Khaira yang hamil saat kuliah terpaksa tidak melanjutkan cita cita nya, ia hamil terbuai oleh rayuan kakak kelas yang playboy.
Namun setelah menikah nasib Khaira justru tragis karena Sam, suami nya yg meneruskan kuliah bermain api dengan teman kampus nya.
Sementara di sisi lain ada Bram kakak Sam yang memberi perhatian kepada Khaira.
Akankah Khaira mengakhiri pernikahan nya? dan melanjutkan scandal yang di buat dengan Bram?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chariz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
"Kak Khaira belum pulang Mam?" tanya Adrena sambil tiduran di sofa.
"Iya katanya Sam lembur, mungkin ke rumah orang tuanya, bosen juga mungkin di sini terus" jawab Meilani.
"Kamu mau kemana?" tanya Meilani melihat Adrena tiba-tiba berdiri.
"Mau ke resto bentar, boleh ya Mam?" bujuk Adrena.
"Pulang jangan larut malam" ucap Meilani tegas.
"Siap komandan" Adreena memberi hormat lalu menyalami tangan ibunya.
Meilani kembali meneruskan pekerjaannya di ruang keluarga, ia sedang mengatur jadwal kegiatannya karena lusa akan mengikuti bakti sosial bersama istri para pengusaha lainnya.
***
Sam masih mengendarai mobil nya, namun tiba-tiba ia menepikan mobilnya.
"Bram" batin Sam. Ia melihat mobil kakaknya itu keluar dari area hotel.
Tak ingin tersiksa oleh kecurigaan, ia memutuskan untuk mengikuti mobil Bram dari jarak yang cukup jauh.
Pikiran nya terus memikirkan kemungkinan yang terjadi, bisa jadi kakaknya itu ingin suasana yang berbeda bersama istrinya.
Sam melajukan mobilnya ke arah yang berbeda, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan kakaknya. Jikapun yang ada di dalam mobil bukanlah Mikha, itu urusan rumah tangga mereka.
***
Khaira mampir sebentar ke toko kelontong, ia membeli beberapa makanan ringan dan membeli kantong plastik untuk menggantikan tas belanja barang-barang yang di berikan Bram.
'Bisa gawat kalau Mamah tanya-tanya' batin Khaira.
Ia memasukkan barang-barang nya dengan cepat, tak lupa memasukkan tas belanja sebelum nya ke dalam tong sampah dekat toko.
Khaira memesan ojek online untuk pulang ke rumah mertua nya.
Saat Khaira sudah tiba, bertepatan dengan mobil Sam yang baru masuk ke gerbang rumah. Segera Khaira membayar ojek online nya.
"Dari mana?" tanya Sam sambil menutup kembali pintu mobilnya.
"Bukan urusan mu" kata Khaira ketus lalu masuk ke dalam rumah.
Sam nampak tersulut amarah, apalagi dirinya sudah lelah bekerja seharian. Sam mengikuti Khaira masuk ke dalam rumah.
"Kalau hamil jangan keluyuran terus" Sam tampak marah terlihat dari nada suaranya yang mendadak tinggi.
"Terus kamu juga apa? sudah mau menjadi ayah tapi masih suka genit sama perempuan lain" Khaira melemparkan kantong plastik milik nya.
"Tapi buktinya hanya bercanda kan, tidak ada yang benar-benar di jadikan pacar"
"Alah itu kan di depanku, mana tahu di belakang"
"Jaga mulut mu ya Ra, yang sopan kalau ngomong sama suami"
"Kamu suami macam apa?" teriak Khaira histeris.
Adrena dan Melani yang baru pulang dari tetangga sebelah, langsung lari mendekati pintu kamar milik Khaira.
"Mam, itu mereka bertengkar gara-gara apa?" bisik Adrena.
Melani menggeleng.
Mang Yono dan Bi Narti pun ikut mendekat.
"Aduh Den Sam dan Non Khaira kenapa, ya Nya?" Bi Narti ikut berbisik.
"Sudah lebih baik kita bubar, sebentar lagi waktu maghrib kita sembahyang dahulu, untuk makan malam buat yang gampang saja" Melani berlalu memasuki kamar nya, di ikuti oleh Adrena yang naik ke lantai atas.
Setelah beres melakukan kewajiban nya, Melani keluar kamar untuk menyambut Pram yang baru pulang dari kantor.
Terlihat Pram sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Papah kok masih duduk, bentar lagi waktu maghrib habis lho Pah"
"Iya Mam" Pram terpaksa menyeret kakinya menuju kamar.
Meilani bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Bi mau buat apa?" tanya Meilani sambil membuka lemari es.
"Sayur nya oseng kangkung saja Nya, biar cepet dan gampang"
Melani mengambil beberapa ikat kangkung untuk ia olah malam ini, kemudian ia mengambil frozen food untuk dipanaskan kembali, aroma makanan seketika menyeruak memenuhi dapur membuat Mang Yono harus menahan kuat air liur nya yang akan menetes, tampak ia mengusap perutnya beberapa kali.