Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Seleksi Pertama dan Sepatu Bola Pinjaman Nomor 39 Kebesaran
3 bulan setelah tendangan pisang pertama itu , kabar besar datang ke Tuminting.
SSB ( Sekolah Sepak Bola ) Manado United buka seleksi U-13 gratis di Stadion Klabat. Pelatihnya datang dari Surabaya. Katanya kalau lolos , sepatu , dan jersey , semua dikasih. Bisa main di Manado , dan bisa main di luar Sulawesi.
Seluruh anak Tuminting heboh.
Rian sudah beli sepatu bola baru dengan harga 350 ribu . Agus dipinjami motor sama bapaknya biar bisa ke stadion. Bahkan Dodi yang sudah berhenti main bola karena disuruh jaga warung , mau ikut seleksi.
Bima ? Bima tidak punya apa - apa.
Dia tidak punya sepatu bola. Seumur hidup main nyeker , kaki kapalan tebal sampai kalau injak paku tidak kerasa.
Dia juga tidak punya ongkos ojek ke Stadion Klabat. Stadion itu 12 kilometer dari Tuminting.
Malam sebelum seleksi , Bima duduk di perahu Sinar Mira lagi. Sekarang perahu itu sudah lebih bocor. Bapak sedang menambal lagi , tapi kali ini pakai kayu baru. Bapak dapat rezeki lebih karena ikan lagi musim.
"Pak , besok ada seleksi di Klabat" kata Bima pelan.
Bapak tidak berhenti memalu. "Bapak so dengar dari Stenly."
"Bima boleh ikut?"
Bapak berhenti. Dia lihat kaki Bima. Kaki telanjang yang hitam , kapalan , dan ada bekas luka jahitan kawat bola dulu.
"Pakai apa ?"
Bima menunduk. "Nyeker saja , Pak. Kan boleh nyeker."
Bapak terdiam cukup lama. Lalu Bapak masuk ke dalam rumah , dan keluar lagi dengan bawa sesuatu yang dibungkus koran bekas.
"Buka."
Bima buka koran itu. Sepatu bola.
Sepatu bola kulit asli , warna hitam , merek Specs. Sudah usang , solnya sudah tipis , tapi masih bagus. Nomor 39.
"Pe Stenly punya dulu. Waktu dia masih Persma. Dia titip pa Bapak. Dia bilang kalau ngana so umur 12 , kase pa ngana. Tapi Bapak lupa" kata Bapak berbohong. Bapak tidak lupa. Bapak simpan , karena kalau dikasih terlalu cepat , Bima akan menjadi manja.
Bima memeluk sepatu itu. Sepatu itu bau minyak tanah dan kapur barus.
Tapi nomor 39. Kaki Bima nomor 36.
Besok paginya , sekitar jam 5 subuh , Bima berangkat. Dia pakai kaos paling bagus yang dia punya kaos putih sablon tulisan 'JESUS SAVES' yang sudah kuning. Dia pakai sepatu nomor 39 itu dengan kaos kaki 3 lapis biar pas. Kaos kakinya berbeda - beda warna. Satu hitam , satu putih , satunya punya Paman Stenly yang sudah berlubang di bagian jempol.
Dia jalan kaki.
12 kilometer. Dari Tuminting ke Stadion Klabat. Lewat pasar 45 , lewat jembatan Soekarno. Dia berlari kecil - kecil karena takut terlambat.
Sampai di Stadion Klabat pada jam 7 pagi , seleksi jam 8. Kakinya sudah lecet karena sepatu kebesaran. Darah di tumit.
Di stadion , ada 150 anak. Semuanya pakai jersey bagus , memakai sepatu bagus , dan rambut - rambut mereka disisir dengan rapi. Bapak - bapak mereka mengantar dengan menggunakan mobil.
Bima berdiri di pojok. Sepatu nomor 39nya yang kebesaran , kaos kaki belang , dan kaos 'JESUS SAVES' berwarna kuning.
Anak - anak melihat dia dan berbisik - bisik.
"Eh itu anak Tuminting. Arka Lumpur."
Tapi Bima tidak peduli lagi dipanggil seperti itu.
Pelatih dari Surabaya , namanya Coach Bagus, orangnya botak , dan berteriak "SEMUA BIKIN 2 BARIS! TES LARI 12 MENIT!"
Bima lari dengan sepatu kebesaran. Sepatu itu terlepas sekali di menit ke4. Dia pungut , lalu pakai lagi , dan berlari lagi.
Tes kedua : tes tendangan.
Giliran Bima. Coach Bagus lihat sepatunya dan geleng - geleng kepala.
"Nama ?"
"Bima Arka Pradipta , Coach!"
"Umur ?"
"12 tahun , Coach!"
"Pakai sepatu siapa itu ?"
"Pakai sepatu milik Paman saya , Coach! Mantan Persma!"
Coach Bagus senyum tipis. "Oke , tendang ke gawang sana. Bebas."
Bima menaruh bola di tanah. Itu bola asli , bukan bola botak.
Dia ingat ember air Paman Stenly. Dia ingat garis pisang di tanah retak. Dia ingat 127 tendangan sampai magrib.
Dia tidak tendang keras. Dia usap.
Bola itu melayang. Pelan , lalu berbelok.
Belok ke kiri. Masuk pojok kanan gawang. Kiper seleksi yang anaknya Wali Kota saja tidak bergerak. Karena dia kira bola akan keluar.
Hening.
150 anak diam.
Coach Bagus buka kacamata hitamnya.
"Ulangi" katanya.
Bima ulangi. Kali ini lebih melengkung.
Coach Bagus berjalan mendekat. Dia berjongkok di hadapannya , dia lihat kaki Bima yang berdarah karena sepatu kebesaran.
"Siapa yang mengajarkan kamu tendangan seperti itu ?" bisiknya.
"Paman saya , Coach. Kakinya pincang , tapi hatinya lurus."
Coach Bagus berdiri. Dia tiup peluit keras.
"ANAK TUMINTING SEPATU KEBESARAN! LOLOS! MASUK TIM INTI!"
Hari itu , Bima Arka Pradipta berjalan pulang 12 kilometer lagi. Tapi kali ini tidak lari. Dia berjalan pelan , karena sepatunya dia tenteng , tidak dipakai. Dia tidak mau kakinya tambah lecet.
Di tangannya , ada kertas kecil. Surat panggilan latihan resmi SSB Manado United.
Di kertas itu tertulis : Harap datang dengan sepatu yang pas ukurannya.
Bima tertawa sendiri di Jembatan Soekarno. Tertawa sampai membuat orang - orang melihatnya seperti orang gila.
Sampai di rumah , Mira yang pertama peluk dia.
"Kakak lolos ?"
Bima mengangkat Mira ke dalam pelukannya dan ikut memeluk adiknya itu. "Kakak lolos , Mira. Kakak lolos."
Di belakang rumah , Bapak dan Mama berdiri di depan perahu Sinar Mira yang masih bocor. Mama menangis , tapi bapak tidak. Bapak hanya mengangguk sekali.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading