Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat 2
“Bagaimana kalau kita melakukan percobaan kecil?" kata Chloe tiba-tiba dengan mata berbinar.
"Percobaan apa?"
Chloe tersenyum misterius. "Kau tahu, aku sudah membaca banyak novel roman dan menonton banyak drama romantis, thriller, mafia, dan banyak lagi. Aku punya beberapa ide tentang bagaimana membuat pria tergila-gila padamu tanpa harus ... kau tahu ... melakukannya."
Ophelia mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Pertama, kau harus mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Bukan secara langsung, tapi melalui gerakan-gerakan kecil. Sentuhan ringan saat bicara. Menatap matanya sedikit lebih lama dari biasanya. Tersenyum padanya dengan cara yang manis."
Ophelia menatap Chloe. “Aku sudah melakukannya.”
"Owh, begitu ya. Baiklah. Coba yang kedua, kau harus mulai menunjukkan sisi femininmu. Kenakan pakaian yang sedikit lebih ... menarik. Bukan yang vulgar, tapi yang membuatnya ingin melihatmu lebih lama."
"Aku sudah melakukannya juga,” sahut Ophelia.
Chloe mengernyit. “Ck! Oke, ini saran ketiga. Ajak dia bicara tentang hal-hal yang tidak biasa. Cari tahu apa yang dia sukai, apa yang dia takuti, apa yang membuatnya tertawa. Buat dia merasa bahwa kau benar-benar peduli dengannya sebagai pribadi, bukan hanya karena kau terpaksa menikah dengannya."
Ophelia terdiam sejenak. “Chloe, aku sudah melakukan semuanya. Kecuali bercinta. Itu saja masalahku sekarang.”
"Ya Tuhan … kalau begitu, kau harus melakukannya. Bercinta dengannya! Masa aku harus mengajarimu? Kau pasti tahu alurnya, kan?”
"Chloe! Aku belum bisa melakukan itu!"
"Mengapa tidak? Dia suamimu sendiri. Itu hal yang wajar dilakukan di antara suami istri. Apalagi jika kau benar-benar menginginkannya. Jika kau sudah melakukan hal-hal yang kusebutkan tadi, itu artinya kau sudah menginginkannya juga. Lakukan, Pheli. Lakukan!”
Ophelia membelelak.
"Dia bisa bosan menunggumu dan mencari wanita lain. Dia berlimpah harta, berkuasa, dan hot. Siapa yang tak menginginkannya?”
Ophelia menurunkan tangannya. "Wanita lain?"
Chloe mengangkat bahu. "Dia seorang mafia yang tampan dan kaya. Aku yakin banyak wanita yang menginginkannya. Kau harus mengamankan posisimu sebelum terlambat. Meskipun dia memilihmu sejak awal, tapi hati orang mudah berubah. Kau harus mengikatnya terlebih dulu meskipun kalian sudah menikah dan kontrakmu seumur hidup.”
Ophelia merenung. Ada kebenaran dalam kata-kata Chloe. Selama menikah, Ophelia memang belum pernah melihat Bleiz bersama wanita lain. Tapi itu bukan berarti tidak ada yang mengincarnya.
"Aku akan memikirkannya," kata Ophelia akhirnya.
"Jangan terlalu lama berpikir, Pheli. Kesempatan tidak datang dua kali." Chloe menepuk bahu saudaranya. "Sekarang, bagaimana kalau kau ceritakan lebih banyak tentang dia? Bagaimana hari-harimu bersamanya?"
Ophelia tersenyum kecil. Dia mulai bercerita tentang hari-hari di kastil mewah itu bersama Bleiz.
"Dia sangat perhatian," kata Ophelia dengan suara lembut. "Terkadang aku merasa seperti aku dimanja seperti seorang putri."
"Dan kau masih ragu?" Chloe tertawa pelan. "Pheli, kau benar-benar buta. Pria itu jelas tergila-gila padamu. Yang dilakukannya padamu itu sangat ... romantis, sebenarnya. Seperti di film-film."
Ophelia terdiam.
“Kurasa dia benar-benar sedang jatuh cinta tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya." Chloe tersenyum. "Kau tahu, mafia juga manusia. Mereka juga bisa jatuh cinta."
Ophelia tertawa kecil. "Kau berbicara seolah-olah kau ahli dalam hal ini."
"Aku membaca banyak novel, Pheli. Dan dramaku sudah ribuan jam. Percayalah, aku tahu sedikit tentang cinta." Chloe mengedipkan mata. "Sekarang, bagaimana kalau kita kembali ke ruang tamu? Ibumu mungkin sudah menyelesaikan masakannya."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAAA
😭😭😭😭
kasihan phelia,sudah di titik kesabaran yg sudah habis..
biar bleiz merasa kehilangan...
😁😁