"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Godaan di Subuh yang Bening
Fajar yang Membawa Tawa
Cahaya subuh menyelinap di sela jendela,
Membasuh sisa mimpi yang baru saja terjeda.
Di layar kecil itu, kau masih terlelap tenang,
Menyisakan damai yang membuat hatiku menang.
Namun ketika matamu terbuka di balik sunyi,
Ada tanya yang nakal, menggoda hati yang murni.
Antara jarak Kairo dan doa yang kupanjat,
Cinta ini tumbuh, semakin kuat dan mengikat.
Setelah menunaikan salat Subuh di masjid pesantren, Gus Zidan tidak langsung bergabung dengan jamaah yang berdzikir. Ia melangkah cepat kembali ke kamar tamu, hatinya tertuju pada ponsel Bunda yang sejak semalam ia "sandera". Dengan perlahan, ia meraih ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya (charger) agar tidak mati.
Di layar, pemandangan masih sama: wajah tenang Bungah yang sedang terlelap di Kairo. Karena perbedaan waktu, di Mesir saat itu masih tengah malam. Zidan duduk di tepi tempat tidur, menopang dagu, memandangi wajah istrinya dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Tiba-tiba, sosok di layar bergerak. Bungah mengerang kecil, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Ia tampak linglung, menatap langit-langit kamar asramanya sejenak, lalu teringat sesuatu. Dengan gerakan terburu-buru, ia menyingkap selimut dan hendak meloncat turun dari kasur.
"Mau ke mana, Sayang?"
Suara berat dan serak khas bangun tidur milik Zidan tiba-tiba memecah kesunyian kamar Bungah.
Bungah tersentak hebat, hampir saja ia jatuh dari tepi kasur. Ia menoleh ke arah ponselnya dengan mata melotot. "Mas Zidan?! Masih nyala?!"
Zidan terkekeh rendah, matanya yang teduh menatap Bungah dengan penuh godaan. "Mas kan sudah bilang, jangan dimatikan. Mas mau jadi orang pertama yang kamu lihat saat bangun."
Bungah menutupi wajahnya yang mendadak panas dengan bantal kecil. "Ya Allah, Mas! Adek mau ke kamar mandi, mau buang air kecil, sudah nggak tahan!"
Mendengar itu, sisi nakal Zidan yang selama ini tersembunyi di balik jubah "Gus"-nya mendadak muncul. Ia memiringkan kepalanya, menatap Bungah dengan senyum miring yang sangat menggoda.
"Oh, mau ke kamar mandi?" Zidan bertanya dengan nada santai namun penuh tekanan jahil. "Mas ikut ke kamar mandi boleh enggak?"
Bungah membeku di tempatnya. Matanya membelalak tak percaya mendengar ucapan pria yang selama ini dikenal sebagai "Kutub Utara" pesantren yang sangat menjaga lisan.
"Mas Zidan mesum! Ih, Mas mesum banget!" teriak Bungah tertahan sambil melempar bantal ke arah ponselnya hingga layar menjadi gelap tertutup kain. "Malu, Mas! Malu!"
Tawa Zidan pecah di seberang sana. Ia tertawa lepas, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Lho, kan kita sudah sah, Dek. Apa salahnya suami menemani istrinya?"
"Tetap saja malu! Mas Zidan ternyata aslinya begini ya kalau sudah nikah! Mana wibawa Gus-nya?" gerutu Bungah dari balik bantal, meskipun sebenarnya ia merasa sangat senang karena Zidan kini bersikap sangat terbuka padanya.
"Wibawa Mas itu cuma buat orang lain, kalau buat kamu, Mas cuma mau jadi Zidan yang apa adanya," jawab Zidan setelah tawanya mereda. "Ya sudah, sana ke kamar mandi dulu. Tapi ponselnya jangan dibawa masuk ya, Mas nggak mau kamu terpeleset gara-gara sibuk pegang HP."
Bungah segera berlari menuju kamar mandi dengan wajah semerah tomat, sementara Zidan di Jawa Timur hanya bisa menggelengkan kepala, merasa hidupnya kini jauh lebih berwarna berkat kehadiran "Mentari" yang sedikit galak namun sangat ia cintai itu.