***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti nyonya
Tanpa banyak orang ketahui Rea, Sinta dan Lita adalah trio muda yang luar biasa cerdas, di usia yang masih terbilang muda mereka sudah berhasil membangun bisnis restoran dengan banyak cabang di seluruh Bali.
Semua berawal dari sebuah cafe kecil yang mereka dirikan bersama saat berusia delapan belas tahun, di masa awal kuliah, dari sana kerja keras, kreativitas dan kecerdasan mereka membawa mereka menjadi sukses yang yang pernah bisa mereka bayangkan.
Walaupun 75% modal mereka adalah milik Rea tapi Sinta dan Lita berperan penting untuk kesuksesan mereka bertiga, namun di balik ke sukseskan mereka bertiga mereka memiliki kesepakatan untuk tidak memiliki rumah pribadi, bukan karena Mereka tidak mampu membeli nya, tapi karena mereka bertiga lebih nyaman tinggal bersama sama di apartemen berbagi suka duka apartemen itu sudah seperti rumah mereka sendiri, tempat pulang setelah lelah menghadapi dunia luar.
***
Rea baru saja meninggal kan apartemen nya setelah jam menunjukan pukul 04:00 panas terik matahari sudah tidak ada lagi, dan angin sore menyapu wajah nya dengan lembut diatas motor sport kesayangan nya, hari ini pikirannya cukup tenang, Rea sengaja pulang sore karena males ber basa basi dengan Dean lebih baik menghabiskan waktu dengan ke dua sahabatnya membuat pikirannya lebih tenang.
Rea tau seharusnya Dean sudah pulang dari kantor, jam kerja nya selesai pukul 03:45, karena itu dia tidak terlalu memikirkan apapun selain berjalan pulang yang menenangkan, tetapi di lampu merah dia melihat mobil Dean, hati nya mulai mencelos, dengan cepat dia mensejajarkan motornya di dekat mobil Dean dan mengetuk kaca jendelanya, dua orang di dalam mobil refleks serempak menoleh dan terlihat jelas ekspresi kaget di wajah mereka.
" Siapa itu sayang ?? Kenapa ada yang ketuk ketuk kaca mobil ??? Jangan jangan itu begal." tanya Jule panik, mata nya mengarah ke pengendara motor berhelm full face di luar.
" Gak mungkin begal berpenampilan kaya gitu Jule, jangan ngawur." dean lalu menurunkan kaca mobil nya, begitu wajah Dean terlihat jelas, Rea tersenyum dingin di balik helmnya, senyum dingin penuh amarah yang dia tahan.
" Dasar pria brengsek ." gumam Rea dalam hati.
Tanpa berkata apa pun, Rea langsung memutar gas motornya tepat saat lampu hijau menyala, suara deru motor nya memecah keheningan sore, meninggalkan Dean dan juga Jule yang terpaku di sana.
" Dasar orang aneh, ngapain juga ngetuk ngetuk kaca mobil orang, giliran di buka malah lari." cibir Jule yang kesal.
" Sudah jangan banyak omong, sekarang kamu turun." ucap Dean tegas menghentikan mObilnya di pinggir jalan.
" Hah?? ngapain sih?? Gak mungkin juga dia curiga?? Bilang saja kita ketemu di pinggir jalan, terus kamu nebengin aku." ucap Jule dengan kesal.
" Sudah Jule, aku gak mau dia liat kita pulang bareng, sudah turun sana." ucap Dean memaksa.
Jule sempat manyun tapi akhir nya turun juga dengan terpaksa, jarak dari tempat Dean menurunkan Jule dekat dari rumah, jadi Dean memasuki gerbang duluan.
Namun langkah nya tampak terhenti ketika melihat Rea di garasi mobil menatap nya dengan tajam menusuk dada, masih lengkap dengan helm full face di tangan nya, Dean refleks menelan ludah.
" loh, kamu sendirian mas?? bukannya tadi sama Jule." tanya nya dengan ketus.
" Ehhh kamu dek, jadi kamu yang naik motor sport tadi." jawabnya dengan gugup
" Iya." ucap Rea dengan sinis. " kita ketemu di lampu merah tadi, terus Jule mana."
" Dia turun tadi, katanya mau singgah ke mini market." jawab nya gugup, mencoba tersenyum padahal jantungnya sudah berdetak kencang.
