NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Pura-Pura Suci di Depan Semua

Layar ponsel di ruang tengah rumah deret menyala sendiri berkali-kali dalam sepuluh menit terakhir, dan setiap bunyi notifikasi membuat udara sore di Vila Kenanga terasa makin pengap. Puspita duduk membelakangi layar itu dengan santai, sementara percakapan di grup keluarga Kusumah berubah dari ramai menjadi panas dalam hitungan detik. Tidak ada satu pun pesan yang ia baca balik.

"Besok aku berangkat ke Kota Wirasaba." Kalimat pendek yang dikirimnya lewat aplikasi pesan itu sudah cukup membuat siapa pun yang membacanya terhenyak di tempat duduk. Ia menutup ponsel, meletakkannya telungkup di meja kopi, lalu melanjutkan memasukkan dua set pakaian ke dalam koper kecil. Lebih sedikit baju berarti lebih cepat bergerak.

Tak lama kemudian, langkah Yusuf terdengar dari lobi. Asisten itu naik dengan wajah yang masih berusaha menyembunyikan keterkejutannya, membawa dokumen perjalanan dan tiket kereta cepat yang ia cetak setengah jam yang lalu, persis setelah pesan itu muncul di grup keluarga.

"Nona, kita berangkat satu jam lagi. Surat pengantar desa sudah diurus, tinggal Nona memutuskan akan menginap di mana." Yusuf meletakkan map di meja, matanya sesekali melirik koper yang hampir penuh. "Kalau perlu, aku pesankan penginapan kecil di pusat kota."

"Penginapan tidak perlu." Puspita menutup koper dengan tenang. "Aku ingin menginap di rumah warga."

Yusuf menahan pertanyaan berikutnya sejenak. "Kota Wirasaba itu di mana, Nona?"

"Kota kecil di pesisir selatan. Kampung halaman ibu." Puspita berdiri, memeriksa saku jaketnya satu per satu. Dompet, ponsel, dan selembar foto tua yang sudutnya sudah lembek. "Di sana ada seseorang yang harus kutemui."

Pintu teras dibuka dari luar, dan suara Retno masuk bersama angin sore. Ia datang membawa dua kardus suplemen, di belakangnya Rendra memikul kardus ketiga dengan wajah malas. Puspita tidak menoleh, tetapi Retno sudah menangkap nama yang baru saja diucapkan Yusuf dari balik lorong.

"Kota Wirasaba." Bibir Retno bergetar mengulang nama itu, dan warna wajahnya berubah drastis seketika. Ia meletakkan kardus di meja sembarangan, lalu melangkah mendekat. "Puspita, kau ke sana mengapa?"

Puspita menunduk sejenak. Ia menepuk tutup koper sekali, lalu berjalan melewati ibu kandungnya menuju tangga, seolah ruangan itu berisi udara kosong.

"Puspita." Retno mengejar dua langkah. "Wirasaba sudah lama tidak kau injak. Di sana tidak ada apa-apa lagi untukmu. Dengarkan dulu kataku."

"Biarkan dia pergi." Yusuf menutup pintu mobil di bawah dengan tenang, lalu kembali naik mengangkat koper. Sementara itu, para pelayan rumah deret sudah berdiri berjajar di teras dengan sikap hormat, memberi jalan bagi Puspita. Setelah pintu sedan menutup dan mobil menuruni jalan kompleks, pelayan yang sama berbalik pada Retno dan Rendra dengan sopan.

"Nyonya, Nona sudah berangkat. Kami mohon izin mengantar Nyonya dan Rendra keluar. Rumah deret ini akan dikunci mulai malam ini."

"Aku masih ingin menunggunya." Retno bersikeras.

"Maaf, Nyonya. Begitu perintah Nona Puspita."

\=\=\=\=

Sepanjang perjalanan pulang ke Kediaman Kusumah, Retno bergumam nama kota itu berulang-ulang di kursi belakang mobil keluarga, seolah sedang membaca mantra agar bencana bisa dibatalkan. "Kota Wirasaba... Kota Wirasaba... Kota Wirasaba..."

Rendra yang duduk di sebelahnya akhirnya tidak tahan juga. "Bu, sebenarnya tempat apa itu?"

Retno menggeleng tanpa menjawab. Air matanya jatuh begitu saja ke pangkuan, dan suaranya pecah saat bicara. "Dosa apa ini...? Anak itu seharusnya tidak pernah terlahir, Ren. Puspita tidak akan pernah memaafkanku. Dia tidak akan pernah mengenalku lagi seumur hidupnya."

Rendra menunduk. Sudut mulutnya terkatup rapat, dan dadanya terasa sesak tanpa tahu pasti alasannya. Ia hanya tahu nama itu, Wirasaba, membuat ibunya berubah menjadi orang asing yang menangis di tengah jalan.

\=\=\=\=

Sesampainya di Kediaman Kusumah, Retno masih terlihat kehilangan arah sampai suara Wibisono memecah kesunyian dari arah ruang kerja berlantai kayu. Ketua Grup Sedaya itu baru pulang dari rapat direksi, dasinya masih longgar di leher, dan alisnya berkerut begitu melihat wajah istrinya.

"Sudah bicara dengan Puspita?" tanya Wibisono. "Apakah dia bersedia pindah kembali ke Kediaman Kusumah?"

"Tidak." Retno menunduk. "Dia bahkan tidak mau menemuiku."

