NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:601.1k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 Kembali ke Indonesia

Mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju membelah jalanan kota Bern, mengabaikan batas kecepatan. Di kursi penumpang belakang, Alexio duduk bersandar kaku. Matanya menatap tajam ke luar jendela, namun pikirannya berputar kacau balau. Di sampingnya, Reno duduk tegak seraya memegang tablet yang berisi informasi kilat hasil peretasan tim siber mereka.

"Tuan Muda, data yang kami dapatkan dari rekaman CCTV gedung pameran masih sangat terbatas," lapor Reno memecah keheningan yang menyesakkan. "Kami belum menemukan identitas kedua anak kembar itu. Namun... pelacakan plat nomor taksi yang mereka tumpangi dari gedung pameran membawa kami ke satu titik terang. Ada satu nama penghuni utama yang terdaftar pada alamat yang dituju taksi tersebut."

Alexio menoleh cepat, tatapannya tajam menembus asistennya. "Siapa?"

"Clara Jasmine, Tuan."

Reno menyodorkan tablet tersebut. Di layar, tertera nama itu beserta alamat sebuah rumah di pinggiran kota.

Napas Alexio seolah dirampas paksa dari tenggorokannya. Ia merebut tablet itu dengan gerakan kasar. Matanya terpaku pada deretan huruf yang membentuk nama tersebut.

"Clara Jasmine."

Nama yang lima tahun lalu ia temukan tergores di atas secarik kertas perpisahan. Nama yang selama setengah dekade ini menjadi obsesi dan kutukan di setiap hela napasnya.

Benaknya berputar liar. Ada dua wanita dewasa di rumah itu Ketty, wanita yang ia temui di galeri tadi, dan Clara. Apakah ini Clara yang sama? Jika iya, lalu siapa ayah dari si kembar yang memiliki mata identik dengannya itu?

"Kita ke alamat ini sekarang juga!" perintah Alexio dengan suara berat, nadanya mutlak tak terbantahkan. "Perintahkan sopir menginjak gas lebih dalam!"

Mesin V8 mobil itu mengaum buas, melesat membelah jalanan sore kota Bern menuju sebuah kawasan perumahan tenang.

Tak sampai dua puluh menit kemudian, mobil sedan itu berhenti mendadak hingga bannya berdecit di depan sebuah rumah berlantai dua yang asri. Pagar kayu bercat putih yang tertutup tanaman rambat itu tampak sunyi. Terlalu sunyi.

Alexio membuka pintu dan turun lebih dulu sebelum Reno sempat membukakannya.

Langkahnya panjang dan tergesa, meneliti setiap sudut rumah itu dengan dada bergemuruh hebat. Ada rasa gugup yang asing menyerangnya, perasaan yang tak pernah ia alami bahkan saat menghadapi krisis triliunan dolar di meja dewan direksi.

Ia menekan bel di dinding pagar berkali-kali. Hening. Hanya suara kicauan burung yang menjawab. Detik demi detik berlalu, namun pintu kayu cokelat di balik teras itu tetap tertutup rapat. Gorden-gorden jendelanya tertutup rapat, menyiratkan ketiadaan kehidupan di dalamnya.

Rahang Alexio mengeras. "Ke mana mereka?" desisnya, menahan rasa kecewa yang mulai membakar dada.

Saat itu, dari arah jalan setapak di samping rumah, seorang wanita paruh baya berjalan santai membawa kantong belanja. Ia memelankan langkah, menatap curiga pada mobil mewah dan dua pria berjas hitam di depan rumah tetangganya.

Reno yang menyadari tatapan itu segera melangkah mendekat, memasang senyum paling ramah yang ia miliki.

"Permisi, Nyonya. Maaf mengganggu," sapa Reno sopan. "Kami sedang mencari penghuni rumah ini. Apakah benar Nona Ketty dan ... Nona Clara tinggal di sini bersama sepasang anak kembar?"

Wanita itu memicingkan mata curiga. "Benar. Tapi kalian ini siapa? Polisi? Rentenir?"

Keduanya saling tatap sekilas. Dengan sangat natural, Reno menjawab cepat, "Ah, bukan sama sekali, Nyonya. Kami kerabat jauhnya dari pihak ibu. Kami baru saja tiba dari luar negeri dan ingin memberi kejutan."

Kecurigaan di wajah wanita itu sedikit mereda. "Oh, astaga! Sayang sekali kalian datang di waktu yang salah. Nona Ketty, Nona Clara, dan anak-anak kembarnya baru saja pergi sekitar setengah jam yang lalu."

Alexio yang sedari tadi diam mendengarkan, langsung melangkah maju. Aura intimidasinya tak bisa disembunyikan.

"Pergi ke mana? Apa Anda tahu?" tanya Alexio tajam.

"Mereka terburu-buru sekali. Saya lihat Nona Clara memasukkan dua koper besar ke dalam bagasi taksi. Katanya mereka mau mengejar penerbangan dadakan ke Asia sore ini juga," jelas tetangga itu polos.

Penjelasan itu seolah menghantam ulu hati Alexio. "Setengah jam yang lalu." Ia hanya terlambat setengah jam!

Wanita itu telah melarikan diri darinya. Lagi.

Tangan Alexio terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Satu pertanyaan terakhir," potong Alexio dengan suara serak, menatap lekat wanita paruh baya itu. "Bisa Anda jelaskan seperti apa ciri fisik Nona Clara?"

Wanita itu tersenyum mengingat tetangganya yang ramah. "Oh, dia wanita muda yang sangat cantik. Rambutnya panjang, lurus, dan kulitnya putih bersih. Tapi yang paling membuat orang mudah mengingatnya adalah matanya. Matanya berwarna cokelat jernih, sangat indah."

Jantung Alexio berdentum brutal menghantam tulang rusuknya. Dunia di sekitarnya serasa berhenti berputar.

"Mata cokelat jernih. Kulit putih. Rambut lurus panjang."

Itu dia. Wanita yang selama ini ia cari tidak sekadar ada di kota ini, melainkan baru saja berada dalam jangkauan tangannya setengah jam yang lalu.

Fakta itu membuat Alexio nyaris kehilangan akal sehatnya. "Reno! Lacak semua penerbangan dari bandara Zurich dan Jenewa menuju Asia sore ini! Kita harus mencegat mereka sebelum—"

Ucapan Alexio terpotong oleh getaran hebat dari ponsel di saku jasnya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan nama kontak yang membuat kerutan di keningnya semakin dalam.

"Mommy."

Alexio menghela napas kasar, memejamkan mata sejenak, lalu mengangkat panggilan dari ibunya itu dengan raut wajah kaku.

"Halo, Mom," sapa Alexio datar.

"Xio! Kamu harus kembali ke Indonesia malam ini juga!" suara sang ibu terdengar panik dan menuntut di seberang sana, mengabaikan basa-basi.

"Mom, aku tidak bisa pulang sekarang. Aku sedang di ambang menemukan hal yang sangat penting di sini," tolak Alexio tegas.

"Ini bukan permintaan, Alexio! Ini darurat!" potong ibunya, suaranya sedikit bergetar. "Kesehatan Kakekmu anjlok drastis. Dan yang lebih parah ... sistem keamanan perusahaan induk diretas beberapa jam lalu. Dokumen tender rahasia kita terancam dicuri. Direksi sedang kacau balau! Kamu adalah Presdir-nya, kamu harus mengambil alih kemudi sekarang juga sebelum semuanya hancur lebur!"

Panggilan itu ditutup sepihak.

Alexio menatap layar ponselnya yang menggelap dengan napas memburu. Ia memijat pangkal hidungnya keras-keras. Frustrasi, kemarahan, dan keputusasaan melebur menjadi satu.

Jika ia nekat mengejar Clara ke bandara sekarang, perusahaannya, warisan turun-temurun keluarganya, bisa hancur dalam semalam. Namun, jika ia pulang ke Indonesia ... jejak wanita dan kedua anak itu akan kembali sirna entah ke mana.

Alexio menatap rumah kosong di depannya untuk terakhir kali, merekam alamat itu dalam otaknya. Ia berbalik, menatap Reno yang sudah berdiri siaga dengan wajah tegang.

"Tuan Muda?" panggil Reno hati-hati.

Sorot mata abu-abu Alexio menggelap, memancarkan aura seorang raja yang siap berperang, namun juga diselimuti kabut obsesi yang tak akan pernah padam.

