Darren adalah anak yatim piatu yang diangkat anak oleh Jhon Meyer, Owner XpostOne. Prestasinya sangat gemilang sehingga dia sering di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk bertugas di daerah konflik.
Umurnya sudah dua puluh delapan tahun dan belum menikah. Ia berjanji sebelum bisa membalaskan sakit hatinya kepada keluarga Blossom, ia tak mau menikah. Dulu saat berumur sepuluh tahun orang tua dan kakaknya di bakar hidup-hidup oleh keluarga Blossom.
Suatu hari ia di perintahkan oleh Jhon Meyer untuk menyelamatkan tiga orang gadis yang terperangkap didesa Beduwi. Dengan berat hati ia pergi ke Bali, tapi apa yang dia temukan di desa itu? Ilmu hitam atau Le-ak. Sangat mengerikan dan hampir saja ia menjadi tumbal.
Saat mengetahui salah satu dari ke tiga gadis itu adalah putri keluarga Blossom, ia pun membuat rencana jahat untuk menyiksa gadis itu.
Apakah yang direncanakan oleh Darren? silahkan baca sampai tamat.
Trimakasih, jangan lupa like, coment***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.24. ALUNA PULANG KE RUMAH
Apa yang harus dia lakukan, Darren begitu sombong dan bersikap bermusuhan. Jika ia mengklaim bahwa wanita-wanita itu dia yang menyelamatkannya kenapa marah?
"Bukankah sudah sepakat, dasar tidak tau diri." Gerutu Yudi.
Gemes sekali dia, rasanya ingin memakan d*rah Darren, atau menjadikannya t*mbal.
Yudi menepis serangan nyamuk yang tidak henti-hentinya datang. Nasibnya memang sial, sudah berat menggendong Aluna setelah di depan orang itu, malah Darren yang menyerahkannya. Gondok sekali ia diperlakukan seperti ka-cung.
Tapi ia masih punya harapan mengambil hati keluarga Blossom, Intan pasti akan membantunya. Sebenarnya ia tidak ra-kus dengan harta keluarga Blossom ia cuma ingin menikah dengan Aluna.
Khayalannya buyar ketika mobil berhenti di depannya dan kaca mobil terbuka.
"Hei..kenapa kau berdiri disini?" teriak pria yang tadi mendorong kursi roda Jhon Meyer. Yudi tau itu Omnya Aluna adik bapaknya.
"Aku ditinggal dan di marah-marah oleh pemuda tadi."
"Masuklah, kita pulang ke rumah Aluna."
"Trimakasih pak..."
Waktu ia masuk ke mobil Aluna ada di depan duduk di samping sopir. Gadis itu diam saja ntah apa yang dipikirkannya.
Pukul.03.15 wita dini hari mobil berhenti di garasi mansion keluarga Blossom. Yudi turun sambil menguap, ia melihat Aluna dengan lunglai berjalan masuk ke rumah utama.
Keadaan Aluna mengkhawatirkan, menurut pandangan Yudi. Ia menyesal mengikuti perintah Intan supaya Aluna di kurung di kamar pembantu, tanpa makan. Perintah Intan semakin tidak manusiawi saat Aluna sudah di rumahnya.
"Nanti kamu perk*sa dia..." bisik Intan saat Yudi membangunkan semua penghuni rumah.
Kedatangan gadis itu membuat nyonya Yunita dan pak Cahya menangis haru. Mereka sudah pasrah saat mendengar putrinya tidak diketemukan.
Tidak menyangka kalau bisa bertemu kembali.
"Syukurlah sayank kamu masih hidup." ucap mamanya memeluk Luna.
"Kamu kurus sekali dan pucat..."
"Intan periksa kondisi Aluna, tante takut dia kena bakteri atau virus."
"Aku capek sekali..." hanya itu yang keluar dari mulut Aluna.
"Tante, aku mau mengantar Luna ke kamar .." ucap Intan menarik Aluna dari pelukan nyonya Yunita.
"Silahkan, ingat periksa kondisinya."
"Baik tante..."
"Yuk Lun...kamu sekarang tidur di atas, aku tidak bisa pindah dari kamarmu, tante sangat membutuhkan perawatan ku." ucap Intan mengajak Luna ke lantai dua.
"Tapi kamar atas sempit dan aku takut sendiri di atas."
"Elehh..jangan manja Lun, kamu harus bersyukur gara-gara aku, kamu bisa tertoĺong."
Aluna membuka kamar yang ditunjuk oleh Intan, ternyata sebagian isi kamarnya sudah dipindahkan ke kamar ini. Baju dan perhiasannya tidak terlihat.
"Aku sengaja memindahkan barang mu kesini karena barangku penuh, banyak kado mahal dari teman-teman tante yang memenuhi kamarku."
"Aku minta perhiasanku saja, kalau ada pakaian yang kau s⁹uka ambilah."
