Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula Kegelapan Malam
Keheningan tegang di dalam perpustakaan itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum Han Lei bergerak.
Topeng tipis berwarna kulit yang selama ini menutupi wajah aslinya—sesuatu yang tidak pernah disadari siapa pun di sekte, termasuk Chu Feng sendiri hingga saat ini—terkelupas sebagian ketika ia melompat mundur, mengungkap sedikit dari wajah sebenarnya yang jauh lebih tirus dan dingin dibandingkan penampilan ramah yang selama ini ia tunjukkan.
"Kau lebih tajam dari yang kuduga," katanya, suaranya berubah—lebih dingin, lebih datar, kehilangan seluruh kehangatan palsu yang selama ini ia gunakan untuk berbaur dengan murid-murid lain. "Pangeran Ketujuh dari Kerajaan Chu. Aku hampir tidak percaya ketika laporan pertama mengatakan pembawa pecahan bersembunyi di sekte kecil seperti ini."
Chu Feng mengokohkan pegangan pada tombak latihannya, tidak lagi berusaha menyembunyikan kewaspadaannya. "Siapa kau sebenarnya? Dan siapa yang mengutusmu?"
Han Lei tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak menenangkan. "Kau berhak tahu, mengingat kau akan segera menjadi tamu kehormatan organisasi kami." Ia merapikan sisa topeng yang mengelupas dengan gerakan tenang, seolah situasi ini sama sekali tidak mengancamnya. "Aula Kegelapan Malam. Mungkin nama itu belum pernah kau dengar—kami memang lebih suka bekerja dalam bayangan, jauh dari catatan sejarah mana pun."
Aula Kegelapan Malam, Chu Feng mengulang nama itu dalam hati, menyimpannya baik-baik. Jadi inilah nama kelompok yang menyerang Desa Kabut Hening.
"Kalian mencari pecahan tubuh Dewa," katanya, bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
"Kau memang cukup pintar untuk seseorang seusiamu," Han Lei mengangguk, matanya menyipit menilai. "Organisasi kami telah mencari selama ratusan tahun, mengumpulkan kembali apa yang tersisa dari Dewa Kekacauan Purba. Kau, dan pecahan yang bersemayam di tulang belakangmu, adalah salah satu keping terakhir yang kami butuhkan."
"Kenapa?" tanya Chu Feng, mencoba mengulur waktu sekaligus benar-benar ingin tahu. "Untuk apa kalian mengumpulkan semua itu?"
Senyum Han Lei melebar sedikit, namun ia menggeleng. "Itu bukan sesuatu yang perlu diketahui seorang bocah pembawa pecahan. Yang perlu kau tahu hanyalah—aku tidak datang untuk bertarung malam ini. Tugasku hanya mengonfirmasi keberadaanmu."
Sebelum Chu Feng sempat bereaksi, Han Lei melemparkan sesuatu ke lantai—sebuah kapsul kecil yang pecah dan mengeluarkan asap tebal berwarna keabu-abuan, memenuhi ruangan perpustakaan dalam sekejap.
Chu Feng menahan napas secara refleks, matanya menyipit menembus kabut asap dengan bantuan Mata Dewa, namun ketika asap itu akhirnya menghilang beberapa detik kemudian, Han Lei sudah tidak ada di tempatnya—melompat keluar melalui jendela yang sama tempat Chu Feng pernah mengintip sebelumnya.
"Hei!" seru Chu Feng, segera berlari mengejar, namun ketika ia sampai di luar, sosok Han Lei sudah menghilang ke dalam kegelapan hutan di luar tembok sekte, bergerak dengan kecepatan yang jauh melampaui tingkat kultivasi yang pernah ia tunjukkan selama menyamar sebagai murid biasa.
Hei, yang sejak tadi menunggu dengan gelisah di luar perpustakaan, menggeram tajam ke arah kegelapan hutan, bulu di sepanjang punggungnya berdiri tegak sebagai tanda insting yang jelas merasakan bahaya nyata.
Chu Feng berhenti di tepi hutan, tahu bahwa mengejar lebih jauh dalam kegelapan hanya akan membawanya ke dalam jebakan yang mungkin sudah dipersiapkan. Ia menghela napas panjang, kekecewaan dan kewaspadaan bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Aula Kegelapan Malam, pikirnya, mengepalkan tangannya erat. Sekarang aku tahu nama musuh yang sebenarnya.
Keesokan paginya, seluruh sekte dikejutkan dengan kabar tentang penyusup yang berhasil kabur semalam. Chu Feng segera melaporkan kejadian itu kepada Tetua Wang, menceritakan semuanya secara detail—termasuk nama organisasi yang baru saja terungkap.
Tetua Wang mendengarkan dengan wajah yang semakin pucat seiring cerita itu berlanjut, tangannya mengepal erat di atas meja kerjanya.
"Aula Kegelapan Malam," gumamnya, suaranya bergetar menahan amarah lama yang tampaknya sudah terpendam sejak lama. "Jadi benar mereka. Kelompok yang sama yang menyerang Desa Kabut Hening sepuluh tahun lalu."
"Anda pernah mendengar nama ini sebelumnya?" tanya Chu Feng.
"Hanya sekali, dari salah satu penjaga desa yang selamat sebelum akhirnya meninggal karena luka-lukanya," jawab Tetua Wang, matanya menerawang jauh ke masa lalu yang menyakitkan. "Ia sempat mendengar salah satu penyerang menyebut nama itu sesaat sebelum pertempuran berakhir. Kami selalu menganggapnya hanya nama kode sementara, tidak menyangka itu adalah nama organisasi yang sesungguhnya."
