Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Malam di Paviliun Angin Pisau terasa sangat panjang dan menyiksa.
Di tengah halaman batu yang gersang, Han Feng duduk seperti patung batu kuno. Tubuh bagian atas Han Feng telanjang, diekspos sepenuhnya terhadap amukan Angin Astral yang bertiup dari Jurang Hantu. Setiap hembusan angin itu mengandung bilah Qi alamiah yang tajam, menyayat kulit Tembaga Tua Han Feng tanpa henti.
Sret... Sret... Sret...
Darah segar merembes keluar dari ratusan luka goresan halus di dada, punggung, dan lengan Han Feng, namun darah itu tidak menetes. Sebelum darah itu sempat jatuh ke tanah, energi panas yang memancar dari dalam tubuh Han Feng membakarnya menjadi uap merah.
Di dalam tubuh Han Feng, sebuah perang besar sedang terjadi.
Energi dari Inti Binatang Beruang Tanah yang ditelannya mengamuk seperti longsoran batu di dalam perut. Energi itu berat, padat, dan bersifat menekan. Energi tanah itu mencoba memadatkan darah dan organ dalam Han Feng menjadi batu mati.
Sementara itu, dari luar, Han Feng dengan sengaja menarik masuk partikel Angin Astral yang tajam ke dalam pori-porinya menggunakan teknik pernapasan Sutra Hati Naga Purba.
"Tanah menekan, Angin memotong," batin Han Feng, giginya bergemeretak menahan rasa sakit yang bisa membuat orang biasa gila. "Dua kekuatan yang bertolak belakang... Sempurna untuk menghancurkan batas fana!"
Di dalam Dantian Han Feng—pusat energi yang selama ini kosong dan gelap—kedua energi itu bertemu.
Energi Tanah yang kuning kecokelatan dan Energi Angin yang hijau pucat bertabrakan dengan keras.
DUAR! (Di dalam tubuh)
Han Feng memuntahkan seteguk darah hitam. Tubuhnya gemetar hebat, hampir tumbang. Rasa sakitnya seperti ada gergaji mesin yang berputar di dalam perutnya sambil dipukul palu godam dari luar.
"Tahan! Jangan pingsan! Jika kesadaran hilang sekarang, energi ini akan meledakkan tubuhku!" Han Feng meraung dalam hati.
Han Feng memvisualisasikan Pustaka Ilahi. Bayangan pagoda emas di dalam jiwanya bersinar terang, mengirimkan gelombang penekan ke Dantiannya.
"Sutra Hati Naga Purba... PILIN!"
Han Feng memutar sirkulasi energinya secara paksa. Dia tidak membiarkan kedua energi itu saling menghancurkan, melainkan memaksa mereka berputar bersama dalam satu poros. Seperti membuat tali tambang dari dua benang yang berbeda, Han Feng memilin Energi Tanah dan Angin menjadi satu kesatuan spiral.
Satu putaran... Dua putaran... Sepuluh putaran...
Perlahan tapi pasti, sebuah pusaran kecil mulai terbentuk di tengah Dantian Han Feng.
Pusaran itu awalnya tidak stabil, bergetar liar. Namun, seiring dengan semakin banyaknya energi yang diserap Han Feng, pusaran itu menjadi semakin padat dan cepat.
Titik kritis akhirnya tercapai.
WUUUUUUNG!
Suara dengungan nyaring terdengar dari dalam tubuh Han Feng.
Langit di atas Paviliun Angin Pisau tiba-tiba bergejolak. Awan-awan tipis tersedot ke arah halaman paviliun, membentuk corong kecil tepat di atas kepala Han Feng. Energi Qi alam di sekitar tebing ditarik paksa masuk ke dalam tubuh Han Feng seperti air yang tersedot ke dalam lubang pembuangan raksasa.
Dinding batas antara Pembentukan Tubuh (Fisik) dan Pengumpulan Qi (Energi) hancur berkeping-keping.
Pusaran di Dantian Han Feng memadat menjadi sebuah Siklon Qi (Qi Cyclone) seukuran kepalan tangan bayi. Siklon itu berputar pelan namun stabil, memancarkan dua warna yang berjalin indah: Kuning Tanah yang berat dan Hijau Angin yang tajam.
Dan di inti terdalam siklon itu... terdapat nyala api merah samar dari Gerbang Naga Api.
Han Feng membuka mata.
ZING!
Dua sinar cahaya menembus kegelapan malam. Mata Han Feng bersinar terang.
"Haaaaah!"
Han Feng meraung panjang, melepaskan seluruh tekanan yang tertahan. Gelombang kejut meledak dari tubuhnya, menyapu Angin Astral di sekitarnya hingga radius lima meter menjadi vakum sesaat.
