NovelToon NovelToon
Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Kembar Genius Milik Tuan Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.

Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.

"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.

Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Anak?" ulang salah satu staf yang nampak kebingungan.

"Iya, Mateo anak saya. Dia yang membobol akun sekuritas saya kemarin, apa yang dia lakukan membuat perusahaan rugi sebanyak lebih dari sepuluh miliar." Kata-kata terakhir itu membuat Tara menoleh ke arah Kenzo. Tepat di saat itu, Kenzo juga sedang menatapnya seakan mempertegas, jika Mateo telah membuatnya rugi banyak.

'Apa maksudnya dari tatapan itu? Apa dia berniat untuk minta ganti rugi sama aku? Yang benar aja, itu kan kesalahan anaknya!' Tara nampak kesal, tak sengaja menekan pulpen di tangannya ke atas meja, hingga pemandangan itu tertangkap oleh Kenzo.

"Ehem, Nona Tara ada yang mau dijelaskan?" tanya Kenzo tiba-tiba membuat seluruh isi ruangan rapat melihat ke arahnya.

"Hah? Kenapa?" Tara menatap Kenzo, keningnya berkerut lalu melihat seluruh anggota rapat kini melihat ke arahnya.

"Mohon maaf Tuan Kenzo, silakan di lanjut," ucap Tara, yang berusaha tersenyum profesional, Kenzo mengangguk lalu kembali ke topik sebelumnya.

"Mateo masih berusia lima tahun,"

"Hah? Lima tahun sudah bisa membobol akun sekuritas De Luca? Akun itu paling kuat keamanannya gimana bisa?"

"Tuan Kenzo, nggak sedang bercanda kan?"

Bisik-bisik itu mulai terdengar, dan itu membuat Kenzo tidak senang.

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan saya? Saya mengatakan benar adanya. kenapa kalian terlihat ragu?" tatapan Kenzo mulai berubah datar dan dingin, seluruh ruangan merasakan aura intimidasinya.

"Tuan, Anda tidak salah. Hanya saja, apa De Luca mengalami kolaps? Anda tidak perlu mengatakan jika akun dibobol oleh anak Anda yang berusia lima tahun, itu sangat mustahil bukan?" Staf Divisi mempertanyakan itu, jelas mereka ingin tahu kondisi perusahaan.

"Kita semua tau, orang IT yang bekerja di perusahaan De Luca saja tidak bisa mengakses akun sekuritas Anda, keamanan akun itu hanya Anda yang tau, bahkan orang IT tidak bisa masuk," lanjut salah satu dewan direksi.

"Bisa dibilang Anda telah menguncinya lebih dari puluhan tahun, selama ini akun ini aman meskipun ada beberapa kali percobaan untuk diretas oleh orang lain, tetapi tidak berhasil. Apakah kami bisa percaya anak yang baru berusia lima tahun membobol akun sekuritas bukan karena kolaps?"

Digo melirik bosnya, ucapan Kenzo tidak pernah berbohong yang dia katakan adalah kebenaran, namun orang-orang ini terlihat tidak percaya. Digo mulai cemas, kalau Kenzo akan marah karena ada yang meragukan kejujurannya.

"Apakah ucapan saya terdengar sedang bercanda? Apa saya terlihat sedang memainkan komedi di ruang rapat?" suara rendahnya membuat semua orang terdiam, orang yang sejak tadi menatapnya kini menunduk, mereka sadar mereka ada dalam masalah.

Tara melirik, dan akhirnya dia mengerti, yang paling dibenci Kenzo adalah ketika dia jujur tapi di sepelkan. Tidak semua orang bisa menatapnya seperti seorang teman, dia adalah atasan yang perlu dihormati.

Kenzo menutup map tipis di hadapannya, lalu berkata dengan suara tenang namun dingin,

"Cukup,"

Seketika seluruh ruangan kembali hening.

"Kita tidak sedang membahas keluarga saya." Tatapan tajamnya menyapu satu per satu wajah para direksi.

"Kita membahas perusahaan."

Tak seorang pun berani menyela. Kenzo mengalihkan pandangannya kepada pria paruh baya yang duduk di sisi kanan meja.

"Pak Arman."

Manajer Keuangan segera berdiri sambil membawa tablet dan beberapa lembar laporan.

"Silakan berikan ringkasan kondisi perusahaan setelah transaksi kemarin."

"Baik, Tuan." Pak Arman mengangguk hormat, lalu menampilkan data di layar besar ruang rapat.

"Per pagi ini, dampak terbesar bukan berasal dari penurunan harga saham, melainkan dari kepanikan pasar." Ia menekan remote presentasi. Grafik demi grafik muncul di layar.

"Sejak pembukaan bursa pagi tadi, kami menerima pemberitahuan dari beberapa klien strategis yang berniat meninjau ulang kerja sama mereka."

Ruangan kembali hening dan semua staf serta para dewan di dalam ruangan itu diam menyaksikan dan mendengar penjelasan Pak Arman.

"Sebagian bahkan telah mengirimkan surat yang menyatakan keinginan untuk membatalkan kontrak apabila situasi ini tidak segera dijelaskan."

Beberapa direksi saling bertukar pandang, Pak Arman melanjutkan.

"Selain itu, terdapat beberapa perusahaan rival yang memanfaatkan situasi ini." Ia mengganti slide berikutnya.

"Mereka secara terbuka menyatakan kesiapan untuk menantang De Luca Group dalam proses tender proyek-proyek besar yang akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan."

Salah seorang direktur mengembuskan napas panjang.

"Mereka mengira kita sedang kolaps ya..."

Pak Arman mengangguk. "Ya, Pak. Rumor bahwa De Luca Group mengalami krisis likuiditas telah membuat mereka lebih agresif."

Semua orang memahami arti laporan tersebut. De Luca Group bukan sekadar perusahaan properti.

Perusahaan itu dikenal sebagai salah satu grup investasi terbesar di kota tersebut, dengan portofolio yang mencakup berbagai sektor. Selama bertahun-tahun, De Luca Group membiayai sebagian besar ekspansi bisnisnya menggunakan kekuatan modal sendiri, tanpa bergantung pada suntikan dana dari investor luar ataupun pinjaman yang dapat mengganggu kendali perusahaan.

Justru karena reputasi itulah, isu mengenai penjualan saham strategis kemarin menjadi perhatian besar di dunia bisnis. Banyak pihak menganggap langkah itu sebagai pertanda bahwa De Luca Group sedang mengalami masalah keuangan, padahal kondisi sebenarnya jauh berbeda.

Pak Arman menatap Kenzo sebelum menambahkan, "secara fundamental, kondisi keuangan perusahaan tetap sangat sehat, Tuan Kenzo. Cadangan kas, aset, dan arus kas operasional kita masih jauh di atas standar industri." Pak Arman kembali pada slide berikut.

"Masalah yang kita hadapi saat ini adalah persepsi pasar, bukan kemampuan perusahaan untuk bertahan."

Kenzo tetap duduk dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Tak sedikit pun terlihat kepanikan di wajahnya. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka suara.

"Kalau begitu..." Tatapannya beralih kepada seluruh peserta rapat.

"Biarkan mereka berpikir bahwa De Luca Group sedang goyah."

Beberapa direksi langsung mengangkat kepala, bingung dengan maksud ucapan sang CEO. Senyum tipis muncul di sudut bibir Kenzo, senyum yang selalu membuat lawan bisnisnya waspada.

"Karena ketika mereka terlalu percaya diri menyerang..." Ia berhenti sejenak.

"Itulah saat yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa mereka telah memilih lawan yang salah."

Suasana ruang rapat yang semula tegang perlahan kembali stabil. Semua mata tertuju kepada Kenzo, menunggu keputusan sang CEO. Kenzo menatap Digo yang sejak tadi berdiri di samping layar presentasi.

"Digo,"

"Ya, Tuan."

"Mulai hari ini, ambil alih penanganan dampak transaksi kemarin."

Digo mengangguk mantap. "Baik, Tuan."

"Hubungi seluruh klien strategis. Jadwalkan pertemuan hari ini juga. Siapkan pernyataan resmi untuk media, dan..." Kenzo berhenti sejenak.

"Pastikan semua pihak yang berniat membatalkan kerja sama memahami bahwa kondisi keuangan De Luca Group tidak berubah sedikit pun."

"Siap, Tuan."

"Untuk perusahaan yang menantang kita dalam tender..." Kenzo menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Biarkan mereka ikut."

Beberapa direktur saling bertukar pandang.

"Kita akan memenangkan tender itu dengan cara yang sama seperti biasanya."

Digo tersenyum tipis. "Saya sudah mengerti."

Tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan pria itu. Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Kenzo, Digo berkali-kali berhasil menyelesaikan krisis perusahaan. Karena itulah, begitu nama Digo disebut sebagai penanggung jawab, ketegangan di wajah para direksi perlahan menghilang.

Mereka tahu, jika Kenzo sudah mengambil keputusan, berarti solusi sudah berada di depan mata. Kenzo kemudian berdiri dari kursinya. Tatapan tajamnya kembali menyapu seluruh peserta rapat.

"Ada satu hal lagi."

Semua orang kembali memusatkan perhatian.

"Saya ingin Divisi Humas menyiapkan konferensi pers secepatnya."

Kepala Divisi Humas segera mengangguk.

"Baik, Tuan."

"Pada konferensi pers itu..." Kenzo berhenti sejenak.

"Saya akan mengumumkan sesuatu bahwa saya..." Ia menarik napas pelan.

"Telah menikah dan punya anak."

Kalimat itu kembali membuat seluruh ruang rapat membeku. Mata para direksi membelalak. Beberapa orang bahkan refleks saling menoleh, seakan memastikan mereka tidak salah dengar.

"Menikah?"

"Tadi kayanya anaknya Mateo?"

Berita bahwa Kenzo memiliki seorang anak saja sudah cukup mengejutkan. Kini Ceo De Luca Group itu mengaku telah menikah. Kenzo menatap lurus ke depan, lalu melanjutkan dengan nada tenang.

"Dan wanita yang akan saya perkenalkan kepada publik sebagai istri saya, wanita itu adalah..."

Semua orang menahan napas. Tatapan mereka perlahan mengikuti arah pandang Kenzo. Lalu, mata Kenzo berhenti pada satu sosok yang duduk tenang di ujung meja rapat.

"Nona Tara..." panggilan itu membuat seluruh ruangan membeku, beberapa di antaranya langsung menoleh pada Tara yang kini ikut terkejut namanya disebut.

1
Teh Euis Tea
Kenzo udah suami istri msh aj ketus sm Tara, dari sekarang belajar lemah lembut sm ibunya anak2mu, ntar ga di kasih ehem ehem loh ken 🤭🤭🤭🤭🤭
Lisa Halik
semangat thor..gift menyusul
Lisa Halik
daddy kenzo😍😍😍😍
mimief
wkwkwkkw
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
dewi rofiqoh
Mungkin kenzo mau minta panggilan khusus dari kamu tara🤔🤔
Rudy satria
loh,ko bukannya di bab sebelumnya Tara dah di perkenalkan sebagai istri,tiba² bgt ganti topik😅😅
dewi: 🤣🤣🤣 iya kk
total 4 replies
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
jangan galak2 sama Tara ya kenzo
dyah EkaPratiwi
love sekebon Daddy sat set sekali
Esther
Kenzo bkn orang yg suka basa basi....satset langsung diumumkan pernikahannya dan nama istrinya👍👍
+52
dad.. anakmu tidak bisa dikondisikan mulutnya 😭
Mukeseh
hohoho gercep amat bsng 😂
Rokhyati Mamih
sat set apalagi kalau up nya banyak banyak 💪💪💪
neny
keren,,gk mau bertele tele ya zo,,god luck pokok nya mah
Rohmi Yatun
sangat gentleman sekali.. 👍
Ita rahmawati
jeng jeng pada kaget pasti 😂
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Al Fatih
waow.....,, sat set yaa Daddy ken🤭...
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅
Helen@Ellen@Len'z: yess....yess.................,.
total 2 replies
Ema Susanti
mana up lagi
Lisa Halik
🤣🤣jujurnya kenzo
Lisa Halik
mati kutu kamu kenzo🤣🤣🤣 bersabarlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!