Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Wusss.
Angin pagi berhembus pelan menyapu halaman depan SMA Garuda.
Dito baru saja turun dari angkutan umum dengan langkah gontai.
Luka lebam di sudut bibirnya masih terasa nyeri saat ia berjalan memasuki gerbang sekolah.
"Heh, Dito, tunggu sebentar!" panggil sebuah suara yang sangat familiar dari arah belakang.
Dito tersentak kaget dan langsung menoleh dengan tubuh bergetar.
Leo, kapten tim olimpiade SMA Nusantara, berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah.
Wajah arogan yang biasanya melekat pada kakak kelas elit itu kini menghilang tak berbekas.
Raut wajah Leo terlihat sangat pucat, kantung matanya menghitam, dan seragamnya tampak berantakan.
"K-Kak Leo? Ada apa lagi?" tanya Dito mundur selangkah karena ketakutan.
"Tolong maafkan gue, Dito," ucap Leo dengan suara bergetar dan kepala tertunduk.
Dito melebarkan matanya di balik kacamata tebalnya yang retak.
"Minta maaf? Maksud Kak Leo apa?" tanya Dito sama sekali tidak mengerti.
"Gue cabut semua ancaman gue kemarin sore," jawab Leo dengan nada memohon yang sangat menyedihkan.
"Beasiswa lo aman, sekolah lo aman, gue janji gak akan pernah ganggu lo lagi seumur hidup gue!"
Dito mematung di tempatnya berdiri, otaknya berusaha memproses perubahan drastis ini.
"T-tapi kenapa tiba-tiba begini, Kak?" tanya Dito masih ragu.
Leo menelan ludah dengan susah payah sambil melirik ke kanan dan ke kiri dengan paranoid.
"Semalam bokap gue ngamuk besar sampai banting barang-barang di rumah," bisik Leo dengan wajah ketakutan.
"Ada orang gila yang ngirim bukti penggelapan dana yayasan keluarga gue ke email bokap."
"Orang itu ngancam bakal sebarin buktinya ke polisi kalau gue berani nyentuh sehelai rambut lo, To!" lanjut Leo hampir menangis.
Dito menahan napasnya, seketika teringat pada ucapan Tommy di atap sekolah kemarin pagi.
"Biar aku yang mengurus singa sombong itu," batin Dito mengingat janji mengerikan dari temannya itu.
"Tolong sampein ke orang yang bekingin lo itu, To, keluarga gue nyerah," mohon Leo sambil menyatukan kedua tangannya.
"Gue janji bakal tutup mulut soal olimpiade kemarin, tolong jangan hancurin keluarga gue."
Dito menganggukkan kepalanya perlahan dengan perasaan campur aduk.
"Iya, Kak, nanti aku sampaikan," jawab Dito berusaha terdengar tenang.
"Makasih, To, makasih banyak!" ucap Leo sebelum akhirnya berlari pergi meninggalkan gerbang SMA Garuda dengan panik.
Dari lantai dua gedung sekolah, Tommy berdiri menyender di pagar balkon mengamati pemandangan tersebut.
Ia menyedot minuman kotak rasa cokelatnya dengan sangat santai.
"Singa yang sudah patah taringnya memang sangat menyedihkan untuk dilihat," gumam Tommy pelan.
Ting!
Suara notifikasi sistem berbunyi jernih di dalam kepalanya.
[SISA MISI GANDA SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menghancurkan mental musuh dan melindungi sekutu menggunakan manipulasi informasi tingkat dewa.]
[Mengirimkan sisa hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +40 PS.]
[IQ Saat Ini: 136 Kategori: Jenius Menengah]
[Poin Sistem Saat Ini: 130 PS]
Sensasi dingin yang sangat kuat kembali menyelimuti jaringan otak Tommy.
Angka seratus tiga puluh enam membuat penglihatannya terasa jauh lebih tajam dan jernih dari sebelumnya.
"Sekarang Dito sudah benar-benar aman," batin Tommy sambil membuang kotak minumannya ke tempat sampah.
Ia berjalan masuk ke dalam kelas tepat saat Dito baru saja duduk di bangkunya.
"Tom, kamu beneran ngelakuin itu?" bisik Dito saat Tommy lewat di samping mejanya.
"Ngelakuin apa, To? Aku dari tadi cuma minum susu cokelat di luar," jawab Tommy dengan senyum bodohnya.
Dito hanya bisa tersenyum kecut mendengar bantahan yang sudah sangat ia hafal itu.
"Terima kasih banyak, Tom, Kak Leo barusan minta maaf dan mohon ampun sama aku," bisik Dito lagi penuh rasa syukur.
"Wah, syukurlah kalau dia udah sadar, mungkin dia dapet hidayah pas tidur semalam," balas Tommy nyengir lebar.
Pelajaran sekolah hari itu berlalu tanpa ada gangguan berarti dari siapa pun.
Nadin juga terlihat sibuk sendiri dengan buku-buku pelajarannya, tidak lagi mencoba memancing kecerdasan Tommy.
Namun, di sudut lain kota ini, sebuah ancaman yang jauh lebih gelap sedang bergerak perlahan mencari mangsa.
Brak!
Suara gebrakan meja terdengar sangat keras dari dalam sebuah gudang kosong di pinggiran kota.
Bos Anton berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"Goblok kalian semua! Bisa-bisanya kalian dijebak masuk ke sarang naga hitam!" teriak Bos Anton kepada anak buahnya.
Belasan preman berwajah sangar tampak menundukkan kepala dengan tubuh penuh luka perban.
"Maafkan kami, Bos, sinyal peretas itu benar-benar mengarah ke gudang sana semalam," lapor seorang preman berbadan besar dengan suara gemetar.
"Persetan dengan sinyal digital!" umpat Bos Anton sambil melemparkan asbak kaca ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Prang!
"Blank bajingan itu mempermainkan kita seperti anak kecil!"
Bos Anton mondar-mandir dengan napas memburu, memutar otak kriminalnya untuk mencari jalan keluar.
"Kita tidak bisa lagi mengandalkan pelacakan komputer, dia terlalu pintar untuk tim siber kita," ucap Bos Anton menurunkan nada suaranya.
"Bang Jali, maju ke depan sekarang!" panggil bos mafia itu dengan tegas.
Bang Jali yang sedari tadi bersembunyi di barisan belakang langsung melangkah maju dengan takut-takut.
"I-iya, Bos?" jawab Bang Jali gugup.
"Bagaimana dengan tugas pelacakan manualmu di daerah selatan kemarin?" tanya Bos Anton menatap tajam.
"Saya sudah mengecek ulang, Bos, dan saya sangat yakin dengan temuan saya," lapor Bang Jali mulai percaya diri.
"Anak janda Marni itu membayar utang sepuluh juta rupiah menggunakan uang pecahan seratus ribu keluaran baru."
"Lalu apa hubungannya dengan Blank, bodoh?" potong preman berbadan besar di sebelah Anton.
"Sabarlah dulu," tahan Bos Anton mengangkat tangannya. "Lanjutkan, Jali."
"Nomor seri uang yang dipakai anak itu berurutan, Bos, persis seperti uang hasil penarikan tunai jumlah besar dari bank," jelas Bang Jali.
"Mustahil anak SMA miskin yang ibunya cuma penjahit bisa dapat uang tunai segar sebanyak itu dalam seminggu."
Bos Anton menyipitkan matanya, insting mafianya mulai menangkap benang merah dari cerita tersebut.
"Siapa nama anak itu?" tanya Bos Anton dingin.
"Namanya Tommy Nugroho, Bos, anak SMA Garuda," jawab Bang Jali cepat.
"Kumpulkan sepuluh orang terbaik kita, bawa senjata tajam dan pistol rakitan," perintah Bos Anton tanpa ragu sedikit pun.
"Kita gerebek rumah janda itu malam ini juga, dan seret anak bernama Tommy itu ke hadapanku hidup-hidup!"
Sore harinya, langit di atas kota mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.
