"Apa yang akan kamu lakukan jika harus menikahi pria yang seharusnya menjadi Ayah sambungmu?"
Ibu yang seharusnya menjadi pelindungmu tega meninggalkanmu demi mengejar cintanya, dan kamu yang dikorbankan!
Senja Irawan gadis kecil yang baru lulus SMA, terpaksa mengikuti kemauan Kakeknya untuk menikah dengan lelaki yang tak dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa zigant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
Jakarta...
Pagi ini Senja membantu Ibu dan Nenek Wati menyiapkan sarapan di dapur. Nenek Wati memperhatikan Senja dan Mentari saat bercanda dan tertawa.
Ada rasa bersalah dalam dirinya, melihat Mentari dan Senja begitu menghormatinya sebagi orang tua, sedangkan anak dan cucunya menyuruhnya memata-matai wanita sebaik Mentari.
"Nenek, kenapa Nenek lihatin Senja seperti itu?" tanya Mentari.
"Kamu beruntung mempunyai anak yang rajin dan cantik Nak," jawab Nenek Wati.
"Alhamdulillah Nek, Tari ingin bukan hanya sebagai Ibunya, tapi juga sebagai sahabatnya," ucap Mentari tersenyum hangat.
"Semoga keluarga kalian selalu bahagia," kata Nenek Wati.
"Amiin," jawab Senja yang baru datang.
Setelah selesai memasak Tari dan Senja menyiapkan semua di atas meja makan, dibantu Nenek Wati.
"Pagi sayang, pagi Nek," sapa Yoga.
"Pagi," jawab semua kompak.
Mereka sarapan bersama-sama, Senja yang suka jahil menambahkan lauk buat Nenek Wati.
"Sudah Nak, ini sudah banyak," ucap Nenek Wati menghentikan keusilan Senja.
"Nenek harus makan banyak," jawab Senja.
"Sayang, jangan di paksa," sahut Yoga.
Mentari hanya bisa tersenyum, Senja sudah menikah juga tidak berubah. Mentari tidak bisa membayangkan kalau Senja kuliah tapi sedang hamil di usia muda.
Setelah selesai sarapan Yoga segera pergi ke kantor, Mentari mengantar Yoga sampai di teras rumahnya. Senja yang melihat kebahagiaan Ibunya merasa bingung akan tetap tinggal di sini atau pulang ke rumah suaminya.
"Nak Senja," panggil Nenek Wati.
"Eh....ia Nek, ada apa?" sahut Senja.
"Melihat keluarga ini, Nenek sangat senang," ucap Nenek Wati sambil menghela nafas.
"Nenek jangan sedih, Nenek juga sudah seperti keluarga bagi Senja dan Ibu," kata Senja sambil memeluk Nenek Wati.
Mentari hanya tersenyum melihat Senja memeluk Nenek Wati, merak sekarang sedang mengobrol di ruang tamu, Mentari cerita ke Nenek Wati bagaimana Senja di besarkan tanpa ada Ayahnya, karena ke egoisan Kakek Senja.
Nenek Wati mendengar cerita Mentari merasa iba, di hatinya bertekad tidak akan mau mencelakai kedua wanita yang sangat baik, bahkan anak dan cucunya tidak pernah memperlakukan dirinya sehangat ini.
"Nek, Nenek sekarang yang gantian melamun," ucap Senja.
"Nenek merasa beruntung, bisa kenal anak baik seperti kalian," jawab Nenek Wati sambil menangis.
Mentari yang melihat itu langsung memeluk Nenek Wati, membuat Mentari kangen dengan Mama Murni, entah bagaimana kabarnya sekarang.
"Maafkan Nenek," ucap Nenek membalas pelukan Mentari.
"Nenek kenapa meminta maaf terus, Nenek enggak ada salah sama senja dan Ibu, nanti kalau lebaran baru Senja yang minta maaf sama Nenek dan Ibu," jawab Senja sambil cengengesan.
Mentari dan Nenek Wati tertawa melihat tingkah Senja, yang selalu ceria.
Di Surabaya
Satya yang sedang di ruang kerja menatap ke arah jendela, setelah sekian lama menunggu besok istrinya akan pulang, Satya tidak sabar menunggu.
Ranga masuk keruangan Satya tanpa mengetuk pintu, main nyelonong saja membuat Satya mendengus kesal.
"Bisa enggak sih, Lo ketuk pintu dulu!" ucap Satya kesal.
"Heheh....santuy bro, ada kabar dari Arga?" tanya Ranga.
"Belum, cuma dia akan langsung menjumpai Yoga," jawab Satya.
