Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik Resmi
Ayyana tetap duduk di kursi penumpang, mematung dengan pandangan lurus menembus kaca depan SUV.
Kata-kata Chester baru saja terlontar seperti peluru dingin yang menembus kabin, meninggalkan gema nama "Haikal" yang menggantung kaku di udara.
Di luar, Chester berdiri di dekat tangki bensin. Pria itu memunggungi mobil, memasukkan dispenser bahan bakar ke dalam tangki dengan gerakan yang sangat mekanis.
Punggung tegap berbalut kaos hitam ketat itu tampak begitu kaku, seolah-olah setiap otot tubuhnya sedang dipaksa menahan beban yang teramat berat.
Ayyana menyandarkan punggungnya perlahan. Ia tidak menangis. Ia bukan wanita yang mudah terpukul oleh kalimat kasar seorang pria yang sedang panik.
Sebaliknya, Ayyana justru menyunggingkan senyum tipis—senyum dingin yang penuh kalkulasi.
Kalimat tajam Chester tadi tidak membuktikan bahwa pria itu membencinya. Justru sebaliknya.
Kemarahan yang meledak-ledak dan alasan "Haikal" yang terus-menerus dijadikan benteng itu adalah bukti paling nyata bahwa Chester Sinclair sedang ketakutan setengah mati.
Kapten itu takut jika perasaan di dadanya mengalahkan rasa bersalahnya pada sang kakak.
Klik.
Nozel bahan bakar berhenti otomatis. Chester menariknya kembali, menutup tangki bensin dengan ketukan keras, lalu melangkah memutari mobil dengan wajah yang sepenuhnya membeku tanpa emosi.
Pintu pengemudi terbuka.
Chester masuk ke kabin, menutup pintu dengan hentakan mantap, dan langsung menyalakan mesin tanpa melirik sedikit pun ke arah Ayyana.
"Kita pulang," ujar Chester datar, suara basnya kembali dingin dan resmi—kembali menjadi Kapten Sinclair yang tidak tersentuh.
Namun, sebelum jemari Chester sempat memindahkan tuas transmisi, Ayyana mengulurkan tangannya.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan tanpa ragu, jemari lentik Ayyana mendarat tepat di atas punggung tangan kekar Chester yang sedang mencengkeram kemudi.
Gerakan Chester terhenti seketika.
"Teruslah berbohong pada diri kamu sendiri, Kapten," bisik Ayyana halus, suaranya mengudara sangat tenang namun penuh penekanan di dalam kabin yang sunyi. Ayyana mengusap punggung tangan Chester yang tegang dengan ibu jarinya. "Sebut nama Haikal sebanyak yang kamu mau. Buat benteng setinggi mungkin."
Ayyana memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah samping rahang kaku Chester yang menegang kuat.
"Tapi ingat satu hal, Chester..." lanjut Ayyana tepat di dekat telinga pria itu. "...pria yang ada di dalam rumah bersama ku setiap malam, pria yang mengikat sabuk pengaman ku, dan pria yang cincinnya ada di jari ku saat ini... adalah kamu. Bukan Haikal."
Punggung tangan Chester yang berada di bawah cengkeraman jemari Ayyana mendadak menegang hebat.
Ucapan wanita itu menghantam tepat di pusat kenyataan yang selama ini berusaha keras ia kubur di bawah tumpukan dokumen rahasia dan alibi taktisnya.
Ayyana menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap Chester yang mulai goyah, menyunggingkan senyum tipis tanpa riak keraguan sedikit pun.
"Semua berkas pernikahan yang sedang coba Harris gali sebagai celah, resmi atas nama Chester Sinclair yang menikahi Ayyana Sanders," bisik Ayyana, suaranya mengudara begitu tenang, namun setiap kata yang dilontarkannya menusuk persis di titik paling telanjang dari jiwa sang Kapten. "Bukan Haikal Sinclair."
Napas Chester tertahan di dada. Tatapannya membeku.
"Haikal pergi tepat sebelum ikrar sumpah," lanjut Ayyana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, mengusap pelan buku-buku jari Chester yang memutih di atas kemudi. "Dan kamu, Chester... kamu yang berdiri mengucapkan sumpah itu, sehidup semati denganku, Ayyana Sanders. Di mata hukum, di mata pangkalan, dan di hadapan Tuhan."
Ayyana memajukan tubuhnya satu inci lagi, memotong habis sisa udara di antara wajah mereka hingga Chester bisa merasakan kehangatan napas wanita itu menyapu rahang tegasnya.
