NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 7

Lorong Unit PPA sudah jauh lebih sepi ketika Zaidan melangkah keluar dari ruang pemeriksaan. Lampu neon di langit-langit menyala redup, menyisakan bayangan panjang di lantai keramik. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.

Zaidan menghentikan langkahnya saat melihat sosok itu.

Zahra duduk di bangku panjang dekat dinding, memeluk tas kecilnya erat-erat. Bahunya sedikit membungkuk, wajahnya pucat, namun matanya… mata itu terlihat berbeda. Zaidan tentu tahu, hari ini perempuan itu telah menumpahkan banyak sekali air matanya.

Zaidan melambatkan langkahnya.

“Sudah selesai?” tanyanya pelan, seolah takut suaranya terlalu keras.

Zahra mengangkat kepala. Ia tampak terkejut, lalu mengangguk kecil.

“Iya, Pak.”

Zaidan berdiri beberapa langkah di depannya. Ia tidak langsung duduk. Seakan masih menimbang jarak antara seorang petugas dan seorang korban.

“Kalau… kamu capek,” ucapnya hati-hati, “kita bisa istirahat sebentar dulu.”

Zahra menggeleng. “Nggak apa-apa.”

Hening lagi.

Zaidan akhirnya duduk di ujung bangku yang sama, menyisakan jarak satu orang di antara mereka. Ia menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan.

“Petugas PPA bilang kamu kuat,” katanya kemudian. “Nggak banyak orang bisa bertahan menceritakan hal seperti itu.”

Zahra menunduk. Jarinya mengusap tali tasnya berulang-ulang.

“Saya bukan kuat, Pak,” ujarnya lirih. “Saya cuma… sudah capek lari.”

Kalimat itu membuat Zaidan menoleh.

Zahra tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.

“Selama ini saya pikir, kalau saya diam, semuanya akan selesai sendiri. Luka itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi ternyata… lukanya malah kembali terbuka.”

Zaidan menarik napas panjang.

“Pelaku sudah mengakui,” ucapnya akhirnya. “Dan perbuatannya… lebih dari satu kasus.”

Zahra terdiam. Dadanya terasa sesak, namun ada satu hal aneh yang menyusup di sela ketakutan itu. Perasaan lega.

“Dia akan diproses,” lanjut Zaidan tegas. “Bukan cuma karena narkoba. Tapi karena apa yang dia lakukan ke kamu.”

“Hukuman terberat… menantinya di depan.”

Zahra mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih,” katanya tulus. “Bukan cuma karena… hukum. Tapi karena tadi, di lapangan.”

Zaidan mengernyit kecil. “Di lapangan?”

“Kalau waktu itu Bapak nggak berdiri di depan saya…” suara Zahra bergetar. “Mungkin sekarang saya bukan duduk di sini.”

Zaidan menunduk sebentar, lalu menggeleng pelan.

“Kamu berdiri sendiri,” ucapnya serius. “Saya cuma… kebetulan ada di situ.”

Zahra menatapnya lama.

“Bapak orang pertama,” katanya lirih, “yang bilang ke saya kalau bertahan itu juga keberanian.”

Kalimat itu membuat tenggorokan Zaidan tercekat sesaat.

Ia berdiri perlahan.

“Zahra,” panggilnya.

Zahra mendongak.

“Apa pun yang terjadi setelah ini,” ucap Zaidan mantap, “kamu tidak sendirian. Negara mungkin lambat, tapi malam ini… kamu dilihat dan didengar.”

Zahra menggigit bibirnya, air mata jatuh tanpa suara.

“Boleh… saya tanya satu hal?” katanya pelan.

Zaidan mengangguk.

“Kenapa Bapak… marah sekali tadi?” Zahra menatapnya ragu. “Saya lihat dari cara Bapak menahan diri.”

Zaidan terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Karena ada kejahatan yang tidak pantas diceritakan ulang sebagai lelucon.”

“Dan… saya mengingat ibu dan juga kakak-kakak saya, bagaimana jika hal ini menimpa mereka. Saya pasti akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih.”

Ia menatap Zahra dengan sorot mata tegas.

“Dan karena tidak ada satu pun perempuan yang pantas diingat lewat luka.”

Hening kembali menyelimuti lorong itu.

Perasaan lega kembali menghampiri Zahra. Entah bagaimana ia merasa bersyukur karena berhasil bertahan hingga hari ini.

Zaidan kemudian berdiri, lalu mengulurkan sebuah kunci kepada Zahra.

“Ayo pulang. Saya antarkan kamu,” ucapnya.

Zahra tentu saja mengenal kunci dengan mainan boneka berwarna kuning itu.

Kunci motornya.

Zahra mengambil kunci itu dari tangan Zaidan.

“Motor kamu sudah di depan. Tadi orang saya yang menjemputnya di lokasi,” ungkap Zaidan.

“Saya boleh pulang, Pak? Bukannya saya ditahan?” tanya Zahra dengan suara pelan dan penuh keraguan.

Zaidah tertawa pelan, sebuah tawa yang baru saat ini Zahra lihat.

“Yang bilang kamu ditahan, siapa? Kamu hanya diminta keterangan aja.”

“Benarkah, Pak?” tanya Zahra lagi.

Zaidan mengangguk pelan. “Tapi nanti akan ada petugas yang tetap menghubungi kamu. Tolong direspon.”

Zahra mengangguk tanda paham.

“Ayo, sekarang pulang. Saya antar,” ucap Zaidan lagi.

“Tidak perlu, Pak. Saya pulang sendiri saja. Ada motor juga saya,” jawab Zahra.

“Saya ikuti kamu dari belakang. Lagipula sekarang sudah malam, sudah hampir jam setengah sebelas malam.” Zaidan tentu tidak ingin hal-hal buruk kembali terulang. Lagi pula dirinya juga harus pulang.

Zahra tidak bisa menolak dan akhirnya ia kembali mengangguk.

Mereka berjalan keluar dari gedung Mapolda dengan langkah yang sama-sama tenang, meski pikiran masing-masing masih berisik. Zaidan melangkah lebih dulu, seperti seorang aparat yang terbiasa memastikan jalan aman sebelum orang lain menyusul.

Udara malam menyambut mereka begitu pintu kaca otomatis terbuka. Angin berembus dingin, menusuk kulit.

Zaidan berhenti sejenak. Ia membuka jaket kulit hitam yang ia pakai di pagi hari tadi, lalu berbalik dan menyodorkannya pada Zahra.

“Pakai ini.”

Zahra refleks menggeleng. “Tidak usah, Pak. Saya nggak apa-apa.”

“Angin malam tidak baik untukmu,” ucap Zaidan singkat, nadanya tidak memberi ruang untuk perdebatan.

Sebelum Zahra sempat menolak lagi, jaket itu sudah tersampir di pundaknya. Hangat. Berat. Dan beraroma khas parfum maskulin yang tidak menyengat, bercampur sedikit aroma kulit dan malam.

Zahra terdiam sesaat, lalu merapikan jaket itu di tubuhnya. “Terima kasih,” katanya pelan, ada rasa sungkan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Di parkiran motor, Zahra menaiki motor matic tuanya. Catnya sudah kusam di beberapa bagian, suaranya pun tidak lagi halus. Zaidan datang menyusul dengan motor sport hitamnya, kontras jelas di bawah lampu parkiran.

“Ayo,” ucap Zaidan sambil mengenakan helm. “Kamu di depan. Saya ikut dari belakang.”

Zahra mengangguk kecil. Ia menyalakan motornya dan mulai melaju pelan meninggalkan halaman Mapolda.

Tanpa mereka sadari, dari sudut parkiran yang agak gelap, sepasang mata memperhatikan. Tatapannya tajam, dingin, dan tidak bersahabat mengikuti arah kepergian dua motor itu hingga lenyap dari pandangan.

Jalanan malam masih cukup ramai meski waktu hampir tengah malam. Lampu-lampu toko yang belum sepenuhnya tutup memantul di aspal. Zaidan menjaga jarak aman di belakang Zahra, cukup dekat untuk melindungi, dan cukup jauh agar tidak menekan.

Perjalanan memakan waktu hampir tiga puluh menit.

Motor Zahra akhirnya berbelok masuk ke sebuah gang sempit, hanya cukup untuk satu motor. Rumah-rumah berdempetan, sunyi, sebagian lampunya sudah padam. Aroma malam bercampur bau dapur dan tanah lembap.

Zahra berhenti di depan sebuah rumah kontrakan kecil tanpa pagar. Catnya sederhana, tapi terawat. Ada pot bunga kecil di dekat pintu, tanda rumah itu dihuni dengan cinta, meski serba pas-pasan.

Ia mematikan motor, lalu menoleh ke arah Zaidan yang berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Terima kasih, Pak,” ucap Zahra tulus. “Sudah mengantar saya.”

Zaidan mengangguk. “Istirahat yang baik. Jaga ibumu.”

Zahra kembali mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca.

Zaidan lalu memutar motornya, menarik gas perlahan, dan pergi meninggalkan gang sempit itu. Suara mesin motornya makin menjauh, hingga akhirnya lenyap ditelan malam.

Zahra berdiri sesaat, menatap arah kepergiannya. Dadanya terasa lebih ringan. Setidaknya malam ini… ia bisa pulang. Bisa beristirahat. Bisa bernapas bersama ibunya.

Ia berbalik ke pintu rumah, merogoh kunci di tasnya.

Lalu langkahnya terhenti.

Zahra menunduk, menatap jaket kulit hitam yang masih melekat di tubuhnya.

“Jaketnya…” gumamnya pelan.

******

Zaidan... Kami nggak dipinjamkan jaketnya juga? Dingin lho ini, hujan 🥶🥶

Btw jangan lupa like, komen, dan juga sesajennya, ya temans. Sungguh itu sangat author butuhkan agar cerita ini berhasil masuk rekomendasi dan retensi. Suport kalian sungguh sangat berarti untuk author 🥰🥰🥰

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!