Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.
*******
Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.
Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.
Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Sendu
Semua saling diam. Bingung harus bicara apa. Dirga mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Syafi merasa air matanya seakan kering. Hanya menatap sendu kearah pria yang sangat berjasa dalam hidupnya. Yang membiayai hidupnya dan pendidikannya sehingga dia bisa menempuh Pendidikan sampai S1. Adzan magrib berkumandang, menyadarkan mereka yang masih larut dengan lamunan masing-masing. Saat yang sama ponsel Dirga berdering, Dirga segera mengangkat pangggilannya. Tidak lama dia izin keluar sebentar. Di ruangan hanya tinggal Mayfa, Syafi, dan Pak Said.
“Fa, Ayah izin salat berjamaah ke mushalla ya.”
“Iya Ayah,” Jawab Mayfa.
Syafi dan Mayfa salat bergantian dalam ruangan itu.
Entah kenapa waktu rasanya berjalan lebih lambat dari biasanya. Bingung untuk memulai pembicaraan darimana, atau memang tidak mampu untuk berbicara. Makan malam sederhana baru selesai, Mayfa dan Syafi juga sudah selesai membersihkan bekas makan mereka. Dua wanita cantik itu duduk di sofa Panjang yang ada di ruangan itu. Pak Said memandangi satu per satu wajah-wajah yang ada di ruangan itu.
“Dirga, kapan kamu menemui dokter?” Tanya Pak Said.
“Sepertinya sekarang bisa, kalau Syafi besedia,” jawab Dirga.
“Sebaiknya, kakak temani Syafi menemui dokter, ni anak otaknya lemot dan lola kalau ber-urusan perkara serius.” Mayfa menoleh kearah Syafi, tidak ada reaksi dari wajah yang terbiasa ceria itu.
“Ayok sekarang kita temui dokter, Kak.” Syafi mengajak Dirga untuk bertemu dokter yang menangani Pamannya.
“Beneran ya, Dirga lu ajak ke ruangan dokter, bukan ke semak, kali aja lu mau ajak Dirga kawin duluan,” canda Mayfa. Tidak ada reaksi dari Syafi, dia segera melangkah menuju pintu. Diga berjalan mengekor di belakang Syafi.
Mayfa menatap sendu kearah Syafi yang terus mulai menjauh dari pandangannya, perlahan punggung dua orang itu menghilang di balik pintu.
“Ada yang hilang dari Syafi, Ayah ….” Pandangan mata itu masih menatap kearah pintu.
“Dia hanya bersedih, Fa.”
Pak Said duduk di kursi yang ada di samping Ardhin, sambil membacakan surah Al-qur’an. Memohon kepada sang pencipta, kebaikan untuk Ardhin. Sedang Mayfa duduk di sofa tamu seorang diri.
Di ruangan dokter.
Syafi dan Dirga duduk di kursi yang ada di depan meja dokter, mendengari keterangan dokter mengenai keadaan Ardhin. Keduanya fokus mendengari segala penjelasan dokter.
“Rezeki, jodoh, dan maut, memang di tangan ALLAH. Tapi, dari segi medis seperti inilah. Beberapa bulan lalu, saya sudah menerangkan keadaan Pak Ardhin, saat beliau menjalani pengobatan. Kalau dari pandangan medis, umur beliau tidak lama lagi. Saat ini keadaan beliau sangat mengkhawatirkan. Beliau bertahan sampai saat ini pada masa sulitnya, di pastikan ada keinginan beliau yang belum terwujud.” Dokter menarik napas begitu dalam. “Tadi sore, beliau sadar sebentar, yang beliau ucap hanya ‘Aul’ apakah itu benar?” Dokter bertanya pada Dirga. Dirga hanya menganggukkan kepalanya.
Air mata Syafi seketika merembes lagi, dia tahu Pamannya sangat menyayanginya. Tidak menyangka saat kritis seperti ini Pamannya sangat memikirkan dirinya. Dirga menggenggam telapak tangan Syafi, memberi semangat pada gadis itu. Syafi perlahan mengusap air matanya.
“Saya Aul, dok. Saya keponakan Ardhin.
“Coba semangati Paman Anda, kali aja ada hal atau keinginan terakhir paman Anda. Kalau sudah tau, penuhi. Kasihan beliau tersiksa terlalu lama.” Ucap dokter.
Dokter terus berbicara tentang keadaan Ardhin. Seorang Perawat masuk ke dalam ruangan dokter, menceritakan keadaan terbaru Pak Ardhin. Mendengar Pamannya siuman, Dirga, Syafi, juga tim dokter segera menuju ruangan Ardhin. Sesampainya di ruang perawatan Ardhin, terlihat sepasang mata itu terbuka, menatap sendu kearah Syafi dan Dirga. Syafi ingin sekali memeluk pria yang terbaring itu, namun tim dokter masih memeriksa pamannya itu.
