NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Berbicara

Ketika Takdir Berbicara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:108.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.

Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.

Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.

Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zheana 9

Lampu-lampu utama di kediaman Bu Irma perlahan dipadamkan satu per satu, menyisakan pendar temaram di sepanjang lorong. Jarum jam dinding tua di ruang tengah sudah merambat melampaui angka dua pagi. Keheningan malam mulai membungkus rumah itu, menyembunyikan lelah dan gejolak yang memuncak menjelang hari pernikahan esok pagi.

Di dapur kotor yang dingin, Zheana baru saja menyeka sisa air pada meja keramik tempat piring dan gelas menumpuk tinggi bekas jamuan kerabat tadi malam. Tangannya yang kebas dan memerah diusap pelan pada kain lap kering.

Pak Bagas yang hendak mengambil air minum ke dapur menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tatapannya menatap sendu putri bungsunya yang tampak begitu kelelahan namun tak pernah bersuara meluapkan keluhan.

"Zheana... Nak," panggil Pak Bagas lembut, suaranya parau menembus sunyi.

Zheana tersentak pelan lalu menoleh, memasang senyum tipis di wajahnya yang pucat.

"Eh, Papa... Belum tidur, Pa? Zheana baru aja selesai beresin piring bekas saudara-saudara tadi."

Pak Bagas mendekat, mengambil alih kain lap dari tangan Zheana lalu menatap telapak tangan putrinya yang mengkerut akibat terlalu lama terkena sabun cuci. Hati sang ayah teriris tega.

"Sudah, Nak. Cukup. Masuk kamar dan istirahat," bisik Pak Bagas hangat seraya mengelus lembut puncak kepala Zheana.

"Besok acara kakakmu subuh-subuh sudah mulai. Kamu juga harus istirahat. Biar sisa-sisanya Papa yang rapikan."

"Tapi Pa, dikit lagi..."

"Zheana, dengarkan Papa," potong Pak Bagas penuh penekanan kasih sayang.

"Kamu bukan pembantu di rumah ini. Masuk ke kamar, tidur ya?"

Zheana menatap manik mata ayahnya yang teduh, lalu mengangguk pelan.

"Iya, Pa. Papa juga jangan tidur kemalaman ya."

Zheana melangkah pelan menuju kamarnya yang sempit di sudut belakang. Begitu pintu kayu kamar terkatup dan tubuhnya terbaring di atas kasur kecilnya, rasa lelah luar biasa langsung menyerapnya ke dalam tidur lelap.

Berbeda total dengan keheningan di kamar Zheana, di kamar utama lantai dua yang luas dan harum, suasana terasa amat mencekam.

Niken mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Napasnya naik turun tidak teratur, kelopak matanya bergetar hebat didera gelisah yang membakar dada. Gaun pengantin mewah yang menggantung anggun di sudut ruangan sama sekali tak lagi menarik perhatiannya. Bayangan wajah Khadafy yang dingin, teguran calon mertuanya yang kaku, serta kekangan hidup yang membayang di depan mata mendadak terasa seperti penjara yang siap mengurungnya seumur hidup.

"Nggak... Aku nggak bisa hidup kayak gini. Aku nggak mau diatur-atur!" bisik Niken frustrasi pada kegelapan kamar.

"Aku juga punya mimpi... Impianku jauh lebih besar daripada aku harus menjadi istri Khadafy. Pada akhirnya kedua orang tua Khadafy akan ikut campur dan aku pasti tak akan di perbolehkan lagi untuk mengejar karir yang selama ini aku bangun. Masalah baju saja mereka permasalahkan apalagi masalah karir aku!"

Pandangannya tertuju pada dua lembar tiket pesawat menuju Paris di atas meja rias. Impian terbesarnya untuk tampil di panggung fashion show internasional lusa nanti seolah memanggil-manggil namanya. Peluang emas yang dibawa Rico tidak akan datang dua kali. Penerbangan jam sembilan pagi besok adalah satu-satunya jalan keluar.

Dengan jemari yang gemetaran, Niken menarik sebuah koper kabin berukuran sedang dari dalam lemari. Ia membukanya lebar-lebar di atas tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh.

Dengan terburu-buru, Niken melangkah menuju lemari pakaian. Tangannya dengan sigap meraup beberapa atasan merek ternama, celana kesayangannya, serta gaun-gaun pameran yang muat dimasukkan ke dalam koper. Tak berhenti di situ, ia membongkar laci meja rias, mengambil seluruh perhiasan emas, beberapa jam tangan mewah, serta buku tabungan dan amplop berisi uang tunai cadangan yang ia simpan. Semuanya ia jejalkan tanpa peduli lipatannya rapi atau tidak.

Srekk... Srekk...

Suara ritsleting koper yang ditarik cepat memecah keheningan kamar. Niken menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan, memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal.

Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menusuk jari manis tangan kanannya. Niken meringis pelan sambil memegangi jemarinya. Cincin berlian pemberian Khadafy yang dipaksa masuk tadi siang kini membuat jarinya semakin membengkak, memerah, dan terasa kencang mencengkeram kulitnya.

"Aduh... sakit banget sih!" ringis Niken tertahan.

Ia mencoba memutar dan menarik cincin berlian itu untuk dilepas, namun cincin itu benar-benar terkunci rapat di buku jarinya, menyiksanya tanpa ampun.

Niken memejamkan mata menahan sakit, lalu mendesis pasrah.

"Awas aja... Sampai di Paris nanti aku potong cincin ini!"

Niken menyambar tas selempangnya, menyelipkan dua lembar tiket pesawat ke dalamnya, lalu mendorong koper kecil itu perlahan ke dekat pintu. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua pagi lewat. Tinggal satu jam lagi sebelum alarm rumah berbunyi dan tim perias datang.

Sambil meremas tangannya yang berdenyut sakit, Niken menatap pintu kamar dengan senyum nekat. Keputusannya sudah bulat, sebelum fajar menyingsing dan sebelum keluarga Khadafy tiba untuk akad nikah, ia akan melangkah pergi meninggalkan rumah ini menuju impiannya di Paris.

Ting

Ting

Pesan dari Rico masuk, menanyakan keputusan dari Niken, karena pagi ini mereka akan segera pergi dengan penerbangan pertama.

Ponsel Niken di atas meja rias bergetar redup, memancarkan pendar cahaya di tengah kegelapan kamar. Niken menyambar benda itu dengan jemari yang masih gemetaran, menahan rasa nyeri yang kian menjadi-jadi di jari manisnya.

[Rico]: Niken, gimana? Taksi online aku sudah standby beberapa blok dari rumahmu. Kamu jadi jalan jam tiga pagi ini? Penerbangan kita jam sembilan, tapi kita harus checkin dan urus bagasi lebih awal. Jangan sampai telat, kesempatan ini nggak datang dua kali.

Niken menahan napas sejenak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyengat di dada. Ia mengetik balasan dengan ibu jari kirinya, sebab tangan kanannya sudah membengkak kebiruan.

[Niken]: Aku sudah siap, Rico. Kopetku sudah dikunci. Aku keluar lewat pintu samping sekarang. Tunggu aku di persimpangan jalan utama.

[Rico]: Bagus. Aku tunggu di dalam mobil. Cepat, Niken.

Niken mengembuskan napas panjang, mematikan layar ponselnya, lalu menyelipkannya ke dalam tas selempang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias sejenak—wajah tanpa riasan dengan pancaran nekat yang membara di matanya. Tanpa ragu, ia mematikan lampu kamar, menggenggam erat gagang koper kabinnya, lalu memutar kunci pintu sangat pelan agar tak menimbulkan bunyi derit.

Klek.

Pintu kamar terbuka sedikit. Niken menyelip keluar, menyusuri koridor lantai dua yang gelap gulita. Setiap jengkal langkahnya dihitung matang-matang. Ia mengangkat kopernya agak tinggi agar roda koper tidak bergesek kasar dengan lantai granit.

1
nely_48
justru ak yg khawatir sm km zhea,,semoga km n baby baik² az ya zheana,, biarin niken lg menjalani takdir nya sendiri
nely_48
mampus kau niken,, jd org ko jahat banget sih km mh niken, jd we d pertemukan sm adam yg sma jahat n bejad nya spt diri mu niken,, selamat menikmati kehancuran hidup mu niken
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah kirain kena racun , udh parno duluan gara2 s niken jg s Adam 🤭
Fitria Syafei
kk cantik kereen 😍 kereen 🥰 terimakasih 😘
sunaryati jarum
Awalnya emak deg- degan ternyata firasat buruk dipikirkan Zheana, untuk Niken. Benar Zheana kebencian dan dendam nya padamu sekarang Niken mendapatkan karma tanpa perlu kamu dan Kadaffi mengotori tangan.Nak Kadaffi cuma mengawasi dan berjaga- jaga,tapi ada orang lain yang mungkin dendam pada Niken
sunaryati jarum
Benar kan dugaan emak jika Niken hanya dimanfaatkan Adam demi kepentingan sendiri.Mungkinkah Adam pernah dikecewakan Niken, hingga membalasnya dengan sadis.Sebenarnya sebagai sesama wanita emak kasihan Niken,dibalas begitu.Namun karena tabiatnya yg selalu merendahkan Zheana,emak ikut gregeten.Setelah ini semoga Irma ibunya sadar ,Niken dibawa berobat ke Pesykiater
ryuka
kesian kamu niken tapi emang orang jahat itu banyak sekali niken maka nya jangan bodoh
Oma Gavin
sungguh mengerikan pembalasan yg diterima niken mungkin adam sakit hati sama niken pernah ditolak atau dipermalukan
nely_48
silahkan niken sm adam merencanakan apapun,,, khadafy udh tau semua nya loh
nely_48
sok pak bagus msh nurut az sm s irma
nely_48
pantesan jd gila s niken, alih-alih jadi model d Paris malah hamil d gilir semua laki² ,,, bukan sukses mlah gila yg d dapat, boncos nasib mu niken
nining cahyaningrum
ceritanya enak alurnya jelas
david 123
adakah didunia nyata ibu kadung jahat seperti dg anak kandungx? Semoga tdk ya ....Amin ...miris...bila...ini kisah nyata...ya Thor
Fitria Syafei
syukurin senjata kena sendiri..makan ntuh TEMAN 😏 KK cantik mantaf 😍 kereen 🥰
Sri Angga
buah dr kejahatan mu terhadap zheana,,skg km di bls langsung oleh,,partner mu sndri .
ryuka
naahh kan malah udah hancur dluan kamu niken
Ambu Rinddiany Thea
halaaah sok pura pura niken ke ges benang mah beda cerita lain minta tolong tapi tuluuuy tuluy 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 kau tidak akan bisa menghancurkan Zheana dan bayinya,Niken.Kamu malah hancur sendiri.Sudah gila hamil kembali.
nely_48: kasian km niken,, jauh² k Paris jd jablay yg ujung-ujungnya hamil,, lah plg k indo malah d jual demi rencana yg blm tentu berhasil,,
emang badan niken lbh cocok jd prlacur jual diri az ath cari uang yg banyak buat gaya hidup glamor
total 1 replies
Oma Gavin
bikin mati mengenaskan saja niken digilir 3 orang terus mati itu hukum setimpal buat psikopat gila seperti niken
sunaryati jarum
Pembicaraan kamu sudah didengar oleh orang orang Angga da Rian Tim keamanan Mumtaz, berkhayal lah akan berhasil Niken,agar delusimu makin parah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!