NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:65.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Ampun, Mayor!

Ita menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya membelalak hampir melompat keluar mendengarkan kalimat kasar meluncur mulus dari bibir sahabatnya.

Yudhana membeku di tempat; baret yang ia pegang hampir terlepas dari genggamannya saat kalimat barbar itu meluncur mulus dari bibir wanita yang biasanya bernapas pun terengah-engah di depannya.

Wajah tegas Mayor itu memerah padat dari leher hingga pelipis. Seumur hidupnya—baik di markas militer maupun dalam lingkungan keluarga besar Opa Gema—tidak pernah ada satu orang pun yang berani menyela bicaranya dengan nada sesantai dan sekasar itu, apalagi menyebutnya dengan sebutan Om dan Lu-Gue.

"Vina! Jaga bicara kamu!" tekan Yudhana, nada suaranya melengking kaku, mencoba merebut kembali wibawanya yang runtuh berantakan di lantai kamar inap. "Saya ini suami kamu! Perwira menengah di kesatuan! Kamu tidak punya sopan santun sama sekali berbicara begitu pada suami sendiri?!"

Vina tertawa keras—sebuah tawa konyol yang mengejek tepat di depan muka sang Mayor.

"Suami? Ya elah, Om ... diulang-ulang terus kayak kaset rusak!" balasan Vina menohok, jemarinya mengibaskan udara seolah mengusir lalat yang mengganggu. "Bahkan kalaupun di kertas lecek itu nama kita ditulis berjajar, emang gue peduli? Gue kagak ingat pernah ijab kabul sama Om-om berkumis kaku modelan kayak Om!"

Yudhana menyentak napasnya kasar, dadanya naik turun memburu. "Vina!"

"Nggak usah teriak-teriak, Om! Ini rumah sakit, bukan lapangan apel!" semprot Vina balik, matanya mendelik galak tanpa rasa takut sedikit pun. "Lagian Om liat dong muka Om di kaca! Muka kenceng kayak papan pengumuman, kumis tipis gaya zaman purba, kelakuan minus suka bentak cewek. Selera gue itu cowok anak band yang ramah, bukan Om-om kaku berseragam yang hidupnya serba kaku begini!"

Pukulan ucapan itu menghantam harga diri Yudhana dengan sangat telak. Pria yang biasanya dipuja oleh wanita-wanita sosialita di lingkungan dinasnya, pria yang selalu diagung-agungkan Tanti sebagai sosok idaman ... kini ditelanjangi dan dihina habis-habisan oleh istrinya sendiri sebagai 'Om-om berkumis kelakuan minus'.

Ita di belakang Yudhana berusaha setengah mati menahan tawa yang hampir meledak dari tenggorokannya, meski lututnya masih agak bergetar melihat nyali barbar Vina.

"Kamu ...." Yudhana menunjuk Vina dengan jari telunjuknya yang gemetar oleh amarah yang meluap. "Kamu benar-benar sudah tidak punya tata krama, Vina! Ke mana hilangnya sifat penurut kamu selama ini?!"

"Hilang ditelan aspal waktu gue ketabrak kemarin!" jawab Vina enteng tanpa beban sedikit pun. Ia membetulkan letak selimutnya, lalu menatap Yudhana dengan tatapan bosan. "Dengar ya, Om Tentara. Katanya tadi Om bawa surat-surat kan? Mana draf cerainya? Siniin!"

Yudhana mengerutkan dahinya kaku, tertegun oleh perubahan arah pembicaraan yang mendadak. "Apa?"

"Surat cerai, Om! Surat pisah!" Vina mengulurkan tangan kanannya yang tidak terpasang infus, menggerakkan jemarinya meminta. "Katanya Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Sini gue tanda tangani sekarang juga! Biar Om bebas, gue juga bebas kagak perlu liat muka kaku Om tiap hari!"

Ruangan itu seketika menjadi hening kembali.

Yudhana menatap telapak tangan Vina yang terulur di udara. Amplop cokelat berisi draf kesepakatan pisah yang tadi sempat ia lempar ke atas selimut kini tergeletak di samping sudut kasur. Draf yang dibuatnya dengan asumsi Vina akan menangis mengemis memohon ampun agar tidak diceraikan ... kini justru diminta dengan sangat antusias dan gembira oleh gadis itu sendiri.

Ada desir aneh yang mendadak menyengat dada Yudhana—sebuah rasa tidak terima yang janggal dan asing. Kenapa justru Vina yang terlihat sangat tidak sabar untuk lepas darinya? Kenapa tidak ada raut penderitaan sedikit pun di wajah wanita ini?

"Kenapa diam, Om?" cibir Vina, menarik kembali tangannya lalu merapikan rambut hitamnya yang terurai di bahu. "Tadi gaya marung-marung serasa paling garang se-kota. Begitu diminta tanda tangan malah bengong kayak patung Mampang. Om yang mau cerai atau cuma gertak sambel doang?"

"Saya ... saya tidak membawa berkas resminya hari ini," alibi Yudhana tergagap tipis, menyembunyikan kepanikan harga dirinya di balik wajah kaku yang dipaksakan. "Pengajuan perceraian perwira butuh proses dinas dan izin atasan. Tidak bisa sembarangan tanda tangan di kamar rumah sakit!"

Vina memutar bola matanya malas, menyandarkan kepalanya kembali ke bantal. "Dih, ribet amat hidup lu, Om. Yaudah, begitu berkasnya jadi, bawa ke sini. Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu."

Vina kemudian menoleh ke arah Ita yang masih berdiri mematung. "Ta, tolong usir Om ini keluar dong. Gue mau tidur lagi, pusing pala gue mendadak liat seragam kaku sama bau minyak rambutnya yang menyengat begini."

Ita langsung melangkah maju dengan percaya diri melimpah, mengangkat dadanya tegap menghadap sang Mayor. "Anda dengar sendiri kan, Mayor Yudhana? Pasien butuh istirahat. Silakan keluar dari kamar ini sebelum saya panggil perawat jaga!"

Yudhana berdiri kaku di tengah ruangan selama beberapa detik. Manik matanya yang pekat menatap Vina yang kini sudah memejamkan mata dengan tenang, membelakanginya seolah keberadaan sang Mayor tak lebih penting dari sekadar seonggok sampah di pinggir jalan.

Rasa hangat terbakar merayap naik ke wajah Yudhana. Dengan rahang yang mengeras hingga otot pautnya menegang keras, pria itu memutar tubuhnya kasar, membalikkan badan dan melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

bersambung...

1
Akasia Rembulan
semangat mom.. lanjut terus ❤️❤️❤️
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!