NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Godaan di Subuh yang Bening

Fajar yang Membawa Tawa

Cahaya subuh menyelinap di sela jendela,

Membasuh sisa mimpi yang baru saja terjeda.

Di layar kecil itu, kau masih terlelap tenang,

Menyisakan damai yang membuat hatiku menang.

Namun ketika matamu terbuka di balik sunyi,

Ada tanya yang nakal, menggoda hati yang murni.

Antara jarak Kairo dan doa yang kupanjat,

Cinta ini tumbuh, semakin kuat dan mengikat.

Setelah menunaikan salat Subuh di masjid pesantren, Gus Zidan tidak langsung bergabung dengan jamaah yang berdzikir. Ia melangkah cepat kembali ke kamar tamu, hatinya tertuju pada ponsel Bunda yang sejak semalam ia "sandera". Dengan perlahan, ia meraih ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya (charger) agar tidak mati.

Di layar, pemandangan masih sama: wajah tenang Bungah yang sedang terlelap di Kairo. Karena perbedaan waktu, di Mesir saat itu masih tengah malam. Zidan duduk di tepi tempat tidur, menopang dagu, memandangi wajah istrinya dengan senyum yang tak kunjung pudar.

Tiba-tiba, sosok di layar bergerak. Bungah mengerang kecil, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Ia tampak linglung, menatap langit-langit kamar asramanya sejenak, lalu teringat sesuatu. Dengan gerakan terburu-buru, ia menyingkap selimut dan hendak meloncat turun dari kasur.

"Mau ke mana, Sayang?"

Suara berat dan serak khas bangun tidur milik Zidan tiba-tiba memecah kesunyian kamar Bungah.

Bungah tersentak hebat, hampir saja ia jatuh dari tepi kasur. Ia menoleh ke arah ponselnya dengan mata melotot. "Mas Zidan?! Masih nyala?!"

Zidan terkekeh rendah, matanya yang teduh menatap Bungah dengan penuh godaan. "Mas kan sudah bilang, jangan dimatikan. Mas mau jadi orang pertama yang kamu lihat saat bangun."

Bungah menutupi wajahnya yang mendadak panas dengan bantal kecil. "Ya Allah, Mas! Adek mau ke kamar mandi, mau buang air kecil, sudah nggak tahan!"

Mendengar itu, sisi nakal Zidan yang selama ini tersembunyi di balik jubah "Gus"-nya mendadak muncul. Ia memiringkan kepalanya, menatap Bungah dengan senyum miring yang sangat menggoda.

"Oh, mau ke kamar mandi?" Zidan bertanya dengan nada santai namun penuh tekanan jahil. "Mas ikut ke kamar mandi boleh enggak?"

Bungah membeku di tempatnya. Matanya membelalak tak percaya mendengar ucapan pria yang selama ini dikenal sebagai "Kutub Utara" pesantren yang sangat menjaga lisan.

"Mas Zidan mesum! Ih, Mas mesum banget!" teriak Bungah tertahan sambil melempar bantal ke arah ponselnya hingga layar menjadi gelap tertutup kain. "Malu, Mas! Malu!"

Tawa Zidan pecah di seberang sana. Ia tertawa lepas, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Lho, kan kita sudah sah, Dek. Apa salahnya suami menemani istrinya?"

"Tetap saja malu! Mas Zidan ternyata aslinya begini ya kalau sudah nikah! Mana wibawa Gus-nya?" gerutu Bungah dari balik bantal, meskipun sebenarnya ia merasa sangat senang karena Zidan kini bersikap sangat terbuka padanya.

"Wibawa Mas itu cuma buat orang lain, kalau buat kamu, Mas cuma mau jadi Zidan yang apa adanya," jawab Zidan setelah tawanya mereda. "Ya sudah, sana ke kamar mandi dulu. Tapi ponselnya jangan dibawa masuk ya, Mas nggak mau kamu terpeleset gara-gara sibuk pegang HP."

Bungah segera berlari menuju kamar mandi dengan wajah semerah tomat, sementara Zidan di Jawa Timur hanya bisa menggelengkan kepala, merasa hidupnya kini jauh lebih berwarna berkat kehadiran "Mentari" yang sedikit galak namun sangat ia cintai itu.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!