Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Berdebar Tak Karuan
"Marco!" seru Elise dengan suara melengking yang seolah sanggup membuat burung-burung di taman mansion terbang berhamburan. "Apa kau melihat Zoey? Ke mana anak itu?"
Marco yang baru saja ingin menarik napas lega setelah ketegangan di lantai atas, langsung menegakkan punggungnya.
Apalagi saat melihat wajah Elise yang nampak begitu garang. Wanita itu terus memijat pelipisnya tanpa henti.
"Nona Zoey? Sejak sampai kemari, saya belum melihatnya, Nyonya," jawab Marco jujur. Ia memang belum sempat menyapa putri kecil Alexander itu karena sibuk mengurus drama istri kedua tuannya.
"Ya Tuhan, kemana lagi aku harus mencarinya? Kenapa dia senang sekali bersembunyi dan membuat kepalaku mau pecah!" Elise menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Belum selesai masalah Dominic yang membawa istri baru, sekarang ia harus kehilangan jejak cucu jeniusnya yang hobi main petak umpet di mansion seluas lapangan bola ini.
"Apa anda mau saya bantu mencari nona Zoey? Kebetulan saat datang kemari tadi, tuan Dom menyuruh saya membeli boneka beruang besar dan banyak cokelat kesukaannya," ucap Marco menawarkan solusi yang menurutnya brilian.
"Cokelat dan boneka?" Elise mendongak, matanya menyipit tajam.
Marco mengangguk mantap dengan bangga. "Ya, Nyonya. Karena sudah lama tidak kemari, tuan Dom ingin memberikan kejutan untuk—"
"Apa kau gila!" potong Elise cepat. "Kau mau membuat gigi cucuku ompong?! Kalau Alex tahu, dia bisa mengamuk! Setiap kali Dom kemari, dia selalu menyogok Zoey dengan cokelat agar anak itu mau memanggilnya paman keren! Terlalu banyak makan coklat itu tidak sehat, Marco!"
Marco refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya hari ini ia menghadapi ujian bertubi-tubi.
Baru saja menghadapi Keyla yang menangis, Clara yang mengamuk, dan sekarang nyonya Besar yang omelannya melebihi desing peluru.
"Maafkan saya, Nyonya. Tuan Dom yang memaksa saya membelinya. Katanya itu adalah senjata ampuh merayu bocah."
"Sudahlah! Jangan berikan cokelat itu pada Zoey sebelum dia makan nasi. Sekarang cepat temukan dia sebelum suamiku pulang! Jika kakeknya tahu cucu kesayangannya hilang saat dia kembali, mansion ini bisa rata dengan tanah karena kemarahannya!" perintah Elise tegas.
"Baik, Nyonya! Segera!" Marco buru-buru berbalik, lalu berlari menemui petugas keamanan untuk memantau titik koordinat Zoey melalui CCTV.
Sementara itu, di dalam kamar Dominic yang terkunci rapat...
"Jadi, Bibi Key bibi balu Zoey?" tanya Zoey dengan mata bulat yang berkedip lucu. Ia duduk bersila di atas karpet bulu, menatap Keyla yang juga duduk di depannya.
Keyla mengangguk, ia awalnya ragu mengatakan ini pada Zoey yang mungkin belum mengerti.
Namun, Keyla memutuskan untuk jujur pada bocah ini.
"Zoey cuka Bibi Key! Bibi Key baik, mau mainan cama Zoey. Ndak cepelti bibi galak." Zoey mengerucutkan bibirnya, tangannya memeluk lutut. "Bibi galak kalau Zoey ajak main ndak pelnah mau. Katanya Zoey belicik, nanti make-up bibi galak lucak."
Keyla tersenyum. Ia jelas tahu bibi galak yang dimaksud Zoey adalah Clara. Kakaknya itu memang selalu menganggap anak kecil sebagai pengganggu karier dan kecantikannya.
Clara mungkin akan lebih memilih menatap cermin selama berjam-jam daripada menemani keponakannya bermain balok kayu.
"Zoey mau jadi teman Bibi Key?" tanya Keyla lembut, hatinya merasa hangat. Kehadiran Zoey seolah menjadi obat bagi luka di hatinya yang baru saja disayat oleh makian Clara.
