Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Canggung : 16
“Diam, atau mau saya cium kamu sekarang juga, hem ...?” Yarash terbelalak, sama sekali tidak menyangka kalimat mesum tersebut keluar dari mulutnya sendiri.
Eheummm, dia berdehem demi menutupi kegugupannya dan tentu saja malu luar biasa.
“Maaf, saya keceplosan. Maksudnya tadi, hem ….” Yarash mengulum bibir, baru kali ini kesulitan mencari alasan.
Saniya memalingkan wajah melihat ke jendela, berucap pelan. “Saya ngerti, Mas.”
‘Mungkin saja dia teringat kenangan lama bersama mantan istri yang menjadi cinta pertamanya itu,’ hatinya bermonolog.
“Lebih baik kita langsung ke mal, biar gak kesorean pulang ke rumah.” Yarash mengalihkan obrolan, lalu membenarkan posisi duduk, bersiap menjalankan mobil.
Suasana di dalam mobil terasa canggung setelah kalimat spontanitas Yarash tadi. Mereka sama-sama terdiam, tak saling mencoba melirik apalagi memandang.
Mobil mewah membelah jalanan dengan kecepatan sedang, sang pengemudi sedikit kehilangan konsentrasi. Batinnya mencoba mencari cara demi mencairkan suasana masih terasa kikuk.
“Hem, Tatiana pulang sekolah jam berapa, Mas?” Saniya lebih dulu bertanya, tidak lagi memikirkan hal tadi, menganggap kalau suaminya masih terbayang-bayang kebersamaan dengan mantannya.
Yarash menjawab tanpa melihat wanita yang bertahan memperhatikan kendaraan di luar sana. “Pulang sekolah Tita langsung diantar ke tempat les oleh sopir kita, pukul setengah lima baru selesai, jadi tiba di rumah hampir jam setengah enam.”
“Setiap hari atau hanya beberapa hari saja, Mas?”
“Dari Senin sampai hari Jumat saja, selebihnya dia libur dan benar-benar tidak ada kegiatan les,” ungkap pria beranak dua yang hafal jadwal putrinya.
“Syukurlah. Kasihan dia kalau satu Minggu full belajar terus,” Saniya sendiri sangat bijaksana, tetap mementingkan kelonggaran disela kepadatan jadwal belajar.
“Saya juga ingin Tita menikmati masa remajanya,” ia jujur akan ini, dan tentang jam belajar putrinya juga bukan dari buah keegoisannya, semua sudah dibicarakan, disepakati Tatiana.
“Saniya, kartu keluarga kita sudah jadi. Besok saya antar kamu buat ganti status di KTP. Saya jemput sepulang jam sekolah usai, ya?” suaranya sarat akan harapan.
Sebenarnya Saniya mau menolak, tetapi sungkan. Dia juga merasa kalau Yarash tengah mencoba membuat mereka dekat. “Baik, Mas.”
Sudut bibir pria fokus menyetir, tertarik sedikit. “Kamu punya rekening bank, kan?”
Saniya menoleh ke samping kanan, tidak sampai menatap sisi wajah suaminya, tatapan tertuju pada lengan yang otot bisep menyembul dibalik kaos lengan pendek. “Ada, Mas, mau untuk apa?”
“Saya belum menjalankan kewajiban menafkahi kamu. Saniya ….” Wajahnya tertoleh ke samping kiri, lanjut berbicara dengan suara lirih. “Dua puluh juta sebulan apa cukup? Uang tersebut sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan pribadi kamu. Perihal pengeluaran lainnya, saya yang handle, atau kamu mau belajar mengelolanya?”
Saniya termangu, lalu alisnya mengernyit. “Kebanyakan, Mas. Aku sendiri sudah punya gaji meski gak banyak, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadiku. Dua juta saja, Mas.”
Terdengar suara tawa kecil. Yarash menggelengkan kepala dan kembali melihat ke depan karena lampu lalu lintas berubah kuning. “Dua juta dapat apa, Saniya? Terus, gajimu ya milikmu.”
“Bagiku uang segitu sudah banyak, Mas,” jawabnya jujur. Gajinya sebagai seorang guru inpassing atau bisa disebut juga telah tersertifikasi, termasuk besar karena ada tambahan menerima tunjangan setara gaji pokok. Perbulan bisa mencapai angka empat juta rupiah.
“Maaf, saya tidak sedang merendahkan gajimu, ataupun tenaga pendidik. Hanya saja, suamimu ini berkecukupan, apa salahnya memberi lebih, menyenangkan istri?” katanya sedikit merasa bersalah.
