Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
Dan mobil pun melaju, membawa dua manusia yang paling tidak akur.
Mikhasa menoleh ke sisi jalan, memperhatikan gedung perusahaan yang perlahan tertinggal di belakang. Pemandangan itu membuat pikirannya melayang pada hal yang lain.
'Kacamata ini harganya berapa, ya? Merknya merk terkenal, pasti mahal.' batinnya. 'Kalau dijual… pasti laku keras.'
Ia lalu menoleh ke samping, pada Axel. Pria itu duduk dengan wajah yang masih tampak kesal, entah karena apa.
'Emang aneh si tuan satu ini. Tiba-tiba marah dan kesal nggak jelas.'
“Axel,” panggil Mikhasa dengan suara dibuat manis. Ia memilih patuh untuk sementara. Capek juga kalau harus ribut terus.
Axel menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum pria itu kembali memalingkan wajah. Namun sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Wajah ‘alien’ di sampingnya itu… terlihat lucu. Dan entah kenapa, membuatnya gemas, pengen cubit pipi si alien.
“Kacamata ini beneran buatku?” tanya Mikhasa sambil menunjuk bingkai hitam besar di wajahnya.
"Ya, ambil saja. Emang cocoknya buat kamu. Sama-sama aneh," jawab Axel tanpa menatap.
Mikhasa mengangguk pelan. “Makasih, Axel. Jadi deal ya, kacamata ini punyaku.”
“Iya.”
Mobil terus melaju, membawa dua manusia aneh yang perlahan mulai terbiasa dengan keanehan satu sama lain.
Mikhasa tersenyum dalam diam. 'Wah, menang banyak nih. Nanti bakal ku-upload di lapak jual beli.'
“Hari ini mau makan di mana?” tanya Axel, ia menoleh sedikit.
“Anterin aku pulang aja, ya. Capek. Pengen cepet tidur,” jawab Mikhasa jujur.
“Makan dulu baru tidur,” sahut Axel tanpa memberi ruang bantahan.
“…”
Drttt. Ponsel Mikhasa bergetar pelan di dalam tas. Ia segera membukanya. Nama Bibi tertera di layar.
Mikhasa memejamkan mata sejenak. Dadanya mengeras, lalu ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah membisukan panggilan.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Axel, melirik sekilas ke arahnya.
“Umm… panggilan nggak penting,” jawab Mikhasa singkat.
Nggak mungkin dia mengangkat panggilan bibinya saat bersama Axel.
🌿🌿
Setelah makan malam, Axel mengantar Mikhasa pulang ke apartemen. Apartemen dengan alamat palsu yang sengaja Mikhasa gunakan. Setidaknya, agar pria itu tidak tiba-tiba muncul tengah malam atau pagi buta dengan alasan sepele.
Begitu mobil Axel pergi, Mikhasa langsung masuk kedalam lobi apartemen sebentar, untuk jaga-jaga, takut diam-diam Axel masih memperhatikan dari jauh.
Setelah beberapa saat, Mikhasa keluar dan memanggil taksi untuk melanjutkan perjalanan hampir satu jam lagi. Perjalanan panjang yang melelahkan.
Begitu sampai di kontrakan, Mikhasa segera membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ponselnya berkedip-kedip. Panggilan masuk dari bibinya. Hampir sepuluh kali, semuanya tak terjawab.
"Ya, Bi," jawab Mikhasa pelan, setengah lelah.
"Kamu sengaja nggak angkat telepon bibi, ya?" bentak suara di seberang sana. "Sengaja mau menghindari keluargamu?"
"Tadi aku lagi sama teman, Bi. Nggak enak kalau harus ngomong bisik-bisik."
"Alasan!"
Mikhasa menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa berat.
"Kamu belum transfer ke Moana, ya? Dia butuh uang cepet. Katamu sore bakal ditransfer. Ini sudah malam, tapi belum masuk juga," suara bibinya terdengar semakin tajam.
"Maaf, Bi. Tadi aku lupa. Kerjaanku banyak sekali hari ini."
"Ya sudah, sekarang buruan transfer ke Moana."
"Iya, Bi," jawab Mikhasa patuh.
"Jaga kesehatan. Jangan sampai sakit, biar bisa terus kerja. Jangan lupa sama keluarga."
Klik. Panggilan itu berakhir begitu saja.
Mikhasa menatap layar ponselnya dengan senyum getir. Ia membuka aplikasi m-banking dan segera mentransfer sejumlah uang untuk Moana.
Setelah itu, ia mengetik sebuah pesan untuk gadis muda itu.
"Jangan dihambur-hamburkan ya, Mo. Kakak sudah nggak punya uang lagi. Kakak habis dipecat."
Ponsel diletakkan di samping bantal. Mikhasa menatap langit-langit kamar, dadanya terasa kosong, berpikir bahwa di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang benar-benar peduli padanya, selain pada apa yang bisa ia beri.
Ponselnya kembali berkedip-kedip. Mikhasa mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar.
Nyonya Besar Mercier.
"Selamat malam, Nyonya," jawab Mikhasa sopan.
"Malam, Mikhasa," balas suara lembut di seberang sana. "Maaf jika panggilan ini mengganggu malammu."
"Tidak, Nyonya. Tidak sama sekali. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku hanya ingin bertanya," ucap Nyonya Mercier pelan. "Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Axel hari ini, Mikhasa?"
Deg. Yang terjadi pada Axel?
"Apakah kondisi Tuan Muda memburuk saat ini, Nyonya?" tanya Mikhasa cemas.
"Tidak," jawab Nyonya Mercier. "Hanya saja Axel terlihat pucat pagi ini. Apa kau tahu penyebabnya?"
Mikhasa menghela napas dalam. Ia menebak, Nyonya Besar pasti menerima laporan dari Pak Edo.
Jadi benar ... segala yang ada di sekelilingnya seperti memiliki mata dan telinga yang akan melaporkan apa pun pada Nyonya Besar.
"Saya sempat bertengkar kecil dengan beliau," jawab Mikhasa jujur. Ia ingin melihat reaksi Nyonya Besar. Apakah wanita itu akan murka karena ia berani melawan Axel.
"Kenapa kalian sampai bertengkar? Apakah Axel bersikap keterlaluan?" Tanya Nyonya besar. "Maafkan sikap Axel yang membuatmu emosi, Mikhasa," lanjutnya lembut. "Mohon bersabarlah padanya. Bagaimanapun juga, dia sangat membutuhkanmu di sisinya."
Mikhasa terdiam. Jawaban Nyonya Mercier jauh di luar perkiraannya.
Padahal, jika Nyonya Besar marah, Mikhasa sudah berniat mengembalikan cek itu dan mengundurkan diri dari perusahaan. Karena ternyata, tekanan pekerjaan masih bisa ditahan tapi tekanan pada jiwa perlahan-lahan pasti akan menghancurkannya.
"Mikhasa…" panggil Nyonya Besar lembut saat Mikhasa tak kunjung bicara.
"Ya, Nyonya."
"Tolong berikan aku alamatmu," ucapnya. "Aku ingin mengirimkan sebuah hadiah. Anggap saja sebagai permintaan maaf atas sikap Axel yang membuatmu tidak nyaman."
"Tidak, Nyonya," Mikhasa menolak dengan cepat, seolah takut raguannya terdengar. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda. Tapi saya tidak bisa menerimanya. Satu miliar yang telah Anda berikan sudah lebih dari cukup bagi saya."
Ia menelan ludah. Entah kenapa, dadanya justru terasa semakin sempit. Ada ketakutan di dadanya menerima kemurahan hati Nyonya besar. Dia takut keluarga itu meminta lebih dari apa yang bisa ia berikan.
"Saya berjanji akan menjaga dan merawat Tuan Muda sebaik mungkin, Nyonya," lanjut Mikhasa. "Saya akan berusaha lebih sabar menghadapi beliau."
Di seberang sana, Nyonya Mercier terdiam sejenak. "Baiklah, Mikhasa," ucapnya akhirnya. "Terima kasih atas kesabaranmu terhadap Axel. Jika suatu hari kau membutuhkan sesuatu, jangan ragu mengatakannya padaku. Aku akan mengirimkannya untukmu."
"Terima kasih, Nyonya."
"Selamat malam, Mikhasa."
"Selamat malam, Nyonya."
Panggilan berakhir.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel