Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Mobil tua itu perlahan menghilang di ujung jalan kecil depan rumah. Begitu suara mesin mobil tak lagi terdengar, suasana rumah menjadi sunyi.
Tuan Rockhi masih duduk di kursinya di ruang tamu. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya jelas sedang jauh mengembara.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,
“Mirna … ambilkan ponselku di kamar.”
Bi Mirna yang sejak tadi membereskan meja makan langsung menoleh.
“Baik, Tuan.” Namun, sebelum beranjak pergi, ia terlihat ragu.
“Maaf Tuan … yang tadi cucu Tuan maksud … Tuan Alex itu … keluarga Vasillo?”
Tuan Rockhi menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Mata Bi Mirna langsung membesar. Mulutnya bahkan sedikit terbuka karena kaget.
“Ya Tuhan…” Ia menutup mulutnya dengan tangan. “Berarti … Nona Tasya belum tahu…?”
Rockhi menghela napas panjang.
“Belum.”
Bi Mirna menatap pria tua itu dengan wajah cemas.
“Apa Nona Tasya benar-benar tidak tahu penyebab orang tuanya meninggal … dan alasan Tuan harus tinggal di rumah kecil ini?”
Ruangan menjadi hening.
Beberapa detik kemudian Rockhi menjawab dengan suara berat.
“Saat itu Tasya masih kecil.”
Matanya terlihat redup.
“Ketika dia mulai beranjak remaja … dia punya mimpi yang besar.” Rockhi menatap ke arah jendela.
“Dia ingin sekolah tinggi … ingin hidup mandiri.”
“Makanya aku membiarkan dia diadopsi oleh paman dan bibinya.” Nada suaranya berubah dingin.
“Namun ternyata … dua orang itu tidak pantas disebut keluarga.”
Bi Mirna menggigit bibirnya pelan.
“Mereka malah menjual Tasya … kepada laki-laki tua.” Rockhi mengepalkan tangannya di atas sandaran kursi.
“Kalau saja malam itu Tasya tidak melarikan diri … dia tidak akan bertemu Alex.”
Bi Mirna menunduk.
Sebagai orang yang sudah belasan tahun bekerja bersama Tuan Rockhi, ia tahu terlalu banyak tentang masa lalu keluarga itu.
Bi Mirna akhirnya berkata pelan,
“Tuan … apakah semuanya akan terulang lagi?”
Rockhi tidak langsung menjawab. Ia hanya memejamkan matanya beberapa saat dan kemudian berkata lirih,
“Aku harap tidak.”
Beberapa detik kemudian Bi Mirna masuk ke kamar dan mengambil ponsel milik Rockhi. Ia kembali ke ruang tamu dan menyerahkannya.
“Ini, Tuan.”
Rockhi langsung mengambil ponsel itu. Tanpa ragu ia menekan sebuah nomor yang tampaknya sangat ia hafal. Beberapa detik kemudian seseorang menjawab di seberang sana. Suara Rockhi langsung berubah serius.
“Ini aku.”
Orang di sana langsung terdengar tegang.
[Iya, Tuan Rockhi?]
Rockhi menatap ke arah pintu rumah, ke arah jalan tempat mobil Tasya tadi pergi.
“Aku ingin kalian mulai bergerak, mulai hari ini … awasi cucuku.”
Suasana di seberang telepon langsung menjadi serius.
[Apakah ada ancaman, Tuan?]
Rockhi menjawab dengan suara berat.
“Lindungi Tasya, dan yang paling penting…”
Ia berhenti sejenak.
"Lindungi juga kedua cucuku.”
Beberapa detik kemudian orang itu menjawab tegas.
[Baik, Tuan.]
“Kami akan memastikan mereka aman.”
Panggilan pun terputus.
Rockhi menurunkan ponselnya perlahan, tatapannya berubah dingin.
Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, mobil tua itu akhirnya berhenti di depan sebuah taman kanak-kanak yang cukup besar.
Bangunannya berwarna cerah dengan halaman luas. Banyak anak-anak kecil sudah datang bersama orang tua mereka. Tasya memarkir mobilnya di pinggir halaman.
“Sudah sampai,” ucapnya lembut.
Kenzi langsung membuka pintu dan turun lebih dulu. Ia menatap sekeliling dengan rasa penasaran.
Sementara Kenzo turun dengan wajah datar, seolah tempat itu terlalu sederhana baginya. Seorang guru perempuan yang ramah segera mendekat.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Bu,” jawab Tasya sopan.
Guru itu tersenyum melihat kedua anak laki-laki itu.
“Ini murid baru ya?”
Tasya mengangguk.
“Iya, Bu. Ini Kenzo dan ini Kenzi.”
Kenzi langsung tersenyum manis.
“Selamat pagi, Bu Guru.”
Namun Kenzo hanya mengangguk kecil. Guru itu tertawa kecil melihat perbedaan sikap keduanya. Tasya lalu berjongkok di depan kedua anaknya.
“Dengar ya … Mommy harus bekerja hari ini. Jadi kalian harus jadi anak baik di sekolah.”
Kenzi langsung mengangguk.
“Baik!”
Kenzo menatap ibunya sebentar.
“Kalau gurunya baik.”
Tasya menahan senyum. Ia kemudian menoleh pada guru itu dan menyerahkan secarik kertas.
“Ini nomor WhatsApp saya. Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi saya.”
Guru itu menerima kertas tersebut dengan ramah.
“Tentu saja, tenang saja, mereka akan baik-baik di sini.”
Tasya menatap kedua anaknya sekali lagi sebelum berdiri.
“Mommy pergi dulu ya.”
Kenzi melambaikan tangan.
“Bye Mommy!”
Kenzo juga berkata singkat.
“Hati-hati.”
Tasya tersenyum kecil sebelum berbalik dan kembali menuju mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil tua itu kembali melaju meninggalkan sekolah. Tujuan berikutnya adalah kantor barunya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang megah.
Gedung itu berdiri menjulang dengan dinding kaca biru yang memantulkan cahaya pagi.
Di bagian depan gedung terpampang tulisan besar, OCEAN BLUE GROUP. Perusahaan properti terbesar kedua di Indonesia.
Hanya satu perusahaan yang berada di atasnya, Vasillo Group. Tasya mematikan mesin mobil dan menatap gedung itu beberapa saat.
Ia menarik napas pelan.
“Semangat, Tasya.”
Ini adalah hari pertama ia bekerja.
Tanpa mengetahui satu hal, bahwa perusahaan tempatnya berdiri sekarang adalah perusahaan milik seseorang yang memiliki hubungan dengannya.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal