"Perpisahan kita bukan salah siapa2. Bukan sepenuhnya salahmu, salah ku , salah dia ataupun salah waktu. Kita adalah dua orang yg tepat, tapi tepat disini bukan sebagai pasangan melainkan sebagai pembelajaran untuk kita menjadi lebih dewasa"
Nada Ageta Putri
"Jika kesalahan ini sebagai pembelajaran. Bisakah aku tetap belajar bersama mu sehingga kita bisa dewasa bersama"
Juna Genio Lin
"Apakah perasaan cinta sebuah kesalahan? Jika memang iya, aku tak ingin perasaan ini. Perasaan ini terus menggerogoti kewarasan ku dan membuat ku menjadi jahat yang menyakiti orang di sekeliling ku"
Senar Anggriani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moms F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. bab 24
Beberapa bulan telah berlalu semenjak pesta itu.
Nada menjalani aktivitas nya seperti biasa. Proyek yang mereka kerjakan sudah hampir selesai mereka jalani.
Semenjak kejadian di pesta beberapa bulan yang lalu. Nada beberapa kali bertemu dengan Zero secara tidak sengaja. Entah lah, Zero seperti hantu yang muncul tiba-tiba dimanapun mereka bertemu.
Dengan keseringannya bertemu, Nada menjadi santai dan nyaman menyapa jika mereka bertemu. Apalagi sifat Zero tidak terlihat seperti dalam bayangan Nada. Zero sama seperti Abang pertama Nada, tampak dingin di luar dan hangat di dalam. Jadi tak susah bagi Nada untuk beradaptasi akan hal itu.
Zero juga meminta Nada memanggil nya dengan sebutan kakak seperti Melody saat sedang di luar.
Pada suatu sore akhir pekan, sinar menerobos jendela besar di kamar Nada. Menerangi kamar Nada, dimana yang penuh dengan kertas-kertas berserakan di atas kasurnya.
Nada asik menggambar dengan laptopnya. Kacamata anti radiasi bertengger di hidung kecil mancung nya. Alisnya berkerut tenggelam pada gambar yang di desainnya. Fokusnya tak pernah goyah dan tanggan nya dengan lihai membubuhkan garis dan warna pada gambar yang di buat nya.
Dilantai bawah, Ayah dan mama Nada memasuki rumah dengan menunjukkan kelelahan akibat perjalanan panjang yang mereka lalui.
Mereka baru saja mengunjungi anak kedua mereka yang terluka akibat bertugas.
Lelah, sedih dan tak berdaya untuk menyuruh anak mereka kembali menambah kelelahan mereka.
Namun pandangan mereka teralihkan oleh pengurus rumah tangga mereka yang mengatakan bahwasanya Nada telah kembali dan sekarang berada di kamarnya.
Mendengar itu mereka berdua bertatapan dan menunjukkan ketidak berdayaan di kedua wajah mereka.
Nada yang merasa haus bangkit dan turun kebawah rencana mengambil minuman nya.
Tepat saat ia sampai di sudut tangga. Ia melihat dua sosok yang tampak familiar. Tampak lelah saling bertatapan dan terlihat kesedihan di wajah mereka.
"Mama, ayah" Nada berteriak memanggil mereka.
Seruan ini membuat kedua orang tua Nada, memutuskan tatapan mereka dan menghilangkan ekspresi sedih mereka.
Nada menghampiri mereka dan memeluk mereka satu persatu. Dalam beberapa bulan ini Nada yang di sibukkan dengan proyek yang ia kerjakan. Membuat nya jarang bertemu dengan kedua orang tua nya. Nada hanya menghubungi mereka sesekali untuk menanyakan kabar dari mereka. Maka dari itu setelah proyek selesai. Ia memilih kembali kerumah orang tuanya dan tinggal beberapa saat. Tapi mendengar orang tuanya pergi dan akan pulang keesokan harinya membuat Nada menunggu dan tinggal lebih lama.
"Ayah sama mama dari mana. Kata bibi lagi jalan-jalan ke keluar kota ya. Apa perjalan nya menyenangkan " tanya Nada memeluk lengan Mamanya dan melupakan rasa hausnya.
Mama dan ayah Nada saling menatap tanpa sepengetahuan Nada yang terus bermanja-manja dan menikmati elusan mamanya. Mereka bingung apa harus jujur atau tidak.
Sebab Varo meminta mereka untuk merahasiakan nya. Ia tak ingin Nada mengkhawatirkan diri nya. Walau ia rasa Nada tak akan melakukan itu.
"Kok diam aja sih" ucap Nada menatap kedua orang tuanya.
Kedua orang tua nya memutuskan pandangan mereka.
"oo,, ayah ngajak mama ke rumah teman lama ayah. Mama bilang sama ayah kepingin melihat pemandangan gunung dan sungai. Kebetulan teman lama ayah tinggal di daerah itu" jelas ayah penuh kebohongan.
"Wahhh, seru nya. Tahu gitu Nada ikut" iri Nada
"Yah,, kapan-kapan ajak Nada kesana ya" lanjutnya menatap ayahnya penuh harap.
Ayah Nada menelan ludahnya kasar.
"kalau mama bilang jangan deh" di sambut mama yang masih mengelus rambut Nada
"loh kenapa Ma" tanya Nada dengan ekspresi bingung sembari menatap mamanya.
"Kesana melelahkan. Jalan nya jelek, belum lagi harus jalan kaki menuju rumahnya. Sinyal nya juga ngak bagus. kalau mama tahu harus berjuang ke rumahnya. Mama ngak bakal mau di ajak ayah kesana"
Nada menatap mamanya yang tampak kelelahan tentu percaya.
"Oo.. Ya sudah deh kalau gitu" ucap Nada yang mengerti keinginan orang tua nya yang tidak ingin dirinya merasa lelah dan mendapatkan kesulitan seperti yang biasa di lakukan keluarga nya.
...----------------...
Di sisi lain, seorang lelaki tampak kurus yang sedang bersandar di ranjang singel dengan beberapa perban di tubuhnya menatap foto yang tampak kusut karena sering di pengang oleh nya.
Tanpa ia sadari temannya yang masuk memandangi nya iba dan mendekati nya. Duduk di kursi sebelah ranjang nya.
"Jika rindu , hubungi. Jangan di lihat terus menerus seperti itu" ucapnya memecahkan keheningan
"aku rasa, kalau kamu menghubungi nya dan mengatakan jika kamu terluka. Pasti dia akan datang dan memaafkan mu" lanjut nya melihat keterdiaman temannya.
"di tak akan perduli pada ku sekarang" ucap serak lelaki yang ada di ranjang
"Ayo lah Var, itu ngak mungkin. Se marah-marah nya atau se benci-benci nya seorang adik. Pasti di akan datang menjenguk jika saudara nya sedang terluka dan melupakan amarah nya" jelas Sean temannya Varo
Lelaki yang terluka itu tak lain Varo yang terus memandangi foto dirinya dan Nada. Rasa rindu dan rasa bersalah menjadi satu menggerogoti nya.
Varo menyuruh orang tuanya kembali dan menolak ikut dengan mereka. Varo meminta pada kedua orang tuanya agar tidak memberi tahu Nada supaya tidak membuat nya khawatir. Tapi Varo yakin Nada masih membenci nya dan tidak memperdulikan diri nya seperti dulu lagi.
Sean yang melihat Varo menghela nafasnya dan kembali berbaring di ranjang miliknya tepat di sebelah Varo.
Ia mengenal Varo semasa sekolah. Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya Varo sangat menyayangi adiknya di kalangan mereka.
Dan mendengar berita setahun yang lalu membuat nya tak percaya akan berita itu. Walaupun Sean tidak sekaya keluarga Varo. Tapi keluarga nya juga keluarga terpandang.
Walaupun sempat di tutupi oleh keluarga Varo maupun Juna . Tapi beberapa hal sudah bocor di kalangan mereka. Dia merasa kaget dan tak percaya. Ia juga mengenal Juna, lelaki yang tampak anggun yang sering di sebelah Varo. Dan dia juga pernah mendengar kabar, bahwasanya Juna menjalani hubungan dengan adik Varo dan pernah melihat mereka tampak mesra.
Memasuki dunia militer, dia dan Varo awalnya hanya sebatas mengenal. Kini mereka yang sudah menjalani misi bersamaan membuat mereka akrab.
Awalnya dia tidak tahu konflik Abang beradik itu. Tapi semenjak kedua orang tua Varo datang. Dia mengetahui cerita tersebut.
Jujur jika dia menjadi Nada, dia akan melakukan hal yang sama, membenci Varo.
Tapi walaupun dia tidak dekat dengan Nada. Dia tentu mengenal Nada, menurutnya Nada orang yang baik hati dan juga menyayangi para Abang nya. Ia rasa semarah apa pun Nada, pasti akan luluh melihat Varo terluka.
Tapi Sean tahu dan mengerti. Varo hanya ingin menghukum dirinya sendiri dengan cara seperti ini karena rasa bersalah nya pada adik nya.
Sean hanya menggeleng kepalanya dan pasrah atas kekeras kepala Varo. Dia hanya bisa menasehati teman seperjuangan nya ini.
#TBC
semangat nada!!!💪💪💪
ini othor nya yang keren nih bisa memainkan emosi para pembaca nya.... good job,Thor ...🫰🫰🫰🫰
lari lah sejauh mungkin.... tinggalkan sumber rasa sakit itu & cari kebahagiaan mu ditempat yang baru...
semoga setelah patah hati karena tiga orang ini, nada bisa bangkit lagi melupakan kesakitannya, bila mungkin jauhkan nada dari orang2 yang kejam ini Thor