Kata kepemilikan — suamimu, terasa lain terdengar di telinga Saniya. “Terserah mas saja, terpenting ikhlas dalam memberi.”
“Lebih dari ikhlas. Saya percaya, membahagiakan istri tidak akan membuat miskin, malah sebaliknya,” sahutnya.
***
Menjelang sore, Saniya sampai di mal tidak sebesar pusat perbelanjaan di pusat kota, tetapi cukup ramai pengunjung dan deretan toko menjual berbagai macam barang kebutuhan masyarakat.
“Makan dulu, ya? Kamu juga belum ada makan siang, kan?” Yarash berdiri di sebelah istrinya.
“Jangan dipaksa cepat jalannya, saya sabar menyamai langkahmu. Santai saja, Saniya,” tegurnya lembut.
“Iya, Mas.” Saniya berjalan seperti biasa, sedikit canggung karena kedekatan mereka termasuk sangat cepat.
Yarash mengajak Saniya menikmati hidangan dari salah satu restoran telah memiliki nama.
“Kamu mau duduk di bagian dalam, atau pinggir?”
Saniya melirik meja persegi yang dilengkapi dua kursi saling berseberangan. ‘Bukankah kami bisa duduk saling berhadapan?’
“Di bagian ujung dekat dinding saja, Mas,” putusnya kemudian.
Yarash sedikit mundur agar Saniya lebih leluasa melangkah masuk ke sela meja dan kursi. Lalu dia mengangkat tangan, pertanda akan memesan makanan.
Di tempat lain, balita yang duduk di lantai sambil ngedot susu formula, mulai gelisah karena jarum jam sudah di angka 5, tetapi mengapa ayahnya belum sampai rumah?
“Papi kenapa gak pulang-pulang? Mau jadi bang Toyib dia?” gerutunya tidak sabaran seraya menggigit ujung dot.
“Sabar, mas Ardan,” Suci berniat menenangkan, jangan sampai si bungsu tantrum.
“Aku bukan Mas-mas, tapi Abang-abang!” suaranya mulai meninggi.
“Iya, bang Ardan. Mungkin papi kejebak macet, mobilnya dikepung oleh kendaraan lain,” perasaan sang pengasuh mulai tidak enak. Matanya sampai tidak berkedip memperhatikan jarum jam.
Ardan yang kenyang, mau sedikit bersabar, tetapi tidak lama. Kala jarum jam penunjuk menit sudah mencapai angka tiga, mulutnya pun langsung berkicau.
“Telepon Papi sana! Bilang bang Aldan mau ngomong!” titahnya pongah.
“Inget kata mami Saniya, harus bilang tolong dulu kalau mau minta bantuan bang, Ardan,” tegur pelan mbak Juraida. Dia dan bi Lilik ikut menemani Ardan bermain di ruang santai.
“Kan, Ibu tili gak ada. Buluan panggil Papi!” kesabarannya pun terkikis habis.
Suci saling pandang dengan kedua bibi, tentu mereka sungkan mau mengganggu sang tuan yang pergi bersama nyonya.
“Aku tu gak bisa sabal! Gak mau sabal! Malas sabal!” Ardan menjatuhkan diri di lantai, berguling-guling sambil menghentakkan kedua kaki.
“Hubungi saja, daripada ni bocah beneran tantrum, kita juga yang bakalan susah membujuknya,” ujar mbak Juraida.
“Mana bulung Lek Lele, mau aku telbangin ke angkasa!” Tiba-tiba dia bangkit, berlari menuju keluar rumah.
“Lek Lawi! Delekne manuk mu (sembunyikan burungmu)!” bi Lilik berteriak kencang, berbicara dengan bahasa tak dimengerti Ardan.
Sayangnya penjaga rumah tidak mendengar, sedang menyapu halaman depan.
Ardan terbirit-birit lari ke halaman samping, yang mana ada tiga sangkar dari besi berisi burung Kenari.
“Ardan, ini mbak Suci teleponin Papi! Jangan ganggu burungnya lek Lawi, Ardan!” Suci mendial nomor tuannya.
Namun larangan adalah perintah bagi balita sudah memegang gala kayu ringan.
“Ayo telbang!” Dia sampai berjinjit demi bisa menjolok bawah kandang dari bahan fiber.
“Astaga manukku!” Lek Lawi lari tunggang-langgang.
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...