Dalam hati Dean tidak percaya, kalau tadi yang mengetuk pintu itu Rea, lebih tidak menyangka lagi ternyata istri nya bisa mengendarai motor sport yang harga nya ratusan juta bukan motor metic seperti bayangan nya.
Rea meninggalkan Dean masuk tanpa ber basa basi lagi, tumit sepatu nya beradu dengan lantai keras sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring membuat dada Dean semakin sesak, dia tau badai sudah di depan mata, dan kali ini Dean tidak yakin bisa menyelamatkan diri nya sendiri.
Rea segera menuju kamarnya dan mengambil baju bersih untuk mandi, sebenarnya Rea sudah mandi sebelum balik cuma dia ingin menyegarkan badan nya saja.
Sementara itu Dean yang menunggu Rea mandi tampak gelisah, dia membuka pintu balkon membiarkan udara sore yang sejuk masuk sambil berusaha menenangkan pikirannya.
Tak lama Rea keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, dan pandangan nya tertuju pada Dean yang berdiri di balkon, tanpa sepatah kata pun dia keluar kamar menuju dapur.
Rea melangkah cepat menuju dapur, dia ingin bertemu Jule, dia ingin tau apa benar Jule bekerja di rumah ini atau hanya di jadikan kedoknya saja supaya bisa tinggal bareng Dean.
Dapur tampak lenggang hanya ada mbak citra saja yang menyiapkan makanan.
" Mbak, Jule kemana." suara nya datar tetapi memaksa, seketika pelayan itu berhenti wajah nya memucat.
" Eh nyonya, dia di kamar nya mungkin dia lelah habis pulang kuliah." ucap mbak citra, suaranya tercekat mata nya menghindari tatapan Rea.
" Bukan KH biasanya dia kerja sore ??." rea menekan nada suaranya kaku.
" Maaf nyonya saya benar benar tidak tau." Mbak citra tampak cemas memegang apronnya seperti orang yang akan menenangkan diri.
Rea mengambil nafas pendek lalu berkata dingin ." Besok hari Minggu, malam ini juga saya izin kan mbak citra pulang, nanti saya beri ongkos dan saya akan pesan kan taksi online, bilang ke Dean anak mbak sakit jadi mbak harus pulang."
Mendengar itu mbak citra mengangguk tergesa, ada kilatan takut di matanya saat Rea ngomong. " saya tau mbak bersekongkol, kalau mbak masih pengen kerja di sini ikutin perintah saya." pelayan itu tercekat tubuh nya gemetar.
Rea merogoh dompetnya mengeluarkan uang merah 20 lembar dan meletakkan di tangan mbak citra. " ini ongkos nya, bilang lah pada Dean saya sudah mengijinkan."
Mbak citra terburu buru pergi untuk menemui dean, saat pintu dapur kembali tertutup Rea mengepalkan tangan nya menutup matanya, suasana seketika menegang , dia menahan amarah di dadanya, dia mulai menjalan kan rencana perlahan.
" Lihat saja Jule !! ." ucap nya pelan. " ini baru permulaan, sebelum pelajaran sebenarnya tiba." gumam Rea sambil mengepalkan tangan nya.
Dean akhir nya terpaksa membiarkan mbak citra pulang lebih awal karena pelayan itu mengatakan bahwa anak nya sedang sakit, dia tidak bisa menahan apa lagi Rea sudah lebih dulu memberikan izin.
Setelah mbak citra pergi Dean keluar kamar menuju dapur dan melihat Rea sedang mengaduk teh di tangan nya.
" Kamu sedang apa dek ???." tanya Dean sambil berjalan mendekat.
" Sedang membuat teh mas." Rea menjawab tanpa menoleh. " di mana pelayan kamu yang satu nya ?? Mbak citra sudah pulang, jadi seharusnya sekarang ada Jule yang memasak untuk makan malam."
Mendengar nama Jule tubuh Dean langsung menegang.
" Kamu tunggu di sini mas, aku mau memanggil jule." ucap Rea cepat. " enak saja dia, sudah seperti nyonya di rumah ini, dia niat kerja atau tebar pesona sih. " ucapnya sambil melangkah pergi.
ucapan Rea terdengar jelas oleh Dean, membuat pria itu hanya bisa diam, dia tidak berani menyusul hanya bisa mematung di tempatnya dengan dada berdebar debar.