Tommy turun dari angkutan umum dan berjalan santai menyusuri jalanan aspal menuju gang rumahnya.
Suasana gang sempit itu terlihat normal, anak-anak kecil berlarian bermain layangan di lapangan tanah dekat sana.
Namun, saat Tommy berbelok di tikungan terakhir menuju rumah kontrakannya, langkahnya tiba-tiba terhenti.
IQ seratus tiga puluh enam miliknya langsung menangkap sebuah anomali visual yang sangat ganjil.
"Ada mobil van hitam asing parkir di ujung gang, mesinnya mati tapi jendelanya sedikit terbuka," analisis Tommy di dalam kepalanya.
Tommy tidak menoleh ke arah mobil itu, ia tetap berjalan dengan tempo normal sambil mengaktifkan skill Kalkulasi Lintasan Fisik miliknya.
Garis-garis merah imajiner mulai tergambar di pandangannya, memproyeksikan arah pandangan dari orang-orang di sekitarnya.
Sret. Sret.
Mata Tommy menangkap tiga orang pria asing yang sedang duduk di warung kopi depan rumahnya.
Mereka berpakaian preman biasa, namun ada tonjolan aneh di balik jaket kulit mereka yang sangat mirip dengan gagang pistol rakitan.
"Tikus-tikus selokan ini benar-benar datang mencariku secara manual," batin Tommy dengan detak jantung yang tetap tenang dan stabil.
Tommy terus berjalan seolah tidak menyadari apa-apa, melewati warung kopi itu dengan wajah idiot andalannya.
"Itu dia anaknya, Bos," bisik Bang Jali pelan dari dalam warung kopi sambil menunjuk ke arah punggung Tommy.
Bos Anton yang sedang meminum kopi hitamnya menatap punggung Tommy dengan senyum seringai.
"Anak kurus kering begini yang merusak bisnis triliunan rupiah kita?" ejek Bos Anton dengan suara rendah.
"Tunggu sampai langit benar-benar gelap, lalu kita sergap dia di dalam rumahnya sekalian bersama ibunya."
Tommy melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya dan segera mengunci pintu depan.
Ceklek.
"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa ibunya dari arah mesin jahit.
"Iya, Bu, Tommy langsung mandi ya," jawab Tommy sambil tersenyum hangat kepada ibunya.
Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sangat rapat.
Begitu pintu tertutup, senyum hangat di wajahnya langsung menghilang tanpa sisa, digantikan oleh raut wajah pembunuh berdarah dingin.
"Mereka membawa senjata api," gumam Tommy pelan mengevaluasi situasi.
"Jika aku gegabah, peluru nyasar bisa saja mengenai ibu di ruang depan."
Tommy menyalakan komputernya dengan cepat, otaknya berputar merancang skenario jebakan fisik terbaik.
"Sistem, aku butuh keahlian untuk memanipulasi perangkat elektronik di sekitarku," batin Tommy memesan senjata barunya.
Ting!
[Keahlian Peretasan Perangkat Keras Jarak Dekat Aktif - Harga: 80 PS]
[Deskripsi: Memungkinkan pengguna mengambil alih kontrol arus listrik, lampu, dan sistem kelistrikan sederhana dalam radius seratus meter menggunakan sinyal frekuensi radio.]
"Beli sekarang," perintah Tommy.
[Pembelian berhasil. Poin Sistem dikurangi -80 PS.]
[Skill Keahlian Peretasan Perangkat Keras Jarak Dekat Aktif telah ditambahkan.]
Tommy menyeringai lebar saat pengetahuan tentang gelombang elektromagnetik dan manipulasi arus pendek masuk ke dalam otaknya.
"Kalian ingin menyergapku dalam kegelapan malam ini?" bisik Tommy sambil menatap layar komputernya yang menyala terang.
Ia mengetikkan beberapa baris kode khusus untuk mengambil alih gardu listrik kecil yang ada di ujung gang rumahnya.
"Akan kutunjukkan pada kalian, apa jadinya jika kegelapan itu sendiri yang memburu kalian."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