Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Renungan dalam Sunyi
Radit mengangguk pelan, tidak ada amarah di wajah nya, hanya kelelahan yang dalam tampak terlihat di raut wajah nya. " Kamu ngak salah! " Ucap Radit akhir nya dia membuka lagi suara nya. " Kamu cuma memilih jalan yang menurut kamu itu yang terbaik! "
Itu buman kebohongan, tapi juga bukan kebenaran sepenuh nha. Ada bagian dari dirinya yang hancur, tetapi Radit terlalu terbiasa menyimpan rasa sakit sendirian.
Mereka berpisah tanpa pelukan seperti biasanya. Tanpa janji untuk tetap berteman. Silvana berjalan menjauh, dan Radit berdiri mematung hingga sosok itu menghilang di balik gedung fakultas.
Malam itu, Radit berjalan pulang lebih lambat dari biasanya. Hujan sudah berhenti , menyisakan udara dingin yang menusuk . Setiap langkah nya terasa berat. Bukan karena fisik tetapi karena kenangan nya yang selalu berjalan bersama nya, tawa sederhana, obrolan panjang, dan mimpi kecil yang dulu pernah mereka bagi dua.
Di kamar kos san nya yang sempit, Radit duduk di lantai, menatap dinding kosong. Untuk pertama kali nya setelah sekian lama, ia membiarkan air matanya jatuh. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang menilai. Ia menangis bukan karena kehilangan Silvana semata, akan tetapi karena rasa kalah yang tak bisa ia hindari. Kalah oleh keadaan yang sejak awal tidak pernah berpihak kepada nya.
Namuni tengah kesedihan itu, ada sesuatu
yang perlahan tumbuh. Bukan dendam bukan kebencian melainkan tekad yang lebih keras. Radit menyadari satu hal pahit. " Cinta pun bisa tunduk pada realitas . Dan jika ia ingin bertahan di dunia iniia harus berdiri lebih kuat, bukan untuk membuktikan apa pun pada orang lain,
Tetapi untuk dirinya sendiri.
Keesokan pagi nya Radit bangun lebih awal. Mata nya masih sembab, hati nya masih perih , tetapi langkah nya tetap menuju kampus. Hidup tidak memberi nya waktu untuk meratapi kesedihan terlalu lama. Dan seperti biasa , ia memilih berjalan ke depan meski sendirian.
Sejak malam perpisahan itu, ada sesuatu dalam diri Radit yang berubah, bukan secara drastis melain kan perlahan. Nyaris tak terasa. Ia tetap bangun pagi, tetap berangkat kuliah, tetap bekerja sambilan. Dari luar, hidup nya terlihat sama. Namundi dalam ada bagian dari diri nya yang mengeras, seperti permukaan danau, yang membeku setelah musim dingin panjang.
Radit tidak banyak lagi bicara. Senyum nya berkurang ia tidak tertarik pada obrolan ringan atau candaan kosong. Jika sebelum nya ia masih menyisakan ruang untuk berharap , kini ruang itu tertutup rapat. Ia belajar satu hal yang penting dari Silvana! Perasaan adalah kemewahan , dan kemewahan bukan sesuatu yang bisa ia miliki tanpa harga.
Hari hari nya menjadi telatur hampir mekanis. Kuliah, kerja, belajar, tidur. Tidak lagi usaha untuk menyenang kan orang lain. Tidak ada lagi tuntutan untuk memahami. Radit berhenti menjelaskan hidup nya pada siapa pun . Jika orang bertanya mengapa ia terlihat berbeda, jawaban nya selalu singkat.
"Aku baik baik saja. "
Padahal ia tahu itu bohong.
Di dalam diri nya Radit mulai membangun dinding, setiap emosi yang muncul ia tekan dalam dalam. Bukan karena ia tidak merasa , tetapi karena ia tidak ingin merasakan terlalu banyak. Dunia telah mengajari nya bahwa perasaan adalah titik lemah dan ja sudaj terlalu sering di serang dari sana.
Suatu malam, setelah pulang dari pekerjaan tambahan sebagai penjaga gudang minimarket, Radit duduk di kamar kos nya yang sunyi. Lampu redup, kipas angin yang berdecit pelan. Ditas meja, ada sisa uang hasil kerja nya hari itu. Tidak banyak tetapi cukup untuk nya makan beberapa hari ke depan.
Radit menutup uang itu lama.
"Apa sebenarnya arti uang? " Gumam nya pelan.
Sejak kecil, uang selalu menjadi pusan masalah dalam hidu nya .
Bersambung.... Jangan lupa like , comen and subcreb yang teman teman laffyu all❤🙏 makasih yang sudah mampir🙏
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