"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 | SKANDAL DI TANAH PERANTAUAN Sudah tiga hari berlalu
Selama kurun waktu tersebut, Aleeza Wira tanpa sadar terus menghitung hari kepergian Austin Vanderbilt ke Vietnam. Tidak ada lagi teror di jam tiga pagi, tidak ada lagi helikopter yang membawanya terbang secara impulsif ke Paris, dan tidak ada pula tatapan tajam yang mengintimidasi. Aleeza seharusnya merasa tenang. Namun mengapa, dadanya justru terasa kosong dan hampa?
Di ruang redaksi Socialite Media, Aleeza tengah sibuk di depan layar komputer, merampungkan suntingan video berita sore
.
"Berita untuk nanti sore sudah kau selesaikan, Aleeza?" sapa Mr. James, atasannya, yang mendadak muncul di samping meja.
"Sebentar lagi selesai, Mr. James," jawab Aleeza cepat.
Mr. James mengangguk, lalu melirik arloji di pergelangannya. "Kabari aku jika itu sudah siap. Dan jangan memforsir dirimu terlalu keras."
Perubahan rutinitas ini terjadi sejak dua hari lalu. Alih-alih meliput gosip selebritas papan atas seperti biasa, Aleeza kini dipindahkan ke bagian penyuntingan berita umum. Meskipun melelahkan, kesibukan ini setidaknya berhasil mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang sang billionaire Spanyol.
Begitu jam menunjukkan pukul lima sore dan siaran berita selesai, Aleeza merapikan meja kerjanya untuk bersiap pulang.
"Sudah mau pulang, Aleeza?" Mr. James kembali mendekat, lalu menyodorkan sekotak cokelat berbungkus emas dengan senyuman lebar. "Untukmu karena kau sudah bekerja dengan sangat baik minggu ini."
Aleeza menerima cokelat itu dengan senyum kaku. Begitu Mr. James berlalu, Aleeza membuka kotak tersebut dan mendapati isi cokelatnya berbentuk hati. Oh, Demi Tuhan," batin Aleeza bergidik ngeri. Atasan tuanya itu jelas-jelas sedang mencoba mendekatinya sebuah prospek mengerikan yang membuat Aleeza ingin segera kabur.
Di dalam taksi dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan bersama Clarissa, Aleeza menceritakan insiden cokelat hati dari Mr. James dengan ekspresi jijik bercampur geli.
"Wah, gawat! Sebentar lagi lamaran kerja bisa berubah menjadi lamaran nikah, Aleeza!" tawa Clarissa pecah di dalam taksi. "Tapi setidaknya, pria tua itu tidak semengerikan ancaman maut dari Austin Vanderbilt, kan?"
Mendengar nama itu disebut, tawa di bibir Aleeza mendadak lenyap.
Ia kembali teringat pada hari pertama pertemuannya dengan Austin—pria arogan yang mengurungnya, menciumnya secara paksa, dan menyebutnya sebagai The bitch from Indonesia. Dulu, kenangan itu terasa seperti mimpi buruk. Namun kini, mengapa kenangan itu justru mendatangkan sengatan rindu yang aneh di hatinya?
Tidak! Aku sudah memutuskan untuk setia pada Julian, batin Aleeza keras, menepuk pipinya sendiri untuk menyadarkan diri. Julian adalah pria yang terluka dan membutuhkan cintaku. Sedangkan Austin dia hanya mempermainkanku sebagai bagian dari dendam masa lalunya.
"Ngomong-ngomong soal Austin..." ucap
Clarissa tiba-tiba, memecah lamunan Aleeza.
"Aku melihat beritanya di situs gosip online tadi pagi. Dia tertangkap kamera sedang keluar dari sebuah bar mewah di Vietnam pada pukul dua Pagi bersama seorang wanita."
DEG!
Dada Aleeza mendadak terasa dihujam ribuan jarum.
"Dasar womanizer sialan!" gerutu Clarissa menggelengkan kepala. "Baru beberapa hari yang lalu dia sibuk mengatasi ledakan pabrik, sekarang sudah asyik bermesraan di bar. Orang kaya memang bebas ya!"
Aleeza membuang pandangannya ke arah jendela taksi, menelan mentah-mentah rasa sakit yang tiba-tiba merayap di dadanya. Jadi, pria itu berkeliaran dengan wanita lain di Vietnam. sementara aku di sini tersiksa merindukannya?
Brak! Sialan kau, El Oso! batin Aleeza membara dalam amarah dan cemburu.
Tiba-tiba, suara getaran ponsel di dalam tas tangan Aleeza berdering nyaring.
Aleeza menunduk, merogoh ponselnya, dan melihat nama yang tertera di layar:
[BARD/BASTARD CALLING...]
Aleeza mendengus sinis. Hah! Mau apa lagi dia setelah tiga hari menghilang dan bersenang-senang dengan wanita lain di Vietnam?!
Tanpa berpikir dua kali, dengan tangan bergetar menahan amarah, Aleeza langsung menggeser ikon merah untuk menolak panggilan dari Austin. Ia bahkan langsung memasukkan ponselnya ke dalam mode senyap di dalam tas agar tidak terganggu lagi.
Ini harus berakhir, sumpah Aleeza dalam hati dengan air mata yang hampir menetes di sudut matanya. Apa pun yang menyangkut seorang Austin Vanderbilt harus segera berakhir di sini!
▪️▪️▪️
.
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!