Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali dengan Sang Raja
Keheningan yang mencekam menyelimuti Lorong Cermin. Langkah kaki Raja Julian yang dilapisi sepatu boot kulit tebal berdentang pelan saat ia berhenti, tepat dua langkah di samping tempat Aurelia membungkuk hormat. Jubah hitam bersulam emas milik sang Raja tersingkap sedikit, memperlihatkan gagang pedang perak yang bertengger di pinggangnya, sebuah simbol kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan di kerajaan ini.
Aurelia tetap menunduk anggun, menjaga napasnya agar tetap teratur. Tidak ada sedikit pun riak ketakutan atau getaran panik di tubuhnya.
Di kehidupan sebelumnya, setiap kali Julian berada sedekat ini, jantung Aurelia akan berdebar kencang oleh rasa kagum dan cinta yang meluap-luap. Ia akan serta-merta mendongak, mencari perhatian sang Raja dengan tatapan memohon agar dipuji atau sekadar disapa. Namun kini, yang mengalir di dalam pembuluh darahnya hanyalah kalkulasi dingin dan dendam yang telah membatu.
"Berdirilah, Lady Aurelia."
Suara Julian bergema berat dan dalam. Nada bicaranya dingin, bagaikan angin malam di puncak gunung es Kerajaan.
Aurelia menegakkan tubuhnya perlahan. Ia menyatukan kedua tangannya di depan gaun zamrudnya dengan jemari yang saling bertaut rapi. Ketika matanya kembali beradu dengan iris kelam milik sang Raja, Aurelia tidak buru-buru melempar pandangan atau memasang wajah merajuk seperti yang biasa ia lakukan dulu. Ia menatap Julian lurus, tenang, dan tanpa ekspresi pemujaan sedikit pun.
Julian menyempitkan matanya. Alis tebal sang Raja bertaut tipis.
Biasanya, putri kesayangan Duke Montclair ini akan langsung mengeluh, menuntut keadilan dengan mata berkaca-kaca, atau menangis manja jika mendapat masalah di istana. Namun wanita yang berdiri di hadapannya saat ini menatapnya seolah sang Raja hanyalah seorang pejabat biasa yang tak sengaja berpapasan di lorong.
"Kudengar terjadi insiden di taman dalam," ujar Julian, suaranya datar namun sarat akan intrik. "Seorang selir baru hampir terancam oleh racun di hari keduanya."
Para bangsawan yang berlutut di sepanjang dinding lorong menahan napas. Mereka menunggu reaksi Aurelia. Apakah gadis ini akan memanfaatkan momen ini untuk merengek memohon perlindungan Raja?
"Hamba rasa kabar angin berhembus sangat cepat di dalam istana ini, Yang Mulia," sahut Aurelia dengan nada tenang yang sangat teratur. "Namun Anda tidak perlu khawatir. Insiden kecil itu telah ditangani dengan sangat baik oleh Selir Keagungan, Lady Genevieve."
Jawaban itu membuat Julian sedikit menggerakkan kepalanya. Insiden kecil? Seorang putri bangsawan yang hampir diracuni menyebut percobaan pembunuhan itu sebagai 'insiden kecil'? Dan bukannya mengadu pada Raja, ia justru melemparkan kredit penanganan pada Genevieve?
"Insiden kecil?" ulang Julian, menguji ketahanan Aurelia. "Racun Nightshade bukan hal yang bisa dianggap sepele di istana ini, Lady Aurelia. Apalagi jika korbankan adalah putri dari Duke Montclair. Apakah kau tidak merasa takut?"
Aurelia menyunggingkan senyum tipis—senyuman tipis yang sangat anggun, namun terasa begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Marta yang berlutut di belakangnya meremang.
"Takut?" bisik Aurelia halus. "Mengapa hamba harus takut, Yang Mulia? Istana ini adalah rumah bagi Anda, dan hamba percaya pada ketegasan hukum yang Anda tegakkan. Lagi pula..."
Aurelia jeda sejenak, mengikis jarak pandang mereka dengan tatapan mata cokelatnya yang berkilat tajam.
"...hamba bukanlah mangsa yang mudah untuk ditelan oleh musuh-musuh hamba. Mereka yang mencoba menyentuh hamba dengan racun, telah merasakan sendiri pahitnya akibat dari perbuatan mereka."
Kata-kata itu terucap dengan begitu lembut, tetapi implikasinya sangat jelas: Aurelia tidak memerlukan perlindungan atau rasa kasihan dari Julian. Ia mampu membalas dan menghancurkan musuhnya dengan tangannya sendiri.