"Gue penasaran sebenarnya ada masalah apa kakek Senja begitu benci dengan Yoga."
"Sebaik kita tanya ke Rendy bagaimana?" tanya Ranga.
"Jangan, sebaiknya kita selidiki dulu," jawab Satya sambil menyunggingkan bibirnya.
"Baiklah, gue tunggu kabarnya," ucap Ranga sambil keluar ruangan Satya.
Satya segera menghubungi Ayah Nugraha, untuk menanyakan bagaimana Kakek Roby, sudah berapa kali menghubungi Ayahnya tidak juga di angkat oleh Ayah Nugraha. Satya keluar ruanga menuju lift, sampai di lobby Satya bertemu dengan Ranga yang tengah menggoda resepsionis baru.
"Ga, ikut gue." ucap Satya langsung menuju kemobil.
"Ada apa?" tanya Ranga.
"Ke rumah Ayah," jawab Satya.
"Ada masalah?" ucap Ranga.
Satya tidak menangapi ucapan Ranga, Ranga yang merasa di acuhkan hanya menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di rumah Orang tuanya, Satya langsung masuk menuju ruang kerja Ayahnya. Satya melihat pintu terbuka, Satya berhenti di depan pintu karena mendengar tangis sang Bunda.
"Tolong pikirkan lagi Yah, Satya anak kita satu-satunya," ucap Bunda sambil menangis.
"Ini sudah menjadi keputusanku, dan Satya harus menerimanya.
"Apa yang harus Satya terima Yah," sahut Satya.
Ayah Nugraha terkejut melihat anaknya ada di ruangan kerjanya, Bunda langsung memeluk Satya dengan erat.
"Maafkan Bunda Nak," ucap Bunda sambil mengusap bahu Satya.
"Sebenarnya ada apa Bun?" tanya Satya yang penasaran.
"Ayah waktu itu berjanji, kalau kamu menikah dengan Mentari Saham 50 % akan menjadi hak Mentari, Tapi karena yang menikah denganmu Senja, Ayah harus melepaskan kantor cabang kita yang di Bandung." ungkap Ayah.
"Kenapa Ayah lakukan itu, tanpa memberi tahu Satya, Ayah taukan tanah yang di Bandung itu tanah milik Nenek yang akan di berikan ke anak Satya kelak," kata Satya dengan wajah yang kecewa.
"Maafkan Ayah Nak, ini terpaksa Ayah lakukan karena permintakan Bunda," jawab Bunda.
Satya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang Ayahnya. Merasa jerih payahnya selama ini sia-sia karena hasil omset hotel bintang lima yang di dirikan di tanah pemberian Neneknya sangat lumayan besar.
"Kenapa Kakek Roby terobsesi sekali dengan tanah Itu?" tanya Satya.
"Tanah itu adalah tanah di mana dulu Kakek Roby bertemu dengan Wanita cinta pertamanya, tapi karena Kakek Roby di jodohkan dengan Nenek Murni, Meraka diam-diam menjalin hubungan." jawab Ayah.
"Kita harus lebih waspada Yah, aku yakin nanti dia akan melakukan lebih dari ini," ucap Satya.
"Ia Nak, Senja mana enggak ikut?" tanya Bunda.
Satya menceritakan semua yang di alami selama di Jakarta, Senja begitu bahagia bisa bertemu dengan ayah kandungnya.
Satya juga menceritakan kalau kakek Roby marah-marah karena takut Senja kenapa-napa nanti di Jakarta.
Ayah Nugraha hanya menghela nafas panjang, andai waktu bisa di putar, mungkin tidak akan pernah menyetujui kalau Satya akan menikah dengan Senja.
Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, Satya melihat Bundanya sedih duduk di sebelah Ayah, Satya yang merasa keluarganya di bodohi tidak akan tinggal diam.
"Ayah, Bunda Satya pulang ya, ada meeting yang tidak bisa di wakilkan." kata Satya.
"Ia Nak, hati-hati," jawab Bunda.
Satya segera keluar, dan masuk mobil, Ranga yang tidak ikut masuk, merasa sudah terjadi sesuatu di dalam.
"Ga, gue nitip kantor, sekarang kita langsung ke Bandara," ucap Satya.
Ranga ingin sekali bertanya, tapi takut makin membuat mood Satya runyam, Ranga hanya mengikuti perintah Bosnya.
"Gue berharap tidak ada yang tau gue kemana?" ucap Satya merasa dadanya sesak.
"Baik Bos, "Jawab Ranga.
"Satu lagi, jangan kasih tau Senja," ucap Satya.
"Siap melaksanakan paduka ," ucap Ranga kesal.
Bersambung nya....