Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Opah Ethan melihat menantu dan putrinya lama dan tajam. Terutama menantunya yang telah menimbulkan perselisihan dalam keluarganya.
"Apa Ethan tidak tahu mana yang pantas dan tidak untuknya, hingga kau harus buat aturan?"
"Bukan begitu, Papah. Tadi di kantor dia bersikap aneh dan tidak seperti dirinya. Dia tidak peduli sedang jadi sorotan banyak mata."
"Aneh? Apa kau sudah diskusikan perkenalan ini dengannya. Kau atur sendiri menurut sukamu. Masih bagus dia terima dan bersedia datang."
"Aku hanya mau menolongnya, Pah."
"Jangan kau alihkan. Kalau Ethan tidak punya standar untuk pasangan hidupnya, sudah berapa banyak wanita bergulingan di sini?" Opah Ethan makin emosi mendengar alasan Papah Ethan.
"Kalian lupa pada kejadian yang lalu? Dia sejak kuliah harus berulang kali main kucing-kucingan dengan banyak gadis, supaya lolos dari jebakan pengeruk?"
"Terutama kau, Carlos. Kau seperti baru melek dan kaget melihat Ethan seperti itu. Apa dia pernah ramah buat sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya?"
"Lalu maksud bodoh apa yang kau lakukan dengan melibatkan Velina?"
"Aku hanya mau mencegah dan menunjukan kepada karyawan itu. Supaya tidak mengganggu Ethan dan jangan bermimpi akan bersama Ethan, Pah." Papah Ethan memberikan alasan, berharap bisa menurunkan tensi emosi mertuanya. Tetapi justru makin membuat mertuanya makin marah.
"Bodoh. Apa Ethan tidak mengerti dunia ini? Minta dia menikah, tapi perlakukan dia seperti anak teka. Rambut sudah putih, tapi tidak becus jadi orang tua."
"Kalau aku tahu penyebab tindakanmu yang mengada-ada ini, lihat yang akan aku lakukan pada kalian berdua."
"Judith, Papah sudah bilang. Kalau terjadi sesuatu dengan Ethan, kalian akan terima akibatnya. Kalian kira setelah dia dewasa dan tidak pernah dibicarakan, perjanjian itu tidak berlaku?" Opah Ethan mengingatkan dengan serius.
"Benar yang Ethan bilang. Kau sudah tidak waras. Semua ini bikin kau lupa asalmu?" Opah Ethan berkata tajam lalu masuk ke mobil tanpa pamit.
Papah Ethan terkejut melihat mertuanya pergi dalam keadaan marah. Sesuatu yang tidak pernah terjadi. Papa Ethan memegang kepalanya dengan kedua tangan dan mencengkram rambutnya.
"Judith, cepat susul Papah. Tenangkan Papah." Papah Ethan panik dan mendorong istrinya untuk mengikuti mertuanya yang sedang marah.
Setelah mobil Opah Ethan menjauh, ancamannya makin dekat dan mulai menjalar ke pikirannya yang was-was dan takut.
"Kau pikirkan amarah Papah, tapi tidak pikirkan amarah anakmu? Kau tidak khawatir sama sekali pada anakmu? Aku yang lagi takut mikirkan Ethan, kau..." Mamah Ethan tidak meneruskan, tapi balik mendorong suaminya, sebab khawatir melihat kemarahan Papah dan putranya.
"Kau yang merencanakan ini. Jadi tangani Papah sendiri. Aku mau telpon anakku supaya pulang. Kalau terjadi sesuatu dengannya, kau akan lihat nanti." Mamah Ethan ikut mengancam, karena bingung dan panik memikirkan keadaan putranya.
"Dia bukan anak kecil. Nanti sudah tenang, dia akan kembali." Ucap Papah Ethan coba mengelak, karena amarahnya pada Ethan belum surut.
"Kau tidak mengerti anakmu? Ini bukan sesuatu yang biasa. Cepat hubungi dia atau polisi."
"Ini masih siang. Dia mau bikin apa? Kalau pergi jauh paling ke kantornya di Singapore." Papah Ethan belum terima dan masih sakit hati dibentak anak dan mertuanya.
"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau anggap ini sesuatu yang biasa? Pantas Ethan bilang kau ..." Mama Ethan tidak meneruskan, agar tidak jadi perang kata. Dia merasa akal sehat suaminya seakan menguap dan dia hampir tidak mengenalnya.
Sedangkan Opah Ethan yang sudah dalam mobil, duduk diam memikirkan yang terjadi. Asisten yang menunggu di mobil, hanya diam menunggu, karena melihat situasi yang tidak kondusif.
