NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Wusss.

Angin pagi berhembus pelan menyapu halaman depan SMA Garuda.

Dito baru saja turun dari angkutan umum dengan langkah gontai.

Luka lebam di sudut bibirnya masih terasa nyeri saat ia berjalan memasuki gerbang sekolah.

"Heh, Dito, tunggu sebentar!" panggil sebuah suara yang sangat familiar dari arah belakang.

Dito tersentak kaget dan langsung menoleh dengan tubuh bergetar.

Leo, kapten tim olimpiade SMA Nusantara, berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah.

Wajah arogan yang biasanya melekat pada kakak kelas elit itu kini menghilang tak berbekas.

Raut wajah Leo terlihat sangat pucat, kantung matanya menghitam, dan seragamnya tampak berantakan.

"K-Kak Leo? Ada apa lagi?" tanya Dito mundur selangkah karena ketakutan.

"Tolong maafkan gue, Dito," ucap Leo dengan suara bergetar dan kepala tertunduk.

Dito melebarkan matanya di balik kacamata tebalnya yang retak.

"Minta maaf? Maksud Kak Leo apa?" tanya Dito sama sekali tidak mengerti.

"Gue cabut semua ancaman gue kemarin sore," jawab Leo dengan nada memohon yang sangat menyedihkan.

"Beasiswa lo aman, sekolah lo aman, gue janji gak akan pernah ganggu lo lagi seumur hidup gue!"

Dito mematung di tempatnya berdiri, otaknya berusaha memproses perubahan drastis ini.

"T-tapi kenapa tiba-tiba begini, Kak?" tanya Dito masih ragu.

Leo menelan ludah dengan susah payah sambil melirik ke kanan dan ke kiri dengan paranoid.

"Semalam bokap gue ngamuk besar sampai banting barang-barang di rumah," bisik Leo dengan wajah ketakutan.

"Ada orang gila yang ngirim bukti penggelapan dana yayasan keluarga gue ke email bokap."

"Orang itu ngancam bakal sebarin buktinya ke polisi kalau gue berani nyentuh sehelai rambut lo, To!" lanjut Leo hampir menangis.

Dito menahan napasnya, seketika teringat pada ucapan Tommy di atap sekolah kemarin pagi.

"Biar aku yang mengurus singa sombong itu," batin Dito mengingat janji mengerikan dari temannya itu.

"Tolong sampein ke orang yang bekingin lo itu, To, keluarga gue nyerah," mohon Leo sambil menyatukan kedua tangannya.

"Gue janji bakal tutup mulut soal olimpiade kemarin, tolong jangan hancurin keluarga gue."

Dito menganggukkan kepalanya perlahan dengan perasaan campur aduk.

"Iya, Kak, nanti aku sampaikan," jawab Dito berusaha terdengar tenang.

"Makasih, To, makasih banyak!" ucap Leo sebelum akhirnya berlari pergi meninggalkan gerbang SMA Garuda dengan panik.

Dari lantai dua gedung sekolah, Tommy berdiri menyender di pagar balkon mengamati pemandangan tersebut.

Ia menyedot minuman kotak rasa cokelatnya dengan sangat santai.

"Singa yang sudah patah taringnya memang sangat menyedihkan untuk dilihat," gumam Tommy pelan.

Ting!

Suara notifikasi sistem berbunyi jernih di dalam kepalanya.

[SISA MISI GANDA SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil menghancurkan mental musuh dan melindungi sekutu menggunakan manipulasi informasi tingkat dewa.]

[Mengirimkan sisa hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +3 poin.]

[Poin Sistem bertambah +40 PS.]

[IQ Saat Ini: 136 Kategori: Jenius Menengah]

[Poin Sistem Saat Ini: 130 PS]

Sensasi dingin yang sangat kuat kembali menyelimuti jaringan otak Tommy.

Angka seratus tiga puluh enam membuat penglihatannya terasa jauh lebih tajam dan jernih dari sebelumnya.

"Sekarang Dito sudah benar-benar aman," batin Tommy sambil membuang kotak minumannya ke tempat sampah.

Ia berjalan masuk ke dalam kelas tepat saat Dito baru saja duduk di bangkunya.

"Tom, kamu beneran ngelakuin itu?" bisik Dito saat Tommy lewat di samping mejanya.

"Ngelakuin apa, To? Aku dari tadi cuma minum susu cokelat di luar," jawab Tommy dengan senyum bodohnya.

Dito hanya bisa tersenyum kecut mendengar bantahan yang sudah sangat ia hafal itu.

"Terima kasih banyak, Tom, Kak Leo barusan minta maaf dan mohon ampun sama aku," bisik Dito lagi penuh rasa syukur.

"Wah, syukurlah kalau dia udah sadar, mungkin dia dapet hidayah pas tidur semalam," balas Tommy nyengir lebar.

Pelajaran sekolah hari itu berlalu tanpa ada gangguan berarti dari siapa pun.

Nadin juga terlihat sibuk sendiri dengan buku-buku pelajarannya, tidak lagi mencoba memancing kecerdasan Tommy.

Namun, di sudut lain kota ini, sebuah ancaman yang jauh lebih gelap sedang bergerak perlahan mencari mangsa.

Brak!

Suara gebrakan meja terdengar sangat keras dari dalam sebuah gudang kosong di pinggiran kota.

Bos Anton berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

"Goblok kalian semua! Bisa-bisanya kalian dijebak masuk ke sarang naga hitam!" teriak Bos Anton kepada anak buahnya.

Belasan preman berwajah sangar tampak menundukkan kepala dengan tubuh penuh luka perban.

"Maafkan kami, Bos, sinyal peretas itu benar-benar mengarah ke gudang sana semalam," lapor seorang preman berbadan besar dengan suara gemetar.

"Persetan dengan sinyal digital!" umpat Bos Anton sambil melemparkan asbak kaca ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

Prang!

"Blank bajingan itu mempermainkan kita seperti anak kecil!"

Bos Anton mondar-mandir dengan napas memburu, memutar otak kriminalnya untuk mencari jalan keluar.

"Kita tidak bisa lagi mengandalkan pelacakan komputer, dia terlalu pintar untuk tim siber kita," ucap Bos Anton menurunkan nada suaranya.

"Bang Jali, maju ke depan sekarang!" panggil bos mafia itu dengan tegas.

Bang Jali yang sedari tadi bersembunyi di barisan belakang langsung melangkah maju dengan takut-takut.

"I-iya, Bos?" jawab Bang Jali gugup.

"Bagaimana dengan tugas pelacakan manualmu di daerah selatan kemarin?" tanya Bos Anton menatap tajam.

"Saya sudah mengecek ulang, Bos, dan saya sangat yakin dengan temuan saya," lapor Bang Jali mulai percaya diri.

"Anak janda Marni itu membayar utang sepuluh juta rupiah menggunakan uang pecahan seratus ribu keluaran baru."

"Lalu apa hubungannya dengan Blank, bodoh?" potong preman berbadan besar di sebelah Anton.

"Sabarlah dulu," tahan Bos Anton mengangkat tangannya. "Lanjutkan, Jali."

"Nomor seri uang yang dipakai anak itu berurutan, Bos, persis seperti uang hasil penarikan tunai jumlah besar dari bank," jelas Bang Jali.

"Mustahil anak SMA miskin yang ibunya cuma penjahit bisa dapat uang tunai segar sebanyak itu dalam seminggu."

Bos Anton menyipitkan matanya, insting mafianya mulai menangkap benang merah dari cerita tersebut.

"Siapa nama anak itu?" tanya Bos Anton dingin.

"Namanya Tommy Nugroho, Bos, anak SMA Garuda," jawab Bang Jali cepat.

"Kumpulkan sepuluh orang terbaik kita, bawa senjata tajam dan pistol rakitan," perintah Bos Anton tanpa ragu sedikit pun.

"Kita gerebek rumah janda itu malam ini juga, dan seret anak bernama Tommy itu ke hadapanku hidup-hidup!"

Sore harinya, langit di atas kota mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.

Tommy turun dari angkutan umum dan berjalan santai menyusuri jalanan aspal menuju gang rumahnya.

Suasana gang sempit itu terlihat normal, anak-anak kecil berlarian bermain layangan di lapangan tanah dekat sana.

Namun, saat Tommy berbelok di tikungan terakhir menuju rumah kontrakannya, langkahnya tiba-tiba terhenti.

IQ seratus tiga puluh enam miliknya langsung menangkap sebuah anomali visual yang sangat ganjil.