"Sorry Lun...semua yang ada di kamarmu diserahkan ke aku, kamu jangan membuat aku dimarah tante. Aku tau kamu iri padaku, jangan begini juga caranya, baru saja kamu pulang sudah membuatku tidak punya tempat disini, hiks..hiks..."
Suara ribut dan tangisan Intan membuat nyonya Yunita lari naik ke atas. Yudi cepat menyusul dan menuntun nyonya Yunita.
"Tantee....aku dirundung oleh Luna, semua barangnya dia mintaa..hiks..hiks.."
"Luna sayank..sadarlah, baru beberapa hari hilang dari rumah, kamu sudah begini apapun yang Intan punya jangan diminta lagi. Kalau tidak ada Intan mama sudah m*ti!!" ucap nyonya Yunita marah.
"Aku cuma minta...."
"Tidak usah membela diri intan lebih jujur darimu, cepat minta maaf!" potong nyonya Yunita.
Drama apa yang aku hadapi sekarang? mama ku bisa percaya kepada Intan yang orang luar daripada aku putrinya. Bathin Luna menggigit bibir bawahnya.
"Maafkan aku." lirih suara Aluna, lalu dia masuk ke kamar barunya. Ia mengunci pintu dan menangis.
Nyonya Yunita kembali turun dengan Intan dan Yudi, Intan gegas mengambil stetoskop dan glukometer atau alat tes gula darah. Alat ini terdiri dari perangkat utama, strip tes, dan jarum lancet untuk mengambil sampel darah ujung jari.
Yudi lalu mempersilahkan nyonya Yunita duduk, Intan gercep memeriksa nyonya Yunita. Mereka sibuk mengurus wanita setengah baya itu.
Melihat keseriusan mereka berdua, pak Erwin dan pak Cahya tersentuh hatinya. Apalagi Yudi mengaku menyelamatkan Aluna, hutang nyawa harus dibayar dengan pengabdian.
"Yudi, siapa yang kau ajak menyelamat kan Aluna?" tanya pak Cahya meyakinkan dirinya, ia takut nanti terlanjur bertindak.
"Om..rekaman itu sudah aku kasi tante, apa om belum mendengar?"
"Om sudah mendengar...."
"Tak apa-apa Tan, aku akan menjelaskan lagi supaya om Erwin juga mendengar."
"Baiklah Yud..jangan lupa memberitahu janji Aluna kalau ada yang menolongnya."
Yudi mengangguk pelan. Ia rada takut berbohong kepada pak Cahya, karena yang dia bohongi orang terkaya dengan aset triliunan. Tapi ia yakin tidak akan ada yang membongkar jati dirinya.
Apalagi ia sekarang sudah punya kartu tanda penduduk baru, yang dibuat oleh Intan. Darren juga tidak mungkin buka mulut, kalau dia berani buka mulut ia akan membuka rahasia Darren, kalau pria itu bisa nge-Le-ak.
"Yud..ceritakan saja." ucap Intan melihat Yudi ragu-ragu.
Keuntungan akan ada di pihaknya jika Yudi berbohong. Ia tidak ingin miskin lagi, hidupnya sekarang sudah enak, bila perlu Aluna kembali di b*ang ke desa Beduwi.
"Begini om, waktu itu saya berdua dengan Agung tanpa sengaja jalan-jalan ke desa Beduwi. Kami berdua tidak tahu kalau di desa itu sedang ada ritual persembahan jiwa untuk Ratu Le-ak." tutur Yudi berjeda.
"Lanjut Yud...om jadi merinding..." ucap pak Erwin mengusap-usap lengannya.
"Kebetulan aku punya ilmu warisan leluhur, sembilan puluh sembilan Le-ak saya bunbun, masih satu yaitu Ratu Le-ak. Sayang sekali Agung terb*nuh."
"Hebat sekali, aku berutang nyawa padamu Yud, tapi aku tidak punya harta benda untukmu, aku orang miskin, anak yatim piatu. Kalau tidak ada beasiswa mana mungkin aku bisa jadi dokter." ucap Intan sedih.
"Jangan khawatir Tan, om akan memberi hadiah untuk Yudi. Hotel Blossom milik Aluna yang ada di Jakarta, boleh juga Hotel Blossom dua yang ada di Bali. Dan Black Card yang berisi seratus miliar."
Yudi sampai gemetar mendengar ucapan pak Cahya, ia akan menjadi kaya raya. Semua warga desa Beduwi akan ditraktir. Yang dulu suka menghinanya pasti akan ternganga melihat kesuksesannya.
"Maaf om, aku ikut campur, Yudi orangnya pemalu dan tidak pamrih, dia bilang tidak perlu harta benda yang penting di kasi menikahi Aluna, itu sudah cukup." ucap Intan.
Ia sudah mempertimbangkan untung ruginya. Kalau Yudi menikah dengan Luna semua kekayaan Blossom akan jatuh kepadanya. Ia yakin Yudi pasti akan memberi bagian padanya. Disamping itu ia bisa mendekati Darren dengan mudah.
*****