NovelToon NovelToon
Sephia

Sephia

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

"Gila ... ini sungguh gila, bagaimana bisa jantung ini selalu berdebar kencang hanya karena tatapan matanya, senyumnya bahkan sentuhan yang tanpa sengaja itu."
~Sephia~

"Rasa ini salah, tapi gue suka ... dia selalu membuat jantung ini berdebar-debar ... damn! kenapa datang di waktu yang salah sih."
~Danar~

Pertemuan itu, membuat mereka ada dalam posisi yang sangat sulit. Terlebih lelaki itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sementara hatinya memilih gadis lain.

Entah waktu yang salah ... atau takdir yang mempermainkan mereka. Apakah akan berakhir dengan indah atau sama-sama saling melepaskan ... meski CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Valentine day 2020

Sudah hampir dua minggu berlalu setelah apa yang terjadi antara Danar dan Sephia. Ide memindahkan ruangan divisi keuangan yang harusnya bisa mempermudah Danar untuk lebih dekat dengan Sephia itu bahkan terasa sudah tak lagi berguna bagi Danar.

Setiap adanya kontak mata antar keduanya, entah itu bertemu di lift atau sesekali saling berpapasan Sephia cepat-cepat memutus pandangan matanya terlebih dahulu. Entah mengalihkan pandangannya ke tempat lain atau Sephia menunduk saat berada di dalam satu lift.

Danar sudah tak pernah lagi menghampiri Sephia. Hidup Sephia bahkan berjalan seperti sediakala, seperti hari-harinya sebelum bertemu dengan lelaki yang memporak-porandakan hatinya.

Seperti siang hari ini, Ibu Ratna memerintahkannya untuk membawa laporan pajak yang akan di tandatangani oleh Danar sebelum di setorkan pada kantor pajak keesokan harinya.

"Mbok," panggil Sephia pada Ni Luh sedikit berbisik pada Ni Luh yang duduk di sebelahnya.

"Apa?"

"Aku mau laporan pajak, minta tanda tangan Pak Danar, gimana kalo Mbok Ni Luh yang wakilin aku nanti kerjaan Mbok Ni Luh aku yang kerjain, ya?" pinta Sephia.

Ni Luh yang sudah mengerti keadaan sahabatnya itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda tak menyetujui.

"Kwitansi pembayaran aku masih banyak yang belum aku periksa, jadi aku gak bisa nolongin kamu kayak biasanya," Ni Luh tersenyum.

"Ish, please," Sephia sungguh-sungguh meminta pada Ni Luh seperti biasa. "Oh, Mas Ardi ya," ujarnya menoleh pada Ardi. "Tolongin Phia, minta tanda tangan, oke ... nanti kita makan mie goreng di kedai pojok."

"Bentar lagi aku jalan sama Bu Ratna ke gudang, cek harga," ujar Ardi membereskan pekerjaan di atas meja kerjanya.

Enggan rasanya Sephia bertemu dengan Danar, karena jika mereka bertemu, ada rasa sakit di hati yang masih belum bisa Sephia hilangkan. Dengan langkah gontai Sephia berjalan menuju ruangan Danar.

Sephia masih berusaha mencari Made, assisten Danar di ruangannya. Mungkin saja Made bisa membantunya ternyata memang semua tak berpihak padanya, Made tidak ia temukan di ruangannya. Sephia menghentakkan kakinya, kesal sungguh kesal.

Ketukan pintu tak membuat Danar menghentikan aktivitas pekerjaannya. Sephia masuk melangkah perlahan menghadap atasannya itu.

"Maaf Pak, saya mau minta tanda tangan laporan pajak yang akan di setorkan senin pagi," ujar Sephia yang sudah berdiri di depan meja lelaki itu.

Danar membenarkan kacamatanya, menyingkirkan beberapa berkas yang ada di depannya dan menggeser sedikit laptopnya.

"Dimana harus di tanda tangani?" tanya Danar meminta kertas-kertas laporan pajak yang Sephia bawa.

"Oh ini Pak," Sephia memberikan kertas laporan itu, Sephia serba salah hatinya bergetar sungguh gejolak rasa ini luar biasa.

"Saya tanda tangan dimana?" tanya Danar lagi dan menatap Sephia.