"Jadi coba jelaskan satu kali lagi pada saya, Kapten..." tegas Ayyana halus namun mematikan, "...di mana letaknya saya ini milik Haikal?"
Mobil SUV hitam itu dihantam keheningan yang luar biasa pekat.
Bunyi deru mesin yang halus di bawah kap mesin seolah kalah nyaring dibanding detak jantung Chester yang terpacu liar di balik dada bidangnya.
Kenyataan pahit yang baru saja dilemparkan Ayyana bukan lagi sekadar provokasi—itu adalah fakta hukum dan takdir yang selama ini coba dilari kannya.
Malam itu, saat Haikal memilih menghilang dan meninggalkan krisis besar di hadapan dua keluarga, Chester yang melangkah maju. Chester yang menyematkan cincin itu. Chester yang menandatangani dokumen negara.
Rahang Chester mengeras kaku, matanya berkilat menahan badai emosi yang berkecamuk hebat di dalam kepalanya.
Chaster menatap Ayyana dengan binar mata yang sarat akan frustrasi, rasa tak berhak, dan kepemilikan yang selama ini sengaja ia batasi.
"Ayyana..." suara Chester keluar teramat serak dan rendah, bergetar tipis di ujung tenggorokannya.
"Saya tidak butuh alibi mission-only kamu lagi, Chester," potong Ayyana tenang, menarik tangannya perlahan dari punggung tangan Chester lalu bersandar kembali di kursinya dengan keanggunan sempurna. "Jalankan mobilnya. Kita pulang."
SUV hitam itu akhirnya berhenti mulus di halaman rumah dinas menjelang siang.
Begitu mesin mobil dimatikan, Ayyana tidak menunggu Chester membukakan pintu. Dengan gerakan tenang dan dingin, ia melepaskan sabuk pengamannya sendiri, membuka pintu, lalu melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Langkah kakinya yang teratur dan anggun menggema di jalan setapak menuju pintu utama.
Ayyana masuk ke dalam rumah, membiarkan pintu depan terbuka begitu saja untuk Chester yang membawa kantong-kantong belanjaan, lalu langsung menghilang di balik tangga menuju lantai atas.
Chester berdiri sejenak di samping mobil, menatap punggung Ayyana yang menjauh dengan rahang yang mengeras.
Kalimat-kalimat Ayyana di pom bensin tadi masih berputar liar di kepalanya, menghantam setiap sudut logikanya hingga pria itu merasa benar-benar terdesak.
Setelah membereskan barang-barang belanjaan di dapur, Chester berjalan menuju kamar utama di lantai atas. Ia berdiri kaku di depan pintu yang tertutup rapat, merapikan letak jaket kargonya, lalu mengetuk pintu kayu itu tiga kali dengan ketukan khas militer yang teratur.
Knock. Knock. Knock.
"Ayyana," panggil Chester, suara basnya terdengar sangat rendah dan tertahan di balik pintu. "Saya harus kembali ke pangkalan sekarang. Ada evaluasi taktis dengan Team Eclipse yang tidak bisa ditunda."
Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan pekat yang menyambut panggilannya.
Chester memejamkan mata sejenak, menghela napas berat lewat hidung. Ia tahu wanita itu mendengarnya. Ia tahu Ayyana sengaja memberikannya hukuman atas ucapan kaku dan alibi "Haikal" yang dilontarkannya tadi.
"Lampu teras sudah saya atur menyala otomatis jam enam sore," lanjut Chester lagi, mencoba mempertahankan nada bicaranya agar tetap terdengar seperti instruksi resmi, walau ada riak rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan. "Kunci pintu utama dari dalam. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain saya atau Eclipse."
Kembali, tidak ada sahutan.
Hanya kesunyian dingin yang merayap di lorong lantai atas.
Chester mematung beberapa detik di depan pintu kamar.
Tangannya sempat terangkat, hendak meraih gagang pintu untuk memutarnya, namun niat itu diurungkannya.
Chaster menarik kembali tangannya, mengepalkannya kuat-kuat di samping tubuh, lalu berbalik melangkah turun dengan berat.
Pintu utama rumah dinas tertutup rapat, menyisakan Ayyana di dalam kamar yang sunyi—menikmati bagaimana Kapten Sinclair harus pergi ke markas dengan pikiran yang sepenuhnya tidak tenang.