Wibisono menepuk meja dengan ujung jari. "Bagaimana cara kau mengurusnya selama ini? Anakmu sendiri tidak bisa kau ajari dengan baik, buat apa kau ada!"

Ingatan empat tahun lalu muncul kembali, dan kemarahan Wibisono kembali membara seperti bara yang baru ditiup. Retno hanya bisa menelan amarahnya sendiri bertahun-tahun lamanya, mengingat tuduhan yang terlanjur menempel pada Puspita di hadapan seluruh keluarga, tuduhan yang mereka pasang sendiri tanpa pernah mau mendengar penjelasan sedikit pun.

"Mengapa suaramu keras sekali?" Rendra melangkah masuk, menarik ibunya ke belakang tubuhnya. "Puspita itu anak Ibu, tapi bukan berarti bukan anak Ayah juga, kan?"

"Aku tidak mau punya anak yang berbuat seperti itu!" Wibisono menunjuk pintu.

"Lalu kenapa dulu Ayah membiarkannya pulang?" Rendra menyeringai dingin. "Kalau memang mau menjaga nama baik keluarga, sekalian saja pasang gerbang di depan rumah. Ayah mau jadi penjaga sekaligus pasang gerbang? Pura-pura suci di depan semua orang, tidak jijik apa?"

"Kau..." Wibisono gemetar. "Bagaimana bicara dengan ayahmu sendiri begini? Aku besarkan kau dari kecil, akhirnya kau jadi anak yang tidak tahu terima kasih!"

"Harus berterima kasih juga, ya?" Rendra tertawa pendek. "Oh tidak, harusnya aku berterima kasih pada Tuhan, lahirku sempurna dan lengkap, jadi Ayah bisa menafkahi aku selama bertahun-tahun!"

Satu tamparan mendarat di pipinya dengan bunyi yang keras dan bersih.

Rendra memegang pipinya. Matanya memerah, dan dalam sekejap tangannya sudah merampas guci keramik buatan tangan di rak pajangan, lalu melemparkannya ke arah ayahnya. Guci itu mendarat dan pecah berkeping-keping di kaki Wibisono, berserakan di atas lantai kayu yang mahal, seperti wajah keluarga yang retak jadi seribu bagian.

"Ren, kamu... tenang dulu!" Retno mencoba menahan anaknya, tetapi tubuh mudanya terlalu kuat untuk digenggam. Ia hanya sanggup berdiri di antara suami dan anaknya dengan tangan gemetar.

"Dasar anak durhaka!"

Wibisono menatap ruangan yang berantakan dengan wajah gelap, dan mulutnya tidak lupa menyalahkan Retno. "Semua ini gara-gara kamu yang terlalu memanjakannya sejak kecil!"

\=\=\=\=

Rendra tidak menjawab. Ia berbalik dan menaiki tangga dua langkah demi dua langkah, dadanya masih membara, sampai di lantai atas ia justru bertemu Galuh yang sedang menggandeng tangan putrinya hendak keluar. Kakak tirinya itu berhenti, menggendong anaknya, dan menatapnya tanpa mengubah wajah sedikit pun.

"Aku tidak punya kakak sepertimu." Rendra menyeringai lebih dulu.

"Wah, adik kecil sudah mulai berani-berani sejak Puspita pulang, ya." Galuh menyapanya dengan nada datar.

"Orang sepertimu kelak akan kena akibatnya juga." Rendra mengabaikan sindiran itu.

"Aku kena akibat?" Galuh seolah mendengar lelucon paling konyol di dunia. "Kalau ibumu perusak rumah tangga orang lain, kau kira kau sendiri tidak perlu kena akibat, Ren? Langit tidak seberpihak padamu."

"Paman, gendong~" Suara kecil dari pelukan Galuh memotong perdebatan itu. Nanda meregangkan tangan montoknya ke arah Rendra, mata bulatnya berbinar penuh harap.

Ekspresi Rendra membeku di tengah amarah. Ia berhenti berdebat, mengulurkan tangan, dan menggendong keponakannya itu pelan-pelan, seolah menggendong kaca yang bisa pecah kapan saja.

"Sudah, kamu duluan ke taman kanak-kanak." Galuh menurunkan anaknya dari pelukan.

"Iya, nanti Nanda kasih bintang yang guru berikan ke Paman, ya!" Nanda mengangkat-angkat tangannya.

"Kasih apa?" Galuh melirik putrinya dengan tidak puas. "Kau pada ayahmu sendiri saja belum sebaik itu, dan dia bukan pamannya. Ibu dan aku tidak punya adik kandung."

Rendra malas melayani sindiran kakak tirinya. Ia menyentuh kepala keponakannya sekali, lalu berbalik masuk kamarnya tanpa menoleh lagi.

Kediaman Kusumah memang menampung lebih dari satu keluarga besar di bawah satu atap yang sama, dan dua di antaranya adalah keluarga pejabat tinggi Grup Sedaya, seperti keluarga Galuh dan suaminya yang sama-sama duduk di jajaran eksekutif. Sehari-hari mereka sibuk dengan rapat dan perjalanan dinas, hampir tidak punya waktu untuk anak kecil yang baru mengenal dunia itu. Maka biasanya Rendralah yang menemani Nanda bermain di halaman, membacakan cerita sebelum tidur, dan mengantarnya menunggu bis sekolah di pagi hari. Tentu saja gadis kecil itu memanggilnya paman, dan untuk urusan yang satu itu, Rendra tidak pernah menolak.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
Azka
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
Azka
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
Azka: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!