Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 07
Sebagai seorang istri yang tidak diberi kuasa mengelola keuangan keluarga, Arjanti hanya mendapatkan uang bulanan sebanyak 2 juta rupiah dari Herlan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri.
Sementara urusan rumah tangga dari kebutuhan dapur, bayar listrik, air, dan lainnya, dikelola Darti yang terkenal perhitungan. Pelit.
Jatah bulanan Janti masih dipotong bayar cicilan hutang kakak kandungnya sebanyak 1 juta rupiah, lalu setiap bulan dia mentransfer untuk adik bungsu 500 ribu rupiah, sisanya baru untuk diri sendiri.
Empat tahun tidak ada yang berubah, nominal tersebut tetap sama diberikan oleh Herlan.
Janti juga tidak dilibatkan dalam bisnis keluarga Doko, dia dilarang keras ikut campur.
Wanita lugu itu menerima dengan lapang dada. Tak protes, pun enggan meminta lebih. Dia bersyukur atas apa yang diberikan oleh suaminya.
“Bu, aku coba minta bantuan mbak Ramia dulu ya? Semoga saja dia mau minjemin uang untuk bayar biaya pesta pernikahannya dulu,” Janti tidak berniat meminta, tetapi pinjam.
Terdengar helaan napas panjang di ujung sana. Bu Ratri ragu kalau putri sulungnya mau mengulurkan tangan membantu hutang piutang itu. “Nanti kalau mbak mu sudah ngasih jawaban, kabari Ibu ya, Janti?”
“Iya, Bu,” jawabnya juga tidak yakin mendapatkan pertolongan itu mengingat kakak kandungnya tipe orang pelit meski ekonomi sudah lumayan mapan.
Beberapa menit kemudian, ibu dan anak tersebut menyudahi mengobrol lewat udara.
Tidak lagi mau mengulur waktu, Janti langsung menghubungi nomor ponsel kakaknya.
“Kenapa Janti? Kalau kamu nelpon cuma mau ngomongin perihal uang, Mbak malas meladeni,” tutur suara sedikit ketus diujung sana tanpa mau berbasa-basi dulu.
Belum apa-apa, si sulung sudah mengultimatum. Namun Janti tetap menyuarakan niatnya.
“Mbak, apa gak bisa kamu pinjemin uang untuk ngelunasi hutang pesta nikahanmu dulu?” meski respon kakaknya jauh dari kata ramah, dia tetap berbicara dengan suara menghormati.
“Uang terus yang ada di pikiranmu itu. Setiap kali menghubungi pasti gak jauh-jauh dari rupiah! Kamu kira aku ini gudang duit, yang tinggal metik?” hardiknya seraya mendengkus.
“Niatku mau minjem, Mbak, bukan minta. Ini juga karena kamu yang dulu ngotot mau pesta mewah, padahal Ibu sama Bapak sudah mengatakan gak sanggup menyediakan dana,” balasnya masih menjaga suara tidak meninggi.
Ramia membalas balik dengan kalimat lebih ketus. “Itu udah kewajiban orang tua. Masa aku yang sarjana akuntansi, suamiku PNS, disuruh menikah sederhana, sama saja mempermalukan diri sendiri. Lagian seharusnya kalian bangga, karena pesta mewah itu, derajat keluarga kita naik, gak dipandang miskin terus.”
“Aku bukan kamu yang cuma lulusan SMA, malu sama keluarga suamiku yang rata-rata berpendidikan, berprofesi sebagai tenaga pengajar maupun kesehatan. Maka dari itu, pesta mewah memang sudah sepatutnya diadakan biar aku gak direndahkan, dipandang sebelah mata,” sambungnya menyombongkan para ipar.
“Ya tapi ujung-ujungnya aku, ibu sama bapak yang pontang-panting nyari uang untuk mencicil hutang kalian. Kamu enak, habis pesta merampas amplop dari tamu undangan terus langsung lepas tangan pindah rumah. Kami?” lama-lama muak juga dirinya.
“Itu urusan kalian! Sudahlah, aku gak mau tau menahu soal hutang piutang itu. Mertuamu kan kaya, punya toko bangunan besar, masa uang segitu masih ditagih sampai lunas,” ia benar-benar enggan membantu.
“Namanya hutang ya wajib dibayar, Mbak. Kali ini saja, tolong bantu aku. Kasihan Ibu sama bapak kepikiran terus,” Janti menurunkan nada suaranya, benar-benar berharap ke sang kakak.
Namun sayang, Ramia bersikeras enggan mengulurkan tangan. “Uang dari mana? Setiap bulan gajiku sama mas Sardam pas-pasan. Kami bahkan sering kekurangan.”
“Bohong!” sanggah Janti mulai tersulut emosi. “Suamimu itu guru PNS, dan kamu sendiri bekerja di bagian keuangan pabrik besar. Tiap weekend selalu posting jalan-jalan, kulineran, shopping. Tolonglah tanggung jawabnya, Mbak!” ya, dia sering memantau media sosial kakaknya.
“Terus, semisal aku kasih pinjam ke kamu, gimana caranya kami bayar cicilan mobil, motor, rumah? Lain kali jangan menelpon kalau uang terus yang dibahas.” Ramia mematikan panggilan sepihak.
“Ya Tuhan.” Janti menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangan.
Terkadang dia juga lelah, ingin protes, tapi ke siapa? Sementara selama ini menanggung beban berat seorang diri, tidak ada tempat berbagi, bahkan untuk mendengarkan keluh kesahnya saja, Herlan terkesan acuh tak acuh.
Mau bercerita ke ibu dan bapak, yang ada membuat mereka cemas, kepikiran, dan takutnya jatuh sakit.
Orang tua Janti juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu mencicil hutang 500 ribu perbulan. Mereka tidak tinggal diam, meski tenaga sudah banyak berkurang karena faktor usia, namun tetap memaksakan diri untuk bekerja.
Tyo, si bungsu pun tidak lepas tangan meski masih seorang mahasiswa. Disela menimba ilmu, dia ikut berjuang keras memenuhi kebutuhan pribadinya agar tidak membebani orang tua serta Arjanti.
Bunyi notifikasi beruntun terdengar dari ponsel tergeletak di atas kasur.
Walaupun layar handphone bergaris bak halilintar membelah langit, namun beberapa foto yang baru saja masuk, masih terlihat jelas.
Heuuheuu … helaan napas panjang itu diiringi tangis dalam diam. Jemari Janti gemetaran memegang ponsel yang layarnya masih menyala.
Kendati menyakiti hati, tetap dia geser potret demi potret sepasang suami-istri tengah berpelukan dibawah selimut putih.
Herlan mencium bibir Saila, lalu foto mereka berendam di kolam renang private, dan terakhir — sang pria meremas buah dada istrinya seraya menatap menantang kamera.
Saila; Suami kita bahagia sekali setelah bercinta yang katanya baru pertama kali merasakan kepuasan sampai rasanya hampir gila.
Pesan dari Saila dibaca ulang oleh Arjanti, seolah dia ingin lebih dalam lagi menancapkan belati di hatinya.
He he he … hahaha — “Ini yang namanya adil? Pergi bulan madu gak berdiskusi dulu. Kalian disana asik bermesraan, sementara aku disini ngurusin wanita lumpuh yang mulutnya selalu menghina!”
Amarahnya meledak. Rasa tak terima, dan selama bertahun-tahun membiarkan harga diri diinjak-injak, kini Janti mulai memberontak. Dia bertahan karena meyakini memegang hati pria cinta pertamanya, namun semua terasa tak lagi sama.
Dia mendial nomor ponsel Herlan. Entah apa maunya, diri sendiri pun tidak dapat menebak, hanya mengikuti kata hati, dan amarah menggumpal dalam dada.
“Sayang, ada apa? Mas lagi sibuk meeting online sama karyawan yang barusan melapor ada masalah butuh penyelesaian segera,” ucap sebuah suara terdengar tidak stabil.
Euuh ahhh ....
Hustt!
Arjanti bukan tuli, pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Ia mendengar suara desahan Saila. Dan dapat membayangkan apa yang sedang berlangsung di sana.
“Aku butuh uang 20 juta, Mas. Sekarang!”
“Apa, uang? Untuk apa?” nada bicara Herlan langsung serius.
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti