fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
Dua hari kemudian setelah berisitirahat yang cukup. Persiapan untuk misi selanjutnya di susun.
“Kali ini kita akan menuju Timur Whangarei. Disana sudah terdapat gudang senjata Kekaisaran.Tujuan kita kali ini untuk merusak tempat itu. Ini jauh lebih sulit karena disana juga terdapat barak para prajurit. Sehingga kita harus menyamar menjadi prajurit Whangarei.” kata Oliver.
Kekacauan di dermaga Whangarei dan kerusakan parah Kapal Black Ghost menyebapkan Whangarei siaga satu. Perwira Justinian yang menjadi pimpinan angkatan bersenjata Whangarei bahkan langsung menuju dermaga untuk memeriksa keadaan dan memerintahkan untuk meningkatkan pengamanan dan pengejaran para perusuh di sepanjang jalan utama baik di desa-desa strategis dan juga di dalam kota.
Beberapa rumah penduduk yang bersuku Adara juga digeledah. Terutama di rumah yang anggota keluarganya sudah bergabung dengan perjuangan Owen di Kaitaia.
Ada 3 keluarga besar Adara yang berpengaruh disini. Yakni Phagan. Rush, dan Stoneheart. Ketiga keluarga itu sudah mengirimkan wakilnya untuk membantu perjuangan Owen . Masing-masing mengirimkan tokoh keluarga mereka yang punya kemampuan di medan perang. Kini, imbas keterlibatan 3 keluarga itu, dan peristiwa di dermaga Whangarei. Beberapa anggota keluarga itu ditangkap dan diinterogasi. Bahkan menurut kabar ada salah satu tetua keluarga Stoneheart dieksekusi karena berusaha melawan.
Namun kekacauan itu dan keadaan siaga satu di semua wilayah Whangarei. Tak menyurutkan misi Oliver dan kesatria Iblis Merah yang ada. Kali ini mereka sudah berada di area luas gudang senjata Whangarei. Waktu yang dipilih tetap pada malam hari. Panah berapi dan minyak sudah disiapkan.
“Jhon kamu kesayap barat bersama Dick dan William, aku akan ke timur bersama Beale dan Delaney, sisanya cari posisi aman. kita bakar tempat ini.” perintah Oliver.
Segera masing-masing menuju lokasi yang dimaksud.
Malam itu dalam kesunyian malam, api besar membakar kompleks gudang senjata dan beberapa bangunan. kekacauan terjadi. sesaat semuanya terperangah. namun segera para perwira membunyikan terompet penanda keadaan darurat.
Lebih dari 1.000 pasukan bersiap diri, baik memadamkan api maupun mencari pelaku pembakaran. Oliver dan Iblis Merah juga sudah berusaha menyusup untuk meminimalisir kesalahan seperti yang terjadi di dermaga. Namun ketatnya penjagaan memaksa mereka terlibat dalam pertarungan terbuka di halaman gudang.
Dalam duel itu Livingstone dan Blott anggota Iblis Merah tewas di tempat ini. mereka terjebak dan dikepung. perlawanan mereka dia sia-sia.
Untunglah saat yang lain juga terdesak, bahan peledak yang dipersiapkan Bentley. meledak seketika, kuatnya tekanan memporak-porandakan gudang senjata, dan menyebapkan para prajurit yang mengepung mereka lengah. Dan tak menyadari Oliver dan sisa pasukan Iblis Merah yang terjebak itu sudah dievakuasi oleh Beale yang datang dengan kuda-kuda yang sudah dipersiapkannya.
Segera dengan gerak cepat, mereka sudah menghilang dari tempat itu. kepulan asap membantu pelarian itu.
“Cari para penyusup tadi. Mereka menuju timur, lewat gerbang belakang. kejar mereka!! “ teriak salah satu perwira ditempat itu.
Para prajurit kini melakukan pengejaran.
Namun beberapa rombongan pengejar justru salah arah dan tak pernah menemukan mereka. Satu rombongan lain berhasil mengejar, namun jumlah mereka hanya 10 orang. Sehingga saat bertemu rombongan Oliver, mereka kalah jumlah dan kemampuan.
Olivier justru sedang menunggu mereka di pinggir hutan. dan terjadi pertarungan ditempat itu. 10 orang prajurit itu pada akhirnya kalah. 8 orang tewas dan dua orang melarikan diri. Namun di kubu Oliver, Denolly juga tewas. ia terluka tusukan pedang seorang prajurit dan tak bisa diselamatkan
Usai pertarungan di hutan ini, jejak Oliver dan pasukannya menghilang dari usaha pencarian pasukan Whangarei.