"Ada mobil van hitam asing parkir di ujung gang, mesinnya mati tapi jendelanya sedikit terbuka," analisis Tommy di dalam kepalanya.

Tommy tidak menoleh ke arah mobil itu, ia tetap berjalan dengan tempo normal sambil mengaktifkan skill Kalkulasi Lintasan Fisik miliknya.

Garis-garis merah imajiner mulai tergambar di pandangannya, memproyeksikan arah pandangan dari orang-orang di sekitarnya.

Sret. Sret.

Mata Tommy menangkap tiga orang pria asing yang sedang duduk di warung kopi depan rumahnya.

Mereka berpakaian preman biasa, namun ada tonjolan aneh di balik jaket kulit mereka yang sangat mirip dengan gagang pistol rakitan.

"Tikus-tikus selokan ini benar-benar datang mencariku secara manual," batin Tommy dengan detak jantung yang tetap tenang dan stabil.

Tommy terus berjalan seolah tidak menyadari apa-apa, melewati warung kopi itu dengan wajah idiot andalannya.

"Itu dia anaknya, Bos," bisik Bang Jali pelan dari dalam warung kopi sambil menunjuk ke arah punggung Tommy.

Bos Anton yang sedang meminum kopi hitamnya menatap punggung Tommy dengan senyum seringai.

"Anak kurus kering begini yang merusak bisnis triliunan rupiah kita?" ejek Bos Anton dengan suara rendah.

"Tunggu sampai langit benar-benar gelap, lalu kita sergap dia di dalam rumahnya sekalian bersama ibunya."

Tommy melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya dan segera mengunci pintu depan.

Ceklek.

"Kamu sudah pulang, Nak?" sapa ibunya dari arah mesin jahit.

"Iya, Bu, Tommy langsung mandi ya," jawab Tommy sambil tersenyum hangat kepada ibunya.

Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sangat rapat.

Begitu pintu tertutup, senyum hangat di wajahnya langsung menghilang tanpa sisa, digantikan oleh raut wajah pembunuh berdarah dingin.

"Mereka membawa senjata api," gumam Tommy pelan mengevaluasi situasi.

"Jika aku gegabah, peluru nyasar bisa saja mengenai ibu di ruang depan."

Tommy menyalakan komputernya dengan cepat, otaknya berputar merancang skenario jebakan fisik terbaik.

"Sistem, aku butuh keahlian untuk memanipulasi perangkat elektronik di sekitarku," batin Tommy memesan senjata barunya.

Ting!

[Keahlian Peretasan Perangkat Keras Jarak Dekat Aktif - Harga: 80 PS]

[Deskripsi: Memungkinkan pengguna mengambil alih kontrol arus listrik, lampu, dan sistem kelistrikan sederhana dalam radius seratus meter menggunakan sinyal frekuensi radio.]

"Beli sekarang," perintah Tommy.

[Pembelian berhasil. Poin Sistem dikurangi -80 PS.]

[Skill Keahlian Peretasan Perangkat Keras Jarak Dekat Aktif telah ditambahkan.]

Tommy menyeringai lebar saat pengetahuan tentang gelombang elektromagnetik dan manipulasi arus pendek masuk ke dalam otaknya.

"Kalian ingin menyergapku dalam kegelapan malam ini?" bisik Tommy sambil menatap layar komputernya yang menyala terang.

Ia mengetikkan beberapa baris kode khusus untuk mengambil alih gardu listrik kecil yang ada di ujung gang rumahnya.

"Akan kutunjukkan pada kalian, apa jadinya jika kegelapan itu sendiri yang memburu kalian."

1
Ira mariyani
langsung perlihatkan aja kak kejiniusannya sitomy
Nissa Safira: Wkwk sabar kak! 🤣 Aku tau kakak udah gemes banget pengen Tommy langsung naik podium teriak "GUE JENIUS 157 IQ!"🔥🔥
Tapi kalau aku perlihatkan sekarang, Clarissa sama Prof Handoko cuma kaget 5 menit terus selesai kak.
Tenang kak, sebentar lagi pas ujian akhir karantina, topeng bego nya Tommy bakal aku buka setengah dulu di depan Nadin. Abis itu baru full di depan Clarissa. Pas itu bakal puas banget!
Makasih udah gemes sama Tommy ya kak, berarti penyamaran Tommy berhasil nipu kakak juga! Wkwkwk🤣🤣🙏
total 1 replies
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!