Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Jarum jam di dinding apartemen pribadi Ester Alba menunjuk tepat pukul dua malam. Suasana di dalam ruangan sempit namun bersih itu terasa begitu kontras dengan kemewahan mansion keluarga Ashford tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya.
Tidak ada lampu gantung kristal yang berkilau mewah; yang ada hanyalah pendar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan dan cahaya biru pucat yang memantul dari layar ponsel di atas meja kecil.
Ester berdiri di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalanan kota New York yang basah oleh sisa embun malam.
Rambut cokelat bergelombangnya tergerai berantakan di atas bahu.
Di tangan kanannya, sebatang rokok mentol yang menyala tipis mengepulkan asap kelabu ke udara, sementara tangan kirinya menggenggam sebuah gelas kristal pendek berisi cairan whisky amber yang tinggal setengah.
BZZZZT! BZZZZT! BZZZZT!
Ponsel yang tergeletak di atas meja kembali berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan ritme yang agresif. Layar itu menyala terang, memajang nama satu orang yang paling ingin dihapus Ester dari muka bumi ini.
Kekasihnya. Pria brengsek Boston.
Ester menghela napas panjang, membiarkan asap rokok keluar dari celah bibirnya bersamaan dengan helaan lelah. Ia tidak langsung mengangkatnya. Ia membiarkan panggilan itu berdering hingga dua kali sebelum akhirnya dengan jemari lentiknya ia menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya tanpa sepatah kata sapaan.
"Kenapa lama sekali mengangkat teleponku, sialan?!" suara bariton yang berat dan bernada tinggi langsung menghardik dari seberang sambungan.
Kemarahan yang khas, penuh tekanan dan dominasi yang memuakkan.
"Kau pikir kau bisa mengabaikanku setelah seharian bekerja di rumah keluarga kaya itu, hah?!"
Ester menyesap whisky di tangannya, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya sebelum ia menjawab dengan nada datar yang dibuat-buat setenang mungkin. "Aku baru saja selesai mandi, Sayang. Ponselku tertinggal di atas meja. Ada apa?"
"Ada apa kau bilang?!" suara di seberang mendengus kasar, napasnya memburu di dekat mikrofon.
"Kau tahu aku merindukanmu! Tapi rasa rindu saja tidak cukup untuk pria sepertiku. Malam ini, aku ingin kau mengirimkan sesuatu padaku."
Alis Ester terangkat tipis.
Matanya menyipit menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. "Sesuatu? Apa maksudmu?"
"Kirimkan aku fotomu. Foto bagian atasmu... tanpa pakaian sehelai pun."
Permintaan gila itu meluncur begitu saja tanpa saringan.
Pria itu menuntut hal-hal yang makin lama makin di luar batas kewajaran.
Sejak awal hubungan beracun mereka dimulai di Boston, pria posesif itu memang kerap menuntut berbagai hal gila. Namun, dengan kecerdasan, ketenangan, dan taktik licik yang dimiliki Ester, ia selalu berhasil berkelit.
Sejak satu tahun berpacaran, Ester mati-matian menjaga benteng pertahanannya: tidak ada kontak fisik sama sekali, tidak ada pelukan intim, apalagi penyerahan mahkota kesucian.
Setiap kali pria itu mendesak untuk menyentuhnya lebih jauh, Ester selalu memasang alasan klise bahwa ia belum siap, ia takut, dan ia ingin menjaga kesucian itu hingga malam pertama pernikahan mereka benar-benar terlaksana di altar.
Dan ajaibnya, meskipun diiringi dengan segudang umpatan kasar, makian kotor, dan ancaman bahwa pria itu akan melampiaskan nafsunya pada wanita murahan lain di luar sana, pria itu selalu bisa diluluhkan dengan dalih kesucian pernikahan tersebut.
Pria itu berpikir bahwa Ester adalah gadis suci yang naif—gadis rumahan yang begitu berharga sehingga ia rela menunggu hingga hari pernikahan mereka tiba.
Bodoh, batin Ester mendengus sinis dalam hati.
Pria brengsek itu tidak tahu sama sekali bahwa kesucian yang diagung-agungkannya itu sudah hancur lebur di atas tempat tidur penthouse seorang Dominic Qiel Ashford semalam.
Tubuhnya sudah dijamah, dan dinodai sepenuhnya oleh pria lain. Dan pikiran itu justru menghadirkan kepuasan tersendiri yang menggelitik di dada Ester.