"Mau! Zoey mau banget!" Zoey berseru girang, lalu tiba-tiba menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Ssttt! Tapi Bibi jangan bilang-bilang kalau Zoey ada di cini, ya? Zoey cedang cembunyi dali monstel galak."
"Monster?" Keyla mengernyit.
"Hu'um. Monstelnya pakai baju melah, bibilnya melah, telus ada talingnya kalau malah-malah!" bisik Zoey dengan imajinasi jeniusnya.
Keyla tertawa kecil, tawa pertama yang tulus sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini. Ia mengusap kepala Zoey dengan penuh kasih sayang, merapikan kepangan rambutnya yang sedikit berantakan.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Dominic berdiri mematung. Ia memperhatikan interaksi itu dengan perasaan aneh yang bergejolak di dadanya.
Selama lima tahun, Clara tidak pernah bisa menaklukkan hati Zoey. Anak itu selalu lari ketakutan jika melihat Clara. Tapi kenapa dengan Keyla, yang baru dikenalnya beberapa jam, Zoey bisa begitu akrab dan manja?
"Ehem." Dominic berdehem sembari melangkah masuk. Di tangannya, ia membawa kotak obat.
"Tuan!" Keyla buru-buru berdiri dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, kembali ke mode pelayan yang penuh ketakutan.
"Ck! Sudah kukatakan berapa kali, berhenti memanggilku tuan. Kau istriku, bukan asistenku," ucap Dominic dingin. Ia mendekat, jemarinya yang kasar mengangkat dagu Keyla, memaksa gadis itu menatapnya. Memeriksa memar keunguan di pipi Keyla akibat tamparan Clara. "Duduklah. Aku obati."
"Tidak perlu, Tuan. Aku bisa sendiri," tolak Keyla.
"Jangan membantah. Duduk saja atau aku ikat kau di ranjang ini tanpa boleh pergi ke mana pun seharian!" ancam Dominic dengan suara rendah yang mengintimidasi.
Keyla akhirnya menurut dan duduk di tepi ranjang dengan kikuk.
Dominic mulai mengoleskan salep dengan sangat hati-hati, sebuah pemandangan yang sangat langka. Jika ayah atau ibunya dan ketiga kakaknya melihat, Dominic pasti akan diledek habis-habisan.
Zoey yang sejak tadi memperhatikan, mengerjapkan matanya. Ia menopang dagu dengan kedua tangan kecilnya.
"Paman Dom cedang main mafia-mafiaan ya? Kenapa Paman galak cama Bibi Key?" celetuk Zoey tiba-tiba.
Dominic memejamkan mata sekilas, ia baru sadar kalau masih ada keponakannya yang super jenius dan bermulut tajam di ruangan itu.
Ia berbalik menatap Zoey. "Zoey, bukankah kau sedang sembunyi? Kalau kau bicara terus, monsternya akan menemukanmu."
Zoey langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Oh iya! Zoey lupa! Paman jangan kasih tahu nenek ya kalau Zoey di cini!"
Dominic mendengus pelan dan hampir tersenyum. "Asal kau diam dan biarkan Paman mengobati bibi Key."
"Ciap!" seru Zoey lalu bersembunyi di balik selimut.
Keyla menatap Dominic dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria ini bisa sangat kejam, tapi di saat yang sama, ia bisa begitu lembut pada seorang anak kecil.
"Paman," bisik Zoey lagi, kali ini lebih pelan.
"Apa lagi Zoey?" sahut Dominic.
"Zoey cuma mau kacih tahu Paman, kalau bibi Key ndak punya taling. Jadi jangan digalak-galakin, ya? Nanti bibi Key cedih lagi," ucap Zoey. "Bibi Key cantik kan, Paman?"
Dominic langsung terdiam, tangannya yang mengoles salep berhenti sejenak di pipi Keyla. Matanya bertemu dengan mata sendu Keyla yang kini kembali berkaca-kaca.
"Ya, Paman tahu dia cantik," gumam Dominic hampir tak terdengar, membuat jantung Keyla berdebar tidak keruan.
Ini kali kedua Dominic memujinya cantik. Padahal, jauh dalam hati, Keyla tahu, jika dibandingkan dengan Clara, kecantikannya tidak ada apa-apanya.