NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

membersihkan pengkhianat

Langit malam di negara k****** tampak kelabu, seperti sengaja menutup segala rahasia yang terjadi di bawahnya. Raviel berdiri di depan gedung tua berlantai dua yang terletak di kawasan industri lama. Lampu-lampu jalan redup, udara lembap, dan suasana sunyi membuat tempat itu terasa semakin asing.

“Target ada di dalam,” ucap Ethan pelan sambil menutup handphonenya

Raviel mengangguk singkat. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seolah apa pun yang akan terjadi hanyalah rutinitas biasa. Jaket hitam yang dikenakannya menutupi senjata api di balik pinggang, namun malam ini ia tidak berniat menggunakannya kecuali terpaksa.

Pintu besi dibuka dengan satu tendangan keras. Suara dentuman menggema di ruangan sempit itu. Beberapa pria langsung berdiri dari kursi mereka, panik, sebagian meraih senjata tajam.

“CEO Althaire,” gumam salah satu dari mereka dengan wajah memucat.

“Bawa dia,” ucap Raviel singkat.

Perlawanan terjadi cepat. cukup brutal, beberapa musuh melayangkan pukulan, dorongan, dan beberapa tembakan peringatan ke langit-langit. Salah satu pria berhasil melayangkan pukulan ke wajah Raviel. Darah langsung mengalir dari sudut pelipisnya, namun Raviel tidak mengelak. Ia hanya menatap pria itu dengan dingin sebelum menjatuhkannya ke lantai.

“Kau akan menyesal Karena Melakukan ini." ujar Raviel tenang.

Target utama akhirnya berlutut di lantai. Tubuhnya gemetar, napasnya terengah.

“Uang itu bukan milikmu,” lanjut Raviel. “Dan pengkhianatan selalu kembali ketempat yang seharusnya."

Tanpa banyak kata, Raviel memberi isyarat. Pria itu dibawa keluar. ketakutan yang tersisa di mata mereka yang ditinggalkan.

Satu jam kemudian, pesawat pribadi melaju di udara malam. Raviel duduk bersandar di kursinya. Luka di wajahnya sudah dibersihkan seadanya, namun darah kering masih terlihat jelas.

“tuan seharusnya menghindar,” ucap Ethan khawatir.

Raviel menutup matanya sejenak. “tidak sempat.”

Ethan terdiam. Ia tahu, di balik ketenangan Raviel, ada sesuatu yang terus bergolak.

 

Masih malam yang sama, setelah dari negara k****** raviel memutuskan untuk langsung pulang tempat asalnya, mobil Raviel berhenti tidak jauh dari rumah Nara. Ia tidak pulang ke mansion. Tidak ke apartemen, Langkah kakinya justru mengarah ke tempat yang sejak tadi mengusik pikirannya.

Dengan gerakan senyap, Raviel masuk ke rumah itu. Ia tahu letak setiap jendela, setiap sudut gelap. Pintu kamar Nara terbuka perlahan.

Gadis itu tertidur menghadap jendela. Napasnya teratur, wajahnya terlihat lelah namun tenang. Raviel berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatapnya lama. Luka di wajahnya berdenyut pelan, tapi itu tak berarti apa-apa dibanding rasa lega saat melihat Nara baik-baik saja.

Dari dalam jaketnya, Raviel mengeluarkan sebuah boneka kecil berwarna krem. Boneka itu terlihat polos, lembut, dan sama sekali tidak mencurigakan. Ia meletakkannya di sisi ranjang, dekat bantal Nara.

Di balik mata boneka itu, terpasang kamera kecil—nyaris tak terlihat.

“Hanya untuk mengawasinya” gumam Raviel pelan.

Ia tidak menyentuh Nara. ia tidak mencium keningnya seperti sebelumnya. Malam ini, ia hanya ingin memastikan gadis itu aman. Setelah memastikan posisi boneka terlihat alami, Raviel melangkah pergi, meninggalkan kamar itu dalam keheningan.

 

Pagi hari, cahaya matahari menembus tirai kamar Nara. Gadis itu terbangun perlahan. Kepalanya masih terasa berat, namun tidurnya semalam cukup nyenyak.

Saat hendak bangun, matanya menangkap sesuatu di sisi ranjang.

Boneka.

Nara mengernyit. Ia yakin tidak pernah menaruh boneka di kamar ini. Dengan ragu, ia mengambilnya.

“Sejak kapan aku punya ini?” gumamnya bingung.

Ia keluar kamar dan melihat bundanya sedang duduk di ruang tengah, meminum kopi dengan wajah datar.

“Bun,” panggil Nara pelan. “Bunda yang taruh boneka ini di kamar aku?”

Amara menoleh sekilas, lalu terkekeh sinis. “Boneka? Untuk apa aku membelikan barang kekanak-kanakan seperti itu?”

Nara terdiam. “Jadi… bukan bunda?”

“Jangan menuduh sembarangan,” jawab Amara dingin. “Aku tidak pernah masuk kamarmu.”

Jawaban itu membuat dada Nara menghangat oleh perasaan tak nyaman. Ia kembali ke kamarnya dengan langkah pelan. Boneka itu masih di tangannya.

“Kalau bukan bunda… Siapa?” gumamnya lirih.

Ia menaruh boneka itu di meja, menatapnya lama. Entah mengapa, perasaan aneh menyelimutinya. Seolah ada mata lain yang mengawasi.

...Sengaja adegan kekerasannya gak ditulis takut melanggar aturan ...

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!