Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02: Sebuah Pesan
____🌺
Ada sedikit kilatan rasa terkejut dan bersalah di matanya, tapi anehnya, itu menguap begitu cepat digantikan oleh helaan napas yang terdengar jengkel.
"Astaga, Nay. Maaf." Adrian mengusap wajahnya kasar, tampak sangat frustrasi. "Aku benar-benar lupa. Sumpah."
"Tidak apa-apa," jawab Nayara lirih.
Wanita itu memaksakan seulas senyuman pahit, meski matanya sudah mulai terasa panas. "Aku tahu, kamu sibuk banget hari ini."
"Bukan cuma sibuk, Nay! Kamu tahu sendiri kan, kerjaan di kantor lagi gila-gilaan?" Nada suara Adrian justru meninggi.
"Perusahaan lagi banyak masalah, rapat dari pagi sampai malam tidak berhenti. Aku seharian memutar otak, buat menutup target bulan ini sampai tidak sempat memikirkan tanggal dan perayaan macam-macam."
"Iya, Mas. Tidak apa-apa kok. Aku mengerti kondisinya."
"Terus kenapa muka kamu malah ditekuk, dan mau nangis begitu?" Adrian menatap mata Nayara yang sudah berkaca-kaca.
Alih-alih merasa bersalah dan memeluk istrinya, pria itu justru meluapkan rasa lelahnya.
"Aku capek, Nay. Pulang kerja kepalaku rasanya mau pecah, harus mengurus bawahan yang tidak becus, terus sampai rumah malah disambut sama drama kayak gini. Bisa tidak sih kamu mengerti posisi aku sesekali saja, Nay?"
"Aku mengerti, Mas! Aku tidak marah kamu telat, aku cuma sedih karena kamu lupa!"
"Kalau kamu mengerti, harusnya kamu tidak usah bikin acara makan-makan kayak gini, tanpa tanya dulu, ke aku!" potong Adrian tegas, sama sekali tidak mau kalah. "Kamu kan bisa mengirim pesan, atau menelepon mengingatkan aku dari siang, biar aku bisa atur jadwal!"
"Aku sudah menelepon kamu berkali-kali, dari sore jam lima, Mas! Tapi tidak pernah satu pun, kamu angkat. Masuk ke kotak suara terus," balas Nayara.
Dirinya mencoba mempertahankan suaranya agar tidak pecah menjadi tangisan.
"Ya, karena aku lagi rapat sama klien besar! Masa iya lagi rapat penting yang menentukan nasib perusahaan, aku harus angkat telepon cuma buat bahas peringatan pernikahan?"
Adrian berdiri dari kursinya, mendorong bangku itu ke belakang dengan kasar. "Sudah lah. Bikin pusing saja. Kuenya dimasukkan kulkas saja buat besok. Aku benar-benar capek mau istirahat."
Nayara terdiam, tak mampu membalas lagi karena tenggorokannya terasa tersumbat.
"Besok akhir pekan aku ganti. Kita makan di luar, restoran mana pun yang kamu mau, aku belikan hadiah apa pun yang kamu minta. Gampang, kan? Sekarang aku mau langsung mandi terus tidur."
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan istrinya, Adrian melangkah pergi begitu saja meninggalkan ruang makan menuju kamar mereka.
Ceklek!
Suara pintu kamar mandi yang ditutup cukup keras menjadi akhir dari pertengkaran sepihak itu.
Nayara berdiri membeku. Ia menatap piring-piring di atas meja dengan pandangan buram. Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia membuang napas berat, mencoba menelan gumpalan menyakitkan di tenggorokannya.
Dua tahun ia bertahan di rumah ini.
Mengorbankan impiannya membangun firma desain interior, menelan semua ucapan tajam dari ibu mertuanya, Marissa yang tak pernah merestuinya, hanya untuk berakhir menjadi perempuan yang bahkan tanggal pernikahannya pun tak diingat oleh suaminya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, ia justru disalahkan karena berusaha merayakannya.
Dengan gerakan lambat dan dada yang hampa, Nayara mulai membereskan meja makan.
Memasukkan satu per satu hidangan yang tak tersentuh itu ke dalam wadah plastik dan menyimpannya di lemari es.
Membuang sisa harapannya ke tempat sampah bersama dengan pita penghias meja yang sudah ia siapkan, secara susah payah sejak sore tadi.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam di dapur sendirian dalam diam, Nayara akhirnya mematikan lampu dan menyusul masuk ke kamar.
____🌺
Di dalam kamar mereka remang, hanya diterangi cahaya kuning dari lampu tidur di atas meja.
Adrian sudah tertidur lelap, memunggungi sisi ranjang tempat Nayara biasa berbaring. Napas pria itu terdengar sangat teratur, seolah pertengkaran kecil tadi sama sekali tidak membebani pikirannya. Ia tidur dengan tenang setelah melukai hati istrinya.
Nayara duduk perlahan di tepi ranjang. Ia menatap punggung suaminya dengan dada yang masih terasa sesak.
Apakah sisa hidupnya dalam pernikahan ini akan selalu sepi seperti ini? Apakah memang selalu atau harus ada satu pihak yang mengalah, dan menelan kekecewaan sendirian?
Baru saja ia hendak merebahkan diri dan menarik selimut, layar ponsel Adrian yang tergeletak sembarangan di atas meja sebelah kiri, tiba-tiba menyala terang.
Ponsel suaminya itu bergetar pelan, sebanyak dua kali, menyertai munculnya sebuah notifikasi di tengah malam yang sunyi.
Nayara awalnya sama sekali tidak peduli. Adrian memang sering mendapat pesan dari grup pekerjaan, atau email klien di jam-jam yang tidak wajar.
Ia sudah terlalu terbiasa dengan hal itu. Namun, sudut matanya tak sengaja menangkap sebuah nama pengirim yang tertera di layar ponsel suaminya sebelum layarnya kembali meredup.
Bukan nama Kevin si asisten yang sering menelepon malam-malam. Bukan pula nama rekan bisnis dari perusahaan saingan.
Hati Nayara mencelos tajam.
Tangannya yang sedikit gemetar tiba-tiba terulur dengan sendirinya, menyentuh layar ponsel Adrian yang kebetulan posisinya menghadap ke atas, sehingga notifikasi dari layar kunci itu kembali menyala dan terpampang dengan sangat jelas di depan matanya.
Pesan masuk itu berasal dari sebuah kontak bernama: Selena.
Aku merindukan malam kita yang terakhir, Sayang.
Napas Nayara seketika tercekat di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya.
Matanya membelalak lebar, tak percaya membaca deretan kata yang begitu eksplisit itu.
Tangannya mendadak terasa sedingin es, dan jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya menghantam tulang rusuknya dengan menyakitkan.
Ia menoleh perlahan ke arah suaminya yang masih tertidur pulas. Pria yang baru beberapa menit lalu, beralasan sibuk setengah mati dengan pekerjaannya hingga melupakan hari jadi pernikahan mereka. Pria yang tadi membentaknya habis-habisan karena merasa lelah mencari nafkah.
Sayang? Malam yang terakhir?
Dunia Nayara seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ruangan yang senyap itu tiba-tiba terasa berputar dan mencekik paru-parunya.
Pernikahan yang selama ini ia yakini sebagai satu-satunya tempat paling aman untuk pulang, malam ini runtuh dan hancur berkeping-keping tepat di depan matanya sendiri.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