"Gerry, ikut saya ke ruang kerja." Ucap Opah Ethan setelah tiba di mansion.
"Siap, Pak." Gerry sigap dan memberi instruksi kepada sopir. Lalu turun dan berjalan cepat menuju ruang kerja bossnya.
Gerry yakin sedang terjadi seseuatu yang serius di keluarga bossnya, karena melihat Ethan pergi dalam keadaan marah dan bossnya yang biasanya bijak dan tidak mengumbar emosi, memarahi anak dan menantunya di depan karyawan.
"Gerry, hubungi pengacara. Bilang segera ke sini. Urgent." Ucap Opah Ethan yang melihat Gerry masuk ke ruang kerja.
"Siap, Pak." Tanpa meletakan tas, Gerry segera telpon pengacara keluarga. "Pengacara segera datang, Pak." Gerry melapor setelah telpon.
"Sambungkan dengan Rion. Saya mau bicara dengannya." Ucap Opah Ethan sambil meletakan ponselnya di atas meja.
"Siap, Pak." Gerry meletakan tas kerja di atas meja sofa, lalu menelpon Rion. Dia yakin, akan bekerja lama di mansion dan tidak kembali ke kantor.
"Selamat siang Pak Rion."
"Selamat siang Pak Gerry." Rion yang baru tiba di kantor, terkejut melihat asisten big boss telpon.
"Pak Rion, Pak Ken mau bicara." Setelah berkata demikian, Gerry meletakan telponnya di atas meja kerja Opah Ethan.
"Rion, kau di mana?"
"Saya di kantor, Pak."
"Kau tahu di mana Pak Ethan?"
"Tidak, Pak. Tadi beliau bilang mau pulang ke rumah..." Rion menjelaskan dengan jantung berdegup kuat.
"Telpon cek keadaannya. Tanya ada di mana." Perintah Opah Ethan.
"Maaf, Pak. Saya sudah telpon dari tadi, tapi ponselnya tidak aktif." Rion menjelaskan, karena setelah mengantar Athalia dia telpon untuk melapor. Tetapi telpon bossnya tidak aktif.
"Tinggalkan semua pekerjaan. Pantau mobil Pak Ethan ada di mana. Segera kasih kabar Gerry."
"Siap, Pak." Rion langsung berdiri dan memegang kepalanya.
"Rion." Panggil Opah Ethan, tiba-tiba. "Iya, Pak."
"Segera email rekamanan cctv kantor cabang kepada Gerry..." Opah Ethan menjelaskan cctv mana saja yang harus dikirim Rion.
"Siap, Pak."
"Sekarang ambil dan amankan. Jangan tunggu satu menit pun." Perintah Opah Ethan tegas.
"Siap, Pak." Rion sigap. Dia yakin sedang terjadi sesuatu dengan bossnya.
Opah Ethan tahu Rion sudah lakukan perintahnya, sebab mendengar suara nafas dan langkah kaki Rion berlari.
Opah Ethan mengambil langkah cepat, agar tidak kecolongan. Ancamannya mau menyelidiki, penyebab Ethan marah akan berdampak. Papah Ethan bisa menghapus cctv kantor untuk menutupi kesalahannya.
"Gerry, telpon polisi lalu lintas. Kasih tahu mereka supaya tahan mobil Pak Ethan di mana saja." Ucap Opah Ethan setelah berpikir.
"Siap, Pak." Gerry segera mengotak-atik telponnya.
"Gerry, bukan saja mobilnya. Tapi Pak Ethan juga ditahan. Tunggu sampai saya dan pengacara tiba." Perintah Opah Ethan lagi.
"Pak, Polisi tanya, atas kesalahan apa Pak Ethan ditahan. Agar mereka tidak disalahkan." Gerry menjelaskan permintaan polisi. Karena mereka harus punya alasan, jika mau menahan seseorang. Apa lagi orang itu tidak melakukan kesalahan di jalan raya.
"Katakan, beliau kabur dari Opahnya. Sebutkan nama kami. Urgent" Perintah Opah Ethan tegas.
Saat Opah Ethan sedang berbicara dengan Gerry, Rion tiba di ruang keamanan kantor cabang dengan nafas tersengal. "Untung tadi Pak Rion sudah telpon." Kepala bagian keamanan melapor.
"Ada apa?" Rion terkejut.
"Setelah Pak Rion telpon, Pak Carlos telpon minta rekaman cctv..."
...~•••~...
...~•○♡○•~...