"Hubungi bandara," perintah Alexio tajam, suaranya sedingin es. "Siapkan jet pribadi kita. Kita kembali ke Indonesia sekarang."

Bersambung...

1
C2nunik987
suka sama semua karakter tokoh di novel ini terutama ma kerja sama keluarga kecil papa Xio dan cara dia bangun kerajaan yg tak tersentuh oleh lawan manapun ....cerita hdp Clara yg happy ending di cintai ugal ugalan sama suami tampan yg cerdas 🫰😍🙏♥️
C2nunik987
keren sukaaaa keluarga papa Xio dan uncle Reno akhirnya bahagia dgn segala macam ujian dan keharmonisan pasangan yg absolut 😅😅😍😍
C2nunik987
selamat iahhh uncle Reno dan bund Ketty sbntr lagi juga punya baby 😍😍
C2nunik987
karena mereka semua kerja sama nya bgs antara feeling dan logika jalan blm di support 2 bocil ajaib punya papa Xio 😍😍😂😂
C2nunik987
keren bgt kecebong papa Xio ....jd penasaran kehebatan Kael dan Klarine nanti saat udh umur 3thn keatas 😍😍😂😂
C2nunik987
anak bayik premium Klarine jgn bikin kakak key deg degan iahhh ma kecerdasan mu kelak ....hrs sayang ma kak Key dan kak Ken 😅😅😅
C2nunik987
anak bayik berteman ma luchifer kuda kesayangan papa Xio ....perkenalan boss kecil ma kuda nya papa 😂😂😍😍
C2nunik987
ini novel luar biasa ....balita mau home schooling....anak anak bocil papa Xio memang beda ma yg lain 😅😅😅
C2nunik987
papa Xio udh punya harta paling mewah dan mahallll di hdpnya yaitu mama Clara dan 4 calon pewaris Van Der Berg 😍😍cucu cicit kesayangan kakek buyut Alexander 😍😍
C2nunik987
yuhuuuu uncle Reno jet pribadi mu udh ready gasss honeymoon 😍😍
C2nunik987
congrats uncle Reno dan bund Ketty samawa bikin anak yg banyak biar rame di hdp kalian ....biar uncle Reno tidak kaku lagi 😂😂😂😂
V3
kalau model nya sdh membatalkan kontrak dan menghilang ,,,,, yaa dh lah mending Ketty atau Clara ja yg JD model nya 🤣🤣🤣
atau Oma nya si Kembar ja yg JD Model Dadakan nya 🤣🤣🤣
V3
mmg cari mati si keluarga Smith ,, sdh gali lobang kuburan nya sndri 🤣🤣🤣
V3
si kembar gercep bgt ,,, tangan Jenius nya lngsung dapat siapa tikus-tikus itu 👏👏
kini tugas papa Xio yg akan menghancurkan semua tikus-tikus itu 🤣🤣
V3
hahahaha ..... Keluarga Smith mo meretas servernya Clara ,, mana bisa 🤣🤣
yg ada kalian skrg yg hancur di bantai oleh anak kembarnya Clara 🤣🤣🤣
V3
naaah bgtu donk Clara ,, skrg mah kamu jgn nunduk trs ,, skrg sdh waktunya kamu mengangkat kepala mu dr orang-orang jahat spt tu 👏👏👏
V3
setelah sekian tahun Clara hidup susah dan sllu Nomaden hidup nya bersama si kembar ,,,, kini kesusahan itu berbuah manis.
kini hidup Clara sdh bahagia dan sejahtera 🤗💃💃🤗
V3
knp di sensor sich ,,, kn JD gak bisa ikutan traveling Loch aku nya 😔😔🤣🤣🤣🤣
V3: hahahaha ...... benar jg sich ,, Baik lah 🤗🤗
total 2 replies
V3
daaah githu acara belum beres dh ngomong masalah Proyek baru ,, proyek pembuatan anak kembar 🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦
V3
eeeet daaach ... Xio gak sadar diri amat yaaaaa ,,,, para tamu msh ngejubel bgtu laaah masa mo di usir semuanya 🤦🤦🤦
susaaah mmg kalau the Sultan mah semua udel nya ja 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!