Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Tertunda
**
"Mbak, mama udah makan malam?"
"Sudah Den, baru saja saya suapin. Nyonya juga sudah bersih-bersih juga."
"Ok, terimakasih. Sebelum tidur, saya mau ketemu mama dulu kalau begitu."
"Baik, Den. Saya permisi mau lanjut kerja dulu."
"Silahkan."
Bagas, lelaki yang sedari tadi menatap foto keluarga, menghela napas berat. "Sampai kapan, Ma?"
Dia mulai melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu, sebelum membukanya dia menarik napas dalam seolah dia sudah siap menghadapi apapun yang akan terjadi di dalam sana.
"Ma," panggilan Bagas saat menemukan sang ibu tengah duduk di kursi sudut jendela, menatap pemandangan gelap yang ada di luar. "Indah yah Ma, kebun bunganya? Tapi sekarang udah malam, jadi gak kelihatan. Sekarang, lagi pada mekar. Mama gak kangen apa duduk di kursi sana sambil lihatin bunga-bunga? Mama gak kangen nanam bunga, siram bunga tiap pagi kaya dulu? Setelah dua tahun Mama seperti ini, aku selalu usahakan kebun bunga di sana sama seperti saat Mama masih sehat. Kerjaan mang Salman, bagus juga yah, Ma?"
Mamanya menoleh, menatap Bagas dengan pandangan berbeda, tidak sekosong dan sedatar biasanya. Namun tetap sama, tidak ada satu katapun yang terucap.
"Ma, Bagas kangen." Bagas meraih satu tangan mamanya, kemudian membuat seolah tangan mamanya tengah mengusap kepalanya. "Kangen Mama usap kepala Bagas kaya gini. Kangen denger bawelnya Mama. Sekarang, papa juga makin sibuk sama orang barunya itu, katanya itu cara papa berduka sama seperti Mama yang masih berduka dengan cara yang seperti ini. Bohong yah, Ma."
Mamanya menarik tangannya, kemudian kembali melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Bagas hanya tersenyum miris karena hal ini sudah biasa selama dua tahun ini.
"Maaf yah Ma, waktuku jadi sedikit karena sekarang aku kerja part time sambil kuliah. Aku udah cerita, 'kan? Mungkin, ini caraku berduka karena aku gak hanya kehilangan sosok dia tapi juga kehilangan sosok mama, serta sosok papa juga yang semakin menghilang kehadirannya. Terkadang, aku capek, Ma."
Bagas tersenyum. "Gak papa. Aku yakin Mama akan sembuh, aku percaya itu. Nanti ketemu sama temen aku yang mirip banget sama dia. Aku izin pergi ke kamar dulu yah, Ma."
Bagas memeluk mamanya sebentar, walaupun sama sekali tak direspon. Kemudian, dia bangkit dan berjalan keluar. Dia membiarkan mamanya seperti itu, nanti ada mbak yang akan kembali mengecek keadaan mama lagi untuk membantu tidur di kasur.
Semuanya akan berlalu bukan? Dia hanya harus percaya waktu yang akan menyembuhkan dan mengembalikan keluarganya yang dulu. Dia hanya harus bertahan sebentar lagi, bukan? Sebentar lagi, sampai rasanya mungkin seolah sedang mengedipkan mata.
*
"Ay, lihat kaos aku gak?"
Ayana yang sedang melipat baju melirik Reyhan. "Yang mana?"
"Yang tadi sore pulang kerja, kaos yang aku pakai pulang kerja sebelum ke rumah Bima." Reyhan masih celingukan mencari kesana-kemari.
Ayana menghela napas berat. Dia memilih menyimpan semua baju yang sudah dilipat ke dalam lemari. Ini sudah jam 10 malam, sepulang dari pasar malam tadi Ayana tidak bisa tidur saat melihat baju berantakan yang baru dia angkat dari jemuran tadi sore belum dia lipat.
Memang yah, kalau sedang marah dan kesal, bawaannya malas berbuat apa-apa bahkan merapikan urusan rumah sekalipun. Sekarang mood dia sudah baik, jadi dia sudah sangat bersemangat untuk melakukan apapun.
"Ay, lihat baju itu gak?" tanya Reyhan sudah tidak sabar.
Ayana kembali melihat lelaki bertelanjang dada yang saat ini sedang grasak-grusuk mencari kaos yang sebenarnya sudah teronggok manis di dalam ember kamar mandi. Dia geleng kepala, melihat betapa joroknya Reyhan yang katanya ingin kembali memakai baju yang dijadikan daleman baju kerja yang pasti sudah penuh debu dan keringat jalanan. Padahal, tadi katanya ingin mengganti baju karena merasa basah oleh keringat dari pasar malam.
"Bajunya kotor, udah di kamar mandi." Ayana menarik satu kaos Reyhan dalam lemari. "Nih, pakai ini aja."
Reyhan mengambil kaos dari Ayana. "Ya udah, apa boleh buat. Padahal aku gak mau nambah cucian kamu banyak."
"Tugas kamu jangan jorok dan gak berantakin rumah aja, itu udah cukup membantu buat aku, ok." Ayana sudah selonjoran di kasur. "Rey, kapan kamu ambil cuti atau libur banyak?"
"Kenapa emang?" Reyhan ikut rebahan di kasur, walaupun masih berjarak dengan Ayana.
"Kalau bisa libur beberapa hari minimal, kamu mau temenin aku pulang enggak?" Ayana buru-buru menggeleng. "Tapi, kalau kamu gak bisa, aku pulang kampung sendiri gak papa juga sih. Boleh, kan?"
"Bentar." Reyhan bangkit hanya untuk mengecek kalender, kemudian kembali rebahan. "Tiga minggu lagi, mau? Aku tiga minggu gak akan ambil jatah libur, jadi nanti liburnya aku gabungin dalam satu minggu. Bisa tunggu sebentar, mau?"
"Kamu gak akan ambil libur gitu?" tanya Ayana yang langsung diangguki Reyhan. "Gak capek." Reyhan hanya geleng kepala. "Aku sendiri gak papa, Rey. Jangan maksain."
"Aku ikut, Ay. Kita udah nikah, gak enak kalau pulang ke kampung tanpa aku setelah kita buat kehebohan waktu itu. Kita buktikan apa yang mereka lakuin, bikin kita bahagia."
Ayana tertawa. "Untung aja kita gak ada yang video dan bikin kita viral di sosmed."
"Gak papa lah viral, nanti banyak yang endorse kayak selebgram-selebgram."
"Indo sekali, yah." Ayana terkekeh. "Yang penting viral aja dulu mau masalah apapun itu, nanti bisa jadi selebgram dapat banyak endorsan."
"Mau gitu gak? Kita bikin video terus nanti diposting biar viral?" Reyhan bertanya dengan heboh.
"Video apa?"
"Biasanya yang viral itu video goyang di ranjang, mau buat gak?"
Ayana langsung memukul kepala Reyhan. "Astaghfirullah, otak kamu itu udah terlalu kotor."
Reyhan tertawa, tiba-tiba kepalanya sudah berada di paha Ayana. "Emang goyang apaan? Maksud aku semacam goyang gebor lagu dangdut gitu, emang kamu mikir goyang apaan? Ayo, goyang apaan?"
"Apa, sih?" Ayana memalingkan mukanya. "Minggir gak dari paha aku?"
"Kenapa, malu yah?" Reyhan terus menggoda Ayana.
"Apa sih? Gak jelas."
Ayana semakin kesal saat melihat Reyhan yang tertawa mengejeknya. Ingin dia pukul kepala lelaki itu dengan wajan. Wajah tengilnya itu, seakan puas sekali menertawakan Ayana.
"Eh, Rey?" Tiba-tiba Ayana mengingat sesuatu. "Maaf yah, aku gak kasih kado. Besok aku baru mau beli, gak papa kan?"
"Gak usah Ay, uangnya buat jajan aja buat kamu yang kenyang. Aku udah gede, bukan anak kecil yang mau minta kado saat ulang tahun."
"Tapi aku mau kasih, masa gak masih apapun sama kamu," jawab Ayana memang merasa tak enak.
"Ya udah, uang buat kadonya dipakai uang buat jajan kita berdua aja,"kata Reyhan akhirnya.
Ayana tersenyum. "Rey, ngomong-ngomong ini udah lama mau aku tanyain tapi aku bingung nanyanya gimana."
"Nanya apaan?" Reyhan sudah mendongak melihat wajah Ayana yang sudah bersemu merah.
"Kenapa ... kenapa kamu gak minta hak kamu sebagai suami? Bukannya gitu, jangankan udah nikah, biasanya masih pacaran aja otak cowok kan gituan mulu."
Reyhan tiba-tiba duduk, melihat wajah Ayana sudah semakin merah. Melihat Reyhan yang menatapnya seperti itu, Ayana memalingkan wajahnya.
"Gak usah dibahas, anggap aja aku gak ngomong gitu."
Reyhan meraih wajah Ayana, sehingga wajah mereka jadi saling berhadapan. "Ngomong apa?
"Apa sih, Reyhan!"
"Apa sih, Ayana? Kenapa tiba-tiba bahas itu coba?"
"Aku bilang gak usah dibahas, anggap aja aku gak ngomong gitu." Ayana berusaha melihat kesembarang arah, yang penting tidak melihat Reyhan yang masih intens melihatnya.
"Kalau aku gak mau gimana?"
"Rey!"
Reyhan terkekeh, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ayana berulang. "Kalau aku minta cium boleh?"
Ayana akhirnya melihat Reyhan, tatapan mereka akhirnya bertemu. "Emang biasanya kalau cium harus minta izin dulu."
Reyhan tersenyum, kemudian tangannya yang tadi dari merengkuh wajah Ayana bergerak untuk merengkuh belakang kepala gadis itu, membawa jarak mereka semakin dekat.
Cup
Akhirnya, Reyhan kembali mencium bibir manis gadis yang selalu membuatnya tidak pernah bosan. Melumatnya dengan perlahan-lahan.
Reyhan tersenyum disela ciumannya, saat mendapati Ayana balas menciumnya sehingga ciuman mereka seirama. Lama-lama yang awalnya perlahan, ciuman Reyhan semakin menuntut seperti ada sesuatu perasaan membuncah yang sudah tidak bisa dia tahan.
Reyhan menjauhkan wajahnya, melihat Ayana masih sama intensnya. Jarak mereka masih dekat, sampai ujung bibir mereka tiap berbicara pasti masih saling bersentuhan.
"Ay?" tanya Reyhan dengan nada serak yang mampu membuat Ayana merinding.
"Iy--ya, kenapa ... Rey?"
"Boleh gak, aku minta hak suami yang tadi kamu bilang?"
"Hah?"
Reyhan menelan ludah gugup. "Sebenarnya, aku bukan gak mau minta tapi aku hanya menghargai kamu. Aku gak mau maksa kamu, aku cuman mau ngelakuin itu karena kita sama-sama mau, bukan aku aja yang mau. Kamu mau gak?"
Sebenarnya ada alasan kenapa Ayana membahas perkara hak suami kepada Reyhan. Beberapa hari yang lalu, dia sempat berbicara dengan salah satu karyawan di cafe yang sudah menikah. Mereka berbicara tentang urusan ranjang seperti ini. Kebetulan, dia satu-satunya karyawan yang tahu jika Ayana sudah menikah karena mereka cukup dekat. Katanya, aneh kalau sudah menikah berbulan-bulan, tapi suami kita tidak pernah meminta jatah di ranjang. Ada dua alasan, pertama kita tidak menarik sebagai wanita dan kedua dia tidak suka wanita alias seorang gay.
Untuk alasan kedua, jelas Ayana yakin jika Reyhan itu normal. Jadi, ego Ayana lumayan tersentil, memang dia tidak semenarik itu sampai Reyna tidak pernah meminta hal itu. Tapi kenapa sekarang dia menjadi menyesal yah, membicarakan hal itu? Tadi tuh, momennya terasa pas saja untuk membahas hal itu.
"Gimana? Gak boleh yah?" tanya Reyhan lagi masih dengan suara seraknya.
Terserahlah, Ayana mengangguk saja. Siap tidak siap, itu urusan nanti saja. Toh, apa yang mereka lakukan sekarang tidak dosa, kan? Dia juga yakin, sepertinya sentuhan Reyhan tidak pernah sekalipun membuat dia merasakan trauma masa lalu.
"Angguk itu artinya apa, yah? Boleh apa enggak?" Reyhan tersenyum miring, menyebalkan.
"Terserah Rey, kamu tahu jelas apa artinya." Ayana merasa kesal lagi.
Reyhan tersenyum, kemudian kembali mendekatkan wajahnya. Mencium Ayana sama dalamnya dari tadi, bahkan lebih intens dan menggebu-gebu, seolah tembok yang mereka pasang selama ini sudah runtuh terlepas semuanya.
Reyhan sangat suka bagaimana Ayana selalu balik membalas ciumannya, seakan bukan hanya dia yang menyukai momen ini, tapi gadis itu juga.
"Rey ...."
Reyhan tersenyum, kembali asyik mencium leher Ayana kemudian turun ke bawah ke area yang selama ini selalu membuatnya pura-pura tidak melihat. Reyhan membuka satu-persatu kain-kain yang menghalangi tubuh gadis di bawahnya, sementara dia masih asyik menciumi apapun yang terlewat oleh bibirnya. Bahkan, sedari tadi tangannya sudah menyentuh apapun yang harus disentuh.
Reyhan menjauhkan wajahnya. Kemudian bangkit. Dia sendiri masih memakai celana pendek, sementara atasnya sudah bertelanjang dada. Dia tersenyum melihat keadaan Ayana sudah sudah kacau. Kondisinya hampir naked, hanya menyisakan satu kain di bagian bawah.
"Bentar Ay, pakai kond*m dulu."
Reyhan sudah grasak-grusuk mencari kond*m di tasnya. Untung saja dia tidak jadi membuangnya, ternyata ada gunanya juga dua makhluk aneh itu memberikannya hal seperti ini.
Setelah memakainya, Reyhan kembali mendekat ke Ayana. Berbaring di atas tubuh gadis itu, menciumi sama dalamnya seperti tadi.
Akhirnya, Ayana sudah membuktikan jika dia memang sangat menarik bagi Reyhan malam ini. Mereka sama-sama tengelam melepas semuanya dalam satu kehangatan.
Cup
Reyhan mencium kening Ayana. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping gadis yang sudah menjadi wanita itu, merengkuhnya dalam pelukan.
"Makasih yah Ay, udah izinin aku jadi orang pertama buat kamu. Makasih, udah memberikan malam yang tertunda kita."
##