Keheningan kembali melanda Lorong Cermin. Julian menatap wajah Aurelia dengan perhatian yang belum pernah ia berikan sebelumnya. Di bawah pencahayaan cermin-cermin besar yang memantulkan sinar matahari siang, wajah Aurelia tampak begitu memesona—bukan lagi seperti gadis manja yang naif, melainkan seperti seorang ratu yang siap memimpin papan catur pertempuran.
Pria yang dikenal tak tersentuh oleh emosi itu merasakan sesuatu yang aneh menelusuri dadanya. Rasa penasaran yang mendalam.
"Sikapmu sangat berbeda dari saat kau pertama kali melangkahkan kaki di pintu gerbang istana dua hari lalu," panggil Julian pelan, langkah kakinya bergerak setengah tapak lebih dekat ke arah Aurelia. "Gadis yang menangis di hadapan ayahnya agar diizinkan menikah denganku sepertinya telah menghilang."
Aurelia tidak gentar sedikit pun saat jarak di antara mereka terkikis. Aroma harum minyak kayu cendana dan intrik besi dari zirah sang Raja menyeruak ke indra penciumannya—aroma yang dulu sangat ia rindukan, namun kini hanya mengingatkannya pada kematian.
"Innocence adalah kemewahan bagi mereka yang tinggal di luar dinding istana, Yang Mulia," jawab Aurelia tanpa rasa ragu sedikit pun dalam suaranya. "Di dalam dinding istana ini, seorang gadis manja tidak akan bertahan hidup. Hamba hanya dengan cepat mempelajari aturan permainan yang berlaku di tempat Anda."
Aturan permainan.
Julian hampir saja terkekeh jika bukan karena martabat tingginya. Gadis ini menyebut intrik berdarah istana sebagai sebuah permainan.
"Begitu?" Julian memiringkan kepalanya, menatap bibir merah alami milik Aurelia sebelum kembali menatap matanya. "Dan permainan apa yang sedang kau rencanakan sekarang, Lady Aurelia?"
"Hamba tidak merencanakan apa pun, Yang Mulia," bisik Aurelia dengan keanggunan yang sempurna. "Hamba hanya ingin memastikan bahwa hamba tidak akan menjadi beban bagi Anda... atau menjadi korban yang tak bernilai di lorong-lorong dingin ini."
Kalimat terakhir itu—korban yang tak bernilai di lorong-lorong dingin—diucapkan Aurelia dengan penekanan yang sangat halus, sebuah sindiran terselubung atas ingatan masa lalunya ketika ia tewas dan diabaikan oleh Julian di tempat yang hampir serupa.
Julian menatapnya dalam-dalam selama beberapa saat. Ada misteri besar di balik mata cokelat terang milik selirnya ini. Sesuatu yang gelap, tajam, dan sangat memikat.
"Penyelidikan atas Lady Evelyn akan dipimpin langsung oleh Pengawal Utama," tegas Julian akhirnya, mengalihkan pandangannya dari mata Aurelia. "Jika terbukti bersalah, ia akan menerima hukuman yang setimpal sesuai dengan hukum Kerajaan."
"Hamba menyerahkan sepenuhnya kebijaksanaan itu pada Yang Mulia," balas Aurelia sembari menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
Tanpa mengumandangkan patah kata lagi, Julian kembali melangkah mendahului rombongannya. Namun kali ini, langkah sang Raja tidak lagi secepat sebelumnya. Perhatiannya, yang selama ini sepenuhnya tercurah pada urusan perang dan dewan menteri, kini telah terseret oleh sosok selir baru dari Pavilion Timur.
Aurelia berdiri tegap kembali setelah rombongan zirah perak itu berlalu menjauh menuju Hall of Council. Ia memutar tubuhnya, menatap punggung tegap Julian yang menghilang di belokan koridor.
Marta bergegas berdiri dengan wajah masih pucat pasih. "N-Nona Muda... Anda berbicara pada Raja dengan sangat berani... Hamba sampai takut napas hamba terhenti!"
Aurelia tidak langsung menjawab. Ia meraba mutiara di lehernya, merasa puas atas reaksi yang ia dapatkan dari Julian.
Singa itu mulai penasaran, batin Aurelia dingin. Kau sudah menggigit umpannya, Julian. Sekarang, berusahalah sekeras mungkin untuk tidak jatuh ke dalam perangkapku.
~ To Be Continue