[Selamat! Terobosan Berhasil!] [Tingkat Saat Ini: Ranah Pengumpulan Qi - Tingkat 1 (Awal)] [Atribut Qi Terbentuk: Chaos (Campuran Tanah, Angin, Api)] [Kekuatan Fisik Meningkat: Kekuatan 80 Banteng.]
Han Feng merasakan dunia di sekelilingnya berubah.
Sebelumnya, Han Feng hanya bisa merasakan keberadaan Qi. Sekarang, Han Feng bisa mengendalikannya. Dia bisa merasakan aliran udara, getaran tanah, dan panas api sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Han Feng mengangkat tangannya. Dia memusatkan pikiran, dan lapisan energi tipis berwarna kuning kehijauan muncul menyelimuti kulitnya. Ini adalah Qi Pelindung—tanda utama seorang kultivator Ranah Pengumpulan Qi.
"Dengan perlindungan ini, ditambah kulit tembagaku..." Han Feng tersenyum puas.
Dia berdiri dan membiarkan Angin Pisau kembali menerpa tubuhnya.
Kali ini, tidak ada rasa sakit. Tidak ada luka gores. Angin tajam itu menghantam lapisan Qi pelindung Han Feng dan meluncur pergi seolah-olah hanya angin sepoi-sepoi biasa.
"Malam yang produktif," gumam Han Feng. Dia melihat ke langit timur yang mulai merona jingga. "Sekarang aku resmi menjadi kultivator sejati."
Han Feng masuk ke dalam paviliun untuk membersihkan diri dari darah kering dan kotoran. Setelah mandi dan mengenakan jubah ungu Murid Inti yang baru, Han Feng terlihat benar-benar berbeda.
Aura liar dan kotor dari hutan telah hilang, digantikan oleh aura agung yang tajam dan misterius. Wajah tampan Han Feng kini terlihat lebih tegas, kulitnya memancarkan kilau sehat seperti giok hangat. Namun, di balik penampilan bangsawan itu, tatapan mata Han Feng tetaplah tatapan seekor naga yang siap memangsa.
Pagi hari di Puncak Pedang Bumi.
Suasana damai di sekitar Paviliun Angin Pisau dipecahkan oleh suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat.
Tiga orang murid laki-laki berjubah putih (Murid Dalam) berjalan mendaki jalan setapak menuju paviliun Han Feng. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda berwajah kasar dengan bekas luka bakar di pipi kirinya.
"Kakak Ma, kau yakin anak baru itu masih hidup?" tanya salah satu pengikut yang berbadan kurus. "Angin di sini mengerikan. Semalam badainya cukup kuat. Murid Inti sebelumnya saja tidak tahan satu malam."
Pemuda bernama Ma Hu itu mendengus kasar. "Hidup atau mati, itu bukan urusan kita. Urusan kita adalah memastikan aturan 'Asosiasi Harimau Hitam' ditegakkan. Setiap penghuni baru di wilayah ini harus membayar iuran perlindungan. Jika dia mati, kita ambil harta peninggalannya. Jika dia hidup, kita pastikan dia membayar atau kita patahkan kakinya agar dia pindah."
Asosiasi Harimau Hitam adalah salah satu faksi murid yang berkuasa di Puncak Pedang Bumi. Di sekte besar, persaingan antar murid sangat kejam. Faksi-faksi dibentuk untuk saling melindungi dan memeras murid yang lebih lemah. Diaken sekte biasanya menutup mata selama tidak ada yang mati, menganggapnya sebagai "seleksi alam".
Ma Hu dan kedua anak buahnya tiba di depan gerbang Paviliun Angin Pisau yang reyot.
"Lihat itu," Ma Hu menunjuk Pedang Meteor Hitam yang masih tertancap di tengah halaman batu. "Senjata rongsokan itu masih di sana. Sepertinya pemiliknya memang sudah mati kedinginan atau terlalu lemah untuk bergerak."
"Hahaha, rejeki nomplok!" seru si kurus. "Cincin penyimpanan Murid Inti pasti berisi banyak barang bagus!"
Ma Hu menendang pintu gerbang paviliun hingga terbuka lebar.
"Hei! Penghuni baru! Keluar kau!" teriak Ma Hu. "Kakak Ma dari Asosiasi Harimau Hitam datang untuk memeriksa keadaanmu!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menderu.
Ma Hu menyeringai. Dia memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk masuk dan menggeledah.
Namun, baru saja kaki mereka melangkah masuk ke halaman, sebuah suara tenang terdengar dari arah teras lantai dua.
"Siapa yang mengizinkan anjing liar masuk ke halamanku?"
Ma Hu dan kedua temannya mendongak kaget.