Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Persiapan Ke kota
Setelah sarapan selesai, Isabella mulai membereskan meja makan. Piring-piring kosong dikumpulkan, sementara Martha membantu mencucinya.
Sean, Liam, dan Elora masih duduk di tempat mereka. Ketiganya tampak kenyang dan puas setelah menyantap masakan Isabella, Namun sebelum mereka kembali bermain, Isabella menghentikan mereka.
"Sean, Liam, Elora."
Ketiga anak itu langsung menoleh.
"Ada apa, Ibu?" tanya Liam.
Isabella mengeringkan tangannya dengan kain, lalu menatap mereka satu per satu.
"Hari ini Ibu akan pergi ke kota." Kata Isabella.
"Ke kota?" Sean langsung terlihat antusias.
"Iya. Ibu ingin menjual daging monster yang Ibu dapatkan kemarin."
Mendengar itu, mata Sean langsung berbinar.
"Aku ikut!"
"Tidak, kalian tetap di rumah bersama bibi Martha. Jawab Isabella tegas.
Mendengar jawaban ibunya, Sean hanya diam. Kepalanya menunduk.
"Tapi, Ibu—"
"Tidak boleh." Kata Isabella
Sean mengembungkan pipinya.
"Aku tidak akan merepotkan Ibu."
"Bukan itu masalahnya."
Isabella kemudian berjongkok di hadapan ketiga anaknya.
"Ibu belum tahu seperti apa perjalanan menuju kota, hutan di sekitar rumah kita sangat luas, dan Ibu juga belum menjelajahi seluruh bagiannya."
Ia berhenti sejenak.
"Yang lebih penting, hutan ini dipenuhi monster dan binatang buas."
Wajah ketiga anak itu sedikit berubah.
"Tapi Ibu akan baik-baik saja, kan?" tanya Elora dengan suara pelan.
Isabella tersenyum lembut
"Ibu akan berhati-hati." Kata Isabella sambil menggenggam tangan Elora. Kemudian ekspresinya berubah serius.
"Kalian bertiga juga harus berjanji pada Ibu."
"Janji apa Ibu?" tanya Sean.
"Jangan pernah keluar rumah selama Ibu pergi."
Ketiganya saling berpandangan.
"Dan jangan pergi jauh dari bibi Martha," lanjut Isabella.
Martha yang sedang menyusun piring langsung menoleh.
"Tenang saja, Nyonya. Saya akan menjaga mereka." Sahut Martha.
Isabella mengangguk.
"Kalau ada sesuatu yang aneh, segera masuk ke rumah. Jangan mencoba memeriksa apa pun." Kata Isabella, memperingatkan mereka. Karena hutan terlalu berbahaya, apalagi untuk mereka yang tidak memiliki kekuatan apapun.
Sean mengangguk dengan wajah sedikit kecewa.
"Kami mengerti Ibu..."
Isabella mengusap kepalanya.
"Sean."
"Hm?"
"Ibu tahu kamu ingin ikut, tapi Ibu tidak mau mengambil risiko." Kata Isabella dengan senyum hangatnya.
Sean menatap Isabella beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk menyetujui perkataan sang ibu.
"Baik, aku akan menunggu Ibu di rumah." Kata Sean akhirnya.
"Anak pintar." Puji Isabella sambil mengusap kepala Sean.
Isabella kemudian berdiri, namun saat hendak mengambil tasnya, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah jendela.
Di balik jendela itu terbentang hutan yang sangat luas. Pepohonan tinggi menjulang, begitu rapat hingga sinar matahari sulit menembusnya. Dari kejauhan terkadang terdengar suara raungan binatang yang tidak pernah Isabella dengar sebelumnya. Sebenarnya ada satu hal yang sejak beberapa hari terakhir membuat Isabella merasa aneh. Bukankah hutan ini dipenuhi monster dan binatang buas, lalu kenapa rumah mereka selalu aman? Tidak pernah ada satupun monster yang mendekati rumah mereka, tidak pernah ada binatang buas yang berkeliaran di sekitar halaman,
bahkan Isabella beberapa kali menemukan jejak monster di sekitar hutan, tetapi tidak pernah menemukan satu pun jejak yang benar-benar mendekati rumah mereka, seolah-olah ada sesuatu yang melindungi tempat ini.
Isabella menyipitkan matanya.
"Perisai?"
