Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Kakak Cantik
Nabila kembali ke kamarnya dengan menghela nafas panjang. Saat diperlakukan buruk oleh Lukman, dia tentu merasa sedih. Namun anehnya tidak ada sedikit pun terlintas dalam pikirannya untuk bercerai dari sang suami. Semua yang telah dirinya lewati seakan sudah menjadi hal biasa.
Ketika pagi tiba, lagi-lagi Lukman sudah pergi bekerja. Nabila kembali sarapan sendirian seperti biasa.
Hening menyelimuti suasana, sampai akhirnya ponsel Nabila bergetar. Ia segera memeriksa dan menemukan pesan dari Nathan. Lelaki itu mengajaknya bertemu hari ini.
Sebelum membalas pesan, Nabila memeriksa jadwalnya terlebih dahulu. Dia melihat hanya ada jam lowong setelah jam 5 sore. Nabila lantas memberitahukan itu pada Nathan.
'Oke, kita bertemu di cafe jam 5 nanti. 😉' pesan balasan dari Nathan masuk.
Senyuman geli terukir di bibir Nabila. Ia merasa geli melihat emotikon yang dipakai Nathan dipesan. Dari sana dirinya sadar kalau Nathan jauh lebih muda darinya.
Hari itu Nabila memulai harinya dengan melakukan syuting sebuah serial perselingkuhan. Di serial itu Nabila berakting menjadi pemeran utama, yaitu istri yang diselingkuhi. Syuting serial tersebut sebentar lagi rampung.
Seperti yang sudah dijanjikan, Nabila selesai syuting saat sore. Tepatnya jam lima. Kala itu dia langsung pergi ke cafe untuk menemui Nathan.
Setibanya di cafe yang dijanjikan, Nabila melihat Nathan sudah menunggu. Lelaki itu duduk di kursi yang ada di balkon sendirian.
Nabila segera menghampiri. Dia agak bingung karena keadaan di balkon sepi dan hanya ada Nathan sendirian.
"Sudah lama nunggunya?" tegur Nabila.
"Nggak juga." Nathan berdiri dan menarikkan kursi untuk Nabila.
"Astaga. Kenapa kau repot-repot? Aku bisa sendiri kali," kata Nabila. Meskipun berkata begitu, dia duduk ke kursi yang ditarik Nathan.
"Anggap saja ini latihan, Kak!" sahut Nathan sembari tersenyum.
"Kak? Kakak? Aku salah dengar?" Nabila dibuat semakin terkejut. Karena seingatnya Nathan memanggilnya dengan sebutan mbak.
"Nggak kok. Aku sudah memutuskan, mulai sekarang aku akan memanggilmu kakak. Biar lebih akrab," jelas Nathan.
"Boleh. Tapi nggak mau gitu kau memanggilku dengan sebutan nama saja. Kayaknya ketahuan banget tuanya," balas Nabila, bermaksud bercanda.
"Wah... Mau sekali aku. Kalau begitu, aku jamin kita akan lebih akrab," ungkap Nathan.
"Dasar kau ini!" Nabila tergelak. Sungguh, sudah lama dia tidak tertawa begitu.
"Sekarang Kakak cantik sebaiknya pesan minuman dan makanan dulu," usul Nathan.
"Ya ampun. Kakak cantik lagi," kritik Nabila sembari memutar bola mata jengah.
"Aku sedang mendalami peran, Kak. Kau tahu sendiri didalam cerita aku adalah pemuda playboy nakal yang jatuh cinta sama perempuan lebih dewasa." Nathan lalu mengerlingkan matanya.
Nabila terperangah melihatnya. "Sepertinya peran itu benar-benar cocok denganmu ya!" timpalnya sambil kembali tertawa kecil.
"Sangat cocok!" Nathan ikut tertawa.
Nabila segera memesan minuman dan camilan. Setelah itu dia dan Nathan kembali mengobrol. Menurutnya lelaki itu adalah tipe orang yang sangat asyik, dan Nabila cukup menyukainya. Dengan begitu, dia tidak perlu cemas terhadap proses syuting film nanti.
"Mengenai adegan intim kita. Apa Kakak punya syarat tertentu gitu?" tanya Nathan.
"Syarat?" Nabila menuntut penjelasan.
"Iya, kan biasanya kebanyakan aktor begitu. Contohnya kayak Mbak Wulan Guritno tuh, katanya dia menyuruh lawan mainnya mandi dulu sebelum beradegan intim," terang Nathan.
"Oh begitu. Kalau aku... Kayaknya nggak ada sih. Mungkin jangan bau badan saja, terus nggak melewati batas. Kalau kau? Punya syarat untukku nggak?" tanggap Nabila.
"Aku santai-santai aja sih. Tapi tidak bau badan itu memang suatu keharusan." Nathan lagi-lagi tertawa kecil bersama Nabila.
"Tapi... Mengenai sentuhan saat melakukannya, apa Kakak ada batasan? Misalnya nggak boleh menyentuh dada, atau...." Nathan menatap penuh tanya.
Nabila tersenyum dan menggeleng. "Nggak ada. Sebagai aktris, aku ingin melakukannya dengan profesional dan maksimal. Kalau kita melakukannya sesuai realita, maka akan lebih bagus. Jadi aku tak akan membatasi."
Nathan mengangguk. "Oke. Aku akan ingat itu." dia dan Nabila bertukar pandang dan saling tersenyum.
Entah kenapa jantung Nabila berdetak lebih cepat. Dia lantas buru-buru memalingkan wajah karena mendadak merasa gugup.
"Sejak tadi aku merasa aneh, kenapa di balkon ini nggak ada orang selain kita?" imbuh Nabila.
"Aku sengaja membayar pemilik cafe agar mengosongkan meja di balkon khusus untuk kita!" ungkap Nathan.
"Benarkah? Wah... Kau niat sekali," komentar Nabila.
"Kita kan sama-sama bintang terkenal. Aku juga nggak mau bikin Kakak Cantik nggak nyaman," kata Nathan sambil sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Nabila.
Nabila lagi-lagi tertawa. Sebutan kakak cantik memang membuatnya geli, namun di sisi lain itu membuat jantungnya berdebar.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti