Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Pertama Aulia ( Danish Adrian )
Aulia berjalan santai, setelah keluar ruang kesehatan. Tapi tak berapa lama, ia menghentikan langkahnya.
'CK... koperasi sebelah mana ya?' gumam Aulia dalam hati, ia menggigit bibir bawahnya. Saat hendak berbalik, untuk kembali bertanya pada bu Diah. Tiba-tiba Aulia di kejutkan, karena ada yang menepuk pelan pundaknya. Refleks Aulia, ia hendak membanting orang yang membuatnya kaget.
"TUNGGUUUUU" orang di belakangnya berteriak, seraya memegang pudak belakang Aulia. Karena melihat ancang-ancang Aulia, dia tau apa yang akan di lakukan gadis itu.
Aulia langsung berbalik, menatap dingin orang tersebut.
"M-maaf.. gue ga bermaksud bikin lo kaget, tapi liat lo kaya orang bingung. Gue bermaksud bantu lo, sorry" ucap orang tersebut, seraya memegang kedua telinganya.
"Lain kali jangan kaya gitu caranya" orang yang ternyata seorang laki-laki, menganggukkan kepalanya cepat.
"Lu pasti mau ke koperasi kan? Gue anter.... oh, gue Danish Adrian. Lu udah ketemu sama pak Hasan kan, penjaga sekolah di SMA ini?" Aulia mengangguk
"Beliau bokap gue, gue satu angkatan ma lu. Tapi gue udah kenal ma ni sekolah, karena udah sering kemari." ucap Danish lagi, Aulia mengerutkan dahi
"Maaf, bukan maksud gue ngerendahin lu ma bokap lu. Cuma, di sekolah ini... apa bokap lu mampu? Setau gue, uang per semesternya aja ga kaleng-kaleng." tanya Aulia, dengan wajah tak enak. Karena takut menyinggung Danish, lalu membuatnya minder.
"Alaaaahhh... santai aja, gue anak beasiswa. Selain karena ada kesempatan masuk, dengan alasan bokap gue udah kerja lama di sini. Tapi otak gue, ga bodo-bodo amat kok. Makanya gue bisa masuk ke sini, karena prestasi." jawab Danish tersenyum, senyuman yang menular pada Aulia.
Aulia bisa merasakan, bila pria di depannya memang ceria dan optimis.
"Gue boleh jadi temen lu kan?" tanya Danish, Aulia mengangguk
"Gue suka temenan sama orang, yang ga minder karena pekerjaan orang tuanya. Gue juga bisa liat, kalo lu terima pekerjaan bokap lu. Gue Qaisara Aulia, panggil aja Aulia atau Lia. Jangan Auuu ya, takutnya lu di kira siluman srigala." Danish tertawa
"Rupanya lu bisa becanda juga, padahal muka lo keliatan angker. Apalagi pas tadi lawan si keran air WC, gilaaa... BADAASSS!!" ucap Danish, mereka pun berbincang seraya berjalan ke arah koperasi.
.
"Lu ke sana, kasiin aja kertasnya. Gue tunggu di sini.." ucap Danish, Aulia mengangguk dan pergi meninggalkan Danish
"Permisi, saya mau ambil seragam" ucap Aulia, seraya menaruh kertas di atas etalase.
"Oh iya, sebentar ya. Saya ambil dulu.." Aulia mengangguk, ia melihat ke sekitar dan mengangguk.
'Bagus, sekolah mengelola koperasi lebih tertata. Barang-barangnya juga lengkap, ada mesin foto copy juga.' ucap Aulia dalam hati
"Ini seragamnya, sudah lengkap dengan atributnya ya." ucap pengelola koperasi, seraya menaruh beberapa setel seragam. Yang terbungkus rapi, di setiap macam seragam. Dan di masuk kan ke dalam paper bag, dengan ber logokan sekolah nya.
"Terima kasih bu" ucap Aulia, pengelola koperasi mengangguk, Aulia berbalik dan berjalan mendekati Danish.
