Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Keputusan Akhir dan Langkah Awal
Hening itu tidak segera pecah.
Ia menggantung di udara, berat, seolah siapa pun yang bernapas terlalu dalam akan membuatnya runtuh. Angin malam yang tadi berdesir pelan kini terasa seperti berhenti sepenuhnya. Dedaunan membeku. Kabut tipis yang mengelilingi rumah kayu itu seolah menebal, menekan dada Kiara dari segala arah.
Kiara berdiri di antara dua dunia.
Satu dunia yang ia kenal, logika, rasionalitas, hal-hal yang bisa dipegang dan dijelaskan.
Dan satu dunia lain yang sejak dua minggu terakhir memaksa masuk ke hidupnya tanpa izin.
Ia membuka mata sepenuhnya.
Tatapan Mbah Kromo masih tertuju padanya, dalam dan tenang, seperti sumur tua yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Pak Arman berdiri beberapa langkah di belakang, bahunya turun, tubuhnya tampak lebih kecil dari sebelumnya. Om Hardi menatap tanah, rahangnya mengeras, seolah menahan amarah pada keadaan yang tidak bisa ia lawan.
Dan Sky...
Sky berdiri tepat di hadapannya.
Meski tubuhnya tembus pandang, kehadirannya terasa paling nyata. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, mata birunya yang kini nyaris kelabu bergetar menahan sesuatu yang hampir pecah.
“Kiara,” panggil Sky lagi, kali ini lebih pelan. “Kita pergi. Sekarang.”
Kiara tidak langsung menjawab.
Ia menatap Sky lama, seolah mencoba menghafal setiap detailnya, garis wajahnya, caranya berdiri sedikit condong ke depan, kebiasaan kecilnya menahan napas meski kini tak perlu ketika cemas.
“Aku nggak bisa,” jawab Kiara akhirnya.
Sky tersentak. “Apa?”
“Aku nggak bisa langsung pergi,” ulang Kiara, suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seberat ini.
Aditya langsung menoleh. “Kiara, apa yang kamu lakukan?”
Kiara melirik sepupunya sekilas. Wajah Aditya pucat, matanya penuh kebingungan dan ketakutan yang bercampur jadi satu. Ia ingin menjelaskan. Ingin mengatakan semuanya. Tapi kata-kata itu seperti terjebak di tenggorokan.
Ia kembali menatap Mbah Kromo. “Mbah… kalau aku melakukan itu… Ritual itu… Apa yang sebenarnya harus aku hadapi?”
Mbah Kromo tidak langsung menjawab. Ia mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai kayu.
Tok.
Tok.
“Alam yang bukan milik manusia,” jawabnya akhirnya. “Tempat di mana waktu tidak berjalan seperti di sini. Tempat di mana ketakutanmu bisa mengambil wujud.”
Kiara menelan ludah. “Dan kalau aku gagal?”
“Kamu bisa tersesat,” kata Mbah Kromo jujur. “Atau kembali dengan jiwa yang tidak utuh.”
Sky menggeleng keras. “Kamu dengar itu? Itu bukan risiko kecil.”
Kiara mengangguk. “Aku dengar.”
“Lalu kenapa kamu masih berdiri di sini?” suara Sky meninggi, retak. “Kenapa kamu masih mempertimbangkannya?”
'Karena aku merasa bersalah, pikir Kiara.
Karena setiap kali aku menutup mata, aku melihat Bima terbaring tak berdaya.
Karena aku tahu apa yang mengintainya… dan aku memilih diam'
Tapi Kiara tidak mengatakan itu. Ia hanya menghela napas panjang.
“Sky,” katanya pelan, “Kalau aku pergi sekarang… dan sesuatu terjadi pada Bima… Aku harus hidup dengan rasa bersalah itu.”
“Bima bukan tanggung jawabmu!” Sky membalas cepat. “Kamu tidak menyebabkan ini!”
“Tapi aku tahu,” Kiara menatapnya tajam. “Dan aku tidak melakukan apa-apa. Itu yang lebih menakutkan ”
Itu membuat Sky terdiam.
Aditya melangkah maju lagi. “Ki, kamu nggak masuk akal. Ini bukan salahmu. Kalau ini benar-benar… Mistis atau apa pun itu, itu bukan sesuatu yang bisa kamu selesaikan sendirian.”
Kiara tersenyum kecil. “Masalahnya… Sepertinya memang hanya aku yang bisa.”
Mbah Kromo mengangguk pelan. “Gadis itu benar.”
Aditya memutar tubuh ke arah Mbah Kromo. “Dengan segala hormat, Mbah, kamu meminta terlalu banyak.”
“Aku tidak meminta,” jawab Mbah Kromo tenang. “Aku hanya menjelaskan.”
Pak Arman akhirnya melangkah maju. Suaranya bergetar ketika ia berbicara.
“Kiara…” panggilnya lirih.
Kiara menoleh. Wajah pria itu basah oleh air mata yang tidak ia sembunyikan lagi.
“Om… Tidak akan memaksa,” kata Pak Arman. “Om tidak punya hak.”
Kiara mengepalkan tangannya.
“Tapi kalau ada sedikit saja kemungkinan,” lanjut Pak Arman, “Bahwa anak Om bisa selamat… Om mohon.”
Ia membungkuk.
Dalam-dalam.
“Maafkan Om sebagai orang tua yang egois.”
Itu yang menghancurkan pertahanan terakhir Kiara.
Ia tersentak kecil, refleks melangkah maju. “Om, jangan-”
“Tidak,” Pak Arman menggeleng. “Om tahu ini tidak adil.”
Sky menatap adegan itu dengan mata berapi-api. “Ini manipulasi.”
“Ini keputusasaan,” balas Mbah Kromo tenang.
Kiara menutup mata lagi.
Di kepalanya, kenangan dua minggu terakhir sebelum ini terjadi berputar cepat.
Bima yang tertawa sambil mengejeknya saat main game.
Bima yang memanggilnya keras-keras di lorong sekolah.
Bima yang sekarang terbaring lemah, setengah jiwanya direnggut makhluk yang bahkan tidak bisa ia lihat.
Kiara membuka matanya.
“Aku bukan orang baik,” katanya tiba-tiba.
Semua orang terdiam.
“Aku bukan pahlawan,” lanjut Kiara. “Aku juga takut. Aku juga ingin hidup normal.”
Sky menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lalu kenapa-”
“Tapi aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah,” potong Kiara. “Aku tidak bisa berpura-pura ini bukan urusanku.”
Ia menoleh ke Mbah Kromo. “Kalau aku setuju… Apa yang harus aku lakukan?”
Sky tersentak. “Kiara, jangan!”
Mbah Kromo menghela napas pelan. “Ritualnya harus segera dilakukan secepatnya , paling bagus malam ini.”
Kiara mengangguk. “Aku mengerti.”
“Kita harus mempersiapkanmu,” lanjut Mbah Kromo. “. Pembersihan batin. Alat ritual. Dan satu hal lagi.”
“Apa?” tanya Kiara.
“Kamu harus benar-benar rela,” jawab Mbah Kromo. “Keraguan adalah celah paling berbahaya.”
Sky melangkah mendekat, suaranya bergetar. “Aku tidak rela.”
Kiara menoleh padanya.
Untuk sesaat, dunia di sekeliling mereka seperti menghilang.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu,” kata Sky lirih.
Kiara tersenyum tipis. “Aku juga tidak ingin kehilangan kamu.”
Sky terdiam.
“Tapi aku juga tidak ingin hidup dengan bayangan wajah Bima setiap kali aku bangun,” lanjut Kiara. “Aku tidak ingin mengingat bahwa aku bisa melakukan sesuatu… Dan memilih tidak.”
Sky menggeleng pelan. “Ini bukan keadilan.”
“Mungkin,” Kiara mengangguk. “Tapi ini pilihanku.”
Aditya menatap Kiara lama, lalu menghela napas berat. “Kamu keras kepala.”
“Sudah dari dulu,” balas Kiara.
“Tapi kali ini… Aku benar-benar nggak bisa melindungi kamu,” suara Aditya pecah.
Kiara meliriknya. “Kak…”
Aditya menggeleng. “Aku nggak mengerti semua ini. Tapi satu hal yang aku tahu… Aku nggak mau kehilangan kamu juga.”
Kiara tersenyum kecil. “Aku akan berusaha kembali.”
Sky menatapnya tajam. “Itu bukan janji yang bisa kamu buat.”
Kiara melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Sky. Meski ia tidak bisa menyentuhnya, ia mengangkat tangannya seolah ingin memastikan Sky ada di sana.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta satu hal.”
Sky menatapnya. “Apa?”
“Jangan menjauh dariku,” ucap Kiara. “Kalau aku masuk ke sana… Aku butuh kamu.”
Sky menutup matanya. Bahunya bergetar.
“Aku takut,” bisiknya.
“Aku juga,” balas Kiara jujur.
Hening kembali menyelimuti mereka.
Mbah Kromo melangkah mundur satu langkah. “Kalian punya satu malam untuk berpikir.”
Kiara menggeleng. “Tidak.”
Semua menoleh padanya.
“Aku sudah memilih,” kata Kiara tegas. “Kalau aku terlalu lama berpikir… Aku akan mundur.”
Langit di atas rumah Mbah Kromo tampak semakin gelap.
Bintang-bintang tertutup awan.
Dan di antara dingin malam dan bau dupa yang menusuk, Kiara berdiri dengan satu keputusan yang akan mengubah hidupnya.
Ia akan mengambil risiko.
Bukan karena ia berani.
Tapi karena ia tidak sanggup membiarkan temannya mati…
sementara ia memilih selamat.