Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta restu kepada Jingga
Sinar matahari mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang selaras dengan nama wanita yang kini terbujur kaku di bawah gundukan tanah di hadapannya. Evan melangkah perlahan melintasi deretan nisan, sepatu pantofel nya menginjak rerumputan hijau yang masih basah oleh embun sore. Di tangannya, sebuah buket bunga lili putih, bunga kesukaan Jingga telah tergenggam erat.
Ia duduk di tembok marmer rendah yang memang dibangun khusus untuk pengunjung di sekitar area makam tersebut. Suasana begitu sunyi, hanya ada suara gesekan daun yang tertiup angin sepoi-sepoi. Evan menatap batu nisan yang bertuliskan nama Jingga Anastasia.
Seketika, memori kelam beberapa bulan lalu menghantamnya. Bayangan saat ia duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Jingga yang dingin, dan melihat monitor jantung yang perlahan berubah menjadi garis datar yang panjang. Suara napas terakhir itu... seolah masih terngiang jelas di telinganya.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Evan segera menghapusnya dengan punggung tangannya, merasa malu pada dirinya sendiri yang sempat terlihat lemah, bahkan di depan makam istrinya. Ia kemudian menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya, dan mulai melantunkan ayat-ayat pendek dengan suara yang rendah namun khidmat.
Setelah menutup doanya dengan usapan tangan ke wajah, Evan menggeser duduknya lebih dekat ke pusara. Jemarinya yang kokoh kini menyentuh permukaan batu nisan yang dingin itu dengan lembut, seolah sedang membelai pipi wanita yang sangat ia cintai.
"Assalamualaikum, Sayang... Aku datang lagi," bisiknya lirih.
Ia terdiam cukup lama, mencari keberanian untuk mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya sejak percakapannya dengan Kevin tadi pagi. Penyangkalan yang ia coba pendam cukup lama seolah runtuh dalam satu malam setelah ciuman itu.
"Jingga... tolong maafkan aku," suaranya mulai bergetar. "Aku merasa telah mengkhianatimu. Aku... aku mulai menyukainya. Aku menyukai Kamila."
Evan menunduk, membiarkan pengakuan itu menguap di udara pemakaman.
"Dia wanita yang luar biasa. Dia begitu baik terhadap putra kita, Zevan. Kamila menyayanginya dengan tulus, dengan kasih sayang yang hampir membuatku lupa bahwa dia bukan ibu kandung Zevan. Melihat mereka berdua... membuat hatiku yang dulu beku perlahan mencair."
Ia menghela napas berat, matanya kembali menatap nisan itu dengan tatapan memohon.
"Jika seandainya rasa cintaku padanya tumbuh sama besar dengan rasa cintaku padamu, tolong jangan benci aku. Tolong maafkan aku. Aku hanyalah manusia biasa, Jingga. Aku tidak bisa menolak perasaan ini... perasaan ini tumbuh begitu saja tanpa bisa kupersiapkan."
Evan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kepahitan sekaligus kelegaan.
"Tolong restui aku dengan Kamila. Aku ingin membangun kembali kepingan hidup yang sempat hancur. Semoga kamu tenang di sana. Satu hal yang harus kamu tahu... selamanya, bagian dari hatiku akan selalu mencintaimu, Jingga."
Evan meletakkan buket bunga lili itu di atas nisan, lalu mengambil botol berisi air mawar dan menyiramkannya secara perlahan ke atas tanah makam. Aroma harum lili dan mawar bercampur, menciptakan suasana yang tenang.
Ia bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan menatap makam itu untuk terakhir kalinya sore ini. Beban yang tadi pagi menghimpit dadanya terasa sedikit terangkat. Ada sebuah kepastian baru yang kini ia genggam.
Tanpa membuang waktu, Evan berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di gerbang pemakaman. Rasa sesak yang tadi menghantuinya berganti dengan debaran aneh yang menyenangkan. Ia melirik jam tangannya, lalu menginjak pedal gas lebih dalam.
"Aku pulang," gumamnya dengan binar mata yang berbeda.
Pikirannya kini sudah terbang jauh mendahului laju mobilnya, tertuju pada sebuah mansion besar di mana seorang bayi mungil dan seorang wanita bernama Kamila sedang menunggunya. Ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah.
.
.
Laju mobil Evan melambat saat memasuki gerbang megah mansion miliknya. Perasaan lega menyelimuti hatinya, sebuah kontras yang tajam dibanding kecamuk pikiran tadi pagi. Ia melangkah masuk ke dalam rumah, namun suasana sunyi menyambutnya. Biasanya, jika ia pulang sore, setidaknya ada sapaan hangat atau suara tangis kecil Zevan yang terdengar.
"Bi Sumi," panggil Evan pada salah satu ART yang sedang merapikan vas bunga. "Di mana Kamila dan Zevan?"
"Oh, Tuan sudah pulang? Nyonya Kamila sedang di taman belakang bersama Tuan muda, Tuan. Katanya sedang mencari udara segar," jawab Bi Sumi ramah.
Tanpa membuang waktu, Evan segera melangkah menuju taman belakang. Ia sengaja memperhalus langkah kakinya, ingin memberikan kejutan. Dari balik pilar besar, ia melihat pemandangan yang seketika membuat hatinya berdesir hangat.
Kamila sedang duduk di bangku taman, tepat di depan stroller Zevan. Di tangan kirinya ada buku dongeng, dan di tangan kanannya ia memakai boneka tangan berbentuk kancil.