"Ayo" ucap Aulia, Danish langsung berdiri
"Biar gue bawain" tawar Danish
"Ck, apa sih? Gue ga selemah itu ya." jawab Aulia
"Et dah, yang anggap lu lemah siapa? Kalo lu lemah, ga mungkin lu bisa lempar itu anak panah. Ke target sempurna, dengan tangan kosong." balas Danish, seraya mengambil paper bag dari tangan Aulia. Danish berjalan lebih dulu, Aulia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Habis dari sini, rencana lu mau kemana?" tanya Danish, mereka berjalan beriringan
"Balik sih, emang kenapa?" jawab Aulia, seraya bertanya
"Kagak, nanya doang gue mah. Gue liat lu baru di kota ini, kalo lu butuh tour guide. Gue bisa anter lu, kemana pun lu mau." ucap Danish
"Baik banget lo ma gue, jangan-jangan ada telor di balik mi kuah." balas Aulia, seraya menyipitkan kedua matanya
"Sett dah, lu mah su udzon orang nya. Gue tau lu orang baik, makanya gue mau temenan ma lu." ucap Danish
"Sok tau lo, tau dari mana gue baik?" ucap Aulia
"Bokap gue tadi cerita, kalo ada anak baru cewe. Yang sangat menghargai orang tua, tanpa melihat apa pekerjaannya. Bokap gue bilang, anak itu tau kerjaan bapak seorang penjaga sekolah. Tapi adab nya, menghormati orang tua membuat bapak kagum. Dia... mencium punggung tangan bapak, sudah sangat langka anak seperti itu. Gitu kata bokap gue.." jawab Danish
"Lu yakin itu gue?" tanya Aulia lagi
"Cuma lu, anak baru cewe yang cantik. Tapi tenang aja, gue ga ada niatan buat jadi pacar lo. Gue tulus mau temenan ma lu, karena gue yakin bakal bawa dampak baik juga buat gue." jawab Danish, Aulia pun tertawa
"Percaya gue, ya udah yuk balik." balas Aulia, mereka pun berjalan ke arah parkiran.
.
"AAAAAKKKKHHH" teriak Karen, seraya membuang apa pun yang ada di atas meja.
"GUE BENCI.... GUE BENCI!!!!!"
"KAREN, APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak sang ibu, yang masuk ke dalam kamarnya. Saat pulang arisan tadi, pembantunya bilang bila putrinya sedang mengamuk di kamar. Bahkan pembantu itu, menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Karen. Pelipisnya berdarah, karena Karena melempar gelas padanya.
"MOMMY, MOMMY KEMANA AJA? AKU NYARIIN MOMMY DARI TADI!!" teriak Karen tak kalah kencang
PLAK
"Jangan pernah berani berteriak pada mommy" ucap ibunya, Sarah. Karen akhirnya menelan kekesalannya, ia berbalik dan duduk di atas ranjangnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamarmu di buat berantakan? Dan kamu juga sudah melukai pelayan, kalau dia tewas bagaimana hah?!" ucap Sarah marah
"Kirim pulang mayat nya lah, bayar keluarganya. Biasanya juga kaya gitu, cerewet banget." jawab Karen, dengan wajah tanpa dosa
"BERHENTI MEMBUAT MASALAH, KAREN!!!" ucap Sarah penuh penekanan, putrinya tak pernah ada habisnya membuat masalah untuknya.
Tanpa Sarah sadari, putrinya tumbuh menjadi seperti itu. Karena dirinya, yang sudah salah mendidik. Mengajari Karen, menyelesaikan masalah dengan uang. Membungkam orang, dengan uang. Membunuh orang, bila tak suka. Dan orang tuanya, yang akan menyelesaikan masalah dengan UANG.
"Mommy, di sekolah sudah mulai penerimaan murid baru. Ada satu murid baru, yang sudah mempermalukan Karena di depan banyak orang. Bahkan dia juga, mau mengambil alih juara di bidang panahan. AKU BENCI DIA, MOMMY!! KELUARKAN DIA DARI SEKOLAH!!!" ucap Karen, tak memperdulikan ucapan sang mommy
"APA?! Punya nyali rupanya dia? Keluarga mana dia? Kamu tenang saja, mommy yang akan mnegeluarkan nya." jawab Sarah, ia pun keluar dari kamar Karen. Karen tersenyum menyeringai, ia yakin bila anak tadi tidak akan masuk saat penerimaan nanti.
"MAMPUS!! LO PASTI BAKAL DI BIKIN MALU NYOKAP GUE, WAKTU PENERIMAAN MURID BARU NANTI!!" ucap Karen, dengan senyuman jahat menyeringai.
Tanpa dia tau, sedang berurusan dengan siapa saat ini. Bukan Aulia yang akan keluar, melainkan dia yang akan mendapatkan masalah.
...****************...
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
lanjuttttt yg bykkkk🤭😄💪