Ia mengucapkannya begitu pelan sampai tidak ada yang mendengar. Ia kemudian teringat beberapa kejadian aneh, pernah suatu malam Isabella mendengar suara monster meraung dari kejauhan. Suaranya begitu keras hingga membuat tanah seperti bergetar. Namun ketika monster itu mendekati rumah, suara tersebut tiba-tiba menghilang. Isabella tidak mendengar apa-apa lagi, entah langkah kaki ataupun raungan monster itu.
Monster-monster itu seakan berhenti di jarak yang cukup jauh dari rumah mereka, Isabella tidak tahu apa penyebabnya. Apakah rumah ini memiliki semacam sihir pelindung? Atau mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar yang menjaga tempat ini? Ia belum menemukan jawabannya.
"Entahlah..."
Isabella menghela napas, untuk sekarang dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut.
Dia harus segera pergi ke kota, daging monster yang didapatkannya kemarin tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Karena jika di biarkan terlalu lama, daging monster itu akan membusuk dan pada akhirnya tidak bisa di jual lagi. Sedangkan mereka sangat membutuhkan uang untuk saat ini, terlalu banyak keperluan yang harus Isabella beli.
Isabella lalu mengambil tasnya.
"Martha." Panggil Isabella.
"Ya, Nyonya?" Martha datang menghampiri Isabella.
"Selama aku pergi, jangan biarkan mereka keluar." Perintah Isabella sambil menatap ketiga anaknya.
"Baik." Kata Martha.
"Kalau terjadi sesuatu, utamakan keselamatan kalian. Jangan membuka pintu untuk orang asing." Nasehat Isabella, karena dia akan pergi. Jadi tidak ada yang akan melindungi mereka.
Martha mengangguk tegas.
"Saya mengerti."
Isabella kemudian menghampiri ketiga anaknya.
"Sean, Liam, Elora."
"Iya, Ibu."
"Kalian harus saling menjaga satu sama lain."
Ketiganya mengangguk, Isabella lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu, Ibu pergi dulu." Pamit Isabella pada ketiga anaknya.
Sean berdiri.
"Hati-hati, Ibu." Kata Sean sambil melambaikan tangannya.
Liam ikut berkata, "Jangan pulang terlalu malam ibu."
Elora menggenggam ujung pakaian Isabella.
"Ibu harus cepat pulang."
Isabella terdiam sesaat, Kemudian ia membungkuk dan mengusap kepala Elora.
"Tentu."
Ia menatap ketiga anaknya.
"Ibu pasti akan cepat pulang."
Setelah itu Isabella membuka pintu, namun tepat ketika kakinya hendak melangkah keluar, ia tiba-tiba berhenti. Matanya menatap tanah di depan rumah, ada sesuatu yang aneh, di sana terlihat garis tipis seperti bekas lingkaran yang mengelilingi rumah.
Isabella berjongkok dan menyentuh tanah tersebut. Tidak ada apa-apa, tapi ketika ia mencoba mengulurkan tangannya sedikit lebih jauh. Udara di depannya tiba-tiba bergetar, getarannya memang sangat samar. Bahkan hampir tidak terlihat, Isabella langsung menarik tangannya.
"Apa...?"
Ia menatap tangannya sendiri, Kemudian menatap hutan. Kini Isabella akhirnya menyadari bahwa mungkin selama ini bukan keberuntungan yang membuat rumah mereka aman. Mungkin memang ada sesuatu yang melindungi mereka dan jika benar demikian, lalu siapa yang memasang perlindungan itu? Dan apa alasannya? Isabella berdiri perlahan.
"Sepertinya ada banyak hal yang belum kuketahui tentang tempat ini."
Ia menatap rumahnya sekali lagi, lalu berjalan meninggalkan halaman, menuju jalan yang mengarah ke kota.
Tanpa Isabella sadari, begitu tubuhnya melewati batas perlindungan rumah. Sebuah cahaya tipis berwarna keemasan muncul sesaat di bawah tanah, lalu menghilang.
Sedangkan jauh di dalam hutan, seekor monster yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti. Kepalanya terangkat, hidungnya bergerak-gerak seolah mencium sesuatu. Tatapannya kemudian mengarah ke jalan yang baru saja dilewati Isabella.
Monster itu mengeluarkan suara geraman rendah.
Lalu mulai bergerak, mengikuti jejak Isabella.
Sementara itu, Isabella terus berjalan tanpa menyadari bahwa perjalanan menuju kota mungkin akan jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Bersambung