"Lalu Si Kancil bilang, 'Ayo kura-kura, siapa yang paling cepat sampai di pohon sana?" Kamila menirukan suara lucu yang membuat Baby Zevan tertawa geli hingga kaki mungilnya menendang-nendang ke udara.
"Ehmmm! Tapi tiba-tiba saja, dari balik semak-semak... muncullah seekor harimau!"
"ROARRRRR!"
Evan muncul dari balik punggung Kamila dan mengaung tepat di telinganya.
"Aaaaa!" Kamila tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan boneka tangannya. Ia menoleh cepat dan mendapati suaminya berdiri di sana dengan senyum lebar yang jarang diperlihatkan.
Baby Zevan, bukannya takut, justru semakin kegirangan melihat ayahnya. Ia merentangkan kedua tangan kecilnya ke arah Evan, seolah berkata, 'Gendong aku, Papa!'
"Mas Evan? Sudah pulang? Kok lebih cepat?" tanya Kamila masih dengan jantung yang berdegup kencang karena kaget.
Evan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia segera meraih Zevan ke dalam gendongannya dan mengecup kening putra kecilnya itu lama. "Halo, jagoan Papa. Lagi dengar dongeng ya?"
Kamila berdiri, senyum malu-malu terukir di wajahnya. Ia mendekat, meraih tangan kanan Evan, dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Tak disangka, Evan justru menarik lembut kepala Kamila dan mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang. Kamila terpaku, wajahnya memanas. Siapapun yang melihat mereka saat ini pasti akan iri melihat keharmonisan keluarga kecil itu.
Malam harinya, setelah makan malam yang hangat dan Baby Zevan telah terlelap di bawah pengawasan Suster Zara, Evan dan Kamila sudah berada di kamar. Mereka bersandar di head board ranjang, menikmati ketenangan malam.
"Jadi, seharian ini kalian hanya main di taman?" tanya Evan membuka percakapan, matanya menatap Kamila dengan lembut.
"Tidak hanya itu, Mas. Pagi tadi Zevan sudah mulai belajar memegang botolnya sendiri, meski masih sering jatuh. Lalu sorenya, karena cuaca sedang bagus, aku membawakannya buku dongeng. Dia sangat suka saat aku menirukan suara binatang," cerita Kamila antusias.
Evan tersenyum lebar mendengar laporan itu. Namun, tiba-tiba Kamila merasakan hidungnya gatal.
"Hatchiii!"
Kamila bersin cukup keras. Ia mengusap hidungnya yang mulai memerah.
Wajah Evan berubah khawatir. Ia segera bergeser mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Kamila. "Kamu sakit, Kamila?"
"Tidak Mas, paling cuma mau kena flu biasa. Minum obat juga sembuh nanti," jawab Kamila berusaha menenangkan.
"Kalau sedang menyusui, kamu jangan minum obat sembarangan! Bahan kimianya bisa masuk ke ASI," tegur Evan dengan nada protektif yang tegas.
Kamila tersenyum kecil, ia meraih tangan Evan yang masih ada di keningnya. "Tidak usah khawatir, Mas. Aku sudah ada persediaan obat flu khusus untuk ibu menyusui yang direkomendasikan dokter. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
Melihat senyum manis dan pipi Kamila yang merona karena demam ringan, pertahanan Evan runtuh. Ia mengusap pipi Kamila, menatap matanya dalam-dalam. Wajah Evan perlahan mendekat, ia ingin kembali merasakan manisnya bibir wanita yang kini telah mencuri perhatiannya.
Namun, Kamila buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangannya. "Jangan Mas, nanti kamu tertular!" suaranya bergetar, ada ketakutan sekaligus keinginan di sana.
Evan tidak menjauh. Ia justru menggenggam tangan Kamila yang menutupi mulut itu, lalu membisikkan kata-kata yang membuat jantung Kamila seolah berhenti berdetak.
"Jika aku tertular dan itu bisa menyembuhkanmu, aku rela sakit asalkan kamu sembuh."
Deg!
Kamila tertegun. Kalimat itu begitu dalam hingga ia tak mampu lagi menolak. Saat bibir Evan kembali melum*t miliknya, Kamila memejamkan mata dan mulai membalas ciuman itu. Rasa bersalah, gairah, dan cinta yang baru tumbuh bercampur menjadi satu dalam keheningan kamar.
'Kenapa ini? Kenapa bisa terulang kembali? Kenapa Mas Evan menciumku lagi? Dan aku... kenapa aku tidak bisa menolaknya?' batin Kamila berkecamuk di tengah keintiman mereka.
Tiba-tiba, suara dering ponsel yang nyaring memecah suasana. Evan menghentikan ciumannya dengan napas yang memburu. Ia melirik layar ponsel di nakas.
Kevin Calling...
Evan mengernyit. Kevin tidak akan menelepon selarut ini jika tidak ada hal yang sangat darurat. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.
"Ya, Kevin? Ada apa?"
"Tuan, Jaka sudah sadar!" suara Kevin terdengar sangat tegang di seberang sana. "Barusan hampir saja ada seorang penyusup yang menyamar sebagai perawat mencoba untuk membunuhnya di ruang ICU!"
Mata Evan membelalak lebar. "Apa?!"
Seluruh kemesraan di kamar itu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang mencekam.
Bersambung...
kopi untuk mu👍