Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di ruang tengah, Nafiza duduk bersandar di sofa, menikmati teh hangat yang dibuatkan Umi-nya Zahra, sibuk dengan ponselnya, sesekali tertawa kecil saat melihat sesuatu yang lucu. Abi Nafiza membaca koran, sesekali tersenyum mendengar celotehan Zahra yang kadang absurd.
"Kak Nafiza, Kak Zayn mirip bangat sama Oppa yang di drama ini, ganteng banget! Aku jadi pengen punya pacar kayak Oppa-Oppa," celetuk Zahra tiba-tiba, membuat Nafiza tersenyum geli.
"Emang kamu udah boleh pacaran?" tanya Nafiza, menggoda.
"Ya belum sih. Tapi kan boleh dong berkhayal dikit," balas Zahra, nyengir.
"Jangan pacaran dulu. Sekolah yang bener dulu," timpal Abi Nafiza, tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
"Iya, Abi. Santai aja. Aku kan masih kecil," balas Zahra, memutar bola matanya malas.
Nafiza tersenyum melihat interaksi antara Abi dan Zahra. Ia merasa beruntung memiliki keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang.
"Nafiza, kamu jangan terlalu capek ya. Istirahat saja yang cukup," ujar Abi Nafiza, meletakkan korannya dan menghampiri Nafiza.
"Iya, Abi. Nafiza akan istirahat," balas Nafiza, tersenyum tulus.
Tiba-tiba, ponsel Nafiza berdering. Nafiza meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar. Nomor tidak dikenal.
"Siapa ya?" gumam Nafiza, penasaran.
"Angkat saja, Naf," timpal Umi Maryam yang baru aja muncul dari arah dapur sambil membawa cemilan kue kering coklat di tangannya.
Nafiza mengangguk, lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum," sapa Nafiza, memulai percakapan.
"Waalaikumsalam, Nafiza," jawab suara dari seberang sana. Suara yang sangat familiar di telinganya.
Nafiza tersentak kaget. "Zayn?" tanyanya tak percaya.
"Iya, ini aku, Zayn," jawab Zayn, membenarkan.
Nafiza terdiam sejenak, merasa gugup dan salah tingkah. "Ada apa Zayn?" tanyanya kemudian.
"Aku cuman mau mastiin kabar kamu aja," jawab Zayn, terdengar khawatir.
"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik," jawab Nafiza, tersenyum tipis.
"Syukurlah. Saya lega mendengarnya," sahut Zayn, merasa tenang.
"Terima kasih perhatiannya, Zayn," ujar Nafiza, merasa tersentuh dengan perhatian pria itu.
Zayn tersenyum mendengar jawaban Nafiza. "Sama-sama, sayang," sahut Zayn, yang hanya berani dalam hati.
"Sama-sama, Naf. Jangan bergadang ya, kamu masih butuh istirahat yang cukup?" nasehat Zayn.
"Iya, bentar lagi aku masuk kamar juga, ini lagi ngobrol Umi, Abi dan Zahra," jawab Nafiza.
"Kalau begitu, aku tidak mau mengganggu kamu lebih lama lagi. Kamu istirahat saja ya. Semoga cepat pulih," pesan Zayn, mengakhiri percakapan.
"Amin Allah humma Amin. Terima kasih Zayn. Assalamualaikum," balas Nafiza, menutup telepon.
Nafiza menghela napas panjang. Jantungnya masih berdebar kencang setelah berbicara dengan Zayn. Kenapa dia begitu perhatian? Aku terluka lagi.
"Siapa yang telepon, Naf?" tanya Umi Maryam, penasaran saat melihat tingkah putri sulungnya itu.
"Zayn, Umi," jawab Nafiza, jujur.
"Zayn? Ada apa?" tanya Abi Nafiza, ikut penasaran.
"Cuma nanyain kabar Nafiza," jawab Nafiza.
"Wah, perhatian sekali Kak Zayn. sama Kakak," goda Zahra, membuat pipi Nafiza merona merah.
"Apa sih, Zahra," balas Nafiza, malu.
Umi Maryam dan Abi Nafiza saling bertukar pandang, tersenyum penuh arti. Mereka ikut tersenyum melihat putrinya bisa kembali tersenyum.
______&&______
Di teras mansion, Zayn tersenyum-senyum sendiri setelah berbicara dengan Nafiza. Ia merasa lega bisa memastikan keadaan Nafiza. Ia juga merasa senang karena Nafiza tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Zayn, kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?" tanya Maya, heran melihat tingkah putranya.
"Enggak kok, Mom," jawab Zayn, menyembunyikan senyumnya.
"Jangan bohong, Mommy tahu kamu lagi mikirin Nafiza kan?" goda Maya, membuat Zayn salah tingkah.
"Apa sih, Mom," balas Zayn, malu.
"Sudah deh jangan sok ngeles! Dia gadis yang baik dan sholehah," ujar Maya, memberikan dukungan penuh pada putranya.
"Beneran, Mom? Meskipun statusnya janda?" tanya Zayn, memastikan.
"Iya, Zayn. Mommy setuju. Asal kamu bisa bahagia, Mommy akan selalu mendukung kamu," jawab Maya, tersenyum tulus.
Zayn memeluk Maya erat. "Makasih banyak, Mommy. Zayn sayang sama Mommy," ujarnya, merasa bahagia.
"Mommy juga sayang sama kamu, Zayn. Sekarang, kamu istirahat saja. Jangan lupa berdoa untuk kesembuhan calon istri!" goda Maya mengakhiri percakapannya.
"Iya, Mom. Assalamualaikum," balas Zayn, melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Sesampainya di kamar, Zayn merebahkan diri di tempat tidur. Ia merasa sangat bahagia dan bersemangat. Ia tahu, ia harus berjuang untuk mendapatkan hati Nafiza sepenuhnya. Ia harus membuktikan pada Nafiza bahwa ia adalah pria yang pantas untuknya.
Zayn meraih ponselnya dan membuka aplikasi chat. Ia ingin mengirim pesan kepada Nafiza, tetapi ia ragu. Ia takut mengganggu istirahatnya.
Namun, ia teringat pesan dari Daddy-nya. Ia harus mendekati Nafiza dengan cara yang baik dan benar. Ia tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak diridhoi Allah SWT.
Akhirnya, Zayn memutuskan untuk tidak mengirim pesan apapun kepada Nafiza. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
Zayn memejamkan matanya dan berdoa kepada Allah SWT. Ia meminta agar Allah SWT memudahkan jalannya untuk mendapatkan hati Nafiza.
Ya Allah, jika Nafiza memang jodohku, maka dekatkanlah. Namun, jika bukan, maka jodohkanlah aku dengannya." doa Zayn dalam hati.
Dengan hati yang tenang, Zayn akhirnya bisa tertidur lelap. Ia bermimpi tentang Nafiza. Mimpi indah yang membuatnya tersenyum-senyum dalam tidurnya.
Bersambung ....