Tetua Wang terdiam sejenak, mempertimbangkan sesuatu dengan berat, sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju sebuah lemari kayu tua di sudut ruangannya—sesuatu yang selama ini tidak pernah Chu Feng perhatikan karena tertutup kain usang.
"Kalau mereka sudah menemukanmu," katanya, membuka lemari itu dengan hati-hati, "waktu kita untuk mempersiapkanmu jauh lebih sempit dari yang kuduga."
Dari dalam lemari, ia mengeluarkan sebuah kotak panjang yang tertutup debu tebal, jelas sudah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membukanya, mengungkap sebuah tombak yang tersimpan di dalamnya—bilahnya berwarna kelabu gelap dengan ukiran-ukiran kuno yang samar bercahaya, jauh berbeda dari tombak latihan biasa yang selama ini digunakan Chu Feng.
"Tombak ini," Tetua Wang berkata, mengangkatnya dengan hati-hati, "adalah salah satu warisan tertua sekte kami—dibuat oleh pendiri Sekte Awan Langit sendiri, ratusan tahun yang lalu. Kami menyebutnya Tombak Awan Kelabu."
"Kenapa Anda menyimpannya tersembunyi selama ini?" tanya Chu Feng, matanya tidak bisa lepas dari senjata itu.
"Karena tombak ini membutuhkan pemilik yang tepat," jawab Tetua Wang, menyerahkannya perlahan ke tangan Chu Feng. "Sebuah senjata dengan jiwa sekecil ini tidak bisa digunakan sembarangan—ia akan menolak siapa pun yang tidak cocok dengannya, bahkan bisa melukai penggunanya sendiri kalau dipaksakan. Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk menemukan murid yang tepat untuk mewarisinya."
Ketika jari-jari Chu Feng menyentuh gagang tombak itu, sensasi hangat yang familiar—mirip dengan yang ia rasakan saat pertama kali menyentuh pecahan tulang Dewa di reruntuhan Lembah Kabut—menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. Ukiran-ukiran kuno di sepanjang bilah tombak itu berkedip pelan, seolah mengenali kehadirannya.
"Menarik," komentar suara di dalam dirinya, nada penuh minat yang jarang terdengar. "Senjata ini menerimamu dengan cepat, Pangeran Ketujuh. Mungkin ada lebih banyak dari sekadar kebetulan di balik warisan ini."
Tetua Wang mengamati reaksi tombak itu dengan mata terbelalak, sebuah senyuman lega dan bangga terbentuk di wajahnya yang biasanya tenang. "Tombak ini memilihmu, Nak. Mulai sekarang, Tombak Awan Kelabu adalah milikmu—gunakan ia dengan bijak, dan biarkan ia tumbuh bersamamu."
Malam itu, ketika Chu Feng duduk sendirian di beranda asramanya, menggenggam Tombak Awan Kelabu dengan penuh rasa hormat yang baru, sebuah surat kecil tiba dibawa oleh burung pos milik Klan Su—giok komunikasi yang diberikan Su Yue sebelumnya bergetar pelan, menandakan pesan masuk.
Ia mengaktifkannya dengan hati-hati, dan suara Su Yue yang lembut namun sedikit lelah terdengar dari dalam giok itu.
"Chu Feng, maaf baru sempat menghubungimu. Beberapa minggu terakhir cukup sibuk di Klan Su—ada beberapa urusan keluarga yang harus kuselesaikan, hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa kupilih sendiri. Aku harap kau baik-baik saja di sekte barumu. Kirimkan kabar kalau sempat."
Pesan itu berakhir singkat, namun ada sesuatu dalam nada suaranya—sedikit keletihan, sedikit keengganan yang tersembunyi di balik kata-kata sopan—yang membuat Chu Feng terdiam sejenak, sebuah kekhawatiran samar yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan mulai tumbuh di dadanya.
"Urusan keluarga yang tidak sepenuhnya bisa dipilih sendiri," gumamnya pelan, mengulang kata-kata itu.
"Kau mendengar sesuatu yang mengganggumu," komentar suara di dalam dirinya, menangkap perubahan nada pikirannya.
Mungkin aku hanya terlalu khawatir, Chu Feng membalas dalam hati, meski keraguan itu tidak sepenuhnya hilang. Klan besar seperti Klan Su pasti punya banyak tanggung jawab dan aturan yang harus dipatuhi anggotanya. Itu wajar.
"Mungkin," suara itu menjawab, nadanya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Tapi ingatlah, Pangeran Ketujuh—tidak semua rantai terlihat jelas sampai seseorang mencoba menariknya lepas."
Chu Feng tidak sepenuhnya memahami makna di balik kata-kata itu malam itu. Ia menyimpan giok komunikasi itu kembali dengan hati-hati, menatap ke arah langit malam yang kini terasa sedikit lebih berat dari biasanya—bukan hanya karena ancaman Aula Kegelapan Malam yang kini memiliki nama dan wajah, namun juga karena bayang-bayang kekhawatiran kecil yang baru saja mulai menyusup ke dalam hatinya, tentang seseorang yang jauh di sana, tengah menghadapi pertarungannya sendiri yang belum sepenuhnya ia pahami.
(Bersambung ke Bab 22)