NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Malam di kediaman Maheswara terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Lampu-lampu kristal yang mahal tetap menyala, namun tidak mampu menghangatkan suasana yang sudah mati. Raga Maheswara duduk sendirian di ruang makan yang sangat luas, menatap kursi-kursi kosong di sekelilingnya. Tidak ada Raka, tidak ada Bima, tidak ada Safira, dan Vian pun telah pergi.

Langkah kaki yang terburu-buru memecah kesunyian. Ratih masuk dengan wajah pucat dan napas yang tersenggal. Ia baru saja menerima kabar dari orang-orang suruhannya bahwa rencana mereka gagal total.

"Mas... Mas Raga," panggil Ratih dengan suara bergetar.

Raga perlahan mendongak. Matanya yang merah menatap istrinya dengan tatapan yang kosong. "Dari mana kamu, Ratih? Jam segini baru pulang?"

"Aku... aku tadi habis menenangkan Maya. Dia stres sekali, Mas," bohong Ratih, tangannya gemetar saat memegang sandaran kursi.

"Bohong," ucap Raga pendek. Ia melempar sebuah amplop cokelat ke atas meja makan. "Pak Haryo baru saja menelepon. Tim audit menemukan aliran dana yang sangat spesifik dari yayasan ke rekening pribadi seseorang bernama 'Dedi'. Siapa dia, Ratih? Dan kenapa dia menerima ratusan juta setiap bulan dari uang pendidikan anak yatim?"

Ratih membeku. Dedi adalah mantan suaminya, ayah kandung Maya, pria yang selama ini ia gunakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor, termasuk mencoba menculik Safira tadi sore.

"Itu... itu biaya operasional, Mas. Aku bisa jelaskan," dalih Ratih, suaranya naik satu oktav karena panik.

"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan!" Raga berdiri, suaranya menggelegar hingga gorden di ruangan itu seolah ikut bergetar. "Anak-anakku pergi karena kamu! Reputasi yang aku bangun puluhan tahun hancur karena keserakahanmu! Dan sekarang, polisi akan datang ke sini besok pagi."

Di lantai atas, Maya mengintip dari balik pilar tangga, tubuhnya menggigil mendengar teriakan ayahnya. Ia menyadari bahwa benteng yang selama ini melindunginya telah runtuh.

Di unit apartemen Safira, suasananya sangat berbeda. Raka dan Bima masih berada di sana, duduk di sofa ruang tengah sementara Safira memeriksa beberapa berkas di tabletnya. Vian sudah tidur di kamarnya, lelah setelah seharian beraktivitas di sekolah barunya.

"Fira, tadi pengacara Haryo bilang kalau Papa sudah tahu soal dana yang mengalir ke ayah kandung Maya," buka Raka. "Ini bisa jadi masalah besar. Kalau Papa terseret sebagai orang yang membiarkan penggelapan ini, Maheswara Group benar-benar tamat."

Safira meletakkan tabletnya, menatap Raka dengan tenang. "Itu risiko yang Papa ambil sejak dia memutuskan untuk percaya pada Ratih tanpa pengecekan. Tapi tenang saja, Kak. Aku sudah mengatur agar auditnya fokus pada penyalahgunaan wewenang individu. Papa mungkin akan terkena denda administratif, tapi Ratih dan mantan suaminya yang akan masuk penjara."

Bima menghela napas panjang, bersandar pada bantal sofa. "Gue masih nggak percaya lo bisa tenang begini, Fir. Padahal tadi sore lo hampir diculik. Gue kalau jadi lo mungkin udah nggak berani keluar rumah."

Safira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak arti. "Kalau aku takut, mereka menang, Kak Bima. Kakek selalu bilang, musuh paling berbahaya bukan orang yang bawa pisau, tapi rasa takut dalam diri kita sendiri. Pisau bisa ditangkis, tapi takut itu melumpuhkan."

"Gue baru sadar," gumam Bima, menatap adiknya dengan kagum. "Selama tiga tahun kita ngerasa hebat jadi kakak yang 'melindungi' keluarga, ternyata lo yang paling kuat di antara kita semua. Lo belajar bela diri itu sejak kapan sih? Kakek beneran ngajarin lo sejauh itu?"

