, lalu melirik ke arah tempat klien tadi berdiri. “Tadi ngobrolnya lumayan lama, ya."

“Diskusi kerja,” jawab Cyan cepat.

“Iya, aku tahu, kok,” kata Magenta ringan. “Aku cuma bilang... lama aja."

Cyan menatapnya sekilas. Ada nada aneh di kalimat itu. Bukan marah, bukan menyindir, lebih seperti sedang menahan sesuatu.

“Ada yang mau diomongin lagi? Kalo enggak, aku mau turun," ucap Cyan akhirnya.

Magenta mengusap tengkuknya sebentar. “Aku enggak marah," ucap Magenta tiba-tiba.

“Gak ada yang bilang kamu marah," sahut Cyan.

“Nah, itu dia,” Magenta terkekeh kecil. “Kamu defensif.”

Cyan menghela napas panjang. “Aku?”

Sekarang Magenta menatap lurus ke arah Cyan. Tatapannya jelas, tapi tidak terlalu serius. “Aku cuma mau bilang,” katanya pelan, “aku enggak terlalu suka kalau kamu terlalu dekat sama dia.”

Cyan terdiam.

Nada itu, kalimat itu, terdengar lembut, tenang, tapi kenapa?

“Terlalu dekat gimana?” tanya Cyan hati-hati.

“Ya… sedekat tadi,” jawab Magenta, bahunya sedikit terangkat. “Sewajarnya klien emang enggak bisa?”

Ada jeda.

Cyan menatap Magenta lebih lama dari biasanya, mencoba membaca ekspresi yang sulit ditebak itu.

“Kamu kenapa sih? Dia klien kita, ngobrol tadi juga enggak berlebihan. Kamu cemburu?” tanyanya, setengah tak percaya.

Magenta langsung menggeleng. “Enggak.”

“Bilang aja, kamu—”

“Aku cuma," potong Magenta cepat, “ngomong sebagai… rekan kerja.”

“Dan,” tambahnya, “sebagai… pacar palsu kamu.”

Cyan menahan senyum. “Pacar palsu yang atur jarak interaksi aku sama klien?”

“Pacar palsu yang cemburu, Cyan,” balas Magenta tanpa sadar.

Mendengar jawaban Magenta, Cyan hanya tertawa kecil.

Magenta tersentak, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang singkat. Kata-kata yang tadi meluncur begitu saja, kini berdengung di kepalanya dengan nada yang sama sekali berbeda.

Rasa malu merayap pelan, menahan Magenta untuk menatap Cyan terlalu lama. Sikapnya barusan terasa begitu posesif, dan kesadaran itu menusuk dadanya, membuat detak jantungnya berdesir tak nyaman.

Tak ingin berlama-lama terperangkap dalam kecanggungan yang ia ciptakan sendiri, Magenta memilih melangkah pergi lebih dulu. Ia berjalan menuju lift, meninggalkan Cyan di belakang. Berharap jarak bisa meredam rasa malu yang sudah terlanjur menempel.

"Gue tadi kenapa, sih? Bodoh banget bisa ngomong kayak gitu di depan Cyan,” Magenta mengumpat dalam hati, saat pintu lift menutup perlahan di depannya.

Ruang sempit lift mendadak terasa pengap, hanya diisi dengung mesin dan pantulan bayangannya sendiri di dinding logam yang dingin. Ia mengepalkan jemarinya tanpa sadar, sementara setiap kata yang baru saja keluar dari mulutnya terus memantul di kepala seperti gema yang tak kunjung berhenti.

“Emang gue siapa?” bisiknya pelan, hampir seperti menantang dirinya sendiri.

Napasnya tertahan sebentar saat lift mulai turun. “Ada hak apa gue sampe berani ngomong kayak gitu?” gumamnya dalam hati.

Kesadaran itu langsung membuatnya kaku. Kata-katanya barusan terdengar terlalu menuntut. Sedikit cemburu, sesuatu yang sebenarnya tidak seharusnya ia tunjukkan. Di dalam lift yang bergerak perlahan, Magenta hanya bisa berdiri diam, menahan rasa malu yang masih menempel di dadanya.

“Gila! Gue mesti gimana besok ngadepin dia?! Argh!”

1
Aruna02
laki laki mah kagak kelihatan lah syudah pernah gituan kalo cewek ada bekas nya 😭😭kok nggak adil ya
Aruna02
gentaaaa OMG jangan nyosor mulu
Laila Sarifah
Cyan pegangan ke bahu Genta dh kayak tukang ojek aja, peluk di perut kek✌️🤣
Rivella
lucu bnget deh Cyan dan Magenta🤣🤣
Rivella
lucu bnget namanya😭😭🤭
Aleaa
masa yang begini ngga pakai perasaan sih wkwkwk
Wulandaey
Lha si arga mau jadiin cyan bini kedua👍 jelas2 genta aj deketin stgh matii... klo kaga dicium jg g bkal genta brhasil tu dket sma bosnya yg galak introvert ini
Aleaa
wkwk genta gentw, lift pun berpihak padamu
Aleaa
Astagaaa ini dua orang dewasa kek bocil jadinya ya
Laila Sarifah
Apa itu yg namanya Karma? Mana suami Vira ini suka jelalatan lagi pasti di atas pesawat dia melakukan hal-hal aneh dgn pramugarinya
Drezzlle
Magenta ini pria yang blak2 an ada plus minusnya. Minusnya nggak bisa bedain lagi serius dan nggak
ainnuriyati
yaah vira sgitu doang kekuatan lu, blm apa2 sh kena sikat cyan
Drezzlle
cubit ya Magenta ih, masih pura-pura bilang nggak suka setelah semua yang terjadi.
brilliani
musang /Angry/ tolongg ada musang birahiyy tlongg
brilliani
jurus ngeles dan denial nya sama kuat🤣
Sinchan Gabut
Astaga Vi ma Ar ini pasangan 🚩🚩

Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
Alessandro
astaga berbagi iler....
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
Alessandro
bs pas.. ini mo puasa yakkk🤭
jd gk sabar war takjil 🔪
Miley
genta heh wkwkw🤣
Miley
sehat² wanita karir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!