Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LINA MENCARI JATI DIRI YANG SEBENARNYA
Setelah beberapa bulan bekerja sebagai magang di perusahaan desain ternama, Lina merasa bahwa dirinya telah mengalami perubahan yang signifikan.
Namun di balik kesuksesan karirnya yang mulai terlihat cerah, ia masih sering merenung tentang siapa dirinya sebenarnya dan apa yang benar-benar ingin dicapainya dalam hidup.
Pada hari Minggu pagi, Lina menghadiri acara temu alumni kampusnya. Di sana, ia bertemu dengan beberapa teman lama yang tidak pernah ia hubungi setelah peristiwa yang menyakitkan itu terjadi.
Awalnya ia merasa canggung, namun segera merasa lega ketika teman-temannya menerima dirinya dengan terbuka dan menunjukkan dukungan yang tulus.
"Lina, kita semua tahu bahwa kamu telah melalui masa-masa yang sulit," ujar salah satu teman lamanya, Maya, yang sekarang bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah dasar. "Namun kita juga melihat bagaimana kamu telah bangkit dan menjadi orang yang lebih baik. Itu membuat kita sangat bangga padamu."
Percakapan dengan teman-teman lama membuat Lina mulai berpikir lebih dalam tentang masa lalunya dan bagaimana ia bisa menggunakan pengalamannya untuk membantu orang lain.
Malam itu, ia membuka buku harian yang telah ia gunakan selama bertahun-tahun dan mulai menulis tentang perjalanan dirinya – dari masa mudanya yang penuh dengan impian, hingga kesalahan yang ia lakukan, hingga perjuangannya untuk menemukan kembali jati diri yang sebenarnya.
Beberapa hari kemudian, ia menghadiri lokakarya tentang desain yang bertujuan untuk membantu komunitas yang kurang mampu.
Di sana, ia bertemu dengan seorang aktivis sosial bernama Pak Adi yang sedang mengembangkan program untuk membangun rumah tinggal yang layak dan cantik bagi keluarga miskin di daerah terpencil.
Pak Adi sangat terkesan dengan ide-ide desain Lina yang tidak hanya menarik secara visual namun juga fungsional dan terjangkau.
"Kamu memiliki bakat yang luar biasa dan hati yang besar," ujar Pak Adi kepada Lina setelah lokakarya selesai. "Apakah kamu tertarik untuk bergabung dengan kami dan membantu mengembangkan program ini? Kami sangat membutuhkan orang dengan kemampuan seperti kamu."
Lina merasa hati nya berdebar kencang mendengar tawaran tersebut. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan untuk menggunakan bakatnya untuk hal yang positif dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Setelah mempertimbangkannya dengan matang, ia menerima tawaran tersebut dan mulai bekerja sebagai sukarelawan dalam program tersebut.
Mulai dari hari itu, Lina menghabiskan sebagian waktunya setiap minggu untuk bekerja pada proyek tersebut.
Ia membantu merancang rumah-rumah yang tidak hanya nyaman dan aman namun juga mencerminkan budaya lokal dan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar daerah.
Ia juga mengajarkan beberapa keterampilan desain dasar kepada anggota komunitas agar mereka bisa berpartisipasi dalam membangun rumah mereka sendiri.
Selama bekerja di lapangan, Lina bertemu dengan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda.
Ia mendengar cerita-cerita mereka tentang perjuangan hidup dan bagaimana mereka tetap kuat dan penuh harapan meskipun menghadapi banyak kesulitan.
Pengalaman ini membuatnya semakin menyadari bahwa hidupnya bukan hanya tentang diri sendiri, namun juga tentang bagaimana ia bisa membantu orang lain dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Pada suatu sore, setelah bekerja di lokasi pembangunan rumah, Lina mendapatkan telepon dari ibunya yang tinggal di desa.
Ibunya memberitahunya bahwa ayahnya telah sakit dan membutuhkan perawatan medis yang intensif. Lina segera meminta izin cuti dari perusahaan dan langsung pulang ke desa untuk merawat ayahnya.
Selama di desa, Lina menghabiskan waktu bersama keluarga nya yang telah lama tidak ia temui.
Ia membantu ibunya dengan pekerjaan rumah tangga, merawat ayahnya dengan penuh cinta, dan menghabiskan waktu dengan keponakan-keponakannya yang selalu menyukainya.
Ia juga mulai merancang desain untuk memperbaiki rumah keluarga nya dan membuat sebuah taman kecil yang bisa digunakan oleh seluruh komunitas desa.
"Aku sangat bangga padamu, anakku," ujar ibunya kepada Lina pada malam sebelum ia kembali ke kota. "Kamu telah tumbuh menjadi orang yang kuat dan baik hati. Ayah dan aku selalu tahu bahwa kamu memiliki tujuan besar dalam hidup."
Kata-kata ibunya membuat Lina merasa sangat bersyukur dan semakin yakin dengan jalan yang ia tempuh.
Setelah ayahnya kondisinya membaik dan bisa merawat dirinya sendiri dengan bantuan ibunya, Lina kembali ke kota dengan tekad yang lebih kuat untuk terus berkembang dan membantu orang lain.
Ia mulai menyusun rencana untuk mendirikan sebuah perusahaan desain sosial yang fokus pada proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia ingin menggunakan bakat dan pengalamannya untuk membantu komunitas yang kurang mampu mendapatkan akses ke desain yang baik dan fungsional.
Beberapa rekan kerja dan teman nya yang mendengar rencananya langsung menunjukkan minat untuk bergabung dan membantu mengembangkannya.
Pada malam hari ulang tahunnya yang akan datang, Lina mengadakan acara kecil bersama teman-teman dan rekan kerja nya yang telah mendukungnya selama ini.
Di acara tersebut, ia mengumumkan rencananya untuk mendirikan perusahaan desain sosial dan meminta dukungan dari semua orang yang ada di sana.
Tanggapan yang ia terima sangat positif – banyak yang menawarkan bantuan dalam bentuk tenaga kerja sukarela, saran bisnis, atau bahkan dukungan keuangan kecil.
"Saya tidak pernah menyangka bahwa saya bisa sampai di titik ini," ujar Lina dalam pidatonya yang singkat. "Beberapa waktu yang lalu, saya merasa hilang dan tidak tahu tujuan hidup saya. Namun melalui kesalahan yang saya lakukan dan perjuangan saya untuk bangkit kembali, saya akhirnya menemukan jati diri saya yang sebenarnya. Saya ingin menggunakan apa yang saya miliki untuk membantu orang lain dan menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik."
Setelah acara selesai, Lina duduk di balkon kosannya sambil melihat pemandangan kota yang menerangi lampu malam. Ia merasa bahwa akhirnya ia telah menemukan jalan yang benar untuk dirinya sendiri.