"Sejak pertama kali Maya sengaja menjatuhkanku dari tangga dan kalian bilang aku yang kurang hati-hati," jawab Safira datar. "Kakek lihat itu. Dia bilang, 'Safira, di dunia ini, kalau kamu nggak bisa jadi perisai buat dirimu sendiri, orang lain akan jadi pedang yang menusukmu'. Jadi, setiap libur sekolah saat aku di desa, Kakek manggil pelatih silat tua untuk melatihku di belakang rumah."

Raka dan Bima terdiam. Kalimat Safira seperti tamparan keras bagi mereka. Mereka adalah alasan kenapa Safira harus belajar bertarung—karena kakak-kakaknya tidak bisa diandalkan.

"Maafin kita, Fir," ucap Raka dengan nada tulus yang sangat dalam. "Kita bener-bener kakak yang gagal."

"Jangan terus-menerus minta maaf," potong Safira. "Lakukan saja bagian kalian. Besok rapat pemegang saham akan sangat krusial. Ratih pasti akan melakukan langkah nekat terakhir. Aku butuh kalian tetap di pihakku, bukan karena kasihan, tapi karena kalian ingin Maheswara Group bersih."

Kembali ke rumah Maheswara, Ratih yang sudah kehilangan akal sehat masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengambil tas perhiasannya, memasukkan semua berlian dan emas yang ia miliki ke dalam tas kecil.

"Kita harus pergi, Maya! Sekarang!" bisik Ratih saat masuk ke kamar Maya.

"Pergi ke mana, Ma? Ini sudah tengah malam!" jawab Maya bingung.

"Ke mana saja! Sebelum polisi datang! Kita cari Dedi, dia punya tempat persembunyian di pinggiran kota. Kita bisa pakai sisa perhiasan ini buat hidup," ajak Ratih dengan mata yang liar.

"Aku nggak mau hidup susah, Ma! Aku nggak mau jadi buronan!" jerit Maya.

"Kalau kamu tetap di sini, kamu akan jadi anak dari seorang narapidana! Kamu pikir Raka dan Bima akan kasih kamu uang? Mereka sudah benci sama kita!"

Maya terdiam. Ia menatap kamar mewahnya yang luas, lalu menatap ibunya yang tampak seperti orang gila. Di saat itulah, Maya menyadari bahwa semua kemewahan yang ia nikmati selama ini ternyata hanyalah fatamorgana yang dibangun di atas pasir.

Pukul dua dini hari, Safira masih terjaga. Ia keluar ke balkon, menikmati angin malam yang dingin. Tak lama, Raka menyusulnya, membawakan sehelai selimut untuk disampirkan di bahu Safira.

"Belum tidur, Fir?" tanya Raka lembut.

"Belum bisa, Kak. Aku nunggu kabar dari orang suruhanku yang mengawasi rumah Papa," jawab Safira.

"Kamu beneran pasang orang di sana?" Raka terkejut.

"Tentu saja. Aku tahu Ratih tipe orang yang akan lari sebelum badai datang. Dan benar saja..." Safira melirik ponselnya yang bergetar. "Mereka baru saja keluar lewat pintu belakang. Ratih dan Maya."

"Kita harus telepon polisi!" seru Raka.

"Sudah, Kak. Tapi bukan ke polisi," Safira tersenyum misterius. "Aku menelepon media. Aku mau seluruh dunia tahu bahwa istri Tuan Maheswara mencoba kabur di tengah skandal korupsi yayasan. Dengan begitu, Papa nggak akan punya pilihan selain menceraikannya dan memutus semua hubungan hukum, atau namanya akan hancur selamanya."

Raka menatap adik perempuannya itu dengan rasa ngeri sekaligus hormat. Safira telah memikirkan sepuluh langkah di depan semua orang. Ia bukan lagi sekadar korban; ia adalah sutradara dari kejatuhan musuh-musuhnya.

"Kamu bener-bener nggak kasih mereka celah ya, Fir?" gumam Raka.

"Celah hanya diberikan untuk orang yang pantas mendapatkannya, Kak Raka," jawab Safira sambil menatap lampu kota yang mulai meredup. "Dan bagi mereka, celah itu sudah tertutup rapat sejak mereka mencoba menyentuh Vian."

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!