"Disini ... lalu," Sephia menggeser tubuhnya berada di sebelah meja kerja Danar.

"Disini juga," ujar Sephia menunjuk dengan jarinya.

Danar memperhatikan gerak jari-jari itu, jari-jari yang pernah dia gengam beberapa minggu yang lalu tanpa penolakan.

"Dimana lagi?" tanya Danar lagi menyingkirkan berkas pertama.

"Sama Pak, di tempat yang sama," jawab Sephia.

"Kayak perasaan aku buat kamu, masih di tempat yang sama," kata Danar namun tangan dan wajahnya masih sama melihat berkas yang dia tanda tangani.

Deg

Jantung Sephia berdetak cepat, ucapan Danar begitu menohok di hatinya

Danar masih menandatangani lembar demi lembar berkas laporan pajak itu. Hingga ia selesai menandatangani itu semua, Sephia dengan cepat membereskan semuanya.

"Maaf Pak, biar saya bereskan dulu," kata Sephia, lalu meraih lembar demi lembar berkas itu hingga tangan Sephia berhenti ketika Danar menahannya.

"Pulang sama aku nanti," ujar Danar menggenggam tangan Sephia.

"Maaf Pak," kata Sephia berusaha melepaskan tangan lelaki itu.

"Please Phi, pulang dengan aku nanti," ulangnya lagi.

"Saya bawa motor Pak ... permisi." Sephia melepaskan tangannya dari genggaman Danar lalu melangkah menuju pintu keluar.

Langkah kaki Danar melebar, dia melangkah cepat jangan berharap Sephia tidak lebih dulu membuka pintu itu.

"Dua minggu aku nahan untuk gak ngehubungi kamu," ujar Danar menahan pintu itu.

Sephia terdiam, berdiri mematung ketika tubuh Danar mendekat padanya.

"Pulang sama aku nanti, aku tunggu di parkiran, jangan mikirin motor kamu, please Phi," bisik Danar di telinga Sephia.

Harum lelaki itu menyeruak masuk melalui penciuman Sephia. Rindu itu memang luar biasa, Sephia tak bisa menampik jika ia rindu lelaki itu. Perasaan yang sama dirasakan juga oleh Danar. Ingin sekali ia membawa gadis itu ke dalam dekapannya, menciumi harum tubuhnya.

"Saya permisi Pak," kata Sephia melewati tubuh Danar yang masih berdiri di sana.

Sore menjelang, Danar sudah setengah jam menunggu di dalam mobil di parkiran basemant, namun Sephia belum menampakkan batang hidungnya. Beberapa karyawan kantornya satu per satu telah meninggalkan parkiran basemant itu hanya tersisa dua sampai tiga motor saja yang berada di sana termasuk motor Sephia.

Baru saja Danar akan menghubungi Sephia, gadis itu keluar dari balik pintu lift. Danar menekan klakson berharap Sephia tak melupakan perkataannya siang tadi. Dan ternyata apa yang Danar pikirkan benar gadis itu berjalan santai menuju parkiran di seberang mobil Danar terparkir.

Danar berdecak kesal, buru-buru ia keluar dari mobil, sedikit berlari.

"Aku bilang please pulang sama aku," ujar Danar mencabut kunci motor itu dan memasukkannya ke dalam kantung celananya.

"Kamu apa-apa an sih," sungut Sephia berusaha mengambil kunci itu.

Danar menarik tangan Sephia paksa, menuntunnya masuk ke dalam mobil. Mereka saling diam di dalam sana, mobil melaju menuju pusat kota. Entah Danar akan membawanya kemana Jumat sore ini.

Dan akhirnya mobil berhenti di Renon yang merupakan lapangan hijau seperti taman kota. Taman itu tertata rapi dengan hamparan rumput hijau, banyak orang berlalu lalang sekedar olahraga atau hanya menghabiskan waktu sore mereka di sana.

Danar dan Sephia masih saling terdiam, Danar menyandarkan kepalanya pada kemudi dengan tatapan mengarah kepada Sephia, sedangkan Sephia sendiri merasa salah tingkah dan hanya bisa memandang keluar jendela kaca.