"Kenapa kau diam saja, hah?! Cepat lakukan apa yang kukatakan!" bentak pria itu dari seberang telepon, membuyarkan lamunan Ester.
"Kirimkan fotomu sekarang! Aku ingin melihat apa yang akan menjadi milikmu seutuhnya nanti!"
Ester menghembuskan napas pelan, menjauhkan rokok dari bibirnya, lalu meniupkan asap tipis ke udara malam. Suaranya terdengar sangat lembut, nyaris seperti bisikan menggoda yang sengaja dipasang untuk meredam kemarahan sang kekasih.
"Ayolah... jangan seperti anak kecil," ucap Ester dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kau tahu aku tidak mungkin mengirimkan foto seperti itu melalui ponsel. Rasanya memalukan dan tidak pantas. Alangkah baiknya hal-hal seperti itu dilihat secara langsung nanti... pada waktunya."
Di seberang sana, pria itu terdiam sejenak. Argumen klasik tentang 'nanti pada waktunya' itu kembali menjadi penangkal yang ampuh untuk meredakan amarah sang kekasih.
"Ck! Kau selalu saja punya alasan untuk menolak!" gerutu pria itu dengan nada kesal, meski intensitas bentakannya mulai menurun.
"Awas ya kalau sampai aku pulang ke New York nanti dan kau masih bersikap kaku seperti es batu! Akan kuajari kau arti kepatuhan yang sesungguhnya di atas ranjang!"
"Iya... terserah kau saja," jawab Ester datar, sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman murahan itu.
"Satu lagi!" tambah pria itu sebelum menutup telepon.
"Jangan berani-berani dekat dengan pria manapun di rumah keluarga Ashford itu. Aku tahu keluarga mereka punya banyak relasi bisnis dan pemuda tampan. Kalau sampai ada berita burung sampai ke telingaku bahwa kau melirik pria lain, ayahmu di rumah sakit akan merasakan akibatnya langsung dari anak buahku di Boston! Ingat itu baik-baik!"
Klik.
Sambungan diputus secara sepihak.
Ester menurunkan ponselnya dari telinga. Layar benda itu mati seketika, menyisakan kegelapan yang tenang di kamar studinya.
Tidak ada rasa takut di wajah Ester. Tidak ada air mata keputusasaan seperti gadis lemah pada umumnya. Yang ada hanyalah seulas senyum dingin penuh perhitungan yang terukir di bibir merah mudanya.
Ester kembali menyesap whisky di gelasnya, merasakan sensasi hangat yang meluncur ke dadanya. Ia berjalan pelan menuju sofa kecil di dekat meja, lalu mendudukannya dirinya dengan anggun. Kakinya disilangkan, dan ia kembali membawa batang rokok ke bibirnya, menghirup nikotin itu dalam-dalam.
Ia tidak perlu melawan pria brengsek itu secara langsung sekarang.
Melawan bajingan seperti itu dengan kekerasan hanya akan membahayakan nyawa ayahnya yang sedang sekarat di rumah sakit.
Yang harus dilakukan Ester bukanlah berteriak atau melarikan diri, melainkan menunggu waktu yang tepat.
Waktu di mana pelindung barunya—Dominic Qiel Ashford—sepenuhnya berada di dalam genggamannya.
Ester tahu betul watak Dominic.
Pria 32 tahun itu adalah tipe pria terhormat yang sangat menjunjung tinggi tanggung jawab dan perlindungan.
Begitu Dominic mengetahui betapa tersiksanya Ester di bawah teror dan ancaman pria dari Boston itu—terlebih setelah apa yang mereka lewati di atas ranjang—Dominic tidak akan tinggal diam.
Dominic akan menggunakan seluruh kekuasaan, pengaruh, dan uang dari keluarga Ashford untuk menghancurkan pria brengsek itu berkeping-keping tanpa ampun.
Ester menjentikkan abu rokoknya ke dalam asbak kecil di atas meja. Matanya berkilat tajam di balik temaram lampu tidur.
"Mainkan terus ancamanmu, bajingan..." bisik Ester seorang diri di dalam kamar yang sunyi, diiringi kepulan asap rokok yang perlahan memudar di udara.
"Nikmati sisa-sisa waktu sombongmu. Karena begitu kau menginjakkan kaki kembali ke New York... kau akan mendapati dirimu berhadapan langsung dengan monster yang jauh lebih mengerikan dari apa yang bisa kau bayangkan."
Ester meneguk sisa whisky di gelasnya hingga tandas. Permainan catur maut ini baru saja memasuki babak baru, dan ia tidak berniat untuk kalah.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