***
Oliver kini mengajak sisa pasukannya menginap di tengah kota. Disalah satu tempat penginapan milik keluarga Dalquor *) "pusat kota justru adalah tempat teraman saat ini" Kata Olivier.
*) di tempat inilah Oliver berkenalan dengan putri pemilik penginapan bernama Darra, usianya baru 17 tahun. Ia bertemu Oliver saat dimintakan oleh ayahnya untuk melayani makan malam mereka dimalam itu. Ayahnya bernama Dario Dalquor berusia 48 tahun. Seorang duda dan hanya mempunyai seorang anak gadis. Yang rencananya akan mewarisi penginapan ini. Tak ada interaksi antara Oliver dan Darra dipertemuan awal ini. Dario benar-benar merahasiakan keberadaan Oliver. Tak memintakan bayaran, bahkan memberikan mereka perbekalan untuk melanjutkan.
Pilihan tinggal di pusat kota ini diambil untuk menghilangkan jejak mereka yang terus diburu pihak kekaisaran di Desa-desa dan pinggir hutan. Para pemburu tak menyadari mereka kini ada ditengah kota Whangarei.
Malam itu Oliver dan kawan-kawan beristirahat dengan tenang.
“5 anggotamu tewas Jhon. Apakah masih siap melanjutkan misi kita?” kata Oliver di pagi itu.
“Sejak menetapkan diri untuk menjadi anggota Iblis Merah., semua sudah menyadari resiko perjuangan Ser. Aku rasa begitupun dengan Tuan.” kata Jhon Bentley.
“Benar.. dan perjuangan kalian pasti akan dicatat oleh sejarah Union yang sedang kita bangun ini dimasa depan. ” kata Oliver.
“Iblis Merah sudah lebih dulu ada sebelum kedatangan Ser Owen di The Horn Land. Kami memilih untuk membantu karena kami sadar perjuangan tak cukup hanya dengan mengganggu, namun harus ada kepemimpinan dan pasukan yang kuat. Dan kehadiran Ser Owen bersama para kesatria memberikan harapan baru bagi The Horn Land yang merdeka…. Maaf Ser Oliver, anda berasal dari Selatan. Bagaimana bisa bersama-sama dengan Ser Owen disiini?.” Tanya Jhon .
“Ya, aku memilih merantau ke Utara sejak 10 tahun lalu. Setelah keluargaku dibantai dalam perang perebutan kekuasaan di wilayah Timaru. Pada 18 tahun lalu. Salah satu kota di pesisir Timur Pulau Selatan. Kekaisaran memihak salah satu kubu saat itu dari Suku Yulara dan menghabisi komunitas Adara yang minoritas. Keluargaku dibantai. Aku sejak itu aku seorang diri dan pindah ke wilayah Pulau Selatan lain yakni ke Blenheim. Usiaku saat itu 20 tahun, dan bertemulah dengan ayah angkatku di sana. Salah satu pimpinan Keluarga Adara terpandang yakni keluarga Damollie. Ayah angkatku Drases kemudian menikahkan aku dengan keponakannya. Lydia. Namun kami tak memiliki anak. Sampai kemudian aku bertemu Jhuma. Ia mengajak aku pindah ke pulau utara untuk berjuang bersamanya. Aku memang punya keinginan untuk berjuang memerdekakan The Horn Land.”
“Bagaiamana dengan istrimu? “ tanya Jhon.
“Kami tak memilik anak. Aku pamit untuk meninggalkannya dalam perjuangan. Ia tetap ada di Pulau Selatan bersama keluarganya. Aku juga mengijinkannya menikah lagi jika sudah ada pria yang mendekatinya. Karena mungkin aku tak akan bisa pulang lagi ke Selatan. Setiap saat nyawaku terancam dalam perang ini.” kata Oliver.
“Dan ia mengijinkanmu? “ Tanya Jhon lagi.
“Ia tak punya pilihan. Karena mengikutiku juga bukan pilihan yang bijak. Namun ia berpesan. Jika kemerdekaan sudah diraih, ia minta untuk dijemput, katanya ia tak akan menikah lagi.” kata Oliver.
“Kaitaia sudah kita raih. Apakah tidak sebaiknya kau jemput dia…”
“Jangan merayakan sesuatu terlalu cepat itu berbahaya…posisi kita belum lagi aman kini. Jika Kekaisaran mengirimkan 5000 pasukan saja ke Kaitaia, aku sangsi apakah kita bisa bertahan menghadapi. Perjuangan baru dimulai.”
Pintu diketuk dari luar, Beale masuk.
“Maaf tuan-tuan, persiapan sudah matang teman-teman lain sudah ada didepan.” kata Beale.
“Baik kita berangkat.” kata Oliver. Ketiganya keluar rumah penginapan itu.