Mayfa menarik Syafi kedalam pelukannya, entah mengapa temannya itu bagai boneka yang terus diam. Mereka berdiri tidak jauh dari ranjang Ardhin, memandangi tim medis yang terus memeriksa Ardhin. Dokter selesai memeriksa Ardhin, wajah dokter terlihat lesu, dia menggelengkan kepalanya sambil memandangi Syafi dan Dirga. Sebagai kode yang mereka bicarakan sebelumnya.
Dokter itu mendekati Syafi dan Dirga. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ingat pembicaraan kita di ruangan tadi? Makan manfaatkan waktu yang sedikit ini,” terang dokter.
“Dirga ….” Nada suara itu terdengar sungguh lemah. Dirga segera berlari mendekati Pamannya, meraih tangan yang mulai keriput itu, lalu menciuminya penuh cinta.
Sedang di ujung sana, Syafi mengajak Pak Said dan Mayfa, agar keluar dari ruangan itu, memberi kesempatan untuk Dirga dan Ardhin untuk berbicara. Semua orang sudah keluar, hanya Dirga dan Paman Ardhin yang tertinggal.
“Paman … kenapa Paman seperti ini?” masih mendaratkan ciumannya pada tangan Pamannya.
“Dirga … benarkah tentang ucapan kamu tadi sore?” Ardhin begitu sulit berbicara.
Dirga kaget, tidak menduga kalau Pamannya mendengarkan pengakuannya. “Maaf, paman.” Dirga sungguh merasa malu.
“Andai keinginan terakhir Paman ingin melihat Aul menikah, apa alasan kamu hingga menyetujui jika Paman meminta kamu untuk menikahinya?”
“Aku bingung Paman. Satu sisi aku jatuh cinta padanya, menikah dengan orang yang kita cinta sungguh bahagia, Paman. Tapi aku juga ikhlas menunaikan Amanah Paman.”
Ardhin berusaha tersenyum, walau sangat sulit. “Paman akan meminta Syafi menikah denganmu, dia anak yang penurut. Benarkah kamu mau menikahi Syafi karena kau juga jatuh cinta padanya?”
“Maaf Paman, saya juga bingung kenapa saya jatuh Cinta pada Syafi.” Malu sekali, rasanya Dirga ingin sekali memutar waktu dan menghapus kenangan itu.
“Panggil Aul. Paman ingin berbicara dengannya,” pinta Ardhin. Dirga menurut, dia segera memanggil Syafi.
Tidak menunda Waktu lagi, Syafi segera masuk kedalam kamar perawatan Ardhin, duduk di sisi tempat tidur Ardhin, agar jarak mereka dekat. Sekarang hanya ada Syafi dan Ardhin yang ada dalam ruangan itu. Dirga, Pak Said, dan Mayfa menunggu di luar.
“Nak … sebelum Abah mati, Abah ingin sekali melihatmu menikah. Tapi itu berat, waktu Abah sudah tidak lama, rasanya Abah tidak tenang meninggalkan dunia ini, sebelum memastikan kamu akan menikah.”
Yang diajak bicara memang membalas tatapan sendu Pamannya, tapi pandangan itu kosong.
“Abah ingin kamu menikah, nak.”
“Abah … Abah santai saja, aku tidak terluka karena gagalnya pernikahan besok.”
“Bukan begitu, Abah tau, Aul sosok yang kuat. Tapi Abah rasanya tidak tenang, kalau kamu belum menikah. Bagaimana Agama kamu, siapa yang menjaga kamu, Siapa yang melindungi kamu.”
“Aku harus apa, Abah?”
“Jodoh, maut, rezeki Allah yang mengatur, mungkin melalui rintangan berat ini Allah mengantarkan jodoh buat kamu.”
“Aku tidak mengerti Abah.”
"Dirga, Abah sudah bicara dengannya, Abah mau kamu menikah dengannya."
“Abah … kasihan kak Dirga, Bah.”
“Abah sudah bicara dengan Dirga ... Dirga setuju, tinggal menunggu persetujuan kamu.”
”Bolehkah aku berbicara dengan kak Dirga juga?”
“Tentu sayang. Jangan lama-lama. Abah sungguh tidak kuat.”
Tidak menunda waktu lagi, Syafi melangkah cepat keluar, dia meminta Pak Said dan Mayfa untuk masuk kedalam ruangan, sedang dirinya dan Dirga sengaja berdiam diri di luar ruangan itu.
Merasa tidak punya banyak waktu, Syafi langsung bertanya pada masalah inti. “Kenapa kakak menyetujui permintaan Paman untuk menikahiku?”
“Karena aku cinta.”
“Aku tau kakak sangat mencintai Paman, tapi kenapa kakak mau merusak masa depan kakak karena menikahi wanita sepertiku?”
Aku jatuh cinta padamu saat pertama aku melihat kamu, Fiy. Jerit hati Dirga. Mengakui perasaan di saat seperti ini hal yang keliru. Dirga segera menyadarkan dirinya. “Aku tidak tau, yang aku tau ingin menunaikan keinginan terakhir Paman Ardhin.”