"Kamu laper gak?" Akhirnya Danar bersuara memecahkan suasana dingin di mobil itu.

"Gak," jawab Sephia masih memandang keluar jendela.

"Ada siomay, bakso, cilok, terus apa lagi di sana ... kalo kamu laper aku pesenin," ujar laki-laki itu.

"Aku gak laper, Danar." Sephia akhirnya menoleh pada Danar.

"Nah kan enak kalo ngobrol saling tatap kayak gini," ujar Danar tersenyum.

"Apa sih."

"Mau turun?" ajak Danar. " Minum es kelapa juga asik kayaknya Phi ... kamu gak haus?"

Ada saja yang Danar tawarkan, yang membuat Sephia sedikit mengulum senyum.

"Senyum aja ... gak ada yang larang kok," ujar lelaki itu masih dengan posisi kepala yang bersandar di kemudi dan menatap Sephia.

"Aku gak senyum ...." Sephia mengerutkan alisnya.

Danar mengusak rambut gadis itu, dia benar-benar gemas, ingin sekali dia rengkuh Sephia membawa ke dalam pelukannya. Sephia menggemaskan baginya.

"Aku punya sesuatu buat kamu," ujar Danar membalikkan tubuhnya mengambil sesuatu pada jok belakang mobilnya.

"Buat kamu ... sama ini juga," ujar Danar menyodorkan satu kaleng coklat dan tiga batang coklat untuk Sephia.

"Buat apa?"

"Banyak yang dilakukan para pria saat hari valentine, salah satunya ini ... karena kamu suka makan tapi malu-malu, jadi aku beliin ini buat kamu tadi," ujar Danar yang siang tadi setelah bertemu Sephia menyempatkan dirinya ke sebuah swalayan hanya untuk mencari coklat karena dia ingat ini hari valentine. Norak memang tapi apa salahnya di coba pikir Danar saat itu.

"Makasih," Sephia menerima bingkisan itu. "Sudah meleleh," kata Sephia.

"Apanya?"

"Coklatnya," jawab Sephia menarik tisue membersihkan noda coklat di tangannya.

"Sama kayak hati aku ... sudah meleleh karena kamu," ujar Danar menatap tajam pada Sephia lalu tersenyum dan beruntungnya dia senyuman itu di balas senyum manis dari Sephia.

"Happy valentine, Phia," ujar Danar membantu Sephia membersihkan tangannya dari noda coklat itu.

***senyum-senyum tapi jengkel

enjoy reading 😘***

1
74 Jameela
aq sllu senep mules kl pas dtg pelajaran akuntansi blm lg matekmatika...ws kudu ndang lulus ae kpn yaaa..aaahh tp syukur Alhamdulillah udh terlewati masa" ituuuuu🤭
Enisensi Klara
udah lewat batas teritorial mah tuh Danar wkwkwk 🤣😂
Enisensi Klara
Udah sering aneh 2 danar nya pak
Enisensi Klara
Udah di iya iya terus masa mau pisah
Enisensi Klara
Baca ulang aku 😂😂
Enisensi Klara
Ya kali minta ijin bawa anak gadis orang bawa ke Bali tapi blm di nikahin piye Tah danar 😳😳
Enisensi Klara
Dan Kalla ku bayangjn kyk Maxim 😂
Enisensi Klara
Demi shepia aku baca ulang lagi utk sekian kalinya 😂
Enisensi Klara
Aku baca ulang lagi ini utk sekian kali nya 😇😇kangen sama KK chida 😇
Rianty Permata
Luar biasa
Deistya Nur
keren semangat terus ka 👍💪
Dewa Rana
Thor, baju satu Tali itu di bahu, bukan di lengan
Chida: mungkin melorot talinya jadi sampe ke lengan ...
total 1 replies
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Chida: makasih koreksinya 🙏
total 1 replies
Dewa Rana
kayaknya danar udah punya pacar atau tunangan
Dewa Rana
visual sephia cakep 👍
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Dewa Rana
baca ulang Thor
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
piwpie
JANGAAAAAAANNNNNN kasih Phiaaaaaaaaaa
piwpie
gimana sih phia... kesannya kek munafik gak sih. kok gak kayak karakter phia di awal.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!