NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi, membelah keheningan jalanan yang sepi. Di dalamnya, Ratih mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih. Di sampingnya, Maya terus terisak, memeluk tas desainer miliknya yang kini berisi tumpukan perhiasan dan paspor, bukan lagi alat kosmetik mahal atau barang bermerek terbaru.

"Berhenti menangis, Maya! Suaramu membuatku tidak konsentrasi!" bentak Ratih. Napasnya memburu, matanya terus melirik ke kaca spion, waspada jika ada lampu sirine yang mengejar.

"Kita mau ke mana, Ma? Tempat Ayah Dedi itu kumuh! Aku tidak bisa tinggal di sana!" ratap Maya.

"Hanya untuk sementara! Begitu situasi mereda dan pengacara yang kukenal bisa mengatur pelarian kita ke luar negeri, kita akan pergi dari sini. Tapi sekarang, kita harus menghilang!"

Namun, apa yang tidak disadari Ratih adalah bahwa pelariannya bukanlah sebuah rahasia. Di balik kegelapan jalanan, dua buah mobil sedan perak telah membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang belakang kediaman Maheswara. Dan jauh di pusat kota, di sebuah unit apartemen yang tenang, Safira Maheswara sedang menyesap teh melati hangatnya sambil menatap layar monitor yang menampilkan titik GPS mobil ibunya.

Ratih membelokkan mobilnya menuju sebuah gudang tua di daerah pelabuhan, tempat yang dijanjikan Dedi sebagai titik temu. Ia merasa aman karena jalanan di sana sangat gelap dan minim penerangan. Namun, saat mobilnya memasuki area lapangan terbuka di depan gudang, tiba-tiba lampu-lampu sorot berkekuatan tinggi menyala serentak, membutakan pandangannya.

"Apa-apaan ini?!" jerit Ratih sambil menginjak rem mendadak.

Bukan polisi yang menyambut mereka. Setidaknya, belum. Puluhan wartawan dengan kamera yang sudah siap membidik muncul dari balik truk-truk besar yang parkir di sana. Kilatan lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti badai petir di tengah malam.

"Nyonya Ratih! Benarkah Anda mencoba melarikan diri dari penyelidikan korupsi Yayasan Maheswara?"

"Maya, apakah benar ibumu menggunakan dana anak yatim untuk membiayai gaya hidup mewahmu?"

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai keterlibatan mantan suami Anda, Dedi, dalam rencana penculikan Safira Maheswara?"

Suara-suara itu saling bersahutan, menyerang mental Ratih yang sudah berada di titik nadir. Ia mencoba memundurkan mobilnya, namun dua mobil sedan yang membuntutinya tadi sudah memblokir jalan keluar. Dari salah satu mobil itu, keluarlah seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi. Ia adalah Pak Haryo, pengacara kepercayaan keluarga Maheswara yang kini berada di bawah instruksi Safira.

"Selamat pagi, Nyonya Ratih," ucap Pak Haryo dengan nada dingin yang sopan. "Melarikan diri di tengah proses audit internal bukan hanya pengecut, tapi juga merupakan pengakuan dosa secara tidak langsung."

Ratih keluar dari mobil dengan amarah yang meledak, menutupi rasa takutnya. "Minggir! Kalian tidak punya hak menahanku! Aku masih istri sah Raga Maheswara!"

"Secara hukum, mungkin iya," balas Pak Haryo sambil menyodorkan sebuah dokumen. "Tapi surat ini baru saja ditandatangani oleh Tuan Raga dua jam yang lalu. Gugatan cerai dan pencabutan seluruh akses fasilitas atas nama Anda dan Maya. Tuan Raga juga telah memberikan kuasa penuh kepada pihak kepolisian untuk menggeledah semua aset yang Anda sembunyikan."

Maya yang ikut keluar dari mobil jatuh terduduk di aspal. Ia melihat ke sekeliling, ke arah kamera-kamera yang terus merekam kehancurannya. Besok, wajahnya akan menghiasi halaman depan surat kabar bukan sebagai socialite muda berbakat, melainkan sebagai anak dari seorang koruptor dan kriminal.

Sementara drama di pelabuhan berlangsung, suasana di apartemen Safira jauh lebih melankolis. Raka dan Bima hanya bisa terdiam melihat siaran langsung dari informan media yang dikirim oleh Safira. Mereka melihat ibu tiri mereka digiring oleh pihak kepolisian yang akhirnya tiba di lokasi setelah media memberi tekanan publik.

"Lo bener-bener nggak main-main, Fir," gumam Bima. Ia merasa ngeri melihat betapa rapinya Safira menyusun skenario ini. "Lo bahkan tahu kalau mereka bakal lari ke pelabuhan."

"Ratih itu seperti tikus, Kak," jawab Safira tenang, pandangannya tetap lurus ke depan. "Dia hanya akan lari ke lubang yang dia anggap paling gelap. Dia pikir Dedi adalah pelindungnya, padahal Dedi-lah yang pertama kali menjual informasi keberadaan mereka kepada orang-orangku demi pengurangan masa hukuman nantinya."

Raka menatap adiknya dengan lekat. "Lalu sekarang apa? Ratih dipenjara, Maya hancur. Maheswara Group sedang di ujung tanduk. Apa rencana lo selanjutnya untuk Papa?"

Safira meletakkan cangkir tehnya. "Papa harus merasakan apa itu kehilangan. Selama ini dia merasa dunia berputar di sekelilingnya karena uang dan kekuasaan. Sekarang, uangnya dikhianati oleh istri yang dia puja, dan kekuasaannya digoyahkan oleh anak-anak yang dia abaikan."

"Tapi lo bakal selamatin perusahaan kan?" tanya Bima cemas. Bagaimanapun, Maheswara Group adalah warisan kakek mereka.

"Aku akan menyelamatkannya, tapi bukan untuk Papa," tegas Safira. "Aku akan mengambil alih posisi pemegang saham pengendali besok pagi. Kakek sudah memberikan surat wasiat rahasia yang menyatakan bahwa 35% saham dialihkan kepadaku saat aku berusia 21 tahun atau saat perusahaan dalam keadaan darurat. Dan sekarang adalah kondisi darurat itu."

Raka dan Bima tersentak. Mereka bahkan tidak tahu soal wasiat itu. Ternyata, selama ini Kakek mereka telah mempersiapkan Safira sebagai 'kartu as' terakhir untuk menjaga integritas Maheswara.

Keesokan harinya, gedung Maheswara Group dikepung oleh wartawan. Rapat Umum Pemegang Saham . Raga Maheswara masuk ke ruang rapat dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini tampak berantakan. Ia duduk di kursi utama, menatap para pemegang saham yang berbisik-bisik sinis.

"Mari kita mulai," suara Raga terdengar parau.

Namun, sebelum ia sempat membuka map di depannya, pintu besar ruang rapat terbuka. Safira masuk dengan langkah anggun namun penuh otoritas, diikuti oleh Raka dan Bima di belakangnya. Kehadiran ketiga anak kandung Raga itu membuat seisi ruangan senyap.

Safira berjalan menuju meja bundar, meletakkan sebuah map hitam tepat di depan ayahnya.

"Papa, mulai hari ini, tugas Papa untuk memimpin perusahaan ini selesai," ucap Safira tanpa keraguan.

"Apa maksudmu, Safira? Jangan membuat lelucon di saat seperti ini!" bentak Raga, meski suaranya bergetar.

"Ini bukan lelucon. Berdasarkan audit forensik, Papa dianggap lalai dalam mengawasi aliran dana yayasan yang mencemarkan nama baik korporasi. Selain itu," Safira mengedarkan pandangan ke seluruh pemegang saham, "saya memegang 35% saham hibah dari Kakek, ditambah 15% saham kolektif milik Kak Raka dan Kak Bima yang telah dikuasakan kepada saya. Dengan total 50%, saya meminta mosi tidak percaya dan pengangkatan dewan direksi baru."

Raga menatap kedua putranya dengan tatapan tidak percaya. "Raka... Bima... kalian mengkhianati Papa?"

Raka maju satu langkah, matanya berkaca-kaca namun suaranya tegas. "Kami tidak mengkhianati Papa. Kami menyelamatkan apa yang tersisa dari harga diri keluarga ini. Papa sudah buta terlalu lama. Safira adalah satu-satunya yang bisa memperbaiki kerusakan yang Papa biarkan terjadi."

Raga menyandarkan punggungnya ke kursi, napasnya terasa sesak. Ia melihat Safira—gadis kecil yang dulu selalu ia abaikan, yang ia biarkan diasingkan ke desa, yang ia anggap tidak lebih dari beban—kini berdiri di hadapannya sebagai sosok yang paling berkuasa.

Rapat berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Safira. Raga Maheswara resmi dinonaktifkan dari jabatan CEO hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Ia keluar dari ruangan itu bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai pria yang patah hati oleh keputusannya sendiri di masa lalu.

Sore harinya, Safira berdiri di kantor CEO yang kini menjadi miliknya. Ia menatap pemandangan kota dari lantai 50. Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari salah satu staf keamanannya di kantor polisi.

“Ratih dan Maya resmi ditahan. Ratih terus histeris, sementara Maya menolak makan dan terus memanggil nama Anda untuk minta maaf.”

Safira hanya melirik pesan itu tanpa minat untuk membalas. Permintaan maaf di saat terpojok bukanlah penyesalan, melainkan bentuk pertahanan diri yang egois.

Vian tiba-tiba masuk ke ruangan itu, berlari kecil dan memeluk pinggang Safira. "Kak Fira, kenapa kita ada di kantor Papa?"

Safira mengusap rambut Vian dengan lembut, senyumnya kini tulus dan hangat, sangat berbeda dengan wajah dinginnya saat di ruang rapat tadi.

"Ini bukan kantor Papa lagi, Vian," bisik Safira. "Ini adalah rumah baru untuk masa depan kita. Tempat di mana tidak akan ada lagi orang yang bisa menyakitimu atau Kakak."

...****************...

Like dan komen nya jangan lupa ya guys 😘😘

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
eza
pelaminan? kayak nikahan
itu di depan kan?
"mimbar" kayak acara resmi,
kenapa gak diganti aja "panggung drama" gitu
Sribundanya Gifran
lanjur
laaa~
bagaimana nasib abian?
ay
sumpah ini karya novel yang paling menarik
ceritanya bagus jalan alurnya juga menarik bukan seperti kebanyakan novel yang lain terlalu lambat alurnya atau pun novel kecepatan
LING
menarik
LING
ini masih update kaga?
月亮星星 ( yueliang xingxing )🌟🌙
nama yg sbnernya siapa sih Thor. Arkan apa Abian.. klo nmnya kyk gini jd nnti d sangka plagiat Thor .. maaf
RAYAS: makasih kak udah ingatin🙏,,
total 1 replies
Cty Badria
lanjut 💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Wahyuningsih
lanjut thor jgn lma upnya thor gk enak menunggu dikau up sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪💪 dlm upnya n makacih tuk upnya
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
kereeeeeennn Fira 👍😍💪
CaH KangKung,
🥀
CaH KangKung,
👣👣
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
omg nunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!